
Hari semakin sore, langit pun sudah mulai berubah menjadi jingga dengan semburat emas yang seakan berkilau. Cahaya matahari yang hangat menembus masuk ke dalam sebuah ruang perpustakaan, bersatu dengan aroma buku yang khas.
Di sela sela rak, pemuda ber iris mata biru berdiri di atas tangga kecil menaruh buku buku yang tadi di bawa nya. Keceriaan terlihat di wajah mereka yang sedang bercanda untuk mengusir kebosanan.
"Kau itu hebat ya? Terkadang aku salut sama orang-orang sepertimu." Ujar Taufan mengusir hening yang melanda.
Yasha mengernyitkan dahi nya. Dalam pikiran ia bertanya tentang apa maksud Taufan itu. "Sepertiku apanya?"
"Yah, kau kan aktif di organisasi, kau cerdas, juga cantik. Siapa sih yang ngga suka orang seperti mu? Aku ingat sekarang, kau sering dipanggil ke depan saat upacara untuk menerima penghargaan. Sepertinya kau juga cukup disegani para guru dan murid sekolah kan? Enak ya jadi anak populer yang penuh prestasi." Ucap Taufan.
Pandangannya beralih menatap langit langit perpustakaan. Ia menghembuskan nafas nya pelan lalu kembali menggerakkan tangan nya menyusun buku terakhir yang ia bawa. Kemudian kaki nya melangkah menuruni tangga.
"Ngga sepertiku. Langganan BK, dihukum di depan kelas, tukang bolos, mungkin juga tukang berantem. Ya ngga heran sih kalo pandangan kalian padaku pasti negatif. Orang cerdas seperti mu itu keturunan kali ya? Eh, tapi kak Hali sama Ken pinter kok. Rasa nya Cuma aku doang yang bodo."
Mendengar ocehan Taufan membuat Yasha tersenyum tipis, "Aku ngga sesempurna yang kau katakan." Ujar Yasha lirih.
Suara yang terdengar sendu itu menarik perhatian Taufan untuk memandang ke arah nya.
"Kedua orang tuaku itu orang yang cukup ambisius, ayahku Kepala sekolah dan ibuku seorang dosen. Sementara aku anak tunggal. Sudah semestinya mereka menaruh harapan besar padaku, dan aku hanya mengikuti apa yang mereka rencanakan untuk ku. Aku ngga keberatan, karena aku tau mereka menginginkan hal yang terbaik untukku. Tanpa merekapun aku tak akan bisa berada di titik ini." Ucapannya terjeda.
Ia menghela nafas panjang, berharap kegelisahan yang selama ini ia pendam di sana. Tangan nya bermain main di sebuah buku tanpa berniat mengambil nya.
Taufan masih terdiam, menantikan kelanjutan nya. Sekali lagi Yasha menarik kedua sudut bibirnya, mencoba tersenyum meski terpaksa.
"Dan meskipun aku sudah melakukan hal terbaik sekalipun, pasti akan tetap ada orang yang ngga bisa menerimaku, bahkan membenciku. Ngga tau kenapa..." Ucapannya kembali terjeda, meraup oksigen sebanyak yang bisa dihirupnya guna meredakan sesak yang mendadak menyelimuti dirinya. Ia mengerjap, menahan cairan di mata nya.
__ADS_1
"Kau tau nggak sih rasanya ngga dihargai atas usaha kita? Sementara aku sendiri juga punya tanggung jawab, atas sekolah, atas diriku sendiri. Aku sampai bingung harus bersikap seperti apa! Aku hanya... Ingin jadi yang terbaik. Apapun alasan nya."
Nafasnya tercekat, kedua tangannya membekap mulut agar tidak ada isakan yang lolos. Sayangnya topeng yang selama ini menyembunyikan kelemahannya runtuh begitu saja. Air matanya dengan lancang meluncur bebas membasahi pipi, membuatnya nampak tak berdaya di hadapan orang lain.
Detik berikut nya, ia bisa merasakan sebuah tangan membelai lembut pucuk kepalanya.
"Kau udah hebat kok." Kata-kata itu terucap tulus.
Yasha reflek mendongak. Sebuah senyum yang muncul di bibir tipis itu. Ketika beradu pandang, sepasang manik biru Taufan menatapnya teduh.
"Mereka hanya iri padamu, karena ngga bisa menjadi sepertimu. Hidup memang selalu ada saja orang yang tidak menyukai kita. Tapi bukan berarti kita harus menggapai semua omongan mereka. Karena ini hidupmu, bukan hidup mereka. Kau cukup menjadi dirimu sendiri, seorang Yasha yang ceria dan bisa diandalkan. Aku yakin kok, lebih banyak orang yang mengagumimu, dibanding mereka yang tidak menyukaimu."
