
"Memangnya kau kuliah di jurusan apa, Hal?" Kini berganti suara berat Ethan yang bertanya.
"Teknologi informatika, kenapa om?"
"Om ada rencana buat buka cabang perusahaan di sini. Om mau kamu yang megang nantinya."
"... Ha?"
Ethan berucap begitu santai nya sampai membuat Hali hampir tersedak makanan nya.
"Kok aku?" Serunya dengan tatapan tak percaya.
Tatapan terkejut dari sepasang manik merah itu membuat sebelah alis pria paruh baya terangkat heran, "Kenapa? Kau kan keponakan om, wajar lah kalau om kasih kepercayaan buat megang perusahaan om?"
"Tapi aku ngga ada pengalaman apa-apa di bidang bisnis. Nanti kalo bangkrut, terus om sengsara gimana? Nanti nyalahin aku, nuntut ganti rugi. Lah aku bayarnya pake apa? Jual ginjal?"
Ethan tak sanggup menahan tawanya mendengar jawaban Hali yang langsung panik seperti itu. Begitupun Ken, merasa jawaban kakak nya itu begitu konyol dan berlebihan.
"Yaampun... Ya enggak lah, mana tega om ngelakuin hal kaya begitu? Kau kan bisa jadi kepala bidang IT-nya nanti. Atau kau bisa lanjut S2 nanti buat belajar mengurus bisnis." Terangnya.
Hali hanya mengangguk mendengar itu. Sepertinya reaksinya yang memang berlebihan memikirkan tawaran itu. Mungkin saja jika saat itu ia cukup dewasa untuk meneruskan bisnis keluarganya, ia tak akan melepas hasil dari kerja keras yang sudah ayahnya rintis dari nol.
Tapi ia justru menjualnya atas saran penasehat ayahnya dan menggunakannya untuk bertahan hidup hingga detik ini.
Bukan akhir yang terlalu buruk sebenarnya, jika daripada tak bersisa sedikitpun. Meskipun semuanya harus sirna hanya karena satu manusia berjiwa psikopat. Sungguh, ia tak ingin mengampuni makhluk satu itu.
"Udah lah kak Hali, terima aja. Siapa tau abis jadi big bos dapet jodoh kan." Ucap Ken tiba tiba. Di bawah meja, kaki Hali langsung menendang kaki adiknya. Tidak terlalu keras, hanya sekedar membuat Ken diam dan menjaga sikap di depan Ethan.
Menurutnya candaan adiknya yang sedikit keterlaluan. Sebenarnya tidak juga, hanya Hali nya saja yang sensian. Ethan terkekeh kecil, pemandangan ini mengingatkannya akan masa kecil bersama sang kakak.
Pandangan nya kini teralih pada Ken yang masih makan sambil sedikit cemberut setelah apa yang Hali lakukan pada nya tadi.
"Kalau Ken? Besok mau nerusin kemana?" Mendengar namanya disebut, pemuda itu menoleh. Sejenak menjeda kegiatan makan nya, nampak berpikir sesaat.
"Kalo buat kampusnya sih belum ada pandangan om, tapi aku mau masuk jurusan kedokteran. Biar kalau kak Hali atau kak Taufan sakit, aku bisa ngerawat mereka nanti nya."
Alasan yang mungkin terdengar ringan di telinga orang. Tapi percayalah, tersimpan keinginan kuat di balik kata kata itu. Bagi dirinya yang hanya bisa menjadi beban, citanya kelak hanyalah membalas budi segala kebaikan kakaknya.
__ADS_1
Hali tersenyum hari mendengar kata kata adik nya itu. "Besok kalo aku udah kerja, biar aku yang ngurus biayanya. Kau belajar saja yang bener biar jadi dokter beneran." Ujar Hali sembari membelai gemas pucuk kepala adiknya.
Ken langsung menepis tangan yang membuat rambut nya berantakan itu, "Huhh! Kak Hali kebiasan! Gak usah berantakin rambut orang bisa gak sih? " Pekiknya kesal.
Tawa renyah mengudara memenuhi atmosfer sepetak ruang itu. Sudah sangat lama, semenjak pagi dimana semuanya masih baik-baik saja. Berselimut canda, menebar tawa seperti saat ini, sebelum tragedi itu merenggut semuanya, membawa kesuraman yang tak berujung.
Bagai terjebak dalam lorong gelap tanpa setitik pun cahaya di dalam nya.
Ingatan itu selalu melambungkan rindu, meski kemudian menghadirkan sendu.
Dari sana mereka memahami makna dari kehidupan, juga luka dan bahagia yang turut hadir bersamanya.
Ethan dibuat salut oleh ketangguhan mereka. Tumbuh dengan baik meski tanpa hadir sosok orang tua, namun mampu menghadapi masalah dengan dewasa dan pulih dari kesedihan sekalipun ia tahu hal itu bukanlah hal yang mudah.
Tapi satu hal yang tak ia ketahui. Mereka, juga tumbuh sebagai pribadi yang mampu menyimpan duka dengan baik. Menyembunyikan setiap lara yang mereka rasakan di balik senyum dan keceriaan.
"Oh ya, soal Taufan." Suara Ethan langsung menarik perhatian kakak beradik itu untuk menoleh, hanya dengan satu nama yang disebutnya.
"Om berencana untuk memindahkannya ke rumah sakit yang lebih besar, yang fasilitasnya lebih lengkap, menurut kalian gimana?" Lanjutnya kemudian.
