
"Yo!"
"Astaga, Yanata. Kau benar-benar mau bikin aku jantungan ya?" Taufan nyaris tersedak saat sebuah tepukan mendarat cukup keras di bahunya. Ini sudah kedua kalinya dalam sehari gadis itu nyaris membuat nyawanya terlepas dari ubun-ubun.
Ia sempat heran, apa aura Yanata itu terlalu tipis, sampai-sampai dirinya sama sekali tak menyadari kehadiran nya.
Yanata tertawa kecil, rasanya cukup menyenangkan melihat wajah kesal Taufan dengan bibir tipisnya yang maju seperti bebek.
"Baru gitu doang udah kaget," ejeknya, lalu mengambil tempat di sebelah Taufan.
Sebagian sudah meninggalkan meja, beralih pada kudapan dan film yang mereka putar melalui proyektor. Sevan yang merencanakannya.
Sementara Taufan sengaja menarik diri dengan alasan masih ingin makan dan akan menyusul nanti. Tapi dengan keberadaan Yanata di sana, dirinya tak lagi sendiri.
"Kenapa nggak gabung sama yang lain?" tanya Yanata tanpa melihat lawan bicaranya. Memilih untuk menuangkan soda ke dalam gelasnya.
"Lagi pengen sendiri aja. Kau sendiri?"
"Aku nggak suka filmnya," jawabnya, kemudian menyesap minumannya. Ia masih tak paham, mengapa para pejantan itu berkumpul untuk menonton film Spongebob.
"Ngomong-ngomong, lagu yang kau mainkan tadi bagus. Kau sedang jatuh cinta ya?"
"Ha?"
Taufan menoleh cepat. Ia tak mengerti mengapa Yanata tiba-tiba membawa obrolan mereka ke sana.
"Lagu tadi, kau menyanyikannya untuk seseorang, kan? Orang bilang, saat seseorang jatuh cinta, matanya akan memancarkan binar yang berbeda."
"Apa mataku terlihat seperti itu?"
Yanata mengangguk, "Seperti binar di lautan. Seseorang pernah berkata padaku. Ketika orang jatuh cinta, tatapan mereka akan berubah. Kau bisa melihat binar di sana. Dan aku melihat itu di matamu."
Taufan terdiam. Hanya sebentar, sebelum tawanya lepas. "Sok tahu kau. Orang yang mengatakan hal itu pasti sampai saat ini masih jomblo."
Yanata nampak mengendikan bahu, meraih bungkusan kripik kentang dan membukanya. "Melihat respon mu, sepertinya tidak tersampaikan, ya??"
"Wah, omongan mu sudah seperti madam-madam tukang ramal."
"Aku anggap itu pujian. Terkadang dengan musik, kita bisa mencapai perasaan seseorang. Tapi tidak semua orang bisa memahaminya. Musik itu memang romantis bagi sebagian orang. Tapi di satu waktu sulit untuk dipahami, meski keberadaannya melampaui kata. Tapi jika maknanya tidak tersampaikan, ia hanya akan berakhir menjadi sebaris puisi bernada dan perasaan yang tersirat di sana akan menguap tak berbekas."
Kata-kata Yanata kembali membungkam Taufan. Membuatnya merenungkan tentang sebait rasa yang terungkapkan namun tak tersampaikan. Ia ingin tertawa. Tanpa diberitahu pun, ia sudah lebih dulu menyadarinya.
"Kenapa kau sampai berpikiran kayak gitu? Kau mau jadi filsuf ya? Aku kan cuma pengen menyanyikan apa yang pengen aku nyanyiin."
"Hmm, ya udah. Terserah kau saja." Yanata beranjak berlalu. Mengambil tempat di samping Yasha dan ikut menonton film yang masih diputar. Bukankah tadi dia bilang tidak suka filmnya?
Meski Taufan berkata demikian. Tapi jauh dalam dirinya, hatinya berkerut. Tak sepenuhnya menampik ucapan Yanata. Tapi ia sadar, dirinya seorang pengecut. Yang melarikan diri bahkan sebelum maju berperang. Dalam hal perasaan.
Suara binatang malam menjadi teman sepinya di teras belakang. Mata nya menatap kosong pada gelap yang membentang di kejauhan. Melamunkan apa saja yang singgah dipikiran nya.
"Jangan kebanyakan bengong kak, ntar kesambet." Suara Ken menyadarkan nya.
