Dandelion

Dandelion
69. Bertemu Denganmu


__ADS_3

Aroma khas obat obatan begitu kaki nya melangkah masuk ke dalam ruangan tercium begitu jelas. Rasa nya sudah cukup lama ia tak datang kemari.


Padahal baru seminggu ia izin absen karena ada keperluan di luar kota. Aneh saja, di saat kebanyakan orang muak dengan tempat ini, ia justru merindukannya. Bibir gadis itu tersenyum cerah dan mata sipitnya melihat sosok yang baginya tak asing di lobby.


"Kak Adinda!" Panggilnya cukup keras di tengah ruang yang terbilang lengang.


Perawat berseragam hijau tosca itu sontak menoleh, melambaikan tangan pada gadis yang berlari kecil ke arahnya.


"Hai, Yanata? Kapan balik?" sambut wanita dengan lesung pipi itu hangat. Untuk hubungan senior-junior, mereka terbilang cukup akrab. Terlebih posisi Yanata saat ini hanya perawat magang. Tapi Adinda tak pernah mempermasalahkan status mereka.


"Iya, baru nyampe tadi sore. Besok aku udah masuk lagi. Kakak masuk shift sore?"


"Iya, baru aja selese visit pasien. Kau sendiri ngapain ke sini?"


Gadis itu menyodorkan dua buah paperbag di tangannya, "Cuma mau ngasih ini, oleh-oleh. Nanti dibagi sama yang lain ya?"


"Wah, padahal kan ngga perlu repot-repot begini."


"Ngga repot kok. Aku emang mau ke sini sekalian jengukin temenku."


Kening Adinda berkerut kecil, menandakan ada tanya yang di sana, "Temen mu ada yang di rawat di sini?"


"Iya. Ya udah kak, aku naik dulu. Ntar jam besuknya keburu abis," pamitnya sambil lalu usai mendapat anggukan.


Sengaja tak ingin memperpanjang obrolan karena waktu yang memang terbatas.


Hari memang sudah gelap, tapi belum bisa dikatakan larut. Matahari baru saja turun dan masih menyisakan semburat jingga tipis di batas cakrawala.


Ia sudah cukup terbiasa dengan suasana rumah sakit yang nampak begitu sepi seperti kala itu. Tempat yang diperuntukan untuk orang sakit itu sudah seperti tempat persinggahan baginya. Di samping karena studinya, ia juga sering ikut ayahnya yang bekerja sebagai direktur eksekutif di sana. Tak heran jika lorong yang terlihat seperti labirin itu tak lebih dari jalur monopoli untuk nya.


Langkah kaki baru terhenti di salah satu kamar rawat di lantai 5 usai menyusuri koridor panjang di gedung itu. Gadis itu menyisir sekitar, memastikan diri nya tidak salah tempat.


"Bener ini kan?"


Tangan yang sempat terangkat, hendak mengetuk menjadi enggan.


Sesaat terbesit di benaknya obrolan apa nantinya akan mereka jalin. Bukankah aneh jika tiba-tiba ada orang yang baru ditemui sekali, datang bertamu padahal kita sendiri tidak mengenalnya? Itupun belum tentu orang itu mengingat nya.

__ADS_1


Ah, kenapa mendadak ia menjadi ragu begini? Bukankah tujuan ia datang untuk bertemu kembali?


Beberapa detik ia menatap pintu putih di hadapannya, berdiri mematung dengan bimbang di hati.


Hingga ia menyadari jika keheningan ini bukan suatu hal yang wajar. "Kok sepi banget sih? Apa iya orangnya udah tidur?"


Sadar jika menunggu saja tak akan membawa kepastian itu datang, ia memberanikan diri untuk mengendap masuk. Berusaha meminimalisir suara yang timbul, berjaga jika penghuninya memang sudah terlelap. Namun detik berikutnya, senyap yang ia jaga pecah karena aksi nekat seorang pemuda yang naik ke pembatas jendela.


"Hei, apa yang kau lakukan!? Cepat turun! Bahaya!"


Lengkingan suara nyaringnya membuat sosok yang tak menyadari kehadiran Yanata di sana itu terkejut. Seketika pijakannya goyah, sebelum kehilangan keseimbangan terjatuh, menciptakan suara yang membuat orang ngilu jika mendengarnya. "A-aduduh..." Pemuda itu meringis pelan, mengelus pusat dari rasa sakit di punggungnya.


