
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa, matahari sudah sedikit condong ke barat ketika Taufan menuntaskan acara makan siangnya. Segelas jus apel ditangannya habis di minum nya, dan hanya menyisakan sedikit kuah sup yang tak habis ia lahap.
Napsumakannya sedang bagus hari ini, mungkin berkat menu yang Ethan bawakan untuk nya. Racikan bumbunya benar-benar terasa pas di lidah nya. Apapun itu, Taufan berterima kasih karena ia tak harus memakan masakan rumah sakit yang menurutnya hambar dan kurang bumbu.
"Tadi katanya nggak pengen, eh taunya abis juga." Sindir Sevan, "Laper apa doyan? Gitu sok-sokan nolak." lanjutnya sambil terkekeh pelan melihat sahabat nya itu.
"Diem kau sok narsis. Bukan kau juga yang bawain makan. Ribut mulu kek anak kucing."
"Nih anak kalo udah bisa ngoceh berarti udah sehatkan ya? Udah balik jadi ngga berakhlak soalnya." Hali memilih untuk abai dengan pertengkaran kekanak-kanakan itu,
lantas beranjak, "Abis ini jangan lupa obatnya di minum." Ujarnya.
"Ntaran aja lah kak, masih ada temen-temen juga. Obat bikin ngantuk."
Tentu saja Hali tak membiarkan itu. jika terus di turuti, Taufan tak akan mau minum obat nya nanti. Baru saja dirinya hendak melayangkan protes, tapi suara Arga lebih dulu terdengar, "Minum aja apa susahnya sih? Tau gitu mending tadi kita ngga kesini gangguin jam istirahatmu."
"Eh, jangan gitu dong! Sepi banget aku ngga ada kalian. Kak Hali ngga ngasih ijin keluar kamar, bisa bayangin betapa bosen nya aku di sini?" Adu Taufan mendramatisir.
Hali hanya mampu menghela nafas lelah, "Di luar banyak kuman, Fan. Ntar infeksi lagi, inget kata dokter banyakin istirahat. Bukan petakilan." Sahutnya pelan. Entah harus berapa kali ia jelaskan hal itu.
Taufan mendengus kesal, "Iya-iya, infeksi. Diingetin mulu, kek bocah."
"Emang masih bocah tuh." Cecar Hali seraya menyentil kening wajah tengil itu, mengundang ringisan kecil akibat ulahnya.
Karena pada kenyataannya, sampai kapanpun, Taufan akan tetap menjadi adiknya, sosok seorang bocah dengan segala tingkah dan kekurangajarannya bagi Hali.
"Aduh, kak Hali! Sakiiit!" Mendengar aduan sang adik sembari mengusap bekas sentilannya membuat senyum Hali tipis. Hatinya menghangat.
Dulu ia pernah mengharapkan sosok itu menghilang, enyah dari pandangannya. Tak bisa ia bayangkan jika itu benar-benar terjadi saat ini. Melihat tubuh itu terbujur koma di ruang ICU saja nyaris membuatnya kehilangan setengah jiwanya.
Kini ia merasa lebih baik mendengarkan segala ocehan dan keluh kesahnya dibanding harus melihatnya terdiam membisu.
Jujur, dirinya tak pernah mengharapkan sosok adik yang ideal. Mungkin Ken dengan kepribadiannya yang penurut dan mudah diatur menjadi gambaran adik yang banyak diidamkan kebanyakan orang.
Tapi baginya, sosok Taufan juga menjadi anugerah yang orang tuanya titipkan dan harus ia jaga.
"Makanya, dikasi tau tuh jangan ngeyel." Ujar Hali pelan. "Udah, intinya minum aja tuh obat. Ngga pake drama. Kalo alasanmu itu buat nunda minum obat, mending kitanya balik aja sekalian."
Sepasang mata bulat itu lantas menyipit, menyorot tak suka pada lelaki beriris merah yang terbingkai kacamata nila itu. "Arga, kau kenapa jadi suka ngancem begituan sih? Nurunin kak Hali ya?"
__ADS_1
Lawan bicaranya mengendikan bahunya tak ingin tahu-menahu, "Udah ngga usah kebanyakan protes, minum aja tuh obat."
"Minum obat itu ga boleh sampe telat Fan." Khai ikut memberi wejangan.
"Nah yang anak kedokteran angkat bicara." Timpal Arga.
"Yang dibilang kak Khai bener Fan, kalau minum obatnya nggak teratur nanti ngga sembuh-sembuh."
Yasha yang semula enggan bersuara karena canggung ikut menyuarakan pendapatnya.
"Yoi, udah minum tu obat biar cepet sembuh. Ntar kita bisa ngeband bareng lagi." Leon turut mengomentari.
Taufan mendengus, "Iya iya ini minum obat. Ish, pada ga seru. Ken, air putihnya, tolong." Pintanya pada sang adik.
Sebenarnya moodnya sudah cukup buruk hari ini karena dilarang makan pizza dan sekarang ia dipaksa untuk minum obat yang nantinya akan membuatnya mengantuk dan melewatkan momen kebersamaan ini. Tapi dia bisa apa?
Sejenak ia menatap jenuh pada butir-butir tablet yang tersaji di hadapannya. Jumlahnya tidak sedikit, juga tidak kecil.
