Dandelion

Dandelion
55. Guna Nya Seorang Teman


__ADS_3

Langit telah berganti menjadi gelap, dihiasi dengan bintang dan bulan yang menghiasi. Sang bulan telah berada di puncak singgasana nya, memancarkan cahaya remang yang membuatnya nampak berkilau.


Tirai kelopak mata itu terbuka secara tiba-tiba, bersama keringat yang membanjiri pucuk kepala. Dadanya naik turun dengan nafas yang memburu, masih bisa ia rasakan degupan jantung yang berpacu di dalam sana.


Langit-langit putih jadi pemandangan pertama yang menyambut penglihatannya, selain cahaya kekuningan yang tak tersisa banyak di ujung cakrawala, menerobos masuk menembus jendela kaca. Aroma antiseptik turut menyengat menusuk hidung, aroma memuakkan yang belum lama ini bersahabat dengannya.


"Bagus bagus...sekarang udah bisa buat orang panik dan khawatir ya?" Suara itu terdengar datang dari sofa di sisi ruangan.


Seorang lelaki seusia nya nya nampak berjalan mendekat dengan gaya angkuhnya, menatap sinis sebelum mendudukkan dirinya di kursi tepat di samping ranjang tempat Hali terbaring.


"Aku kenapa?" Tanya Hali. Kesadarannya masih kabur tapi dipaksa untuk fokus. Tangan nya memijat pelan pelipis nya yang terasa berdenyut sakit.


"Kau pingsan, bego!"


"Pingsan?"


"Iya! Kau pingsan tadi di ICU!"


Hali mengernyit dahi bingung, "ICU?"


Mata nya kembali membola, raut wajahnya berubah kaget. Ia langsung duduk dengan tegap, teringat akan sesuatu, "Taufan!? Apa yang terjadi padanya?"


"Dia oke-oke aja, masih sama seperti hari-hari kemarin. Kenapa?"


"Serius? Beneran? Nggak boong kan?" Sentak Hali masih tak percaya.


Bola mata Khai berputar malas, "Ya buat apa juga aku bohong soal hal beginian?"


Helaan nafas lolos begitu saja dari bibir Hal usai ia yakin jika Khai sahabatnya itu tidak berbohong. Hali langsung menarik nafas lega saat itu juga.


Taufan masih terbaring koma, tapi perasaan akan kehilangan itu tidaklah nyata.


Tubuhnya kembali melemas, kembali terhempas di ranjang. Ia terpejam sesaat, "Ternyata cuma mimpi, ya?" Desisnya lirih. Ia sungguh bersyukur karena hal itu hanya mimpi. Dan sekarang, sosok pengumbar tawa itu masih ada di dunia ini.

__ADS_1


"Iya, memangnya kenapa sih? Lo mkmpi buruk?" Heran Khai melihat tingkah sahabat nya itu.


"Ngga, ngga papa." Ujar Hali sembari menyandarkan punggungnya, Khai mendengus kesal. Kedua tangan nya terlipat di depan dada. Iris matanya belum melepas tatapan jengkel pada lelaki di hadapannya.


"Kau kenapa sih pake acara pingsan segala? Tau ngga gimana paniknya Ken waktu melihatmu tiba-tiba pingsan? Dia nelfon aku sambil nangis-nangis. Takut kau kenapa kenapa, sampe dia ketiduran gara-gara capek menunggumu sadar!" Jelas Khai sengit.


la tak bisa menahan diri untuk tidak mengomel. Ia sendiri tak tahu mengapa dirinya harus marah hanya karena Hali pingsan. Ia merasa tak berguna sebagai sahabat karena tak mengetahui masalah lain yang menimpa sahabatnya itu dan membiarkannya menanggung beban berat itu seorang diri.


Sebenarnya ia sangat mencemaskan kondisi manusia berkepala batu satu itu, hanya saja ia tak tau bagaimana cara menunjukan kekhawatiran nya.


"Emang aku pingsan berapa lama?" Tanya Hali dengan kerutan tercetak dalam di keningnya.


Sesaat Khai melirik jam di handphone nya, "Hampir 5 jam." Hampir saja Hali kembali terkejut jika saja tubuhnya cukup tenaga untuk melakukannya. Sayangnya tubuhnya sangat lemas setelah ia terjaga sepenuhnya.


Pandangan nya ia edarkan pada sisi lain ruangan, di mana adiknya tertidur dengan posisi setengah terduduk. Matanya masih sembab karena habis menangis tadi.


Ingatannya mengembara, pada saat-saat terakhir sebelum kesadarannya terenggut. Setelah menemui Mervin, ia berniat menjenguk Taufan dan justru bertemu Ken di tempat yang sama.


Entah kenapa saat itu ia ketakutan setengah mati hanya karena omong kosong Mervin, hingga terbawa dalam alam bawah sadarnya dan mendatangkan mimpi buruk itu. Hali mendengus berat, mengusap wajahnya kasar. 'Sialan!' Teriaknya dalam hati.


Hali justru tertawa lirih, melihat Khai yang sangat khawatir seperti ini. Satu hal dalam diri Khai yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.


Sekian lama ia mengenal Khai, ia paham betul kalau sahabatnya itu merupakan sosok yang hangat, perhatian dan perasa, hanya saja kepribadian itu terbungkus oleh wajah sangar, terkesan cuek dan dingin, membuat orang lain tidak ada yang menyadari itu.