Anak itu datang dengan cangkir di masing-masing tangannya. Teh memang menjadi pilihan terbaik untuk menghangatkan tubuh di tengah kungkungan udara malam. Bahkan jaket yang Hali pinjamkan belum cukup untuk menghalau dingin untuk menyentuh kulit tipisnya. Tapi ia enggan untuk beranjak.
"Hmm, tehnya harum." Ia suka dengan aroma khas dan sensasi menenangkan saat pertama lidahnya mengecap rasa manis di sana.
"Kak Yasha yang bawain, katanya bagusbuat kesehatan," pungkas Ken yang kemudian beralih duduk di samping Taufan. Sama-sama menikmati suasana malam yang sedikit berkabut.
"Ngapain kak Taufan di luar sendiri? Kan dingin."
"Nggak papa. Pengen aja, nyari yang seger-seger. Lagian ngga ada yang bisa aku lakuin. Kak Hali nggak ngebolehin buat bantu-bantu."
Seperti biasa, Hali memang melarangnya untuk turut membersihkan sisa-sisa pesta mereka atas dalih 'nanti kecapekan'. Kemudian kembali mengasingkannya (lagi).
Setidaknya temani lah dia agar tidak mati bosan, pikirnya. Tapi sepertinya Hali terlalu sibuk untuk itu.
Karenanya, tak ada hal yang bisa ia lakukan selain duduk seorang diri.
Tak ada lagi obrolan setelah nya. Membiarkan keheningan panjang membentang di antara mereka. Hingga teh yang semulanya mengepulkan uap, perlahan-lahan kehilangan panasnya. Barangkali masih ada rasa canggung di antara keduanya.
Taufan masih belum terbiasa dengan situasi ini, meski sebenarnya ia sangat senang bisa duduk bersama adiknya. Ia bahkan tak bisa mengingat kapan terakhir mereka sedekat ini.
Sementara Ken, mungkin rasa sungkan itu bermuara dari sikap buruknya pada Taufan selama ini. Sekalipun kakaknya itu sudah memaafkan dan menerimanya, tentu masih tersisa rasa tak enak hati. la sendiri tak tahu harus bagaimana untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman itu.
Memorinya kembali pada malam di mana Taufan mempertaruhkan nyawanya demi dirinya. Masih terekam jelas, setiap detiknya. la tak akan pernah lupa, meski itu akan menjadi kenangan terburuk yang akan menghantuinya dalam mimpi.
Setidaknya ia akan terus teringat akan pengorbanan kakaknya. Dengan begitu ia akan selalu ingat untuk membalas budi Mungkin hanya ia yang berpikir demikian.
"Kak, aku mau nanya sesuatu." Suara Ken kembali terdengar, menggantung di ujung kalimat.
__ADS_1
"Hm?" Taufan menoleh, menantikan kata-kata Ken berikutnya.
"Kenapa kak Taufan berusaha sampai seperti itu hanya untuk melindungi ku?"
Taufan tertegun. Pandangan mereka kini bertemu. Tapi ia masih tak bisa menerka apa yang coba adiknya sampaikan. Yang ia tahu, ada keraguan saat pertanyaan itu terlontar.
Terlihat dari bagaimana Ken menggenggam erat cangkir nya.
"Kenapa kak Taufan ngga mengabaikan aku saja? Atau seenggaknya kak Taufan kan bisa lapor polisi aja? Kenapa kak Taufan malah nekat?" Ken melanjutkan ucapannya.
Suaranya datar, tak terbaca emosi di sana, namun terdengar menuntut. Mungkin pertanyaan itu sudah sejak lama ingin ia lontarkan. Tapi sulit baginya memilih waktu yang tepat. Mungkin juga karena keraguannya.
"Selama ini kan aku jahat sama kak Taufan. Tapi kenapa, meski begitu kak Taufan tetap... hiks... Kalau saja, kak Taufan.. hiks... mengabaikan ancaman Mervin. Kak Taufan nggak bakal berakhir kek gini."
Taufan terkesiap. Nafas nya tercekat saat menemukan air mata jatuh dari sepasang netra emas adiknya. Sesaat ia terlihat mengulas senyum tipis, sebelum mengalihkan pandangannya.
"Selama ini, pertanyaan itu pasti mengganggumu ya? Hmm, benar juga. Kenapa aku bertarung sampai seperti itu ya?" la nampak berpikir, sebelum membawa pandangannya menatap kegelapan malam di atas sana.
