
Pernahkah kalian mempertanyakan makna keberadaan diri kalian bagi orang lain?
Apa kah keberadaan nya di sana memang berarti, atau hanya seperti plastik yang akan di buang setelah di gunakan?
Apakah hal demikian memang harus di pertegas, sekalipun untuk sebuah status pertemanan?
Pertanyaan yang terdengar aneh. Yah, Arga juga tahu. Tapi entah mengapa ia tak bisa melepas serangkaian kalimat penuh tanda tanya itu dari benak nya.
Begitu juga saat ini. Sudah lebih dari 15 menit berlalu, dan lelaki bersurai hitam itu masih terpaku di tempat. Angan dan raganya terpisah oleh bayangan yang sama. Perhatiannya terfokus pada postur remaja seumurannya yang tengah melangkah pelan di papan jalan. Orang yang sama yang menjadi akar muara pertanyaan-pertanyaan itu.
Kala itu ia sedang berada di pusat fisioterapi. Masih dengan seragam putih abu yang ia balut dengan jaket ungu kesayangan nya. Hadirnya di sana untuk memenuhi janji nya pada sosok itu, tapi hingga detik ini, keberadaannya tak juga disadari. Ada hal yang memberatkan hatinya untuk menyapa lebih dulu.
Hingga dalam sekejap lamunan nya buyar ketika sosok itu mendadak oleng dan nyaris terjatuh. Beruntung terapis yang setia berjaga di sampingnya dengan sigap menompang tubuh pemuda itu sebelum terantuk pembatas besi. Pemuda langsung dituntun menuju sisi ruangan untuk beristirahat, sembari terapis itu memeriksa kondisi vitalnya.
"Kau oke?" Pertanyaan itu tak terkelola baik di otak Taufan.
Ia sibuk memahami situasi yang dirinya sendiri tak mampu pahami. Padahal beberapa saat yang lalu tubuhnya masih baik-baik saja, sebelum telinganya berdenging nyaring dan membuat kepalanya sakit. Seketika ia merasa dunianya berputar dan tenaganya menguap entah kemana. Deru nafas yang semula normal berubah menjadi tak beraturan.
Bulir-bulir keringat dingin pun mulai membasahi pucuk kepalanya. Sekarang ia takut. Ia takut jika tubuhnya tak sebaik sebelumnya. Bagaimana jika ia tak bisa kembali beraktivitas normal seperti sebelumnya?
Ia takut jika tubuhnya tak lagi menjadi miliknya, tak menghendaki keinginannya. Sekalipun ia tak ingin memikirkannya, bayangan mengerikan itu selalu ada, menghampiri setiap kali tubuhnya tak bisa diajak bekerja sama seperti saat ini.
Sebuah panggilan bersamaan sentuhan yang menggoncang bahunya menariknya keluar dari imaji liar yang dibuatnya sendiri. Wajah terapis itu yang pertama kali menyambut pandangan, rautnya menggambarkan cemas.
"Hei, Taufan. Kau bisa dengar aku?" tanyanya lagi.
"Ka-kakiku lemas." Ujar Taufan menunjuk kaki yang ia rasa gemetar.
__ADS_1
Terapis itu mengangguk paham, "Ngga papa, itu karena kau jarang meregangkan otot mu. Ini normal terjadi pada pasien. Kau hanya perlu rajin latihan untuk memulihkan nya."
Jelasnya seolah mampu membaca ketakutan di benak Taufan. "Tapi sebaik nya kita sudahi dulu latihan nya. Sepertinya kau terlalu memaksakan diri. Setelah ini kembalilah ke kamarmu dan istirahat. Biar kubantu."
"Biar aku aja." Suara yang terdengar begitu familiar itu membuat Taufan reflek mengangkat pandangan. Sosok yang tengah berjalan ke arahnya itu nampak berbayang, mungkin karena efek ia mendongak terlalu cepat.
"Arga?" Panggilnya ragu. Sejenak ia memejam, berharap penglihatannya pulih ketika ia membuka mata.
Dan kini ia dapati sahabatnya itu tersenyum tipis ke arahnya.
"Maaf, harusnya aku datang lebih awal. Padahal aku udah janji mau nemenin latihan." Ujarnya seraya berjongkok, menyetarakan tinggi dengan Taufan yang masih terduduk di matras.