"Masih bisa ketawa kau rupanya!? Kau mikir ngga sih kalau kau sakit gini siapa yang bakal susah? Ken masih belum bisa ditinggal sendirian, apalagi disuruh ngurusi abangnya yang ngga punya otak kaya gini." Omel Khai lagi. Ia masih nggak habis pikir dengan sahabat nya yang satu ini.


"Kau lah. Gunanya temen kan gitu, di susahin. Kau sendiri yang bilang 'Buat apa punya temen kalau ngga digunain?', kan? Karena aku mengakui mu sebagai teman, makanya aku mau menyusahkan mu aja."


Jawaban yang sungguh tidak terduga itu mengalir begitu saja dari bibir seorang Hali Ravael tanpa setitik rasa ragu, mengundang tatapan tak percaya dari sepasang mata Khai. Ia bahkan tak sadar mulutnya terbuka dengan tidak elitnya.


Inikah yang disebut senjata makan tuan?


Sungguh menyebalkan!

__ADS_1


Terbaca jelas raut penyesalan dari lelaki itu karena sempat mencemaskan makhluk tak tahu diri di hadapan nya. Ia lupa jika Hali itu selain ahli bela diri, juga jago mengembalikan omongan orang.


"Gila! Punya temen satu sialan banget sih. Untung udah kaya saudara, kalau ngga udah ku buang kau ke dalam palung mariana." Komentar Khai pada akhir nya.


"Tapi serius Khai, aku ngga tahu mau gimana lagi kalau ngga ada kau. Mungkin aku bakal bunuh diri beneran, kalau semisal aku ngga bertemu orang sepertimu, yang bisa mendukungku dan membantuku dari samping. Aku ngga bakal bisa ngelewatin semua ini sendiri."


Khai menatap tajam, "Heh, sembarang! Jangan main-main sama nyawa ya! Kalau kau mati, gimana nasib Taufan sama Ken? Kau tega ninggalin adik-adikmu seperti itu? Kepalamu udah kosong ya, ngga ada otak? Atau konslet kemasukan air? " semburnya tak tanggung.


Emosinya kembali terpancing. Tentu saja ia marah dengan ucapan Hali yang seolah tak ada lagi harapan dalam hidupnya. Ia tak pernah tahu jika Hali memiliki pemikiran sejauh itu, bahkan untuk mengakhiri hidupnya. Seberat ini kah masalah yang ia tanggung sendiri selama ini?


Plak..


"Jangan keras-keras! Kalo Ken denger gimana? Bisa nangis tau dia, aku ngga mau dia sakit lagi. Apalagi sampe drop kaya kemarin." Sebuah gamparan yang cukup keras mendarat di paras tampan seorang Khai. Bentuk protes atas ocehannya yang terlampau berisik, mengusik ketenangan di ruang itu.


"Heh! Sialan! Bisa ngga sih ngga pake nabok? Kebiasaan banget!" Umpat Khai yang kesal dengan hobi sahabatnya yang suka menganiaya orang seenak nya.


"Bisa ngga, ngga ngerusuh di tempat orang? Kebiasaan banget." Sentak Hali tak kalah sengit. Ia mulai kesal dengan sahabatnya itu.


Khai kehilangan kata-kata. Lebih tepatnya ia tengah berusaha mati-matian menekan gejolak amarah yang nyaris mencapai ubun-ubun. Ingin sesekali Khai menghajar teman nya satu itu, jika tak ingat manusia temperamen itu baru saja sadar.


Ia tak sejahat Hali yang suka nabok orang sesuka hati, terlepas dari seberapa banyak medali yang ia dapat dari hasil menghajar orang (baca: juara kompetisi bela diri nasional).


Hali mendengus, jarinya bergerak memijit pelan pelipisnya, meredakan denyutan tak nyaman. Kepalanya sudah sakit sedari tadi, tapi perdebatan ini membuatnya semakin parah. "Nah, sakit kan? Karma itu namanya. Makanya jangan suka menganiaya orang! Heran deh, orang lagi sakit juga gamparan nya tetep mantep aja." Khai masih terus mengomel.


Tak ada jawaban ia dapat. Hali masih diam dengan mata terpejam, mungkin tengah berdamai dengan sakit kepalanya. Terlihat dari kerutan yang tercetak di keningnya. Membuat Khai merasa sedikit merasa bersalah. Amarahnya perlahan menguap, tergantikan iba.


"Tch! Kalau masih mau nyusahin, tau diri dong!" Khai menepis tangan Hali, dan mengambil alih untuk berganti memijat pelipisnya pelan.


"Selama ini kau makan gak sih?" tanya Khai tiba-tiba. Ia baru sadar kalau Hali sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Juga kantung mata yang jelas terlihat.


"Ya makan lah! Kalo gak makan gimana mau hidup. Orang ngakunya kuliah kedokteran gitu aja gak tau." Ketus Hali.


Khai terkejut, perempatan imajiner sudah menghiasi kepala nya. Sebanyak mungkin udara ia hirup untuk melegakan amarahnya.

__ADS_1


Tahan Khai tahan...


Serius, teman nya yang satu ini benar benar menyebalkan!!


__ADS_2