
"Udah latihannya? Saya denger tadi sempet sesak napas. Sekarang masih?" Tanya Dokter Tadashi sembari mengeluarkan stetoskop dari kemeja putihnya, jarinya sibuk mencari nadi di pergelangan Taufan.
"Ngga kok, udah enggak." Lelaki paruh baya itu terkekeh pelan.
"Bohong, detak jantungnya cepet gini kok. Pasti sesak kan?" Tanpa ada rasa bersalah, Taufan menunjukan cengiran konyolnya.
Harusnya ia tahu berbohong pada dokter itu tindakan yang sia-sia. Terlebih lagi jika itu dokter Tadashi.
"Dikit." Ujarnya dengan memberi kode isyarat dengan jarinya.
Tadashi menghela nafas, tingkah pasiennya satu ini memang selalu bisa membuatnya geleng-geleng kepala. Butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi model pasien bebal seperti Taufan.
"Suster, tolong infusnya ya?" Titah sang dokter langsung dibalas anggukan oleh wanita yang mungkin berusia pertengahan 30-an itu.
Perhatian nya kembali jatuh pada pasien kesayangannya yang kini tengah merintih tertahan, sedikit meringis ketika ujung jarum infus itu kembali menembus permukaan kulitnya, menghantarkan cairan bening itu ke pembuluh darahnya.
"Kebiasaan. Kalo ngrasain apa-apa tuh bilang sama dokter, jangan disembunyiin. Biar kita bisa mengambil tindakan yang tepat."
"Iya iya maaf." Jujur, Taufan jengah dengan omelan dokter Tadashi yang nyaris setiap hari ia dengar. Apa semua dokter juga cerewet seperti ini?
"Kamu tuh ya, kalo dibilangin pasti gitu. Cuma iya-iya doang, besoknya diulangi lagi." Ujar Tadashi seraya mengusap gemas surai legam Taufan. "Ya udah, pake oksigen ya, biar ngga terlalu sesak."
Taufan hendak menolak, tapi enggan ketika merasakan aura pekat seorang dokter yang sedang dalam mode tidak ingin mendapat penolakan. Alhasil ia hanya bisa pasrah ketika hidungnya dijejali selang kecil yang menurutnya sangat mengganggu.
"Ada lagi yang dirasain? Pusing ngga Mual?"
"Cuma pusing dikit tadi, sama rasanya lemes aja." Tadashi tersenyum, merasa bangga karena bisa membuat Taufan mendengarkan kata-katanya.
"Wajar, kau tidur 10 hari tanpa bergerak sedikitpun. Pasti otot mu jadi kaku dan perlu dilatih lagi. Apalagi tensi mu sedang rendah. Nanti akan aku tambahkan vitamin tambah darah. Abis ini istirahat aja, ngga usah macem-macem. Nanti dokter ke sini lagi." Ucap Tadashi kemudian pamit untuk mengecek pasien lainnya.
Taufan menghela nafas lelah. Ini yang ia benci ketika jujur atas kondisinya, obatnya pasti akan bertambah. Keadaan selalu bisa membawanya pada titik ini, dengan nasal kanula bertengger di hidungnya dan jarum infus yang menancap di punggung tangan kirinya. Selalu berhasil membuatnya merasa lemah.
"Ck, sampe kapan sih aku musti kek gini?" Keluhnya sembari meratapi nasib yang seolah tak kunjung
membaik. Netra birunya menerawang jauh, menatap langit-langit kamarnya yang putih polos tak ternoda.
Sementara Arga yang sedari tadi memerhatikan dari kejauhan bergerak menuju sofa panjang di sisi ruangan, mendudukkan diri di sana. Ia langsung tenggelam dalam dunia game yang ia mainkan di ponselnya, tanpa sekalipun memerhatikan keberadaan lain yang juga ada di sana.
"Kau ngapain sih Arga disitu? Duduk sini kek temenin aku ngobrol." Taufan menunjuk kursi di sampingnya.
Dari ujung mata Arga melirik sebentar, sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke layar ponsel, "Kau ngga denger tadi dokter bilang apa? Istirahat. Udah tidur aja sana." Ketusnya.
__ADS_1
Taufan berdecak kesal, "Istirahat mulu, dari kemarin perasaan juga rebahan terus." Arga bergeming, enggan menangapi ucapan Taufan dan memilih untuk fokus dengan gamenya.
"Arga, kau kenapa sih tiap dateng malah diem? Kalo emang ngga niat nemenin ya udah balik aja sana, daripada buang-buang waktu di sini. Gak guna juga. Aku juga gapapa kok ditinggal sendiri, dah biasa juga." Ujar Taufan tiba-tiba.
Arga berdecak, melepas ponsel dari genggamannya. Manik merahnya menatap malas pada sang lawan bicara. "Emang kau bisa mengurus kebutuhanmu sendiri? Jalan aja masih sempoyongan."
