
Kehangatan itu selalu dekat maknanya dengan kebersamaan. Kebersamaan yg mengisi kekosongan, kebersamaan yg menghilangkan kabut kesedihan, yang membuat semua orang merasa nyaman dan tenang di dalam nya. Namun terkadang kebersamaan itu sendiri bukan berarti kehangatan.
Seperti pagi itu, meski mentari pagi yang mengisi ruang ruang dengan cahaya kehangatan, namun atmosfer nya terasa berbanding terbalik di sebuah ruang makan di rumah itu. Meja persegi yang biasanya hanya dihuni oleh dua orang kini nampak berbeda. 3 dari 4 kursi di sana terisi, yang artinya seluruh anggota keluarga tengah berkumpul menikmati sarapan bersama.
Itu pemandangan yang langka, bisa dikatakan sangat langka. Situasi normal nya adalah ketika putra kedua dari Ravael bersaudara itu hadir, dua diantaranya akan menyingkir. Yah, setidaknya itu sudah berlangsung setidak nya enam tahun terakhir.
Canggung Taufan rasakan ketika berhadapan dengan kakak sekaligus adiknya di satu meja. Sampai sampai kehening menelan mereka begitu lama, hanya suara sendok yang beradu dengan piring, satu satunya pembunuh kesunyian di sana. Hingga pada akhirnya si bungsu mendorong kursi nya, hendak melangkahkan kaki pergi dari ruangan itu bersama sepiring nasi gorengnya.
Hali mengernyit, "Sarapan mu belum habis, mau kemana?"
Pertanyaan yang seharusnya ia ketahui jawabannya. "Akan aku habiskan di kamar." Jawab Ken bersiap berjalan pergi.
"Kenapa tidak kau habiskan di sini. saja?" Tanyanya lagi.
Ken berdecak kesal, "Aku tak tahan jika harus semeja dengan nya, nafsu makan ku mendadak hilang." Ucap nya sinis. Dari ujung mata, ia menatap kakak kedua nya dengan tatapan tak senang.
"Ken, kembali ke tempat mu dan habiskan sarapan mu sekarang! Ngga ada yang boleh pergi sebelum sarapan di piring kalian habis." Kata kata Hali terdengar ketus, seolah terdapat kata ancaman yang tersirat di dalamnya. Namun di balik itu, ia hanya ingin menyatukan kedua adiknya.
Seperti janjinya pada Taufan.
"Kenapa aku harus semeja dengan pembunuh ini?!" Teriak si bungsu menggema.
"KEN!"
Hali tanpa sadar menggebrak meja. Iris ruby nya berkilat menunjukan amarah yang meluap. Sikap Ken sudah keterlaluan baginya.
Seketika hening...
__ADS_1
Ruangan itu menjadi sesak, udara nya terlalu berat untuk dihirup. Untuk sesaat Ken lupa caranya bernafas, ia terlalu terkejut mendapati kakak nya meneriaki nya seperti itu. Belum pernah ada sejarahnya Hali bersikap emosional kepadanya. Namun sikapnya berubah sejak ia kembali dari studytour
"Aku sudah selesai, aku berangkat dulu." Taufan yang sedari tadi membisu bangkit dari duduk nya, meletakan piring nya di wastafel dan pergi begitu saja tanpa melontarkan sepatah katapun.
Ia melarikan diri..
Karena tak tahu harus berbuat apa..
Diam tak akan menyelesaikan masalah..
Tapi kata-kata saja tak punya kuasa untuk memperbaiki hubungan yang sejak awal sudah retak..
Buka suara justru membuat suasana makin runyam.
Adiknya itu, pasti sekarang lebih membencinya sekarang.
Blam..
"Ken, kenapa kau berkata seperti itu?" Suara Hali masih saja tinggi.
"Kenapa? Harusnya aku yang nanya kenapa kak Hali berubah? Kak Hali ngga pernah membentak ku seperti tadi! Apa kak Hali sadar sedang membela si pembawa sial itu?" Ken tak mau kalah, setiap katanya ia lontarkan dengan lantang dan penuh penekanan. Meski begitu tubuhnya gemetar, menahan perasaan yang campur aduk. Dadanya bergemuruh mendengar perkataan kakaknya. Ingin rasanya ia menangis, tapi menangis saat ini tak akan menyelesaikan masalah apapun.
