Dandelion

Dandelion
Pagi Bahagia


__ADS_3

"Ada apa ?," tanya Ersya memastikan.


Evano mengalihkan pandangannya ke arah Ersya, "huh ?, oh aku belum membayar air mineral ini." Jawabnya sambil memperlihatkan botol air mineral di tangannya, lalu berbalik masuk ke dalam mini market. Ersya hanya memandang heran ke arah Evano.


Alina melihat Evano yang kembali masuk ke dalam dan berjalan ke arahnya.


"Aku ingin membayar ini" Vano memberikan botol air mineralnya kepada Alina.


Alina dengan cepat menyelesaikan pembayarannya. Alina menatap Vano ragu, dia ingin mengucapkan terimakasih pada Vano namun saat melihat raut wajah Vano yang dingin, membuatnya takut untuk berbicara.


"Ada apa?" singkat, Vano bertanya dengan suara beratnya yang membuat Alina semakin tertekan.


Alina memberanikan diri menatap Vano.


"I.. itu, aku ma.. mau mengucapkan terimakasih karena telah mebantuku dan maaf sudah menyulitkanmu tadi.." Suara Alina memelan di akhir, saat ini dia dengan resah menunggu bagaimana tanggapan Vano.


"Tak perlu berterimakasih, aku tidak berniat membantumu. Aku hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan pembayaranku" Jawab Vano datar sambil mengambil botol air mineralnya dan berbalik pergi.


Alina sedikit tersentak mendengar jawaban Vano, dia hanya menatap kepergian Vano dalam diam.


"Tapi karena apa yang kau lakukan aku baik-baik saja sekarang.." Alina tersenyum kecil mengingat kejadian beberapa saat lalu, saat Vano mengalihkan perhatian para pelajar SHS tadi dari dirinya. "Terimakasih.." ucapnya pelan, meski tau pria dingin itu tidak akan mendengarnya.



Pagi ini Alina kembali menjalankan aktivitas nya dengan semangat, dia tidak berhenti tersenyum semenjak bangun dari tidurnya. Sepanjang jalan dia melangkahkan kakinya dengan ringan, tanpa dia sadari dari tadi senyumannya menular pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Orang-orang tidak bisa tidak tersenyum saat melihat senyum manis gadis itu.


Alina masih melangkah dengan riang, senyumnya semakin lebar saat sampai di toko bunga favoritnya.


"Pagi kak!" sapanya dengan ceria.


Seorang perempuan dengan rambut hitam panjang gelombangnya berbalik, menghentikan aktivitasnya merangkai bunga dan menatap ke asal suara yang menyapanya. Senyumnya merekah saat melihat wajah Alina yang tersenyum manis.


"Aaaliiiin, kakak merindukanmu!!." Alina tertawa saat orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri berlari ke arahnya sambil meneriakkan namanya dan memeluknya erat.


"Apa yang kau tertawakan adik kecil? aku merindukanmu, kemana saja eoh? kenapa tidak pernah datang lagi kemari? kau menghindari kami? sudah ku bilang kau harus sering datang kemari. Oh ya Tuhan, lihatlah tubuhmu semakin kurus, apa saja yang kau lakukan??."


Alina tertawa lebar saat mendengar kakaknya itu tidak berhenti mengoceh.


"Yak!, apanya yang lucu? kenapa tertawa terus? jawab pertanyaanku Alina.." Kakaknya itu mencebikkan mulutnya kesal.


"Tenanglah kak, bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan kakak kalau kakak terus berbicara dan bertanya padaku?, dan aku tertawa karena kakak tidak berhenti mengoceh." Jawab Alina sambil tersenyum melihat kakaknya.


"Ish anak ini, jadi bagaimana kabarmu? aku merindukanmu.." Kakaknya kembali memeluknya erat.


"Aku baik kak, aku juga merindukan kak Zenia dan bibi Hana. Maaf, aku tidak bisa menyempatkan diri untuk berkunjung kemari." Alina menatap kakaknya itu dengan sedih, merasa bersalah karena tidak pernah lagi datang berkunjung. Bukan tanpa alasan, Alina terlalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan dia jarang ada waktu untuk beristirahat.


