
Ken tertunduk. Bahunya bergetar menahan sesak di dada yang terasa semakin menusuk. Air mata yang tertahan di pelupuk mata akhirnya tumpah juga. Tanpa isakan, ia menangis dalam diam, menggigit bibir bawahnya, menyalurkan rasa bersalah yang tak terlampiaskan.
"Keterlaluan... kenapa kau tega melakukan hal ini kepada keluargaku? Memang apa salah keluargaku?" suara lirih, terdengar parau namun masih mampu menggapai pendengaran Mervin.
Bukannya merasa kasihan, Mervin justru hanya menatap datar. Ia menghela nafas kesal mendengar isakan Ken.
"Kau ingin tau? Ayahmu itu sudah menghancurkan hidupku! Menghancurkan semua yang kumiliki hingga tak bersisa. Gara-gara ayahmu, aku sampai di penjara. Hidup ku hancur. Maka dari itu," mervin menjeda ucapan nya dan dengan kasar menjambak rambut Ken, membuat pemuda itu merintih kesakitan. "Aku juga akan menghancurkan semua yang dia miliki. Termasuk seluruh keluarga nya! Dengar baik baik, aku tak akan biarkan kalian hidup. " ujar Mervin dengan penekanan di setiap katanya.
Mendengar seruan Mervin, Ken tertunduk. Ada takut dalam hati nya, namun juga kesal yang tersembunyi di sana. Ingin rasanya ia pergi. Tapi sayang, tentu itu tak bisa ia lakukan sekarang.
Ia ingin segera terbangun dari mimpi mengerikan ini, jika saja kenyataan tak lebih menyakitkan dari ini.
"Lalu apa mau mu?"
Ken meringis menahan pedih di kulit kepalanya saat cengkraman itu kian erat. Ken menahan dirinya melontarkan berbagai umpatan pada pria di hadapan nya itu. "Aku ingin dia merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan." Desis Mervin tajam.
"Nyawa kedua orang tuaku sudah kau renggut! Kakak ku sudah kau buat menderita! Kau sudah berhasil menghancurkan keluargaku! Apa semua itu masih belum cukup?" Suara parau Ujar Ken menahan isakan nya.
Seringai iblis tercetak di bibirnya yang membekas luka sayatan, tersenyum menang mengingat peristiwa 6 tahun lalu yang masih segar di memorinya.
Mervin melepas cengkeramannya, nampak beberapa helai rambut menghiasi jari-jarinya. Ia berjalan mundur, kembali menikmati sebatang rokok dan menyerukan asapnya. Pandangannya beralih menatap langit langit di mana seekor laba laba sedang coba memangsa seekor lalat kecil yang terjebak di sana.
"Kau benar. Seharusnya dendam ku sudah terpuaskan, tapi siapapun yang menduga seperti itu. Dia salah. Setelah kejadian itu, aku terus bersembunyi dan menghilangkan semua jejak dari apa yang ku lakukan. Tapi itu tak bisa menghapus kekesalan ku. Aku ingin menuntaskan semuanya sekarang juga." Ujar Mervin dengan entengnya.
"Setiap malam aku sampai tak bisa tidur dengan nyenyak, memikirkan bagaimana agar dendam ini dapat terbalaskan. Perasaan ini benar-benar membuatku gila." Lanjutnya. "Aku terus mencari pelampiasan lain, dan sekarang aku menemukan jawabannya." Pandangan nya teralihkan, kini fokusnya jatuh pada Ken yang berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak tumbang, selagi mempertahankan kesadarannya yang mulai menipis akibat sakit kepala yang menusuk.
__ADS_1
"Kau tau? Balas dendam terbaik adalah dengan membuat lawan mu merasakan hal yang sama. Ada pepatah mengatakan, kalau keluarga adalah hal paling berharga melebihi apapun di dunia ini. Kau paham maksudku? Kalianlah jawaban dari dendam ku selama ini. Kalau dia menghancurkan hidupku, aku juga bisa menghancurkan keluarganya. Tidak, akan ku bunuh semua keluarganya. sampai tak bersisa. HAHAHA!"
Tawa Mervin menggema. Ken mendelik dengan matanya yang memerah, menatap tajam lelaki itu. Seolah melupakan denyutan menyakitkan yang kian menjadi saat emosinya terpacu.
"Psikopat gila! Iblis kau! Ku pastikan kau tak akan bisa lolos dari polisi setelah ini!" Seru Ken tajam.
Mervin memandang remeh, ia terkekeh kecil kecil, "Setelah ini? Apa kau sudah memikirkan cara untuk lolos dariku?"
