
"Apa yang terjadi denganmu Er?, kau sakit perut?." Wajah Ersya yang awalnya sudah kusut sekarang jadi makin kusut saat mendengar pertanyaan dari sahabatnya yang lain.
"Jangan mengajaknya bicara saat ini Vin jika kau tidak ingin mendengar teriakan super me-" Ucapan Danial terputus karena tangan Ersya membungkamnya.
"Kau Danial, aku benar - benar akan marah padamu jika terus mengejekku, mengerti?." Ersya mengancam Danial sambil memelototi matanya. Saat ini, Ersya sedang memasang wajah semengerikan mungkin untuk menakuti Danial. Danial tergelak, baginya tatapan Ersya saat ini terlihat mirip kucing kecil yang tidak ingin di ambil ikan asinnya.
"Maaf..," sesaat Danial memasang wajah menyesalnya, "aku tidak bisa jika tidak mengganggumu, jadi aku akan terus melakukannya." Ujar Danial sambil mengejek Ersya dan berlari ke belakang Evano untuk meminta perlindungan.
"Yak!!, kau Danial! aku sudah banyak bersabar menghadapimu, apa maumu sehingga kau bisa setega itu padaku? jawab aku Danial! jawab!." Saat ini Ersya benar benar sedang mengasah kemampuan aktingnya, dia dengan serius memasang mimik wajah sesedih mungkin.
"Kau sedang apa sekarang? main sinetron huh? dasar korban sinetron!." Danial makin memanas - manasi Ersya, dia sangat senang saat melihat wajah Ersya yang menahan geram sambil melotot, baginya wajah Ersya yang tadinya seperti kucing lapar sekarang malah terlihat seperti burung hantu kepanasan. Apalagi saat ini dia sedang berlindung di balik badan tegapnya Evano, jadi dia aman. Malang bagi Ersya, karena terbawa emosi dia lupa saat ini dia sedang marah - marah dihadapan siapa.
"Yak kau! dasar gila! kau.." geram Ersya sambil menunjuk Danial, tapi karena Danial dibelakang Evano yang terlihat seperti Ersya sedang memarahi Evano. Saat ini seperti biasanya, kemarahan Ersya kembali menjadi perhatian anak anak sekelas. Bagaimana tidak, saat berbicara seperti biasa saja suaranya sudah sangat melengking apalagi kalau berteriak.
"Kau dasar mulut bebek, berhenti ber kwek kwek dan berhenti menggangguku. Ka-" omelan Ersya berhenti sebentar karena Evano ingin berbicara, tapi "Kau diam! jangan ikut campur" telunjuk Ersya sekarang berpindah ke wajah Evano, sepertinya dia belum sadar siapa yang ditunjuknya.
Ersya ingin mengomeli Evano karena sudah menghentikan omelannya, tapi saat dia ingin memulainya dia tersadar. Seketika suana menjadi hening, Delvin dan Danial sedang berusaha menahan tawanya sampai bibir mereka bergetar. Sedangkan Evano saat ini menatap Ersya dengan kesal, karena telah berteriak di depan wajah tampannya. Dan jangan ditanya lagi kondisi Ersya, dia benar benar berkeringat sekarang. Manik matanya menatap ke arah telunjuknya dan seakan ada lampu kuning yang menyala di atas kepalanya secara perlahan dia menurunkan jari telunjuknya dan menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk love sign.
"Vanoo my friend uri chingu mon ami watashi wa tomodachi temankuuu, aku mencintaimu!" Ersya tersenyum sangat manis, sambil berusaha mengedipkan matanya yang sialnya gemetar.
"Kau benar benar cari mati Er.." ucap Delvin yang saat ini sudah benar benar tegelak dengan tingkah sahabatnya, sedangkan Danial sudah menjauh dari Evano untuk cari aman. Mereka semua tau, kalau membuat Evano kesal maka akan benar benar menjadi petaka.
Sadar tidak akan selamat Ersya memilih mundur, sebelum dia melakukannya tangan Evano sudah bertengger manis di atas bahunya.
