
"Kak Taufan, tebak siapa yang datang" Manik pemuda bermata langit itu seketika berbinar, senyumnya terkembang begitu lebar mendapati hadirnya Ken membawa serta teman-teman nya yang sekian lama tak bertemu.
Hali yang semula duduk menemani di samping ranjang lantas mundur, sengaja memberikan ruang lebih. Mereka pasti merindukannya.
"UPAAN! HWEEEE~ AKU ANGEN!!!"
Leon yang kala itu baru pertama kali menginjakan kaki di kamar inap Taufan langsung menghamburkan pelukan sembari ber acting menangis.
Tubuh Taufan yang belum sepenuhnya bertenaga seketika itu tersentak, ikut bertolak ke belakang, mengundang rintihan lirih yang terdengar samar.
"Woy! Itu dia masih sakit, jangan asal nerkam orang!" pekik Sevan yang tanpa ragu langsung menarik mundur Leon sembari mengumpati tindakan sembrono sohibnya satu itu.
Tau tau orang lagi sakit. Dianya seenak jidak nya aja langsung main peluk.
"Hah!? Sorry Fan, aku lupa kalau kau baru sembuh. Kau ngga kenapa-kenapa kan? Ada sakit?" Leon reflek mengurai pelukannya. Rautnya mendadak berubah tegang, dengan tatapan dilingkupi khawatir.
"Hish, ni anak kebiasaan. Ngerusuh mulu!" sahut Sevan diiringi tetapan tajam. Dirinya juga mencemaskan kondisi Taufan sekarang, melihat Leon yang tiba-tiba menubruk dan mendekapnya cukup erat.
"Ya sorry, gak sengaja. Tadi reflek aja gitu. Habisnya, sumpah kangen banget! Kek berasa udah lama ngga ketemu gitu." Tukas Leon lengkap dengan drama menangis lebay nya.
Pandangan Leon kemudian bergulir pada objek di depannya. Mencoba membaca gurat-gurat kesakitan yang mungkin tengah Taufan sembunyikan. Ia akan menjadi tersangka utama jika anak itu kembali ambruk karena ulahnya.
"Kau ngga papa Fan? Beneran nanya, ada yang sakit ngga? Perlu dipanggilin dokter?" serentetan tanya itu terlontar bersama nada panik yang terbesit di dalamnya. Pasalnya Taufan tak kunjung menyambut pertanyaannya.
Sepasang iris jingga itu diliputi perasaan bersalah setelah menangkap lebam dan luka yang tersisa samar di sekujur tubuh pemuda itu, bahkan sebagian tubuhnya masih terbalut perban. Bulu kuduknya berdiri hanya dengan membayangkan sakit yang diderita Taufan.
"Apaan sih? Lebay banget pake acara manggil dokter segala." seru Taufan yang menilai tindakan Leon berlebihan.
Tangan kanannya terangkat, sengaja mendorong dahi makhluk dihadapannya itu untuk menjauh, merasa risih dengan tatapan intens Leon.
Di balik diamnya yang sesaat itu, ada rasa sakit yang berusaha ia tekan. Perih yang bermuara di dadanya karena bekas operasi masih terasa, belum lagi nyeri di lengan kirinya yang kini justru kembali ke permukaan karena tak sengaja tertekan pelikan Leon tadi.
__ADS_1
"Beneran Fan?"
"Iya, aku enggak apa! Alay serius dah." Ujarnya.
Leon berdecak kesal, "Orang cemas juga dikata alay."
Taufan terkekeh pelan. Sandiwara lelaki itu memang sangatlah apik hingga tak seorangpun menaruh rasa curiga. Tentu saja ia tak ingin mengacaukan momen kebersamaan ini.
Sudah lama ia tak kembali merasakan kebersamaan ini bersama teman teman nya, Jadi biarlah untuk saat ini ia simpan sakit itu seorang diri.
Tanpa sengaja iris biru itu menangkap keberadaan lain yang mana kedatangannya sama sekali tak pernah ia duga.
"Yasha?" Gadis berhijab merah jambu tersenyum manis di ambang pintu, sebelum membawa langkahnya lebih dekat bersama Arga yang mengekor di belakang.
"Hai, gimana kabarmu?" perempuan itu lebih dulu bersuara.
"Y-ya, seperti yang kau lihat. Tidak terlalu buruk. Hehe." Terlihat jelas kecanggungan Taufan saat menyambut gadis itu. Terlebih lagi dengan semburat merah yang mendadak muncul di wajah nya.