Katakanlah jika perkataan Taufan hanya untuk menghibur Yasha. Itu bukan masalah. Nyatanya hanya dengan kalimat sederhana. yang Taufan lontarkan, terasa seperti angin sejuk yang menghempas rasa sesak dalam benak Yasha.
"Udah, gak usah nangis." Jemari Taufan terangkat, menghapus air mata yang membasahi kedua pipi chubby itu.
Seakan terhipnotis akan tutur kata lelaki di hadapannya, Yasha mengangguk singkat. Isak tangisnya perlahan mereda. Tangan Taufan kembali mengusap kepala gadis itu, tanpa menghilangkan senyuman yang secerah mentari sore itu.
Ia masih tertunduk, menghindari kontak mata yang membuat darahnya berdesir hebat.
"Udah sore, perpus juga udah mau tutup. Pulang yuk! Bareng aja sampe parkiran." Ujar Taufan mengakhiri kebisuan saat itu.
"Hari ini aku ngga bawa mobil. Aku dijemput supirku, tapi aku belum ngirim pesan." Jawab Yasha lirih. Ia masih sibuk menormalkan getaran aneh dalam dirinya.
"Ya udah, tunggu aja di pos satpam. Aku temenin sampe jemputan mu dateng."
Taufan lebih dulu melangkah di depan, diikuti Yasha yang masih enggan merajut obrolan dengan nya. Sepanjang koridor berlalu bersama hening, menciptakan atmosfer yang tak nyaman bagi dua insan itu. Kali ini sekolah sudah benar-benar sepi. Sang surya juga nyaris tenggelam.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, gimana keadaan Ken? Udah baikan kan?" Tanya Yasha sedikit berbasa-basi.
"Tadi pagi sih masih agak pucat, kenapa emang?" Jawab Taufan tanpa mengalihkan pandang dari ponselnya, membalas pesan Hali yang katanya akan pulang malam.
"Ya ngga, Cuma nanya aja. Tadi dia ngga datang rapat OSIS soalnya, dihubungin juga ngga direspon. Ya aku pikir dia masih sakit gitu."
Taufan mengernyit, atensinya kini sepenuhnya tertuju pada gadis di sampingnya, "Hari ini dia ngga masuk?"
Sebuah gelengan menjawab pertanyaan Taufan, "Tadi aku sempet ke kelasnya sih, buat ngasih berkas. Tapi temen sekelasnya bilang kalo dia emang ngga masuk, ngga ngasih kabar juga. Tidak biasanya Ken gitu. Makanya aku nanya."
Mendengarnya membuat perasaan Taufan kacau. Memorinya berputar di kejadian pagi tadi. Masih segar lama ingatannya, Ken yang mengenakan seragam dengan wajah pucat nya. Ia bahkan menerima bekal makanan yang Taufan berikan dan pergi begitu saja Jika dia tidak datang ke sekolah, lalu kemana anak itu pergi?
"Taufan? Kenapa?" Lambaian tangan Yasha menariknya dari lamunan. Didapatinya ekspresi Taufan yang mendadak menegang dan gelagatnya yang aneh membuat merasa ada yang janggal.
"Ng-ngga kok. Sepertinya dia emang masih sakit." Bohong nya.
Sepertinya Yasha tak perlu mengetahui kejadian yang sebenarnya, dan Taufan memilih untuk menyembunyikannya terlebih dahulu.
Gadis itu hanya mengangguk angguk, "Kalo besok belum masuk aku jenguk deh. Eh, jemputan ku udah dateng. Bareng aja sekalian, biar dianter sampai rumah." Ujar Yasha menawarkan diri ketika sebuah mobil hitam terlihat di gerbang sekolah.
"Ngga usah, aku bisa pulang sendiri kok. Lagi pula rumah kita juga beda arah."
"Yakin ngga papa?"
Taufan memberikan anggukan mantap, tak ingin lagi merepotkan nya. "Ya udah, aku duluan. Makasih ya tadi udah bantuin. Sampai besok." Ujar Yasha sambil tersenyum penuh arti.
Lambaian tangan mengakhiri perjumpaan mereka sore itu. Menyisakan Taufan dengan pikirannya yang tak tenang. Tanpa membuang waktu, segera ia memacu langkahnya. Memastikan kalau adiknya itu tengah menonton TV di rumah, atau mungkin tertidur karena sakit.
__ADS_1
Ia tak ingin berpikir macam-macam. Ia harap Ken baik baik saja.
TBC