Ia tak mengerti mengapa ia harus menelan obat-obatan sebanyak itu ketika tubuhnya sudah merasa jauh lebih baik. Setidaknya untuk saat ini.
Remaja itu beringsut, memasukan satu per satu obat ke dalam mulut dan menelannya hanya dengan bantuan air.
"Yang bikin ribet siapa, yang ngeluh ribet juga siapa?" Cibir Sevan.
"Ngomong sekali lagi, aku sumpal obat!" Ujar Taufan yang mulai geram dengan ucapan Sevan.
"Udah, yang ngerasa waras ngalah aja." Ujar Arga yang jengah dengan kelakuan teman-temannya.
"Daripada berantem mulu dari tadi, mending main kartu aja yok! Aku ada kartunya nih." Ujar Leon seraya mengeluarkan satu dek kartu dari sakunya.
Tatapan Sevan seketika menyelidik, "Kau niat ya?"
"Tenang aja, ngga ada taruhannya kok. Lagian mana seru kumpul-kumpul begini tapi ngga main, ya ngga? Ayok siapa aja yang mau ikut?" Leon mulai mengocok dek kartu ditangannya.
"Aku ikut lah, aku jago main beginian." Sahut Taufan girang.
Lihat saja, senyumnya terkembang begitu lebar setelah pembagian kartu. la nampak sangat percaya diri dengan kartu yang dipegangnya saat ini.
Yah, apapun itu, selama bisa mengukir tawa di garis bibir tipis itu dan membuat bahagia bertahta di atasnya, pasti akan mereka berikan.
__ADS_1
******
Suara air keran beradu dengan permukaan wastafel menjadi warna lain yang mengisi suasana di peralihan siang menuju senja. Tapi tawa dan candaan masih mengudara di sana. Tampak keseriusan di wajah beberapa pemuda yang masih asik dengan permainan kartu nya, mengabaikan seorang lagi yang telat terlarut dalam buih mimpi.
"Yes! Aku menang!" Leon berteriak girang bukan main saat kartu di tangannya habis, mengundang dengusan kecewa dari lawan mainnya.
Ya, mereka masih memainkan sebuah permainan kartu yang sengaja Leon bawa dari rumah. Nampak begitu mengasikkan hingga mereka melupakan waktu yang telah bergulir.
"Ssst, orangnya udah tidur." Sebuah suara datang menginterupsi, seperti setengah berbisik. Yasha yang baru saja kembali seusai membantu Ken membereskan alat makan menunjuk pada Taufan yang sudah terlelap dengan posisi setengah terduduk.
Bahkan kartu yang mereka mainkan masih digenggamnya.
Atensi Hali yang semula terfokus pada layar laptop di pangkuannya, untuk sejenak ia kesampingkan.
Dengan hati-hati ia menurunkan sandaran ranjang agar Taufan bisa tidur dengan nyaman, kemudian memperbaiki selimut yang membalut tubuh kurusnya.
"Ya udah kak, om berhubung Taufannya udah tidur, kita pamit aja. Takut ganggu istirahatnya." Ujar Sevan seketika itu dan mulai berkemas.
"Iya, makasih ya semuanya udah nyempetin buat menjenguk Taufan."
"Santai lah kak, Taufan itu udah kayak best friend forever kita, jadi ngga usah sungkan lah sama kita. Kalau butuh apa-apa telfon aja, pasti langsung dateng." Ucapan Leon tak pelak membuat Hali tersenyum penuh makna.
Ternyata sebelum dirinya, sudah ada orang-orang yang bahkan lebih memahami dan peduli pada Taufan dibanding saudaranya sendiri.
Kenyataan itu mencubit kuat ulu hatinya, rasa bersalah itu kembali kepermukaan, membelit hatinya. Tapi ia juga tak ingin terikat oleh masa lalu. Kata seandainya ia ubah menjadi kata penuh harap yang akan menjadi nyata.
Seandainya dulu ia tak pernah membenci, mungkin hubungannya dengan Taufan tak akan pernah sedekat ini. Bukankah demikian lebih baik?
"Aku juga ikutan balik deh, Hal. Ada tugas yang mesti dikumpulin besok, takut gak selesai ntar."
Khai melirik ke arah Arga yang nampaknya enggan untuk beranjak, "Kau pulang bareng kakak." Tegasnya seraya menyeret adik satu-satunya itu keluar.
"Hei hei, aku ini adikmu lo kak masak iya diseret kek anak anjing gini."
"Oh, aku aduin Papa ya abis ini. Ngatain mereka anjing."
"Astaga, salah lagi kan! Kak Hal, sohibmu ini loh, nggak ada niatan mau jadi ngejinakin apa?" Ujar Arga asal.
"Heh, kurang ajar ya lama-lama." Hali menggeleng melihat tingkah sahabatnya. Ia merasa seperti sedang berkaca, menemukan dirinya dan Taufan dalam hubungan kakak beradik Khai-Arga. Ternyata sudah umum ya hubungan Tom and Jerry mendarah daging dalam hubungan saudara.
__ADS_1
Ia senang karena kembali merasakan kehangatan seperti ini lagi.