"Kau pasti sibuk dengan pekerjaanmu kan?, lihat, tubuhmu semakin kurus. Kau pasti bekerja terlalu keras.."


Zenia, gadis cantik itu menatap gadis muda dihadapannya prihatin. Terakhir kali dia bertemu Alina, gadis itu sudah kurus dan sekarang setelah sekian lama tidak bertemu bukannya bertambah gemuk tapi malah bertambah kurus. Dia tau kehidupan Alina sulit, gadis muda itu sebatang kara dan bagaimana seorang gadis muda yang hidup sendiri bisa baik-baik saja dengan tubuh ringkihnya itu. Melihat Alina yang terlihat rapuh itu membuatnya khawatir, seakan-akan tubuh Alina bisa saja diterbangkan oleh angin saking rapuhnya.


"Aku baik-baik saja kak, jangan menatapku dengan sedih begitu" Alina tersenyum meyakinkan Zenia.

__ADS_1


"Tinggal lah disini, bersama aku dan ibu.."


"Aku baik-baik saja kak, kita pernah membicarakan hal ini sebelumnya dan jawabanku masih sama.."


Ya, Zenia dan ibunya terus membujuk Alina untuk tinggal bersama mereka. Namun Alina menolak dengan alasan tidak ingin membebani mereka.


"Padahal kami tidak meresa terbebani, bahkan aku senang bisa punya adik semanis dirimu," Zania mencubit pipi Alina gemas, kesal karena gadis muda yang dianggapnya adik itu sangat keras kepala.


Alina hanya tersenyum memaklumi kelakuan Zenia. Sedetik kemudian wajah tersenyumnya berubah menjadi kaget saat ingat tujuan sebenarnya dia kemari.


"Ah, aku lupa.. aku kesini mau membeli sebuket bunga"


"Ya aku tau, bunga lily putih kan? Kami selalu menyediakan bunga itu karena tau sewaktu-waktu kau pasti akan datang untuk membawanya," Zenia mengusap kepala Alina sambil tersenyum.


"Terimakasih kak, dan terimakasih banyak karena aku bisa mendapatkan sebuket bunga cantik itu secara gratis." Ucap Alina sambil terkekeh karena perkataannya sendiri.


"Tidak masalah jika itu untuk adik manis sepertimu, duduklah aku akan segera merangkaikan bunga yang cantik untukmu."


Alina menggangguk dan duduk disalah satu kursi yang ada di toko itu. Alina menatap sekitar, tidak banyak yang berubah dari toko ini pikirnya. Sudah hampir setahun dia tidak pernah berkunjung ke toko ini, padahal sebelumnya dia akan datang sebulan sekali untuk membeli bunga. Tanpa sadar Alina menghela nafas, dia baru sadar kalau tubuhnya lelah. Dalam setahun ini dia sudah bekerja begitu keras, tanpa istirahat yang cukup.


"Kenapa aku baru sadar, tubuhku benar-benar lelah.." lirihnya pelan.


Setelah beberapa saat Zenia datang dengan sebuket bunga lily putih ditangannya. Senyum Alina kembali merekah saat melihat buket bunga itu.


"Ini buketnya," Zenia menyerahkannya pada Alina, dan tersenyum senang saat melihat wajah bahagia Alina.


"Terimakasih banyak kak, aku menyayangimu.." Alina dengan riang memeluk Zenia dan memberi satu kecupan kecil di pipinya.


"Aku juga menyayangimu, karena itu hati-hati di jalan. Dan sampaikan salamku untuk mereka."


"Semoga kau bahagia.." ucapnya pelan.



"Kau mau kemana?."


"Kenapa kau harus tau?."


"Yak, kenapa malah balik bertanya?."


"Kenapa kau harus kesal?."


"Kau merusak hariku Van.."


"Kenapa aku harus peduli?."


"Yak!! kau benar-benar menye.."