"Kau kucing kecil, aku akan memberimu pelajaran.." saat Evano sedang memikirkan hukuman apa yang harus diberikan pada Ersya, kedatangan dosen menghentikannya. Mau tak mau dia harus melepaskan Ersya, dan memilih untuk segera duduk.
Sedang Ersya menatap sang dosen penuh haru, baru kali ini dalam hidupnya dia punya perasaan selega ini saat melihat seorang dosen. Bahkan Ersya yang biasanya tidur saat dosen memberi kuliah saat ini malah terus fokus menatap sang dosen sampai jam kuliah selesai. Sedang sang dosen dari tadi hanya merinding, melihat salah satu mahasiswanya yang terus menatapnya.
Dalam hati Ersya berjanji satu hal "Aku akan membelikan anda wig dengan kualitas terbaik pak, aku janji." Ersya akhirnya berinisiatif membelikan wig sebagai bentuk balas budi untuk sang dosen setelah melihat kepala dosennya yang hanya tesisa beberapa helai rambut saja. Sungguh mahasiswa yang baik.
Seperti rencana sebelumnya, Evano dan ketiga sahabatnya akan makan malam bersama di luar malam ini. Saat ini mereka sedang menuju ke restoran langganan mereka. Mereka mengendarai mobil masing-masing. Sama dengan Evano, ketiga temannya juga merupakan anak anak dari pengusaha kaya raya di negaranya. Wajah mereka juga tidak kalah tampan jika dibandingkan dengan Evano, masing-masing dari mereka punya pesona tersendiri. Mereka juga memiliki otak yang cerdas yang semakin membuat para kaum hawa terkagum-kagum. Jika dipikir lagi mereka seperti memilih teman untuk bergaul, padahal sebenarnya tidak. Mereka hanya tidak sengaja bertemu saat menghadiri acara bisnis, yang harusnya untuk orang tua tapi mereka mau tak mau ikut terlibat.
Dengan usia yang kebetulan sama, mereka menjadi lebih akrab. Hingga pertemuan mereka di akhir tahun kelas 9 itu terus berlanjut hingga sekarang. Yang membedakan mereka hanya sifat dan kelakuan saja. Jika Evano memiliki sifat dingin dan tenang, Delvin seorang yang kalem , maka sifat mereka berdua berbanding terbalik dengan Ersya dan Danial. Danial memiliki sifat yang usil dan jail, sedangkan Ersya memiliki sifat riang gembira yang berlebih dan sudah pasti Danial dan Ersya sangat cocok satu sama lain untuk menjadi perusuh dalam pertemanan mereka.
Saat ini ke empat sahabat itu sedang menikmati waktu mereka dengan baik, sesekali terdengar tawa dari mereka yang sedang menertawakan tingkah konyol Ersya. Di sebelah Ersya, ada Danial yang tanpa diminta dengan senang hati ikut berduet bersamanya. Mereka terus menikmati kebersamaan mereka, sampai mereka di sadarkan oleh suara hujan yang tadinya sudah reda kembali terdengar. Sambil melirik jam, mereka sadar kalau sekarang sudah larut dan memutuskan untuk pulang ke rumah.
Selesai mengucapkan selamat jalan, mereka segera mengendarai mobil dan pulang ke rumah masing-masing. Begitupun dengan Evano, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang sambil memutar playlist lagunya dan menikmatinya.
Alina melangkah secara perlahan, dia lebih terlihat seperti menyeret kakinya dari pada berjalan. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan saat ini dia ingin segera sampai ke apartemennya agar bisa segera tidur. Tubuhnya terasa sangat lelah, dia harus segera pulang karena waktunya untuk tidur hanya tersisa beberapa jam saja, lalu setelahnya dia harus lanjut bekerja lagi.
Sambil menggenggam erat gagang payung biru toscanya, Alina menatapa ke langit sekilas. Setelah itu dia mengumpulkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk berlari. Alina tengah berlari lari kecil, saat angin yang lumayan kencang berhembus dan membuat genggaman dipayungnya terlepas. Alina yang kaget langsung mencari keberadaan payungnya namun pandangannya tidak jelas karena hujan. Alina kembali terkaget saat mendengar suara rem mobil yang tiba - tiba berhenti. Alina menoleh dan melihat ke arah jalan, dia menemukan payungnya yang sepertinya tersangkut di mobil tersebut.