Sesaat Hali terdiam, matanya terpejam sembari menghela nafas panjang. Berusaha melepas emosi yang sempat memacu jantungnya berdetak lebih cepat.
"Ken, dengarkan aku. Kurasa ini sudah saatnya kita melupakan kejadian itu." Ia melunak, mencoba bicara dengan kepala dingin.
Namun Ken tidak bisa, setiap kata ia ucapkan penuh penekanan.
__ADS_1
"Melupakan? Kak Hali ingin melupakan orang tua kita dan menerima orang yang sudah membunuh mereka? Semudah itu kak Hali memaafkan nya!?"
Wajah Ken memerah, entah menahan amarah atau menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia tak paham dengan jalan pikiran kakak nya saat ini. Kakak yang dulunya selalu sependapat dengan nya, tapi kini justru memihak orang yang sangat ia benci.
"Dia bukan pembunuh. Itu kecelakaan!" Ujar Hali yang masih mempertahankan nada bicaranya agar tidak ikut meninggi, berharap Ken bisa memahaminya.
"Apapun yang kak Hali katakan tentang nya, atau yang membuat kakak menerimanya. Aku tak peduli! Dia tetap orang yang sudah membuat orang tua kita meninggal, yang membuat kita menderita selama ini. Dan tak ada alasan apapun yang bisa menghilang kan kenyataan itu!"
"Apa yang bisa membuat mu memaafkan nya?" Tanya Hali tiba tiba.
Ken tertunduk dalam, rahangnya mengeras, tangannya terkepal erat.
'Tak ada kata maaf baginya.'
"Itu tak akan pernah terjadi. Meski dia membayar dengan nyawanya sekalipun, ayah ibu tidak akan kembali."
Ken mengakhiri perdebatan itu, berlalu dengan cepat tanpa memandang kakak tertuanya. Langkahnya beranjak meninggalkan ruangan sampai akhirnya terdengar suara pintu yang dibanting secara sengaja.
Blaam!
Hali menghela nafas lelah. Sembari memijat pelipisnya yang mulai terasa pening, ia lelah. Nasi goreng yang baru habis setengahnya tak lagi membuatnya ingin makan. Ia tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi ia harus memerhatikan Taufan, disisi lain ia juga harus mempertimbangkan perasaan Ken yang berbeda pandang dengan nya.
Sepertinya situasi seperti ini terasa sangat berbeda, bahkan baginya. Seminggu lalu mereka benar-benar tak peduli dengan Taufan, lalu karena kejadian itu, dalam jangka waktu yang kurang dari 1x24 jam semuanya berubah. Ia mulai bisa menerima keberadaan Taufan. Namum sebaliknya, adik bungsunya itu menolak mentah mentah, seolah kebencian nya sudah benar benar bulat.
Ken yang kemarin minggu baru pulang dari study tournya sudah jelas tak tahu apa-apa tentang Taufan yang tantrum sampai jatuh sakit lebih dari 3 hari. Hari itu juga Taufan baru sekolah kembali usai satu minggu ijin sakit.
Kalau diingat-ingat kedua adiknya itu memang tak pernah bicara, terutama Ken. Tak seperti dirinya yang masih berkomunikasi meski hanya sekata dua kata. Ia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Ken saat melihat kakaknya hendak bunuh diri, apa dia juga akan bersikap seperti ini setelah melihat keadaan orang yang disebutnya pembunuh itu -Taufan- tempo hari. Apa hatinya akan luluh?
__ADS_1
Jika saja Ken juga melihat saat kejadian itu, mungkin saja sikapnya pada Taufan pun akan berubah. Tapi mengingat dirinya sedang tidak ada di rumah saat itu, perubahan yang terlalu mendadak tentang hal yang di bencinya, tentu berpengaruh besar pada nya.
TBC