Tanpa sadar ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Ia tak pernah menyangka akan dikunjungi oleh seseorang yang.... menarik untuknya.
"Nggak papa, emang baru sekarang berasa lebih enakan. Makasih ya udah nyempetin buat ke sini. Hehe." Pemandangan itu mengundang iri hati dari Leon yang menanggapi keadaan Taufan dengan heboh, tapi tak satupun ucapannya yang ditanggapi dengan baik.
"Huuuu, kalo cewek aja ditanggepin nya baik-baik." Sindirnya.
Andai saja Taufan sanggup menjangkaunya, ia pasti sudah menghajar si biang onar itu alih-alih memberikan tatapan tajam dengan raut wajah tak bersahabat.
Sekilas ia melirik Arga yang abai pada dirinya. Lelaki berambut indigo itu bahkan tak melempar sapa dan justru mengambil tempat di samping Hali yang duduk di sofa, mengeluarkan ponselnya dan asik dalam dunia yang diciptakannya sendiri.
la tak mengerti mengapa Arga berubah menjadi seperti ini. la tak merasa berbuat salah apapun, lantas mengapa Arga mendiaminya seperti ini? Pikiran itu terus mengganggunya tapi tak pernah bisa ia keluarkan dalam kata.
"Kak Taufan beneran gapapa?" Suara yang diliputi kecemasan itu sontak menyadarkan Taufan.
__ADS_1
Buru-buru ia menyunggingkan senyum. Seperti biasa.
"Beneran?" Tanyanya lagi sekedar memastikan.
Melihat kakaknya yang kembali terdiam sambil melamun membuat Ken cemas. Pasalnya pucat masih menghiasi paras sang kakak yang kian menirus itu. Ia takut ada beban yang tak sempat kakaknya bagi.
Taufan tak bisa menahan diri untuk mengusap gemas surai hitam Ken yang kala itu tak tertutup topi, "Iyaa, ngga papa adekku sayang" Ujarnya begitu meyakinkan.
Jika biasanya Ken akan memberontak ketika seseorang menghancurkan tatanan rambutnya, tapi tidak kali ini. Sejujurnya ia merindukan kala tangan kurus itu membelai rambutnya seperti yang dulu-dulu mereka lakukan ketika belum mengenal apa itu kehilangan.
Di sisi lain, Sevan menarik satu kursi dan duduk di sana, "Jadi kapan kau balik?"
"Hmm, mungkin minggu depan." Ujar Taufan tak pasti. "Dokter bilang kalau kondisiku terus membaik, secepatnya aku bisa pulang."
"Bagus deh. Sepi banget kalo kau ngga ada. Kasian Leon jadi kek orang gila sendirian. Biasanya kan kalian kalo gila barengan."
Tatapan Leon menyipit, sedikit tidak suka, "Heh profesor gadungan, kalo ngomong suka bener tapi kok tetep sakit ya?"
"Karena kebenaran itu memang menyakitkan bro." Balas Sevan tak acuh. Mengabaikan sebutan yang Leon tujukan untuknya.
Leon berdecak kesal. Benar kata pepatah lidah lebih tajam daripada pedang.
"Tapi beneran deh Fan, ngga ada kau itu sepi banget. Sevan sama Arga ngga seru diajak bercanda. Bawaannya emosian mulu." Leon mengiba, seolah ia sangat teraniaya.
Mendengar namanya dibawa-bawa Arga melirik kemudian menyahut, "Humor mu aja yang ngga nyampe ke kita. Receh banget sih." Ujarnya sinis.
"Tu kan, ga seru. Pada baperan emang. Cepet sembuhlah, biar aku ada partnernya. Biar bisa ngelawak bareng juga. Vokalis kosong tau." Ucap Leon kemudian.
Taufan terkekeh geli melihat interaksi kawan-kawannya yang seolah tak kehabisan tingkah untuk diributkan.
Ah, mendadak ia diterjang badai kerinduan hanya dengan keributan seperti ini.
__ADS_1
Obrolan terus bergulir sembari sesekali terdengar tawa ringan mengudara. Mengalir tanpa jeda.
Terlalu banyak yang ingin mereka ceritakan selama Taufan tak bersama mereka. Tak satupun dari mereka yang mengungkit tragedi penculikan itu. Tak ada yang berniat membawa kenangan mengerikan itu ke permukaan, membiarkan kisah kelam itu tertinggal di belakang dan tertimbun oleh kisah-kisah bahagia yang akan mereka ukir bersama nantinya.