Dandelion

Dandelion
Bertemu Kembali


__ADS_3

"Kau..," Evano menatap Alina, " apa yang kau lakukan di tengah hujan begini?." Evano mengernyitkan dahinya melihat keadaan gadis di depannya.


"Ini payungmu? bagaimana bisa ini tersangkut dimobilku?," masih dengan kebingungannya. Sadar tidak mendapatkan tanggapan apapun dari gadis di depannya, Evano melangkah lebih dekat lagi.


"Hei, kau baik - baik saja?, ini payungmu." Perkataan Evano membuat fokus Alina kembali padanya, perlahan Alina berusaha berdiri dengan tubuh yang gemetar.


"Y- ya, maafkan saya tuan, angin kencang menerbangkan payung saya" Alina mengambil payungnya sambil melirik ragu ke arah pria di depannya, "apakah anda baik-baik saja tuan? apa terluka?." Tanyanya khawatir.


Sesaat Evano memandang gadis di hadapannya, "apa yang salah dengan gadis ini." Gadis di depannya saat ini sedang gemetar, dengan tatapan seperti orang ketakutan. "Apa dia kedinginan?," pikirnya lagi saat merasakan udara di sekitarnya memang sangat dingin, terlebih lagi mereka kehujanan.


Tak ingin berlama-lama, Evano mengangguk sekilas, " Ya aku baik - baik saja. Pegang payungmu lebih erat lain kali." Setelah mengatakan hal itu Evano langsung berbalik dan melangkah ke arah mobilnya meninggalkan Alina yang terdiam di pinggir jalan. Evano tidak ingin peduli dengan kejadian aneh itu, lagi pula dia tidak mengenal gadis itu, jadi apa perduli nya pikirnya.


Alina masih menatap lekat ke arah Evano sampai pria itu pergi dengan mengendarai mobilnya. Dia menghela nafas pelan, lalu menariknya kembali untuk menenangkan diri.


"Pria yang dingin," pikirnya.


"huh, sudahlah.. syukur dia tidak mempermasalahkan kejadian payungku yang tersangkut tadi," Alina menghibur dirinya sendiri untuk tidak terlalu memikirkan sikap dingin pria tadi.


Angin yang melewati tubuhnya kembali membuat Alina gemetar kedinginan, menyadarkan Alina bahwa dia harus segera kembali ke apartemen, kasur dan selimutnya sudah menunggunya.



Alarm yang terdengar dari ponsel Alina kembali membangunkannya. Dengan berat hati Alina berusaha bangun dari tidur singkatnya. Setelah kejadian payung tersangkut malam tadi, Alina hanya sempat tidur sebentar. Sekarang dia harus kembali bangun dan bekerja.


Bahkan langit masih gelap ketika Alina memulai aktivitasnya.


"Semangat Alina, kau akan senang saat mendapatkan bayaran dari pekerjaanmu nanti," ucapnya meyakinkan diri sendiri.


Alina dengan giat melakukan pekerjaan nya, mengantar susu dan koran dari rumah ke rumah sampai selesai. Setelahnya dia istirahat sebentar di bangku taman yang tak sengaja dia temukan saat sedang berjalan. Sambil memakan roti isi yang di buatnya sendiri pagi tadi. Alina tersenyum senang saat perutnya sudah terisi, puas cacing-cacing di perutnya tidak protes lagi. Dengan semangat dan langkah yang ringan Alina melangkah menuju cafe tempatnya bekerja.


Alina kembali melanjutkan aktivitasnya ketika telah sampai di cafe. Masih dengan senyum manisnya melayani setiap pelanggan yang datang.


Cling.. cling...


Suara lonceng pintu cafe berbunyi, dan setelahnya beberapa pelanggan kembali datang. Alina dengan sigap langsung menyambutnya.


__ADS_1


Evano turun dari mobilnya dan langsung melangkah menuju gedung kampusnya. Hari ini jam kuliahnya lebih siang dari pada kemarin, jadi matahari agak terik sekarang ini.


"Vanooo my friend uri chingu mon ami watashi wa tomodachi temankuu yang tampaaan!!," tidak terkejut lagi seperti kemarin, Evano terus melanjutkan langkahnya tanpa perduli dengan orang yang sedang mengejarnya di belakang.