"Om juga belum tau. Siang nanti om baru akan diskusikan hal ini sama dokter."
Sudut bibir Ken perlahan turun, wajahnya mendadak mendung. Bukan itu yang ingin ia dengar, tapi ia tahu harapnya memang tak akan semudah itu berbuah manis. "Oh, begitu."
Melihatnya membuat Ethan mengiba. Mendadak rasa bersalah menghampiri pria itu. Padahal ia paham betul apapun yang menyangkut soal kondisi Taufan sudah menjadi obrolan yang sensitif bagi dua bersaudara itu.
Tangannya kemudian terulur, menepuk pelan pucuk rambut hitam yang sedikit pemuda itu dan membelainya lembut.
"Maaf, om belum bisa ngasih kabar baik. Om bahkan nggak tahu apakah ini yang terbaik atau bukan. Tapi om akan terus berusaha dan mengupayakan apapun demi kesembuhan Taufan. Jadi om mohon, Ken percaya sama om ya?"
Manik emas dan coklat itu saling beradu pandang. Mampu Ken baca ketulusan yang tersirat di sana. Tak mudah mempercayai sosok yang belum lama hadir dalam kehidupan nya.
Tapi tatapan lembut Ethan kali itu seakan menghipnotis dirinya untuk meyakini hal yang juga Ethan yakini. "Iya, Ken percaya kok." Hali tersenyum memerhatikan interaksi keduanya. Seperti kekhawatirannya yang menggangunya akhir akhir ini tak berarti lagi.
Barangkali hadirnya Ethan memanglah jawaban dari segala keluh kesahnya.
"Makasih ya om, udah baik banget sama keluarga aku. Padahal kita ngga pernah ketemu. Tapi ngga tau kenapa, aku seperti menemukan jiwa ayah dalam diri om." Kata Hali.
__ADS_1
"Hey, jangan gitu. Om yang seharusnya minta maaf karena tidak menemui kalian dari dulu. Pasti sudah banyak hal berat yang kalian lalui. Sekarang kalian akan jadi tanggungan om. Jadi kalau butuh apapun jangan sungkan bilang sama om. Okey?"
Ethan tersenyum puas ketika kalimatnya disambut anggukan kecil. Barangkali tak seorangpun tahu akan rasa sesal yang menumpuk menguasai pria berhati sutra itu.
Jika saja saat itu ia langsung mengadopsi ketiga anak kakak, mungkin tak akan berakhir seperti ini. Kalimat masih itu terus terngiang, mengganggu harinya akhir-akhir ini.
Yah, itu hanya sebagian dari penyesalannya. Sebenarnya ini sebuah kisah lama, tentang Ethan dan lukanya. Juga garis takdir yang menariknya ke dalam kubangan rasa bersalah.
Bisa dikatakan ia seorang yang beruntung, atau mungkin juga tidak. 15 tahun ia tumbuh layaknya anak normal lainnya, lengkap dengan ayah, ibu dan seseorang kakak yang selalu melindunginya.
Tapi dalam kehidupan ini tak ada yang namanya abadi, termasuk kebahagiaan. Ada satu titik balik di mana semuanya berubah.
Orang tuanya bercerai. Saat itu ia tak paham jika perceraian juga berarti memisahkan dirinya dengan sang kakak. Ethan akhirnya di bawa Ibunya kembali ke kampung halaman nya di Australia, sementara kakaknya, bertahan bersama sang ayah.
Meski terpisahkan jarak, mereka masih terhubung, melalui pesan yang mengisahkan ceritanya masing-masing. Memangkas jarak di antara mereka.
Namun, takdir berkata lain.
Ia tak menyangka, perjumpaan beberapa tahun lalu adalah waktu terakhir ia melihat sosok kakaknya.
Penyesalan terbesarnya adalah tidak bisa mengantarkan sosok yang dulunya pernah sedekat nadi itu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Karena di saat yang sama, ibunya juga sakit keras.
Ethan berjanji akan mengunjungi makam sang kakak setelah kondisi ibunya membaik. Tapi belum sampai janji itu. terpenuhi, setahun kemudian berita ayahnya yang meninggal di tanah kelahiran sampai pada telinganya. Hal itu juga membuat kondisi ibunya memburuk hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di hari yang sama.
Tentu saja ia hancur, ia bahkan sempat ingin mengakhiri hidupnya karena depresi. Apakah ada yang lebih menyakitkan di dunia ini selain tinggalkan seluruh anggota keluarganya dan hidup sebatang kara?
Beruntung ia menemukan pendamping hidup yang mampu menariknya dari lorong keputusasaan dan memulai hidup baru bersama keluarga kecilnya.
Dan saat ia mendengar kabar kalau keponakan mendapat masalah yang cukup serius, ia langsung meninggalkan semua pekerjaannya dan memesan tiket pesawat saat itu juga.
Sebelumnya ia tak sepenuhnya abai dengan anak-anak kakak nya, tapi Tera -sepupunya- meyakinkan semuanya akan baik-baik saja. Ia yang akan menjaga Hali dan adik-adiknya.
Tapi nyatanya tak pernah ada rencana yang sepenuhnya sesuai dengan realita.
Sebuah kisah cukup panjang jika di ukir dalam untaian kata. Tapi memang seperti itu adanya.
Ia tak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Setidaknya inilah caranya untuk mengenang sang kakak, dan menebus kesalahan yang mungkin dulunya pernah ia perbuat
__ADS_1