"Iya! Aku emang bisanya cuma nyusahin. Ya maaf kalau kau ngerasa terbebani punya temen kayak aku. Tapi aku juga ngga maksa kok kaut harus disini. Kalau kau mau pergi, pergi aja." Tukas Taufan dengan penekanan di setiap kalimatnya. Wajahnya sudah berubah menjadi tidak bersahabat, seolah hendak meluapkan emosi yang sudah lama dipendam. Sebenarnya Taufan sudah lama ingin memaki sikap sahabatnya itu karena beberapa hari terakhir ini mendiaminya tanpa alasan jelas.
Yah meski tak sepenuhnya mengabaikannya. Setidaknya ia masih menyahut jika dipanggil atau dimintai tolong. Tapi tetap saja perubahan sikap Arga yang mendadak ini sama sekali tak bisa ia pahami, dan itu menyebalkan.
Arga terbungkam. Sungguh ia tak bermaksud untuk melukai perasaan Taufan dengan ucapannya. Ia sendiri juga tak menginginkan perdebatan untuk saat ini. Ia merutuki mulutnya yang terkadang suka melontarkan kata-kata yang mungkin tak pantas di situasi yang kurang tepat. Ia bahkan menyesal sempat membentak Taufan tadi.
Harusnya ia memaklumi psikis dan emosional pasien dengan penyakit akut seperti Taufan itu labil, entah karena hormon atau perasaan yang merasa dirinya tak berguna karena menjadi beban bagi orang lain. Tapi sungguh, bukan niatnya menyakiti. "Sorry, aku ngga bermaksud. Aku.. cuma lagi capek aja."
Hal ini yang dirinya takutkan. Karena kejadian sebelumnya yang sebenarnya membuat dirinya takut untuk menemui Taufan. Merasa tak pantas untuk berada di dekat anak itu.
Alasan dirinya terjebak berdua dalam situasi ini bukan lain karena Hali yang memintanya. Hali merasa ada hal yang harus mereka bicarakan secara empat mata, dengan dalih tak ada yang bisa menemani Taufan terapi.
Ethan dan dirinya sedang menghadiri persidangan Mervin sebagai wali dan saksi, sedangkan Ken ada rapat OSIS sampai sore nanti dan kedua temannya tak bisa ikut menemani dengan alasan sedang berburu produk limited edition dari brand ternama. Sementara dirinya tak ada alasan untuk menolak.
Jeda cukup panjang mengisi jarak di antara mereka. Masing-masing larut dalam kekalutan pikir. Hingga terdengar suara Taufan yang pertama kali memecah hening.
"Sebenernya kau kenapa sih Arga?" Nadanya tak lagi tinggi, egonya perlahan tergerus bersama waktu yang berlalu. Ia tau ada kegelisahan yang tengah Arga sembunyikan darinya.
"Kalau gitu, biar aku tanyakan satu hal padamu. Fan, bagimu.. aku ini apa?"
Sebaris tanya yang Arga lontarkan membuat kening Taufan berkerut dalam, "Maksudmu? Kenapa kau mempertanyakan hal yang udah jelas jawabannya? Kau sohibku, kita bahkan sudah temenan dari zaman zigot."
"Tapi apa aku masih pantas, setelah semua yang kau alami?"
"Kau ngomong apa sih Arga?"
"Fan, kenapa sih kau selalu menanggung semua masalahmu sendiri? Kenapa kau harus menghadapi para preman itu sendirian dan berakhir seperti ini?"
"Kau marah karena itu?" Ujar Taufan dengan spekulasinya. Sepertinya ia paham dengan arah obrolan mereka.
Tapi Arga menggeleng. la pikir Taufan akan mengerti, tapi rupanya tidak. "Fan! Aku nggak marah padamu. Aku justru marah dan kecewa dengan diriku sendiri karena membiarkanmu menghadapi semua ini seorang diri. Kau ngga tau seberapa besar rasa bersalahku karena meninggalkanmu sore itu." Arga kembali mengingat hari ketika mereka terakhir berjumpa sebelum tragedi yang membawa Taufan dalam pejam yang begitu panjang.
"Aku selalu menyesal. Andai sore itu aku menunggumu sampai selesai, aku bisa mencegah tindakan sembrono mu itu. Aku mungkin bisa membantumu menemukan jalan keluar lain dan kau tak perlu berkorban sampai seperti ini."
Arga meneguk ludah susah payah. Ia tak menyangka akan mengungkapkan segala rasa yang membebaninya selama ini. "Kau ngga tau seberapa buruknya aku saat tahu kau koma. Aku ikut merasa sakit karena aku hanya bisa melihatmu terbaring tak sadarkan diri dengan luka seperti itu. Tapi aku bisa apa? Ngga ada. Aku bahkan menjadi orang terakhir yang tahu kabar tentangmu. Saat itu aku benar-benar merasa ngga berguna jadi temen."
__ADS_1
Nafas Arga tercekat di ujung kalimat. Ia tak bisa lagi menyembunyikan parau di tengah desakan air mata yang sudah menggenang di pelupuk.