__ADS_1
Sesaat Alina terdiam tidak tahu harus berbuat apa, hatinya gelisah takut pengendara mobil tersebut terluka karena payungnya yang tersangkut itu. Saat Alina masih dalam keterdiamannya, seseorang turun dari mobil tersebut.
Evano, sedang mengendarai mobilnya dengan tenang sambil menikmati lagu yang terputar dari playlistnya. Tiba - tiba Evano terkejut saat ada sesuatu yang menutupi pandangannya. Reflek, dia pun segera mengerem mobil secara mendadak. Saat mobilnya sudah berhenti, Evano diam sejenak menenangkan dirinya dari keterkejutannya.
"Apa yang terjadi?." Bingung Evano, dan tanpa banyak berpikir Evano langsung turun dari mobil tanpa menutup pintu dan membiarkan mesin mobilnya menyala. Bahkan playlist lagunya masih terus mengalun di tengah hujan yang secara perlahan mulai reda.
Jika itu sebuah takdir
Itu pasti sudah diatur
Evano bingung saat melihat payung yang tersangkut di kaca depan mobilnya. Dia menoleh dan melihat ada seseorang yang berdiri di seberang jalan.
Bahkan pertemuan pertama kita
Kita tak bisa mengubahnya
Evano mengambil payung itu dan berjalan ke seberang jalan. "Seorang gadis?" pikirnya saat dia sudah bisa melihat dengan jelas, karena dia sudah memangkas jaraknya dengan si gadis.
Jika cinta kita tak akan berakhir
Seperti malam bahkan sinar rembulan tersembunyi di balik awan
Hatiku mulai menjadi gelap
Aku mengirim kerinduanku bersama hujan
Kalau nantinya kau akan melupakanku
Jika itu sebuah takdir, aku akan menerimanya
Jika cinta itu bisa menjadi sebuah dosa
Evano semakin dekat dengan Alina, dua langkah lagi mereka bisa saling memandangi wajah satu sama lain dengan jelas.
Mungkin kita bisa saling melihat lagi
Jika kita saling mencintai dengan tulus
Jika kita memang sudah ditakdirkan
Jika kita memang sudah ditakdirkan
Tiba - tiba tubuh Alina gemetar, sekelebat kenangan lama kembali menghantuinya.
__ADS_1
Seperti malam bahkan cahaya bintang tersembunyi di balik awan
Aku juga kehilangan cahayaku
Aku mengirim kerinduanku bersama angin
Situasi ini, aroma ini dan perasaan ini, "kenapa terulang lagi.." lirih Alina, tatapannya menjadi tidak fokus kakinya tiba tiba lemas dan dia jatuh terduduk.
Kalau nantinya kau akan melupakanku
Jika itu sebuah takdir, aku akan menerimanya
Jika cinta itu bisa menjadi sebuah dosa
Evano ikut terdiam saat melihat Alina jatuh terduduk. Hanya ada suara rintik hujan dan alunan lagu yang masih terus terdengar.
Mungkin kita bisa saling melihat lagi
Jika kita saling mencintai dengan tulus
Jika kita memang sudah ditakdirkan
Bahkan suara hujanpun terdengar begitu menyedihkan
Evano mencoba mendekati Alina, "kau..."
*Sepertinya dia tahu isi hatiku
Aku hanya menyimpan pikiran yang penuh kerinduan
Ku mohon, jangan lupakan aku
Jika itu sebuah takdir, aku akan menerimanya
Jika cinta itu bisa menjadi sebuah dosa
Mungkin kita bisa saling melihat lagi
Jika kita saling mencintai dengan tulus
Jika kita memang sudah ditakdirkan
Jika kita memang sudah ditakdirkan*
__ADS_1
note: lyrics of Ben's Song (If We Were Destined*)