
Hatinya gundah, berselimut ragu. Ia merasa perlu waktu untuk menata hati terlebih dahulu. Tapi jika ia terus membiarkan kebimbangan itu menggelayuti nya, ia tak akan pernah tahu hal apa yang menantinya di balik pintu itu.
Karenanya, dengan segenap keyakinan diri dan memberanikan untuk meraih kenop pintu dan membukanya.
Cahaya mentari yang menerobos masuk dengan lembutnya memeluk atmosfer ruangan itu. Bunga lili putih yang menawan dalam vas kaca di sudut ruangan, menebar aroma manis nan menenangkan.
Di sana sudah ada kakaknya, Hali, bersama Ethan yang duduk berjauhan, mengukir senyum tipis di bibir masing masing. Iris mata emasnya kemudian teralih pada sosok di atas ranjang pesakitan.
Ia masih sama, terbaring dengan segala ketidakberdayaan nya. Rona pucat masih bertahan di kulit pemuda itu, seolah tak ada warna lain yang mampu menghiasi wajah tirusnya.
Hanya saja, kali itu memang sedikit berbeda. Ada pendar biru menyambutnya. Memandang teduh dari manik sayu yang memancarkan hangat.
Di balik masker oksigen yang menutupi sebagian wajahnya, bibir kering itu bergerak, memanggil tanpa suara.
Sementara Ken, ia hanya mampu terpaku di ambang pintu. Tubuhnya membeku, lidahnya kelu tak sanggup berucap meski hanya sepatah kata. Logika nya sama sekali tak ingin diajak bekerja sama. Ketidakpercayaan akan pemandangan yang ia tangkap oleh netra nya saat ini melumpuhkan akal pikirnya.
Seketika kaki nya bergerak mendekat, memangkas jarak di antara mereka.
Hali mundur, sengaja memberikan ruang bagi kedua adik nya untuk mengurai haru usai penantian panjang.
Mereka begitu dekat sekarang. Hanya terpaut beberapa centi, setelah jurang yang begitu dalam memisahkan batin mereka hilang. Ada keinginan untuk memeluk tubuh itu begitu erat. Tapi ia takut. Ia takut jika tindakannya akan menyakiti sosok rapuh itu dan berakhir menghancurkannya. Ia tak ingin lagi menggoreskan luka.
Jemari kurus itu bergerak lemah Ken menggapainya, menggenggamnya dengan kelembutan dan penuh kehati-hatian.
Bola mata itu memanas, dengan cairan bening yang tergenang di pelupuk mata. Ia menggigit bibir bawahnya kuat dengan rasa sesak bercampur bahagia itu hinggap. Tak percaya ia masih mampu menyentuh sosok itu.
Bisa ia rasakan, getaran rindu yang hadir bersama hembusan angin yang telah membawa kakaknya pulang saat Taufan membalas genggaman nya meski lemah. Hatinya menghangat. Ada rasa lega dan senang di sana.
Seketika tubuh itu meluruh, ketakutan yang selama ini ia khawatirkan menguap begitu saja. Ia tak kuasa menghalau kabut yang telah mengaburkan pandangannya, air matanya akhirnya jatuh jua. Isak tangis samar-samar mulai terdengar sebelum akhirnya mendominasi.
"Syukurlah. Kak Taufan, akhir nya..." la tak tahu bagaimana cara untuk meluapkan perasaan haru itu. Ia hanya mampu menyuarakan dukacita nya dalam tangisan.
Jemari itu masih ia genggam, membawanya beradu dengan kening nya sembari menenggelamkan asa. Benar benar bersyukur atas kejutan yang semesta persembahkan untuk nya.
"Terima kasih sudah kembali. Aku sayang kak Taufan."
__ADS_1
Dalam bisik Ken ungkapkan rasa sayangnya. Kata kata yang sebelum nya tak sudi bibir nya lontarkan semasa hidupnya kini tersampaikan dengan penuh ketulusan hati.
Sungguh, kali ini Taufan mendapat ruang istimewa di hati kecil Ken dan akan menetap di sana. Ia ingin menebus waktu yang telah berlalu dengan lembaran baru. Mengabadikan berbagai kisah yang nantinya akan ia tulis bersama kedua kakaknya.
Sementara Taufan, ia hanya bergeming. Tubuhnya masih terlalu lemas untuk sekedar merespon.
Kesadarannya pun belum seutuhnya pulih, mengingat ia baru siuman beberapa saat yang lalu.
Sesekali ia masih merasa melayang, kemudian pandangannya mengabur disusul dengungan seperti ada benda tak kasat mata menghantam telinga nya. Rasanya sungguh tidak nyaman.
la seperti bermimpi, bahkan saat dunia menunjukkan potret adik yang berdiri di ambang pintu, ia pikir itu hanyalah ilusi. Tapi kemudian hangat yang merengkuh tangannya dalam genggaman meyakinkannya bahwa semua itu nyata. Ken hadir di sini, di dekatnya. Menangisi dirinya.
Ia bersyukur. Ketika melihat Ken yang bersimpuh di samping nya, ada gejolak yang membuat dirinya merasa sakit.
Kelemahan Taufan adalah air mata adiknya. Ia tak pernah sanggup melihat Ken yang tersedu seperti ini.
Ia ingin memeluknya, menghapus air matanya dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Tapi niatnya harus pupus karena tubuhnya belum sanggup mengikuti kinerja otaknya.