Taufan terdiam. Bahkan setelah Arga menyelesaikan kalimatnya, ia masih tak kunjung bersuara. Kini ia paham, makna sorot mata yang selalu menatapnya sendu. Tersirat banyak luka di sana. Dan sekarang ia tahu ada hati yang ikut tergores karenanya.
Di satu sisi, ia senang. Ada orang yang mencemaskan nya sampai seperti ini. Untuk pertama kalinya ia merasa berarti bagi orang lain. Ia menyesal telah melontarkan kata yang sebenarnya tak pantas ia ucapkan pada orang yang sebenarnya sangat mencemaskan nya.
Nasal kanula yang membantunya bernafas ia lepas kendati sesak masih ia rasa. Tubuh lemas nya ia paksa untuk bangkit meski pening seketika datang menyergap dan mengaburkan pandangannya. Tapi ia tak ingin membuat Arga menunggu lagi.
Saat ini ada hal yang lebih penting untuk ia sampaikan. Ada hal yang perlu ia Ia mengubah posisinya menjadi duduk, menurunkan kaki yang tadinya ia adukan gemetaran. Sepertinya jika ia paksakan untuk berjalan, ia pasti akan langsung jatuh.
"Arga, duduk sini." Taufan menepuk tempat kosong di sampingnya. "Duduk sini, aku ngga kuat kalo harus jalan sampe situ." Ulangnya ketika melihat Arga yang tak kunjung beranjak dari posisinya.
Arga membuang nafas nya, tak menjawab tapi juga tak menolak permintaan Taufan. Senyum penuh kemenangan merekah di bibir Taufan, hingga Arga duduk bersebelahan dengannya, ia langsung merangkul sahabatnya itu.
"Denger ya, kau ngga perlu merasa bersalah atas apapun yang menimpaku. Barang kali ini emang takdir yang Tuhan berikan padaku. Mungkin Tuhan pengen aku berjuang sedikit lagi untuk dapetin hatinya Ken, meski harga yang harus aku bayar ngga sedikit. Tapi coba deh liat baiknya, keluargaku jadi ngumpul lagi. Kak Hali sama Ken udah balik kaya dulu lagi. Bahkan om Ethan yang ngga aku ketahui keberadaannya juga datang. Aku oke kok kalau musti jadi begini." Ujar Taufan seraya menepuk bahu sahabatnya.
Arga menggeleng tak habis pikir. "Tapi kenapa kau yang harus selalu berjuang setelah semua yg kau alami?" Terbaca setitik sendu di sana, seolah hanya dirinya pihak yang tak bisa menerima takdir yang semesta tuliskan untuk sosok yang di sampingnya.
Mendengarnya, Taufan hanya mengulum senyum, "Kau pernah denger ngga? Kebahagiaan itu harus dijemput."
"Itu rezeki." Potong Arga.
"Bahagia juga rezeki kali." Ucap Taufan kemudian tertawa kecil, "Udah, yang pentingkan sekarang aku ngga papa. Dan soal sikapku yang menurutmu nggak menghargai pertemanan kita. Aku minta maaf. Serius, aku nggak bermaksud membuatmu merasa nggak berguna jadi temen. Aku justru bersyukur banget punya sahabat yang bisa diandalkan sepertimu. Cakep. baik, pinter, kaya lagi."
Sejenak Taufan menjeda kalimatnya, menerka-nerka ekspresi yang akan Arga tunjukan. Ia tak ingin memuji sahabatnya itu terlalu tinggi, takut atap plafon rumah sakit jebol. Tapi sepertinya usahanya untuk menghibur sia-sia, ketika Arga sama sekali tak membalas ucapannya.
Hening sejenak bertandang. Pandangannya manik biru itu lurus menatap ke depan. Jika menengok ke belakang, ternyata sudah cukup banyak waktu telah berlalu.
Banyak kisah penuh suka duka yang mereka bagi. Mengingatnya saja sudah cukup menghangatkan hatinya.
"Arga, kita udah temenan nggak cuma setahun dua tahun, kau yang paling mengerti aku, bahkan dibanding keluargaku sendiri. Terkadang aku juga ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitarku tanpa harus membebani mereka dengan masalahku."
"Tapi aku ngga suka kalau endingnya kau jadi kayak gini. Lain kali, kalau kau ada masalah, ngobrol sama aku. Kau juga punya temen, kau nggak harus menyelesaikan nya sendiri."
"Iyaaa perhatian banget sih. Jadi gemes." Ucap Taufan sambil mencubit pipi Arga hingga memerah.
"Apaan sih Fan, geli. Aku masih normal ya!" Pekik Arga bergidik ngeri. Saat itu juga ia membuat jarak, takut jika temannya itu belok.
"Yeee, aku juga masih doyan cewek kali."
Saat detik berganti, tawa renyah mengudara ikut mewarnai sepetak ruang yang kini tersorot cahaya jingga. Dan mereka kembali pada diri mereka masing-masing setelah konflik batin yang wajar dirasa ketika remaja.
__ADS_1
Terkadang ditengah keretakan, kita hanya butuh jeda waktu sejenak untuk saling bertukar kata. Merendahkan ego untuk menjalin makna dan saling memahami.