"Aku nggak mungkin bertarung mati-matian kayak gitu untuk orang lain." Sengaja Taufan memberi jeda, hanya untuk kembali menjalin kontak mata dengan manik Ken. Kemudian mengusap pelan pucuk kepalanya. "Tapi ini beda. Adikku satu-satunya yang dalam bahaya. Mana mungkin aku membiarkanmu dalam bahaya lebih lama lagi. Bisa-bisa justru aku yang kehilangan mu."
"Aku... daripada harus merasakan kehilangan lagi. Lebih baik aku yang mempertaruhkan semuanya untuk menyelamatkanmu. Lagi pula, bagaimanapun juga kau Adikku. Sudah seharusnya aku melindungi mu."
Saat itu, Ken mampu melihat sendu di raut wajah sang kakak. Tersembunyi di balik senyum cerah yang Taufan ukir. Hatinya sakit. Bahkan setelah semua sikapnya yang sudah pasti melukai perasaan Taufan, hingga usahanya memutus hubungan saudara mereka, kakaknya itu masih memikirkan nya.
"Maaf," kata itu lirih terdengar.
"Maaf sudah membenci mu. Maaf sudah mengatai mu. Maaf jika selama ini, tindakanku banyak menyulitkan mu. Membuat kak Taufan sakit hati. Maaf. Maaf..."
Ken tertunduk dalam. Bibirnya tak sanggup lagi merangkai kata. Selain meloloskan isakan yang terdengar menyayat.
Taufan meraih tubuh Ken, memeluknya hangat. Mengusap punggungnya yang gemetar hebat. Menghantarkan ketenangan. Tak tega anak itu dibelenggu rasa bersalah hingga seperti ini. Ia sudah pernah bilang kan, tangis adiknya adalah kelemahannya. Ia tak pernah sanggup melihat adiknya tersedu seperti ini.
"Sssst, sudahlah. Aku sudah memaafkan mu bahkan tanpa kau minta sekalipun," bisik nya berusaha menenangkan.
la justru kian dibuat panik saat adiknya itu menangis sampai sesenggukan. Ia khawatir jika Ken akan kesulitan bernafas jika terus menangis seperti ini.
"Hei, kenapa nangisnya tambah kenceng? Hm?"
"Gara-gara aku, kak Taufan jadi harus masuk rumah sakit. Kak Taufan pasti menderita sekali."
"Yang penting sekarang kan aku udah nggak papa. Kita juga udah balik kayak dulu lagi. Buatku ini semua udah cukup."
Kata-kata itu, tak pelak membuat senyum Taufan terurai, "Dari dulu Ken juga udah jadi adik yang baik kok. Udah, nggak usah nangis. Malu kan kalau dilihat yang lain."
Waktu berjalan tanpa mereka sadari. Setelah tangis itu mereda, jarak yang sebelum nya terbentang selama enam tahun lama nya seakan sirna begitu saja. Banyak cerita yang sudah mereka bagi. Sesekali tawa menggema di antaranya. Semuanya seakan mengalir.
Barangkali itulah kekuatan ikatan keluarga. Kini mereka sudah layaknya kakak adik yang akur.
"... padahal kalau proposal nya diterima kan lumayan bisa dapet suntikan dana." Ken mengakhiri cerita panjangnya dengan sedikit rasa dongkol di hati karena terbawa suasana ceritanya.
Namun tak ada tanggapan setelahnya, melainkan dengkuran halus yang menandakan lawan bicaranya sudah jauh tenggelam dalam lelap.
"Lah, udah molor anaknya." Hali tiba-tiba saja muncul dari dalam, sekedar mengecek kedua adiknya yang terakhir ia lihat sedang bercengkrama asyik di halaman belakang.
"Lah iya, berarti dari tadi aku ngomong sendiri dong?" gerutu Ken. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan Taufan tertidur.
"Pindahin ke kamar aja Hal, kayaknya kecapean tuh anak," saran Khai yang mengekor di belakang.
Sejak pulang dari rumah sakit tadi Taufan memang belum sempat beristirahat karena terlalu semangat mempersiapkan acara barbeque malam itu. Berapa kali di peringatkanpun, bukan Taufan nama nya kalau tidak keras kepala.
Alasannya, 'cuma gini doang, nggak bakal capek'. Jika saja bukan karena ancaman Hali tadi, entah ulah apa lagi yang anak itu perbuat.
"Kita juga mau pamit sekalian kak. Udah malem soalnya," ujar Sevan, usai memastikan tak ada lagi yang perlu dibereskan. Perhatian teralihkan pada dua gadis di sebelahnya. "Yasha sama Yanata bareng aja sekalian."