"Berhentilah berdebat dengan Vano Er, jangan bertingkah seperti anak kecil," Danial menatap jengah dua orang yang sedari tadi berdebat di hadapannya. Ini hari libur dan istirahatnya harus terganggu karena ulah dua sahabatnya yang tidak jelas itu.


"Jadi aku harus berdebat denganmu sekarang?" Pagi ini Ersya pikir dia akan menjalani pagi yang indah, tapi nyatanya raealita tidak sesuai ekspektasi.

__ADS_1


"Sudah, sudah.. tidak bisakah sehari saja kita lalui hari dengan tenang?" Ucap Delvin yang baru saja datang. Baru saja datang tapi dia sudah melihat perdebatan para sahabatnya, sungguh hari yang indah pikirnya.


"Bagaimana aku tidak kesal, kita datang kemari untuk menghabiskan waktu libur bersama. Tapi si tuan rumah malah akan pergi," Ersya berkata ketus sambil melirik ke arah Vano.


Danial terkekeh melihat Ersya yang saat ini sedang memonyongkan mulutnya.


"Kau mau pergi Van?" tanya Delvin


"Hem.."


"Mau kemana pagi-pagi begini?"


"Aku mau ke tempatnya Delv, sudah lama tidak kesana.." Vano menjawab pertanyaan Delvin tanpa mengalihkan perhatiannya dari cermin, saat ini dia sedang menyisir rapi rambutnya.


"Benar-benar anak ini, kalau kau jawab pertanyaanku tadi seperti itu kita kan tidak perlu berdebat, kenapa kau langsung menjawab jika Delvin yang bertanya? sunguh kau sangat pilih kasih Van.." Saat ini Ersya sedang melakukan aksi protesnya pada Vano yang dianggapnya telah memperlakukannya secara tidak adil.


Ersya berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang, dia mencebikkan mulutnya dan menatap garang Vano.


Vano takut? itu mustahil. Mustahil bagi seorang Evano takut pada Ersya, yang ada saat ini dia sedang mendengus geli menahan tawanya saat melihat tingkah Ersya dari cermin.


"Yak!! sekarang kau mengabaikanku ?!" Seru Ersya kesal dengan tingkah Vano.


"Kenapa aku harus peduli?" Jawaban Vano kembali membuat Ersya bertambah kesal.


"Dasar kulkas berjalan!!" teriak Ersya nyaring, Delvin dan Danial yang berada di dekatnya sampai reflek menutup telinga mereka.


"Apa kau bilang? kulkas? berjalan? berani-beraninya kau mengataiku moncong bebek!!." Akhirnya Vano mulai terprovokasi dengan perkataan Ersya.


"Kenapa aku harus takut padamu muka datar?, karenamu pagi indahku berantakan".


"Apa? siapa yang muka datar hah? kau dasar kau ulat bulu!! kau yang merusak pagiku"


"Ulat bulu? ulat bulu??" Ersya menatap tak percaya pada Vano bagaimana bisa sahabatnya itu memberikan julukan seperti itu untuknya? hei, dan sejak kapan Vano pandai mengatainya seperti itu?.


Detik berikutnya hanya terdengar perdebatan di kamar mewah itu. Dua sahabat dekat itu terus memberi julukan-julukan aneh satu sama lain untuk memuaskan rasa kesal mereka.


Delvin dan Danial hanya menggelengkan kepala mereka sambil menatap dua sahabat mereka jengah.


"Hentikan mereka Delv.."


"Biarkan saja, sebentar lagi juga mereka lelah. Hei, bukankah ini tontonan yang menarik?"


"kenapa?" Danial menatap heran ke arah Delvin yang tersenyum aneh.


"Jarang-jarang kita bisa melihat Vano berbicara sebanyak itu.." Delvin menjawab Danial sambil terkekeh karena melihat perdebatan dua sahabatnya.


"Ah ya, kau benar.. Biasanya kan dia itu kulkas berjalan"


Delvin dan Danial kembali terkekeh karena pembicaraan mereka tentang Vano.


"Sungguh pagi yang indah Dan.."

__ADS_1


Delvin menatap Danial begitu juga sebaliknya, dan mereka kembali tertawa.



__ADS_2