
Matahari semakin naik ke singgasana nya, bersinar terang namun juga semakin memberikan panas terik yang menyengat kulit.
Pukul 12.00 bertepatan dengan jam istirahat, membuat kebanyakan murid ke kantin untuk mengisi perut mereka, setelah lama belajar.
Namun, lain hal nya dengan lelaki beriris emas yang justru terkulai lemas di depan kloset duduk. Rasanya sesuatu di perutnya terus berusaha melesak keluar, namun ia tak tahu apalagi yang harus ia muntahkan. Ia merasa sarapan paginya sia-sia.
Tangan dinginnya gemetar menekan tombol flush. Ia hanya sanggup menghela nafas berat. Pening yang berdenyut sepanjang urat saraf di kepalanya membuatnya enggan beranjak dari tempat lembab itu. Tubuhnya yang seolah kehabisan tenaga itu menentang perintah otaknya. Rasanya sudah cukup lama ia bergelut dengan rasa yang memuakkan itu.
Matanya terpejam sesaat. Memorinya mengingat rekaman kejadian pagi itu. Sesuatu ditubuhnya berdenyut nyeri jika mengingatnya, ingatan yang dengan liarnya mencabik-cabik dirinya.
Lebih tepatnya. Hatinya.
Ken mengepalkan tangan nya muat. Emosi kembali menguasai dirinya, membuatnya memukul dinding di hadapan nya. Rasa sakit ia abaikan, itu lebih baik daripada nyeri di dadanya yang ia rasakan sejak pagi tadi.
Teriakan kakaknya terus terngiang di otaknya, meninggalkan perih yang selama ini tak pernah ia bayangkan. Terlebih kemarahan Ken disebabkan karena membela Taufan.
Ia benci..
__ADS_1
Sangat benci...
Ia sangat membenci orang itu sekarang, parasit yang sudah menghancurkan kehidupan nya. Ia tak habis pikir. Apa yang terjadi selama seminggu ia pergi, hingga membuat kakak nya yang selalu memberi kesan sinis itu menjadi berubah 180°. Ia berpikir keras, namun otak cerdas nya tak mampu menemukan jawabannya.
Satu pertanyaan yang hingga detik ini masih mengganggu nya, 'Apa yang bisa membuatmu memaafkan nya?'
Matanya perih, air matanya jatuh, namun ia tak tahu apa yang harus ia tangisi. Ia tak bisa bernafas dengan baik setiap kali mengingat kalimat itu. Semua ini membuat dadanya terasa sesak. Bibirnya tertutup rapat menahan umpatan kasar sekaligus isakan.
'Memaafkan nya? Yang benar saja, dia yang sudah membuat ayah dan ibu
meninggal. Dia yang sudah menghancurkan keluargaku. Dia yang sudah membuat kak Hali membentak ku. Bagaimana aku bisa...?'
Ia berteriak frustasi, menarik rambut hitamnya. Ia tak bisa, sampai kapanpun tak akan bisa menerima orang itu.
Tok.. Tok.. Tok..
DEG...
__ADS_1
Ia terkejut ketika seseorang tiba-tiba mengetuk bilik toilet nya. Ia lupa kalau dia masih di toilet sekolah. Teriakan nya pasti mengundang perhatian orang di luar sana. Namun tak begitu ia pikirkan.
Saat ini fokus untuk mengumpulkan energi. Sungguh, ia nyaris tak punya tenaga untuk bangkit. Ia bahkan nyaris limbung karena kakinya tak sanggup menopang beban tubuh nya sendiri
"Ah, rupanya kau Ken!" sahut lelaki itu begitu pintu terbuka. Pemuda itu tentu saja tak asing bagi Ken, ia adalah orang yang cukup dekat dengan keluarga nya, sahabat kakak keduanya, sekaligus orang yang sering membantu nya di OSIS. Arga.
Dahi nya nampak berkerut, ia memberikan tatapan menyelidik, netra nya berusaha mencari hal yang coba Ken sembunyikan dibalik raut wajah pemuda itu. Sudah jelas seseorang tak akan berteriak seperti itu tanpa sebab.
"Kau oke? Wajahmu pucat, kau sakit?" pertanyaan itu mewakili kecemasan nya saat mendapati adik sahabat nya itu seperti pasien rumah sakit. Pucat, lesu dan nampak lelah.
"Aku baik baik saja kok, tidak perlu khawatir. aku hanya sedikit kelelahan saja." Jawab Ken mencoba mengalihkan.
Tapi sayangnya kebohongan itu tak berlaku untuk Arga. "Baik bagaimana? Kau benar-benar pucat Ken..."
Ken terdiam, langkah nya hendak membawanya berlalu sembari menepuk pelan bahu Arga. Namun sedetik kemudian ia tumbang, tubuh nya terhempas mengikuti gravitasi. Pandangannya kabur, dan hitam menjadi satu satu nya warna yang dapat ia lihat. Yang terakhir ia ingat hanyalah sosok Arga yang memekik sambil terus memanggil nama nya.
Di ambang kesadaran nya, entah bagaimana justru siluet Taufan yang muncul dibenaknya. Tanpa ia sadari air matanya jatuh dari kelopak mata yang sudah terpejam sempurna.
__ADS_1
'Tidak bisa, aku tidak bisa memaafkan nya'
TBC