"Ah, aku bisa pesen taksi aja kok," tolak Yanata, yang tak enak hati untuk merepotkan.
"Bahaya kalo jam segini cewek balik sendirian. Bareng aja. Pasti dianterin sampe rumah kok," timpal Leon.
Yanata sempat menimbang. Ini lewat dari jam sepuluh. Sebenarnya masih ada trauma baginya untuk keluar malam, terlebih jika seorang diri. Ia takut tragedi tempo hari akan terulang.
"Mereka emang kurang waras, tapi bakal lebih aman kalau kau diantar pulang sama mereka. Kalau mereka macem-macem, pecahin aja telurnya," kata Hali yang paham akan keraguan gadis itu simpan. Meski kemudian candaannya berbuah delikan tajam dari yang lain.
"Ya udah, kalau gitu, makasih udah mau di repotin."
Mungkin memang ada benarnya juga. Akan lebih aman jika ia pulang bersama orang yang setidaknya sudah dikenalnya, bukan?
"Makasih om jamuan nya. Kita pulang ya Hal, Ken. Titip salam buat Taufan."
Sesaat setelah mobil putih Khai meninggalkan halaman, suasana kembali sepi. Seperti malam-malam biasa. Tentu saja karena trouble maker di rumah mereka sudah lebih dulu tertidur. Ah iya, Hali baru ingat. Dia masih meninggalkan Taufan yang tertidur di teras belakang.
"Biar om aja yang mindahin." Tepukan pelan di bahu Hali menghentikan langkahnya yang sudah sampai lebih dulu di pintu belakang.
__ADS_1
Hali tersenyum simpul, "Nggak papa, aku aja. Om Ethan istirahat aja, besok Om kan ada perjalanan jauh."
"Ya udah, kalau gitu Om tidur dulu ya. Lampunya nanti jangan lupa dimatiin. Malam Hal."
"Malam Om."
Sepeninggalan Ethan, pandangan ruby merahnya tertuju pada Taufan yang nampak pulas. Ia terkekeh pelan. Sosoknya yang benar-benar seperti bocah itu mengingatkannya pada kenangan lama.
Ia kemudian berjongkok. Sekedar menyamakan tinggi. Ada desiran tak nyaman, sekaligus lega di satu waktu saat memerhatikan bagaimana wajah polos itu terlelap dalam damai.
Sebelumnya, ia tak pernah nyaman dengan pejam yang Taufan bawa setiap kali ia tidur. Takut jika netra biru itu tak akan lagi terbuka.
Rasanya aneh. Saat dirinya yang dulu menjadi orang yang paling abai, kini berbalik arah menjadi seseorang yang paling tidak ingin kehilangan. Tapi setelah mengetahui kebenaran yang semesta sembunyikan dan seberapa besar luka yang anak itu simpan, ia jadi ingin terus melindunginya.
Mengukir lebih banyak tawa di bibir tipisnya. Menebus segala kesalahan. yang selama ini ia torehkan. Ia percaya, mulai sekarang semuanya akan baik-baik saja.
"Cepat sembuh, Dek."
*******
Gelap yang berbintang perlahan terkikis sirna tatkala sang bagaskara kembali berkuasa. Mematik kuning keemasan, membakar cakrawala di ufuk. Hanya bulan dengan bentuk sabitnya yang tersisa samar di langit tenggara. Bersama dengan berlalunya malam, Ethan ikut pamit.
"Hati-hati di jalan ya, Om. Kalau sudah sampai nanti, jangan lupa ngabarin." Pelukan singkat menjadi akhir dari perjumpaan mereka.
Pagi itu, Ethan akan kembali setelah hampir sebulan menetap di tanah kelahirannya. Jika bisa, ia ingin tinggal lebih lama.
Sayangnya situasinya yang tidak memungkinkan, dengan jabatan yang saat ini ia pegang. Ada anak dan istrinya juga yang menunggu kepulangan nya.
"Iya. Kalian juga jaga diri baik-baik." Setidaknya, kini ia bisa tenang meninggalkan putra dari mendiang kakaknya itu. Setelah memastikan tak ada lagi yang akan mengancam keselamatan keponakannya. Taufan juga sudah hampir pulih, meski masih harus menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan. Tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"ARGH! Tunggu! Kenapa nggak ada yang bangunin aku! Om Ethan mau balik tanpa pamitan sama aku!?"
