Dandelion

Dandelion
47. Rapuhnya


__ADS_3

Matahari baru sedikit beranjak naik. Lebih tepatnya sekitar pukul 8 pagi, Khai sudah menapakkan kaki nya di halaman rumah sakit sembari menenteng tas yang tersampir di bahu kirinya.


"Ngapain pagi-pagi udah di sini?" tanya Hali heran saat mendapati lelaki seumuran nya itu berada di kamar rawat Ken.


"Mau beli baso." Sinis Khai dengan malas menanggapi. "Pake nanya lagi.. Ya menurut loh? Kau nitip apaan tadi, huh? Nih bajumu! Mandi sana! Itu muka udah lecek kaya kertas koran buat bungkus gorengan."


"Jangan kenceng-kenceng! Ken baru aja tidur!" Sahut Hali yang langsung menghadiahi Khai dengan jitakan ringan.


"Ya ngga usah pake jitak bisa ngga sih? Udah dibawain, bukannya makasih malah main jitak." Omel Khai sembari melempar tas merah itu kesal.


"Ya habis bikin rusuh kamar orang aja."


Khai tak menggubris ocehan nya, atensinya teralihkan pada sosok di atas ranjang. Ken masih terbaring dengan mata terpejam.


"Masih tidur anak nya?"


"Kan tadi aku udah bilang. Abis minum obat tadi langsung tidur lagi. Tolong jagain bentar ya, aku mau mandi." Kata Hali yang langsung melesak masuk kamar mandi.


Manik mata Khai berputar malas, bibir nya mencibir tanpa suara tapi juga tak menolak dan memilih untuk menghempaskan diri di sofa sembari memainkan ponsel nya.


Tak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka. Menampakan Hali yang lebih segar dengan rambut basah nya sembari mengacak nya pelan.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanyanya saat melihat Khai yang duduk di samping ranjang Ken dengan raut wajah cemas.


"Ken ngigau, manggil nama Taufan sambil teriak 'jangan!'. Kayaknya dia masih trauma."


Raut wajah Hali berubah sendu saat melihat wajah pias adiknya yang kembali tenang dalam tidur. Ia tak tahu apa saja yang telah Ken lalui, dengar dan lihat.


Membayangkan diculik oleh orang tak di kenal, bahkan diancam akan dibunuh pasti menjadi pengalaman yang sangat mengerikan baginya. Yang mungkin tak ingin ia ingat seumur hidup nya.


Terlebih ia sendiri melihat bagaimana Taufan nyaris meregang nyawa karena menyelamatkan nya. Pasti batin anak itu sangat tersiksa oleh rasa bersalah.


"Khai, kayak nya aku mau berhenti kuliah aja dan fokus kerja sambil ngurus mereka." Ucap Hali yang mendudukan diri di sofa.


Helaan nafas yang terhembus berat lepas dari sela bibir Hali. Ia sendiri juga ragu untuk melepas beasiswa yang selama ini susah payah ia dapatkan. Bahkan bisa berkuliah di salah satu jurusan favorit di universitas ternama terasa seperti mimpi baginya. Tapi ia tak boleh egois, kedua adiknya membutuhkan dirinya.


"Sebenernya aku juga ngga mau! Tapi biaya perawatan Taufan itu ngga sedikit Khai, apalagi dengan kondisinya yang kayak gini. Warisan sama uang hasil penjualan perusahaan ayah mungkin bakal cukup buat nutup biaya rumah sakit, tapi cepat atau lambat pasti bakal habis. Aku juga udah nyiapin tabunganku kalau semisal butuh. Tapi kalau semuanya kepake, gimana hidup kami selanjut nya kalau aku ngga punya penghasilan tetap?" Sesaat nafas Hali tercekat, ia menunduk menyembunyikan kabut tipis yang menghalangi pandangan nya.


"Mereka harus tetep sekolah, terus lanjut kuliah. Kalau Taufan sembuh nanti, obat sama perawatan nya musti tetep jalan. Hasil kerja ku emang lumayan, tapi itu ngga bakal cukup. Belum nanti buat kebutuhan sehari-hari." Lanjut nya.


Hali tak tahu harus meminta bantuan pada siapa. Ia tak tahu saudara orang tua nya, selain om Tama, sepupu ayahnya yang bekerja di kepolisian, orang yang semalam membantu nya menangkap Mervin.


Tapi ia tak enak hati jika harus meminta bantuan pada nya. Ia sudah sangat merepotkan sepupu ayah nya itu.

__ADS_1


Seingat nya, ayah nya punya adik kandung yang tinggal di luar negeri. Mereka terpisah karena dulu kakek-neneknya bercerai. Tapi ia juga sama sekali tak memiliki kontak yang bisa dihubungi. Rasanya berat sekali hidup tanpa orang tua, terlebih dengan kondisinya yang seperti ini.


Sementara Khai, ia hanya menyimak. Menjadi pendengar setia tanpa sedikitpun berkomentar. Menatap pilu sosok tegar itu merapuh, perlahan terkikis asa.


Langkahnya dibawa mendekat, duduk di samping Hali sembari mengusap punggung yang gemetar menahan isakan.


"Hal, aku pernah ngomong kan kalau kau ngga harus menanggung ini semua sendiri. Masih ada aku! Pasti akan ku bantu, apapun masalah mu." Khai menjeda kalimat nya, sekedar meredam sesak di dada nya yang ikut bergemuruh.


"Kau tenang aja. Semuanya pasti bakal baik baik aja. Taufan pasti bisa bertahan. Kau pasti bisa lewatin ini semua. Soal biaya, aku udah diskusi sama mama papa. Kita akan bantu pengobatan Taufan. Jadi kau ngga perlu sampe berhenti kuliah."


Hali itu sudah seperti saudara nya. Mereka tumbuh bersama karena hubungan dekat orang tuanya. Banyak hal mereka lalui, karenanya Khai juga merasakan sakit saat takdir mempermainkan kehidupan sahabatnya dengan semua tragedi tak berkesudahan ini. Dan dia akan menjadi orang pertama yang memberi uluran tangan saat Hali terpuruk seperti saat ini.


Hali mengangkat wajah nya, menghela nafas panjang sembari mengusap matanya yang sembab, "Thanks Khai, aku mungkin ngga bakal kuat menghadapi ini semua kalau kau ngga ada. Aku juga berhutang banyak sama keluargamu. Aku janji pasti bakal balikin semuanya."


Khai tersenyum miring, "tenang aja. Kau udah kayak saudaraku. Jadi ngga usah sungkan minta bantuan." Ujarnya lantas menepuk bahu Hali, memberi dukungan.


"Ngomong-ngomong, Taufan gimana? Udah ada perkembangan?"


Hali terdiam. Entah ia harus menjawab apa kali ini. Sejak terakhir kali, bahkan tak ada sedikitpun perkembangan dengan kondisi Taufan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2