Sayup-sayup suara itu kembali terdengar, lirih namun mampu ia tangkap dengan jelas. Kata-kata yang terucap lembut dan dalam dari diri Ken bawa ia menyayangi Taufan.
Sungguh, kalimat yang begitu sederhana itu berhasil memberikan kebahagiaan yang begitu besar bagi Taufan. Harunya melebur menjadi tetesan air mata yang jatuh melewati ujung mata.
Karenanya kasih yang selama ini ia dambakan akhirnya kembali ia dapatkan.
Ada ucap yang tak terlontar dalam lisan, Taufan juga ingin Ken tahu kalau ia juga menyayanginya. Namun ia yakin Ken pasti memahami perasaan itu tanpa perlu diberitahu, karena mereka saudara. Terlahir dengan ikatan batin yang kuat.
Iris langit itu perlahan menghilang dibalik tirai kelopak, diiringi air mata yang jatuh dari ujung mata.
'Aku telah berjuang semampuku dan berusaha untuk bertahan hingga detik ini, demi hal yang ku yakini dan orang-orang yang ku kasihi dengan segala kekuatan yang kumiliki. Terima kasih Tuhan, telah mengijinkan ku untuk kembali.'
Ken yang merasa jari-jari dalam genggamannya melemas seketika tersentak.
"Kak Taufan?" Ototnya kembali menegang saat ia dapati sepasang manik itu biru kembali terpejam dengan jejak-jejak air mata membekas di ujung mata.
"Kak Taufan!?" Melihat adiknya yang mungkin sewaktu waktu akan hilang kendali, Hali menarik bahu yang masih gemetar itu mundur. Membiarkan Tadashi yang sedari tadi mengawasi di belakang untuk memeriksa kondisi Taufan.
"Ngga apa-apa, Taufan hanya kembali tertidur." Jawaban yang Tadashi berikan sontak mengundang helaan nafa lega dari penghuni ruang itu.
__ADS_1
"Kondisinya memang masih lemah, tapi tidak membahayakan nyawa. Interaksi kecil seperti ini pasti terasa sangat melelahkan baginya. Mungkin dia butuh beberapa hari untuk bisa pulih dan bisa berinteraksi seperti biasa. Sudah sangat bagus dia mengenalimu tadi, itu artinya sensorik nya berfungsi dengan baik. Kami akan terus memantau perkembangannya, kalau ke depan kondisinya terus membaik, seminggu lagi dia diijinkan pulang." Ujarnya sambil menyimpan stetoskopnya di saku jasnya.
"Makasih dok."
Pria itu kemudian pamit karena masih ada yang harus dikerjakannya. Ia juga berpesan untuk jangan ragu memanggilnya jika dirasa butuh.
Keheningan yang lahir berikutnya tak berlangsung lama karena tiba-tiba Ken berbalik dan memeluk Hali. Isakan nya kembali terdengar walau tak sekeras tadi.
"Hei, kenapa nangis lagi?" Hali sama sekali tak menolak saat Ken sepenuhnya bersandar padanya. Ia tahu, adiknya itu sedang lelah dan butuh seseorang untuk menjadi tumpuan nya.
"Aku takut."
Hali mengusap punggung Ken yang masih sesenggukan, mencoba menenangkannya. "Taufan udah nggak apa apa, jangan takut."
"Aku benar-benar takut waktu kak Hali telfon tadi, aku pikir kak Taufan kenapa-kenapa. Aku pikir aku udah nggak bisa ketemu kak Taufan lagi." Ucap Ken sambil menenggelamkan wajahnya di bahu sang kakak.
Hali terkekeh pelan, "Tadi aku mau bilang kalau Taufan udah sadar. Tapi malah telfonnya mati duluan. Maaf, tadi aku udah bikin panik."
Ken mengurai pelukan, menghapus air matanya yang serasa tak ingin berhenti, "Enggak, makasih udah berusaha ngabarin."
Hali kemudian menuntun tubuh lunglai itu duduk di sofa. Sebotol air mineral disodorkan dihadapannya, membuat Ken mendongak dan menangkap sosok Ethan yang menjulang di hadapannya, tersenyum padanya.
"Minum dulu, biar enakan." Ken tak menolak, dan meminumnya pelan hingga tersisa setengah.
"Udah tenang?"
Anggukan kecil menjawab pertanyaan Ethan, "Iya, makasih."
"Ngomong-ngomong, kau kabur dari sekolah?" Hali mengubah arah pembicaraannya. Tatapannya berubah meneliti, perhatiannya terarah pada adiknya yang masih terbalut seragam putih abunya.
"Nggak kabur juga, aku bukan tahanan. Tadi aku kalut, abis kak Hali telfon tadi aku langsung ke sini."
Hali membuang nafas berat, "Sama aja kali... Ya udah, biar aku yang minta ijin ke wali kelas mu."
Ken hanya mengangguk menanggapi sang kakak. Ia jadi teringat aksi nya tadi yang langsung berlari pergi, mengabaikan semua serang yang memanggil nama nya.
Jika di pikir pikir, ia sudah seperti anak berandalan yang terang terangan bolos.
__ADS_1
Namun di sisi lain, sebenarnya Ken sedikit heran karena Hali masih sempat menanyakan sekolahnya dibanding menceritakan kronologi Taufan yang sadarkan diri. Namun ia enggan menanyakan. Melihat Taufan yang seperti ini saja. sudah cukup baginya.
'Terimakasih, karena memberikan kesempatan untuk kak Taufan kembali. Aku senang bisa bersama kak Taufan lagi.'