"Aku yakin kak Hali akan menolongku dan menyeret mu ke penjara!" Gelak tawa Mervin kian menggila mendengar ocehan Ken yang terdengar omong kosong baginya. "Sebelum dia menyeret ku ke penjara, akan ku kirim lebih dulu dia ke neraka."
"Oh ya, ngomong-ngomong tentang kakak mu itu aku jadi teringat satu hal. Aku sudah menghubunginya tadi, kuberi waktu 30 menit sampai dia disini. Jika lebih dari itu, aku mengacam akan membunuhmu lebih dulu. Yah, sebenarnya kau hanya umpan sih. Aku tau kehidupan kalian sangat sulit karena tidak ada yang menompang kehidupan kalian. Karena itu, daripada hidup kalian semakin susah, lebih baik kalian mati di tanganku "
"Hanya tinggal menunggu waktu setelah kedua saudaramu datang, aku akan habisi kalian semua. Dan ku pastikan, kematian kalian akan lebih pedih dari yang bisa kalian bayangkan."
"Bunuh saja aku." Ujar Ken lemah tanpa sekalipun menatap lawan bicaranya.
Sebelah alis tebal Mervin terangkat, namun tak ingin berkomentar. Masih menantikan kata-kata berikutnya.
"Bunuh aku sekarang juga! Siksa aku sesukamu. Tapi lepaskan kedua kakakku. Biar aku saja yang menggantikan mereka sebagai pelampiasan rasa dendam mu itu. Jangan sekalipun kau menyentuh mereka!"
'Setidaknya itu bisa menebus semua yang ku lakukan pada kak Taufan... ' lanjutnya dalam hati.
Pada akhirnya ia memilih untuk menyerah.
Ia tak ingin siapapun menjadi korban karena dirinya. Faktanya kedua saudaranya berada dalam bahaya karena dirinya yang terlalu lemah. Mervin memanfaatkan dirinya untuk memancing kakak nya, agar mereka datang ke tempat itu agar memudahkannya untuk menghabisi mereka sekaligus.
__ADS_1
Sepasang netra mervin mengamati fisik Ken, dari pucuk rambut hingga ujung sepatu. Seringai tipis seketika terbit, sebuah ide gila baru saja terbesit di otak kriminalnya.
"Sayangnya kau terlalu berharga untuk dibunuh begitu saja. Aku yakin organ dalam mu pasti bernilai tinggi di pasar gelap. Aku tidak ingin merusak aset berhargaku. Khusus untukmu, aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit."
Entah itu bentuk kemurahan hatinya, atau sifat kriminal lainnya. Membayangkan tubuhnya dibedah dan di ambil organ dalamnya, kemudian jasadnya dibuang ke tempat sampah seperti berita pembunuhan yang sering ia jumpai di tv membuatnya bergidik ngeri. Ia akan mati dengan organ tak utuh.
"Apa dengan begitu kau tidak akan mengganggu saudaraku lagi?" Ken dengan suara seraknya.
"Siapa bilang?" Mervin mencengkram wajah Ken kuat, "Asal kau tau, sekalipun seluruh keluargamu mati, itu tak akan pernah cukup untuk menghilangkan dendam ini!"
Sejak detik itu, ia benar-benar merasa takut.
Lelaki itu sangat berbahaya, bahkan ia bisa merasakan kesungguhan dalam setiap ucapannya. Mungkin saja ia kematian pedih yang ia janjikan seperti memotong tubuh saudaranya menjadi bagian dan memberikannya pada anjing jalanan.
Entahlah, ia tak sanggup lagi membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya. Kem terpejam. Air matanya kembali jatuh. Ia hanya bisa berserah, menurut kemana takdir akan membawaku pergi.
BRAK!
Tiba-tiba suara gaduh di luar sana menghentikan gerakan Mervin, membuat perhatian kedua orang itu untuk menoleh pada asal suara. Dari arah pintu masuk, seorang lelaki berjas hitamnya terkapar usai menabrak setumpuk balok kayu di belakangnya, menarik perhatian kedua orang itu.
Sosok Taufan perlahan muncul dari balik pintu. Luka dan lebam mendominasi tubuh yang masih mengenakan seragam putih abu itu. Noda merah dan debu sudah lebih dulu mengotori hoodie birunya. Deru napasnya berantakan, bulir-bulir keringat menetes deras dari pelipisnya. Jangan lupakan darah segar yang menciptakan rona lain di paras pucat yang memerah lelaki itu, terlihat nyeri sekaligus menyakitkan.
"Lepaskan Ken sekarang juga!!"
TBC
__ADS_1