"Baiklah kalau begitu. Setelah ini aku akan meminta dokter Tadashi ke ruangan mu untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tolong antar kan temanmu ya?"
Sekilas Arga mengangguk kecil menanggapi permintaan terapis itu. Ia meraih sebelah tangan Taufan, melingkarkan nya di bahu kemudian memapah tubuh lunglai itu menuju kursi roda yang telah disiapkan.
Ulu hati Arga seperti tersentil mendengar perkataan itu. Ia tak pernah sekalipun merasa terbebani, bahkan selama ini lelaki yang sudah ia anggap seperti saudara itu tak pernah meminta apapun darinya.
"Kau ngga pernah ngerepotin."
"Arga, kalau aku lumpuh gimana?" Ucapan yang terlontar dari bibir Taufan seketika membuat Arga menegang. Emosinya tersulut.
Rahangnya mengeras, genggamannya di kursi roda mengerat. Hal yang tak pernah ia suka dari Taufan selain kebiasaan nya menyembunyikan luka adalah ketika anak itu mengatakan hal buruk tentang kondisinya.
Tak sadarkah ia dengan sikapnya itu membuat Arga ikut merasakan sakit?
"Jangan ngaco! Kau ngga denger tadi kakak itu bilang apa? Ototmu hanya perlu dilatih. Ngga usah berpikir aneh-aneh, fokus saja pada kesembuhan mu. Awas aja kalau masih mikirin hal hal buruk kaya gitu. kau pasti sembuh kok. Nggak usah mikir berlebihan." Kata Arga terdengar seperti bentakan.
__ADS_1
Mereka baru saja melintasi koridor yang sepi pengunjung, menjadikan seruan Arga begitu keras terdengar. "Maaf." cicit Taufan ketika merasakan perubahan emosi Arga yang kontras, membuat nyalinya ciut. Selebihnya ia memilih untuk diam, takut salah ngomong lagi.
Padahal ia hanya mengungkapkan apa yang terpikir di benaknya. Tak pernah ia sangka akan mendapat respon yang mengejutkan seperti ini. Mungkin dirinya juga yang salah, membicarakan hal buruk seolah menyumpahi diri sendiri.
Hei, bukankan ucapan itu juga doa?
Sepanjang jalan yang mereka lalui, tak ada lagi obrolan yang terjalin. Saat mencapai di kamar inap pun, Arga masih diam tanpa ekspresi.
Sampai-sampai Taufan takut jika temannya itu kerasukan penghuni asli tempat ini ketika melewati taman dengan pohon beringin tadi.
"Arga?" panggilnya sekedar memastikan jika orang yang ada di hadapannya itu benar-benar Arga, bukan 'orang lain' yang kebetulan mengisi tubuhnya.
"Hmm?" gumaman tak jelas itu cukup untuk membuatnya menarik nafas lega. Ngeri juga kan membayangkan satu ruangan bersama orang yang raganya sedang 'dipinjam' makhluk lain.
"Ken mana? Dia ngga ikut?" tanyanya lagi sedikit berbasa-basi.
"Katanya ada rapat OSIS." Jawab Arga yang bahkan tak melirik lawan bicaranya. Ia sibuk menata bantal tempat Taufan bersandar.
Sepertinya ia masih marah karena ucapan nya tadi. Haruskah ia minta maaf lagi? Sialnya ia tak pernah terbiasa dengan suasana berat seperti ini. Otaknya yang biasanya penuh dengan guyonan receh juga ikut buntu karenanya.
"Permisi."
Kedua pemuda itu kompak menoleh ke arah pintu di mana Dokter Tadashi baru saja datang bersama seorang perawat yang mengekor di belakang.
Kedatangan nya disambut baik oleh Arga dengan senyuman ramah. Sedangkan Taufan, melihat batang hidungnya saja sudah malas. Jelas saja, karena kedatangan dokter Tadashi berarti dirinya akan mendengar omelan panjang lebar yang selalu berakhir dengan dirinya yang harus banyak istirahat dan meminum obat nya telah waktu.
Taufan sendiri sampai hafal dengan hal itu.
__ADS_1