
"Kebetulan kalian lagi ngumpul, ada yang ingin Om bicarakan." Dari nada suaranya seperti suatu hal yang penting, mengundang tanya di benak Ravael bersaudara.
Ethan terdiam sejenak. Berharap hening yang mengisi celah di antara mereka cukup memberi waktu untuk membuat mereka mengerti.
Rasa bersalah nya kian menjadi saat raut mendung berlabuh di sana. Meski baru mengenal, tapi ia bisa merasakan ikatan persaudaraan yang begitu kuat di antara mereka.
Bukan, memang seharusnya mereka paham, cepat atau lambat Ethan pasti akan pergi. Hanya saja kabar ini memang datang terlalu tiba-tiba bahkan tanpa mampu Ethan prediksi.
"Om tahu ini terlalu mendadak. Sebenar nya Om juga masih ingin tinggal sebentar lagi. Tapi ada pekerjaan yang ngga bisa Om handle secara online lagi." Ethan kembali menyuarakan penyesalannya karena pertemuan mereka tak bisa berlangsung lama.
Hatinya juga berat untuk meninggalkan tanah kelahiran yang telah membesarkannya dan kenangan yang melingkupinya. Tapi kondisi yang memaksanya.
Keresahan yang terbaca di air muka sang paman membuat Hali ikut merasa bersalah. Hadirnya Ethan terlanjur membuatnya nyaman karena dirinya yang lelah menanggung semuanya seorang diri. Hingga ia lupa jika Ethan juga tak bisa selamanya bersama mereka.
Ia memang merindukan sosok dewasa yang bisa mendampingi dan menjadi tempat baginya berkeluh kesah. Namun ia sadar, dirinya tak berhak menahan Ethan lebih lama.
Harusnya ia tahu jika setiap pertemuan akan berujung perpisahan.
"Ngga papa Om, kita ngerti kondisi Om. Kita yang harusnya berterima kasih karena Om udah datang jauh-jauh ke sini, ninggalin keluarga dan kerjaan Om buat ngurus kita di sini," ujar si sulung berusaha menjadi penengah di tengah konflik batin ini.
Ethan tersenyum simpul, "Justru Om yang harusnya minta maaf karena nggak dari dulu menghubungi kalian. Kalian pasti mengalami banyak kesulitan. Tapi sebelum Om pergi, Om ada sesuatu buat kalian." Sebuah kartu hitam mengkilap dengan logo di sebuah perusahaan elite di tengahnya membuat Hali ternganga kehilangan kata-kata.
Itu kan kartu kredit dengan limit tak terhingga dan tak sembarang orang bisa memilikinya. Dan Ethan memberikannya secara cuma-cuma?
__ADS_1
Gila.
"Mulai sekarang kalian tanggungan Om. Walau Om nggak bisa nemenin kalian di sini, kita masih bisa bertukar kabar. Kalau ada masalah, apapun itu, kalian bisa bicara sama Om. Om akan berusaha buat bantu." Ethan menjeda kalimatnya, sekedar untuk beradu pandang dengan para keponakannya.
"Hali, mulai sekarang kau fokus saja pada pendidikan mu. Kartu ini Om percayakan sama kamu. Gunakan dengan bijak."
Sebelumnya Ethan sudah mengetahui kondisi ekonomi mereka yang hanya bergantung pada warisan.
Sesekali, sepupunya -Tera- memang mengirimi mereka urung karena merasa masih memiliki tanggung jawab terhadap anak-anak saudaranya. Itupun setahunya jarang digunakan dan disimpan untuk keadaan mendesak saja.
Hali selalu mengupayakan semua pengeluaran menggunakan uang hasil kerjanya sebagai desainer untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Berkecukupan memang, tapi pasti banyak yang harus dikorbankan termasuk waktu dan tenaga. Ia bahkan tak yakin jika Hali cukup merawat diri dengan kesibukannya kuliah sambil kerja. Kenyataan itu mencubit nuraninya.
"Oh ya satu lagi. Mobil yang di garasi itu Om tinggal. Om yakin pasti berguna buat mobilitas kalian nanti." Hali mendelik. Ia merasa semua yang diberikan Ethan berlebihan.