"Yak, kau benar-benar menganggapku teman tidak sih?, kenapa tidak membalas sapaanku?! setidaknya balaslah lambaian tanganku". Ersya mendumel sambil menggerakan telapak tangannya memperagakan caranya melambaikan tangan.


"Aku tidak peduli, cepatlah jalan atau kita akan terlambat", Evano tidak memperdulikan tingkah Ersya yang konyol baginya.


Ersya tersenyum kecil, "Sudah kuduga, kau pasti tidak mengetahuinya," ucapnya sambil menaik turunkan alisnya, tingkahnya membuat Evano mengernyit. Evano menatapnya seakan bertanya apa maksudmu?.


"Harusnya aku tidak usah capek-capek mengejarmu dari parkiran hingga kesini toh kau tidak peduli," ucap Ersya sambil memperlihatkan ekspresi sedih berlebihan yang berhasil membuat Evano menatapnya kesal. Paham dengan mood swingnya Evano, Ersya langsung melanjutkan kalimatnya.


"Baiklah aku memang teman yang baik hati. Evano temanku yang tampan namun sayangnya dingin seperti kulkas dan datar seperti papan pembilas..," Dia berhenti sebentar saat tatapan tajam Evano kembali menusuknya.


"Sial, sahabatku ini benar-benar tidak bisa di ajak bercanda, mood swingnya benar-benar menakutkan." Pikir Ersya.


"Okey, okey aku hanya bercanda. Yang ingin aku katakan adalah kita tidak masuk hari ini karena kesehatan Pak Eru sedang tidak baik." Ersya menghela nafas saat Evano lagi-lagi menatapnya tajam.


" Kali ini aku serius, tidak bohong. Itulah gunanya kau membaca grup kelas, kau benar-benar tidak peduli ck..ck..." Evano mencoba mencari kebohongan dari wajah cemberut Ersya, tapi dia tidak menemukannya. Bukan tidak bisa percaya dengan Ersya, tapi dia sudah kapok dengan tingkah usil Ersya. Dulu di awal semester Ersya pernah membohongi nya dan kedua sahabatnya tentang kelas yang diliburkan. Rupanya itu hanya akal-akalan Ersya yang ingin berburu promo ayam goreng gratis favoritnya dan dengan niat yang tulus ingin berbagi kebahagiaan makan gratis, maka dia berinisiatif mengajak ketiga sahabatnya. Perbuatannya itu bukannya membuat Evano dan sahabatnya terharu bahagia, namun murka saat tahu kelas sebenarnya tidak libur dan ada ujian yang sialnya diadakan dadakan hari itu.


"Jangan memasang ekspresi seperti itu kau terlihat aneh," Evano mengernyit risih saat Ersya memanyunkan bibirnya bermaksud bertingkah imut agar Evano percaya padanya.


"Okey, aku percaya. Jadi dimana Delvin dan Danial?," Evano lanjut bertanya. Ersya yang sempat kesal dengan perkataan Evano sebelumnya langsung tersenyum manis.


"Itu juga yang ingin aku katakan, Delvin dan Danial sudah menunggu di cafe. Mereka menyuruhku menjemputmu karena kami tau kau pasti tidak baca grup.." Evano mengangguk paham dengan penjelasan Ersya, "ayo, kita kesana. Mereka sudah menunggu". Ersya langsung berbalik dan melangkah menuju parkiran. Karena memang tak ada tujuan lain, Evano pun melangkah mengikuti Ersya.



Cling.. cling


Lonceng di pintu cafe berbunyi saat Evano dan Ersya masuk. Mata mereka langsung menjelajahi setiap sudut cafe untuk menemukan dua sahabat mereka yang sudah sampai lebih dulu.


"Vano, Ersya!, di sini," Danial melambaikan tangannya sambil memanggil kedua sahabatnya. Evano dan Ersya yang melihatnya langsung melangkah ke arah meja tempat kedua sahabatnya duduk.


"Kenapa lama sekali?," tanya Danial.


"Pria dingin ini tidak percaya dengan perkataanku tentang kelas kita yang diliburkan," Ersya menyindir Evano sambil menyipitkan matanya. Evano tak mau kalah malah membalas menatap tajam Ersya dengan sudut matanya.

