
Kelopak mata yang menutupi manik biru itu terbuka. Langit-langit kamarnya yang pertama kali menyapa penglihatannya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum penglihatan nya kembali normal.
"Kak-Hali.." panggilnya tanpa sadar.
Hali sedikit terkesiap, sebuah bisikan lembut yang mengetuk gendang telinganya membuat tidurnya terusik, "Eung, Taufan, kau sudah bangun?"
Ujung bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis. Ia tetap tersenyum meskipun matanya masih dipupuk kantuk. Tangannya meraih kain basah yang digunakannya untuk mengompres Taufan. Punggung tangannya menyentuh kening adiknya, memastikan suhu tubuhnya tidak lagi kontras dengan tangannya.
"Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?" tanyanya lagi. Dengan tubuh ringkih yang terbaring lemah itu, Taufan hanya mengangguk samar.
Kini tiba giliran manik biru itu memandangi kakaknya sayu,
"Ma-af.."
Hali masih membisu, menatap iris biru yang nyaris kehilangan pendarnya.
"Maafkan aku. Aku selalu menyusahkan kak Hali. Aku janji setelah ini tidak akan merepotkan lagi. Karena itu jangan tinggalkan aku." Suara lirih itu lolos bibir pucat nya.
Ada denyutan nyeri di hati Hali yang biasanya keras saat mendengar penuturan Taufan. Suara lemah itu terdengar menyayat hati. Air mata yang dikiranya telah kering kembali menggenang di pelupuk mata. Bibirnya terkatup rapat, kata-kata yang sudah di ujung lidah kembali tertelan.
"Nggak Taufan, nggak akan ada yang meninggalkanmu lagi. Aku janji. Karena itu, jangan seperti ini lagi, ya?"
Sebisa mungkin ia mempertahankan senyumannya, meski terlihat jelas kesedihan yang coba di sembunyikan nya. Sosok Taufan yang selama ini ia kenal selalu dipenuhi perangai ceria dan tingkahnya yang usil kini nampak begitu rapuh. Hidupnya seolah hanya dipenuhi ketakutan saja. Matanya masih terkesan kosong membuatnya tak sanggup menatap iris teduh itu.
Tirai kelopak mata biru itu kembali tertutup. Bukan tidur, hanya mengudarakan sesak yang memenuhi dadanya bersama helaan nafas lelah.
"Ah iya, kau belum makan apapun sejak pagi, kau pasti laparkan? Aku sudah memasakan bubur untukmu. Sebentar aku akan mengambilnya."
Hali mengalihkan pembicaraan, sengaja menghindari perkataan sensitif yang bisa membuat Taufan tantrum lagi.
Ia kembali dengan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih, kemudian mulai menyuapi adiknya dengan sabar. Taufan tak menolak perilaku Hali yang melembut padanya, walau masih terasa begitu asing. Tentu saja, setelah sekian tahun ia menerima perlakuan yang tak mengenakan.
Baru dua sendok bubur Taufan lahap, ia langsung memalingkan wajahnya, hendak menyudahi acara makan siang kali itu.
"Sedikit lagi ya?" Bujuk Hali.
Taufan menggeleng, entah kenapa lidah nya sedang tidak bersahabat. Setiap kali makanan masuk ke mulutnya terasa hambar dan pahit. Jika dipaksakan, perutnya akan terasa mual setelah beberapa saat menelan makanan.
"Kau harus makan lebih banyak agar tubuhmu bertenaga dan cepat pulih."
Taufan justru kembali berbaring, menenggelamkan wajahnya di balik selimut dan membelakangi kakaknya. Entah apa yang membuatnya bersikap seperti itu, tapi ia sudah membuat Hali kecewa. Hembusan nafas terdengar berat, dan suasana menjadi terasa canggung.
Saat ini kakaknya sangat baik padanya, ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali Hali memperhatikannya seperti ini. Tapi itu justru yang membuatnya tak berani menatap manik ruby nya. Ya, perasaan bersalahnya masih membebani dirinya. Seolah ia tak pantas lagi mendapat kasih sayang.
Meski begitu, ia harap semua ini bukan imajinasi, bukan sebuah mimpi. Jikapun saat ini hanya mimpi, biarlah dia terlelap selamanya. Ia terlalu lelah dengan kenyataan. Dalam semu pun Taufan sudah sangat bahagia.
Ting Tong...
Suara bel yang menggema di kediaman Ravael itu memberi sedikit warna dalam keheningan yang menelan penghuni rumah itu. Hali beranjak, ia pikir Taufan kembali tertidur karena terdiam cukup lama. Tak disangka Taufan langsung lengan baju Hali dengan tatapan memelas.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Lirih Taufan memohon.
