
Di sudut ruang itu, kontras begitu terasa dengan bisu yang menggelayuti dua pemuda beda usia itu. Padahal hanya jarak kurang dari satu meter memisahkan batas antara mereka, namun sekian menit mereka duduk berdampingan, tak ada obrolan tercipta. Entah karena ego masing-masing, atau memang tak ada topik untuk dibahas.
Tetap saja suasana ini terlalu berat untuk dibiarkan begitu saja. Hingga akhirnya Hali mengalah. Berdehem sebentar, sebelum akhirnya lebih dulu buka suara, "Ngga gabung sama mereka?"
"Males." Balas Arga singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang tengah dimainkannya.
Hali mengurungkan niat nya untuk melanjutkan obrolan. Lagipula niatnya memang hanya sekedar basa-basi. Ia hanya penasaran saja apa yang tengah dipikirkan pemuda bermata empat di sampingnya itu.
Semenjak mendengar kabar Taufan dipindahkan ke bangsal rawat inap, Arga tak pernah absen untuk berkunjung meski hanya sekedar singgah sesaat. Terkadang ia juga menghabiskan lebih banyak waktu di sana, setia menemani sekalipun belum bisa berinteraksi seperti biasa karena Taufan masih butuh banyak istirahat.
Hali dibuat salut atas persahabatan mereka, seperti pertemanannya dengan Khai.
"Dia beneran udah baik-baik aja kan?" Suara Arga yang setengah berbisik menginterupsi angan Hali. Ia melirik, kemudian mengikuti arah netra di balik lensa itu memandang.
Ruang itu masih ramai, dengan Leon yang kini pusat atensi. Kali ini pemuda nyentrik itu melontarkan guyonan lucu yang membuat Taufan tak henti-hentinya tertawa.
"Ada yang aneh?"
Arga terdiam, "Dia ngga lagi menyembunyikan rasa sakitnya di balik tawanya kan?"
hali mengernyitkan dahi nya, "Maksudmu?"
Arga tak lantas menyahut. Sengaja memberi jeda antara dirinya dan Hali. Sorot matanya begitu sulit untuk diartikan, tak mampu Hali baca.
"Taufan itu, dia lebih suka menutupi rasa sakitnya daripada memperlihatkan lukanya. Dia itu rapuh, tapi berpura-pura kuat."
Hali mencoba menyelami makna dibalik kata-kata itu. Yang Arga ucapkan itu ada benarnya, Taufan itu rapuh, bahkan lebih rapuh dari bulu dandelion.
__ADS_1
la tak tahu apa yang membuat Taufan begitu berarti bagi Arga, tapi perasaan mereka sama. Mereka sama-sama tak ingin kehilangan sosok itu lagi.
Kembalinya Taufan di tengah-tengah mereka bisa disebut sebuah keajaiban, begitu kata dokter. Kondisi Taufan yang tak pernah menunjukan perkembangan membuat mereka nyaris kehilangan harapan.
Namun ternyata semesta masih berbaik hati mengembalikan Taufan kepada mereka.
Cukup kejadian kemarin yang nyaris merenggut nyawa pengumbar tawa itu mereka jadikan pelajaran untuk lebih menjaga keberadaan lelaki dengan garis senyum yang membuat banyak orang candu itu.
"Dia pasti baik-baik aja." Ujar Hali yakin, karena ia percaya, orang-orang yang mengelilingi adiknya kini mampu menjaga anak itu dengan baik.
Tatapan Arga masih belum berubah. Ia tak tau apa yang membuat Hali melontarkan kata itu dengan penuh keyakinan.
Khawatirnya mungkin terlalu berlebihan, tapi juga bukan tanpa alasan. Selama ini ia sudah banyak melihat kepura-puraan yang pemuda itu buat, dan ia benci itu. Seolah keberadaannya tak berarti apapun bagi Taufan.
Kejadian tempo hari membuat Arga terpuruk. Melihat tubuh itu terbaring tak berdaya di ruang ICU dengan luka yang menyayat hati itu membuatnya ikut merasakan sakitnya.
Ketika mendengar kabar Taufan telah sadar, beban berat yang mengganggu pikirnya seolah menguap seketika.
Tapi tak bisa dipungkiri juga jika ia merindukan tingkah usil dan juga tawa receh dari pemuda itu.
Baginya, tawa yang pemuda itu urai udah cukup untuk menghangatkan hatinya. Di saat bersamaan, ia ingin melindungi senyum agar terus melingkupi pemuda itu.
Hadirnya Taufan dalam hidupnya sudah seperti matahari yang membuat bulan bersinar. Sosok itu menjadi sangat berarti baginya, tanpa ia sadari.
la tak akan membiarkan cahaya yang meneranginya pudar. Jangan salah paham. Kasih yang Arga berikan itu layaknya hubungan kakak adik meski tak ada ikatan darah. Ya, Arga sudah menganggap Taufan seperti adiknya yang harus ia lindungi.
Tapi kini ia merasa tak berhak. Ia teledor. la gagal melindunginya. Jika saja sore itu ia tak meninggalkan Taufan, mungkin akan beda ceritanya.
__ADS_1
Meski setiap hari ia datang membesuk, tapi tak sekalipun ia sanggup menatap mata biru itu. Rasa bersalah itu masih menghantuinya, membuat lidahnya kelu tak mampu berkata.
"Arga, kau ngapain si mojok-mojok bareng kak Hali?" Suara itu menyusup di antara mereka, sedikit menyentak hingga membuat Arga yang larut dalam buah pikirnya tersadar. "Jangan kau pikir kau bisa ngrebut kak Hali dari aku ya!" Lanjutnya.
Arga mendesah lelah, "maaf ya, aku punya kakak satu aja udah nyusahin bin ngeselin. Mau dikasih kakak yang sifatnya 11-12 sama bang Kai? Haha, ngga deh. Makasih."
"Hooo, gitu ya kalo aku ngga ada. Ngomongin kakak sendiri di belakang? Hmm?" Suara itu terdengar familiar menarik perhatian.
Khai yang entah sejak kapan menginjakan kaki di kamar itu tersenyum penuh makna sembari menyandarkan bahunya di dinding. Kedatangannya sama sekali tak Arga sadari karena pikirannya yang hanyut di angan.
Bola mata merah itu sudah menyoroti sang adik yang hanya tersenyum kikuk mendapati keberadaan sang kakak di sana.
"Ng-ngga, bukan gitu kak." Arga tergagap mencari alasan untuk menyelamatkan diri.
"Barusan kau dipanggil bangkai sama adikmu sendiri." Ujar Hali lagi.
"Astaga! Maksudnya abang Khai gitu! Kak Hall ngga usah ngomporin!" Pekik Arga yang sudah merasakan aura membunuh dari sang kakak.
"Iya bener kan bangkai." Hali terkekeh.
"Wah, durhaka banget kau Arga. Udah ngejelekin kakak sendiri, manggilnya 'Bangkai' lagi. Ckckck, tak patut tak patut~"
"LEON!"
Percayalah, kebahagiaan seorang kawan adalah ketika salah satu teman kita mendapat kesulitan. Dan lebih parahnya mereka justru senanh menambah penderitaan kita.
"Engga kak, engga. Bercanda doang itu tadi.. Baaaang~"
__ADS_1
Ruang rawat itu kembali riuh karena drama kakak beradik dengan Arga sebagai pihak yang teraniaya. Khai memberikan jitakan penuh kasih sayang sebagai balasan telah memberikan panggilan 'mesra' untuknya.