__ADS_1


"Hahaha, bagaimana dia bisa percaya denganmu Er.. kalau kau pernah membohonginya sebelumnya," Danial tertawa saat mengingat kelakuan Ersya saat itu. Sedangkan Ersya hanya terdiam pasrah tau itu memang kesalahannya.


"Sudahlah, sekarang kalian langsung pesan makanan atau minuman saja. Kami sudah memesan duluan tadi," Ucap Delvin yang sedari tadi hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya.


Ersya yang memang sudah lapar, dengan semangat memanggil pelayan untuk memesan makanan.


Di sisi lain, Alina sedikit kaget setelah melihat pelanggan yang baru saja masuk ke cafe. Dia terus memperhatikan pelanggan pria tersebut sampai pria itu bergabung dengan teman-temannya.


"Dia pria dingin semalam kan?," pikir Alina sambil mencoba mengingat-ingat wajah pria saat tragedi payung tersangkut semalam.


"Dunia benar-benar sempit," lirihnya saat yakin kalau pria yang duduk di meja dekat jendela cafe itu memang pria semalam.


Alina tidak lagi memperhatikan Evano ketika matanya beralih melihat Ersya yang sedang melambaikan tangannya dengan semangat. Alina yang paham Ersya memanggilnya langsung mendekati meja mereka.


Entah mengapa mendadak Alina menjadi gugup saat langkahnya terus mendekati meja yang ditempati pria tragedi payung tersangkut itu.


"Nonaa cepat kemarii, aku mau lihat menunyaa..," Alina tersentak saat mendengar seruan pria manis berambut hitam itu.


"Yak, apa kau anak TK? kau bisa memanggilnya dengan pelan, kenapa malah memanggilnya dengan nada riang gembira seperti itu?, lihat gadis itu kaget.." Danial menepuk pelan kepala Ersya.


"Yak kenapa kau memukul kepalaku?, aku hanya tidak sabar ingin memesan!," Ersya berteriak kesal ke arah Danial dan berusaha membalas perlakuan Danial. Akhirnya Ersya melupakan niat awalnya memesan dan malah adu tinju dengan Danial.


Alina yang tidak tau harus berbuat apa hanya berdiri canggung di pinggir meja, sesekali dia menahan tawanya saat melihat ekspresi pria manis berambut hitam itu yang kesakitan saat rambutnya ditarik oleh pria tampan yang memiliki tubuh yang sepertinya lebih tinggi dibandingkan temannya yang lain.


"Yak, lepaskan rambutku babon!," Ersya berusaha melepaskan rambutnya tapi gagal, karena tidak ada pilihan lain dia balas menjambak rambut Danial. Adegan jambak-jambakan itu terjadi beberapa saat sampai akhirnya Delvin menghentikan kedua sahabatnya yang saat ini sedang jadi perhatian penghuni cafe. Sedangkan Evano hanya terkekeh kecil menikmati pertarungan sahabatnya.


"Sudah berhenti, kalian berdua benar-benar huft.." Delvin hanya menghela nafas melihat kedua sahabatnya dan melototkan matanya pada Evano yang hanya dibalas Evano dengan mengangkat bahu tidak peduli. Setelah yakin kedua sahabat gilanya itu kembali jinak, Delvin langsung meminta maaf pada Alina yang sudah menunggu di samping mereka.


"Maaf nona, sahabatku kadang memang kurang waras," perkataa Delvin langsung di balas dengan pelototan oleh Ersya dan Danial, Delvin tidak peduli dan melanjutkan, "cepatlah pesan Er, kau sudah lapar kan?".


Ersya seketika tersadar dengan nasib para cacing diperutnya yang lebih penting dibandingkan Danial saat ini, kemudian dengan segera mengambil menu yang sudah dibawakan oleh Alina.


Ersya memesan makanan dan minuman favoritnya begitu pula dengan Evano.


Saat selesai mengatakan pesanannya, Evano melirik sekilas ke arah pelayan untuk memastikan kalau pelayan itu sudah mencatat pesannya. Dahinya kembali mengernyit saat melihat pelayan yang sedang mencatat pesanannya saat ini. Tanpa perlu waktu lama otak tampannya langsung mengingat dimana dia pernah bertemu gadis ini. Tragedi payung tersangkut ingatnya.


__ADS_1


__ADS_2