__ADS_1
Raut wajah Hali menunjukan senyuman getir, hatinya melesak melihat mata sayu itu menatap dirinya. "Hanya sebentar, aku akan segera kembali. Oke?"
Sebenarnya ia tak tega meninggalkan Taufan barang sedetikpun melihat sosok yang terbalut kulit pucat itu hanya mampu menatapnya nanar dengan pandangan sendu. Tapi dia juga tak bisa membiarkan tamunya menunggu terlalu lama.
Kini yang tersisa hanya Taufan Ravael seorang, mata nya menatap langit-langit putih di kamarnya. Detak jarum jam terdengar semakin mengusik pendengaran. Tak ada yang tau apa yang tengah terbesit dipikirannya.
Di luar sana hari telah menyajikan pemandangan jingga khas sore hari. Ia baru sadar telah menghabiskan waktu hampir seharian untuk berbaring dan itu membuatnya pegal, sampai akhirnya mendudukan diri. Tapi entah mengapa meskipun ia baru bangun, energinya seolah terkuras habis hingga ia benar-benar merasa lemas bukan main.
Derap langkah kaki sayup-sayup terdengar mendekat, di susul suara pintu yang terbuka, menampilkan sosok Hali yang datang dengan ekspresi berbinar namun terlihat kalem.
"Taufan, kau kedatangan tamu."
Tamu? Siapa? Taufan mencoba menebak siapa yang datang. Mata sebiru langit itu membulat sempurna, bibirnya yang awalnya terkatup menjadi terbuka sedikit.
"Taufan! Kami datang!" Lengkingan suara itu nyaris membuat Taufan serangan jantung. Ya, suara yang tak asing baginya. Tiba tiba saja Leon masuk khas dengan cengiran ceria miliknya.
"Yo! Taufan, ternyata manusia sepertimu bisa sakit juga ya?" kekehan kecil bersama cercaan itu lolos dari seorang anak konglomerat dengan gaya selangit, siapa lagi kalau bukan Sevan.
Dibelakangnya, Arga menyusul dengan wajah yang seperti biasa ia lihat sehari hari. Santai, meski nampak raut wajah kekhawatiran tapi ia berhasil menutupinya dengan senyum tipis.
"Yo! Gimana keadaanmu?" sapa nya hangat.
"K-kalian, bagaimana kalian bisa-?" Taufan terkejut.
Sungguh, ia sama sekali tak siap bertemu dengan mereka, terlebih Leon dan Sevan. Netra nya melirik ke arah pintu, dimana kakaknya berdiri sembari mengulas senyum. Dan entah bagaimana ceritanya, kakak Arga -Khai- juga di sana ikut menyapa sembari melambaikan tangannya.
Bibirnya kini terkatup rapat. Seolah tenggorokannya terhalang oleh sesuatu yang menahan suaranya untuk keluar. Ia kehilangan kata-kata.
"Dia kan sedang sakit, kenapa kau malah bawa donat!? Seharusnya kau bawa buah!" sembur Sevan sambil berkacak pinggang.
"Haaa? Memang orang sakit ngga boleh makan donat? Masih mending aku kan bawa sesuatu, dibandingkan dirimu yang ngga bawa apa-apa. Katanya kaya." Sindir Arga tak mau kalah.
"Tadi aku buru buru kemari, mana sempat bawa oleh oleh." Sahut Sevan tak terima.
Duk...
Perempatan imajiner yang muncul di kepalan tangan Leon sukses membuat rival itu terdiam seketika, "Kita kesini untuk menjenguk. Kenapa kalian malah meributkan makanan?" seru Leon menengahi.
Sementara itu, Taufan hanya terdiam. Kepalanya tertunduk dalam, giginya menggeretak keras. Jemarinya terkepal erat sampai-sampai kukunya memutih. "Hiks.." Isakan nya tertahan, air matanya jatuh disusul sebuah kata yang sedari tadi tertahan di ujung lidah. "Maaf.." ujarnya lirih
"Eh?"
"Maafkan aku.. Hiks.. gara-gara aku.. Yuki.." nafasnya tercekat. Emosinya mungkin akan segera meledak.
Mereka bertukar pandang, berkomunikasi melalui mata. Penghuni ruangan itu menelan kenyataan pahit. Wajah mereka dihiasi raut getir, teringat akan ucapan Hali sebelum mereka menemuinya.
Ia menjelaskan kondisi Taufan dan meminta mereka untuk tidak menyinggung hal sensitif yang memungkinkan Taufan bisa tantrum lagi.