Taufan muncul dengan muka bantalnya. Rambutnya masih acak-acakan. Kesadaran yang tadinya masih di awang seketika pulih saat teringat keberangkatan Ethan.
la bahkan langsung loncat dari kasur dan berlari dari kamarnya di lantai atas sampai teras rumahnya untuk mengejar Ethan. Beruntung masih sempat.
"Tidurmu nyenyak banget. Om nggak tega buat bangunin," tukas Ethan beralasan.
"Yaaa, harusnya bangunin aja!" Seru Taufan, uring-uringan.
"Kak Taufan yang tidurnya kayak kebo. Tadi aku udah coba bangunin ya, tapi nggak bangun-bangun," sahut Ken.
"Udah! Malah pada ribut," lerai Hali yang mulai pusing dengan perdebatan kedua adiknya. Setelah ini pasti akan lebih banyak keributan yang akan terjadi di rumah itu.
Sepertinya Hali perlu menyetok timun untuk berjaga-jaga jika tekanan darahnya naik.
"Om Ethan berangkat sekarang gih. Nanti ketinggalan penerbangannya lagi,"
Ethan terkekeh. "Ya udah, Om pulang ya? Taufan sama Ken jangan bandel-bandel. Nurut apa kata kak Hali. Kalau ada apa-apa, jangan ragu buat hubungin Om. Oke?" kata Ethan yang dijawab anggukan oleh ketiganya.
"Hati-hati di jalan ya Om!" Lambaian tangan itu mengantarkan kepergian taksi yang Ethan tumpangi. Pergi dengan janji akan bertemu kembali.
"Langsung menuju bandara, Pak?" tanya supir taksi sesaat mobil melaju.
"Masih ada waktu sebelum last check in. Kita ke mampir sini dulu ya Pak." Ada satu tempat yang ingin Ethan kunjungi sebelum ia benar-benar pergi. Karena dirinya tak tahu, kapan ia bisa menginjakan kakinya lagi di sana.
Jemarinya mengusap pusara. Tanah basah yang kini telah memeluk dua orang yang dulunya pernah ia kasihi. Menjadikannya panutan, sebelum terpisah oleh takdir. Kemudian direnggut oleh maut. Nama sang kakak terukir di nisan yang saling berdampingan dengan nisan sang ayah.
"Apa kabar Ayah sama Kak di sana? Apa kalian masih sempet ngopi bareng sambil menertawakan guyonan receh?"
Ia tertawa, kendati ada tangis yang ia tahan. Rasanya ia ingin meneriakan ketidakadilan pada semesta. Karena hanya menyisakan dirinya sebatang kara. Namun, setelah lebih jauh la menyelami kehidupan.
Ia tahu alasan mengapa hanya dirinya yang tersisa. Untuk terus berbahagia, juga membantu menjaga hal yang ditinggalkan kakaknya.
"Anak-anak kakak sudah besar sekarang. Mereka tumbuh menjadi orang yang kuat dan mandiri. Aku yakin nantinya mereka akan menjadi orang hebat. Kakak pasti bangga sama mereka, kan?"
Sembari mencabuti rumput liar, Ethan terus berdialog. Meski hanya kekosongan yang mampu ia tangkap.
Namun ia yakin, di suatu tempat di atas sana, Ayah dan kakaknya pasti mendengarnya. Memerhatikan nya Ikut tersenyum bersamanya.
"Sekarang aku juga sudah menjadi pengusaha sukses. Punya keluarga kecil yang tak kalah harmonis dari keluarga kita dulu. Istri yang pengertian dan putri yang cantik. Aku bahagia dengan hidupku saat ini, jadi kalian ngga perlu khawatir."
Ethan menghela nafas berat. Melepas sesak yang membelenggu. Penyesalan terbesarnya hingga saat ini adalah ia tak bisa mengantarkan kepergian keluarganya hingga peristirahatan terakhir. Bahkan sekalinya bertemu, waktu yang tersedia sangat sedikit.
"Maaf, Aku baru bisa ke sini sekarang. Aku janji, bakal ke sini lagi dalam waktu dekat. Tapi untuk sekarang, Aku izin pamit dulu."
Sebenarnya masih banyak yang ingin ia ceritakan, tapi ada penerbangan yang tidak akan menunggunya jika terlambat. Sebuah buket bunga lili putih menjadi tanda penghormatannya pada orang yang berarti besar baginya.
Membiarkan aromanya mengisahkan cerita hidupnya yang tak tersampaikan dalam lisan.
END
__ADS_1