Tapi apakah boleh ia menerima semua ini? Apa ini jawaban yang Tuhan berikan atas setiap doa yang ia langitkan? Mengapa ia merasa tak pantas?
"Maaf Om, bukannya aku ngga menghargai apa yang Om kasih. Tapi aku ngerasa ini semua berlebihan, apa lagi kartu ini. Kita gunain uang itu buat memenuhi kebutuhan kok, bukan buat kemewahan. Jujur, kita tau Om ada di sini buat kita aja, kita udah seneng."
Sebisa mungkin Hali menolak secara halus agar Ethan tak sakit hati, berharap pamannya itu paham.
Mereka hanya saling pandang untuk beberapa saat, sebelum helaan nafas mengakhiri hening di antara mereka, "Ya udah, kartu ini Om tarik lagi. Tapi sebagai gantinya, setiap bulan nanti Om akan tetep ngirim uang ke rekening mu. Kalian bisa gunakan uang itu untuk semua kebutuhan kalian. Untuk yang ini kamu ngga boleh nolak, ya?"
__ADS_1
Senyum Ethan merekah saat tak ada lagi penolakan terlontar. Dengan begini ia tak perlu lagi mengkhawatirkan mereka akan hidup kekurangan, terlebih dengan kesehatan Taufan yang rentan. Meski ia berharap tak akan ada lagi hal buruk yang menimpa anak itu, tetap saja tak ada yang mampu meramal kedepannya.
"Nah, Ken sekolahnya yang rajin. Denger apa kata kak Hali. Jangan nakal." Mendengar petuah dari sang paman, si bungsu tersenyum, "Iya Om, Ken anak baik kok. Emangnya Om akan berangkat kapan?""
"Besok pagi. Om sudah pesan tiket pesawat untuk keberangkatan paling awal." Kemudian perhatiannya teralih pada satu keponakannya yang sedari tadi tak bersuara. "Fan?" panggil Ethan ragu. Pasalnya anak itu masih kekeuh dengan ekspresi kesalnya.
"Males, padahal kan aku belum kenal deket sama adiknya Ayah. Kita baru ketemu bentar, kita belum sempet jalan-jalan bareng, ngobrol bareng, gara-gara aku kelamaan dirawat di rumah sakit. Tapi om Ethan udah mau balik aja," ucapnya bersungut-sungut.
Sepertinya hanya dirinya, satu-satunya orang yang menolak kepulangan Ethan secara terang-terangan.
Ethan terkekeh, lantas menggeser duduknya bersebelahan dengan Taufan seraya merangkulnya. "Ya udah, gimana kalau malam ini kita makan di luar? Om traktir sepuasnya."
"Ngga mau, aku maunya Om yang masakin."
"Hadeh, kumat deh manjanya," hela Hali lelah. Seakan sudah paham betul tabiat adiknya satu itu jika menginginkan sesuatu.
"Gimana kalau nanti malam kita barbeque-an di halaman belakang. Ini kan malam Minggu, kak Taufan bisa ngajakin temen-temen yang lain sekalian ngerayain kesembuhannya kak Taufan. Pasti bakalan seru," usul Ken yang langsung mendapat antusiasme sang kakak.
"Ken, kau jenius! Okey, sudah diputuskan! Malam ini kita akan pesta barbeque! Aku bakal ngajak anak-anak. Kak Hali ngajak kak Khai sama Yanata ya?"
"Kenapa Yanata juga diajak?" Hali sempat terheran.
Dengan malas, Taufan memutar bolanya. Dasar tidak peka. "Dia kan juga temen kita. Aku juga bakal ngajak Yasha juga, makanya kak Hali aja yang ngabarin Yanata. Om pokoknya malam ini harus yang enak-enak ya!" tuntut Taufan yang bahkan tak mempertanyakan pendapat Ethan dan seenak jidat memutuskan.
__ADS_1
"Maafkan adikku yang ngga tahu diri, Om."
Entah mengapa Hali merasa dirinya yang harus meminta maaf untuk segala tingkah Taufan yang buat. Sementara Ethan hanya tertawa, tanpa pernah mempermasalahkan keinginan sang pengumbar tawa itu.