Padahal mereka sama sekali tidak berniat untuk menyinggung kematian Yuki, namun justru Taufan mengatakannya secara terang-terangan. Mereka yakin itu menjadi beban berat baginya.
Sevan menghela nafas panjang, "Begitu ya, jadi kau merasa bersalah atas kematian Yuki?"
__ADS_1
"Kalau saja aku tidak pergi dari rumah, kalian tidak akan pergi mencari ku dan Yuki tidak akan pergi secepat ini."
Melihat Taufan masih saja menyalahkan dirinya membuat simpati Hali terpancing. Baru ia hendak beranjak menenangkan adiknya, tangan Khai menahannya. Sorot matanya mengatakan segalanya, meminta Hali untuk memberi mereka waktu untuk bicara.
Sevan kembali mendesah frustasi, "Ah, sudah kuduga pasti akan begini. Pandanganmu terlalu sempit, Fan. Memang kematian Yuki sangat mendadak, aku sendiri belum bisa menerimanya. Tapi di samping itu, kau tidak bisa menghakimi dirimu sendiri. seolah kau penyebab kematiannya. Setidaknya aku ingin kau tahu hal ini.
...Dokter pernah menvonis Ice hanya mampu bertahan sampai usia 15 tahun. Tapi saat band kita terbentuk, umur Yuki genap 16 tahun. Yah, intinya kematian itu ngga ada yang tahu, bagaimana atau kapan kita mati itu rahasia Tuhan.
...Dan aku yakin, waktu singkat yang kita jalani bersama itu sangat berarti baginya. Waktu kita tampil di cafe malam itu, berlatih musik bersama atau saat mendaki gunung meski tak mencapai puncaknya, itu pengalaman terbaik bagi Yuki yang selama ini hanya terpenjara di rumah sakit. Tanpa kau sadari kau sudah membuat kenangan terindah untuknya. Aku mengatasnamakan Yuki, sangat berterima kasih untuk semuanya."
Hening..
Dari balik kacamatanya, iris cerah itu menatap Taufan yang nampak masih tenggelam dalam pikirannya yang kacau. Setidaknya jejak-jejak air matanya masih membekas di pelupuk matanya. Apa yang ia katakan belum cukup untuk menghentikan rasa bersalahnya?
"Berhenti menangis! Dasar bocah! Kau ini cowok kan!? Setidaknya katakan sesuatu!" sembur Sevan.
"Maaf... Maaf dan terima kasih."
Taufan menangkupkan tangannya, menyembunyikan wajahnya yang kembali beruraian air matanya.
Lega. Sangat lega, perasaan yang menggambarkan suasana hatinya saat ini. Seolah ada beban yang terangkat dari bahunya.
Arga tersenyum tipis, "Sudah, hentikan. Kau ngga malu menangis kayak anak kecil gitu? Udah gede juga, dilihat banyak orang tuh." Ujarnya sembari mengacak acak rambut sahabatnya.
"Semua orang berhak menangis." Protes Taufan yang mulai kembali pada kepribadiannya.
Jika sore sebelumnya langit dihiasi duka karena kepergian seseorang yang berarti. Senja kali itu menceritakan duka yang menjadi tawa. Jingganya nampak kemilau dibanding biasanya, sampai-sampai bisa mencairkan lautan es menjadi air mata kehangatan. Dikelilingi orang-orang yang menyanyi nya, mungkin itu berkah terindah baginya yang sudah lama mendambakan perhatian.
Hati yang terasa tertekan oleh sesuatu yang berat..
Perasaan memusingkan yang membuat sesak..
Dimana semuanya berakhir, emosiku yang terpendam meledak..
Awalnya aku pikir ngga akan sanggup menghadapi hidup ini.. Sehingga aku ingin mengambil jalan pintas..
Aku ingin istirahat dan melupakan semuanya.
Awalnya aku selalu memikirkan hal yang sama untuk menangisi kehidupanku setiap malam. Dan setiap kali hari berganti, kurasa hidupku di dunia nyata telah hancur berantakan secara perlahan.
Namun hari ini aku bisa berjuang dan terus bertarung semampuku setelah ku usap air mataku..
Seseorang pernah bilang kepadaku, "Sedikit apapun waktu yang kau miliki di dunia ini, tetaplah jalani hidupmu semaksimal mungkin."
Yang ada di pikiranku saat ini hanyalah terus bertahan, karena aku memiliki orang yang pantas untuk aku perjuangkan. Untuk mereka yang menyayangiku dan untukku yang hidup untuk orang lain.
Aku telah menemukan alasan bagiku untuk hidup.
Itulah pertama kalinya aku dapat mensyukuri keberadaan ku di dunia ini. ~Taufan Ravael
TBC
__ADS_1