Buru-buru Yanata menghampirinya, bersimpuh di sampingnya. Ia dibuat panik ketika menangkap gelagat kesakitan kentara di raut wajah lelaki itu.


"Astaga, kau ngga papa? Bentar, aku panggilin dokter."


Sebuah tangan menggenggam nya terlebih dahulu, bahkan sebelum ia sempat beranjak. Sengaja menahannya agar tidak pergi. "Ngga! Ngga usah. Aku ngga papa," ujar Taufan kendati nyeri masih terasa punggungnya. Tapi ia tak bisa membiarkan gadis itu melapor.


Ia tak ingin menjadi tahanan rumah sakit lebih lama lagi hanya karena masalah sepele semacam ini.


"Tapi punggungmu-"


Meski sebenarnya ragu, Yanata tak lagi menyuarakan bantahannya dan berakhir dengan memenuhi permintaan Taufan. Dengan hati-hati ia menuntun tubuh itu kembali ke ranjang, meski hanya duduk di tepiannya karena Taufan menolak untuk rebahan.


"Serius, kau bikin aku hampir jantungan," Ujar Yanata dibarengi helaan nafas berat. Tubuh lunglainya ia hempas pada satu-satunya kursi di sana. Ia benar-benar dibuat ketakutan hingga sendinya melemas karena ulah pemuda itu. Kalau sampai hal buruk terjadi, pasti orang-orang akan menyalahkannya karena menjadi saksi mata.


Mendengar hal itu, Taufan mengernyit, "Harusnya aku yang ngomong gitu. Ngga ada ngetok pintu atau salam, tiba-tiba nongol di kamarku sambil teriak-teriak. Mana suaranya kenceng banget lagi. Ya siapa yang ngga kaget? Untung ngga ada riwayat sakit jantung." gerutunya.


Yanata bungkam. Tak ada yang salah dari ucapannya. Ia pun juga cukup menyadari sikapnya tadi itu kurang pantas. Tapi siapa juga yang tak panik melihat seseorang berdiri di jendela yang terletak di lantai 5?


Salah-salah, bisa saja orang itu jatuh ke luar gedung dan hanya meninggalkan nama. "Ya maaf. Lagian kau kenapa sih naik-naik begituan? Kan bahaya."


"Oh, tadi cuma mau benerin tirai. Lepas waktu aku tarik," balas Taufan enteng.


Yanata berdecak, sempat tak habis pikir. Tak sayang nyawa, batinnya. "Kau bisa meminta staff rumah sakit untuk memperbaikinya, ngga perlu sampai naik-naik kayak tadi. Bahaya tahu?"


Melihat gadis itu mengomel membuat Taufan justru tersenyum. Terdengar lucu baginya. "Lagian udah malem kenapa jendelanya masih dibuka sih?" Ujar Yanata seraya bergerak menutup satu-satunya akses udara luar.

__ADS_1


"Eh, jangan ditutup!" seru Taufan reflek menghampiri. Jemari kurusnya membuka kembali jendela sudah sempat dikunci. Mempersilahkan udara malam untuk mengisi ruang yang sesak dengan bau obat-obatan itu.


"Kenapa?" tanya Yanata terheran.


Taufan menggeleng, "Ngga ada alasan khusus. Cuma suka aja sama angin malam. Seger banget rasanya."


Udara malam memang masih menjadi candu bagi sebagian orang. Tapi meski Taufan berkata seperti itu, tersirat seberkas kerinduan yang tersimpan di kelereng biru itu. Ratapan sendu yang menggambarkan seolah ada beban yang tak mampu ia ungkap dalam kata.


Sekalipun Yanata tahu udara malam tak baik untuk kesehatan, tapi ia tak lagi berniat untuk melarangnya. Tak sampai hati menghancurkan kebahagiaan kecil lelaki itu.


Pandangannya lantas mengedar, ruangan itu begitu kosong tanpa obrolan yang terjalin. Pantas saja, ia pasti kesepian.


"Kau sendiri?" tanya Yanata setelah jeda panjang.


"Iya. Ini malam terakhir aku di rumah sakit. Aku menyuruh saudaraku untuk tetap di rumah aja. Selama aku dirawat mereka nggak bisa istirahat dengan baik karena mengurusku. Jadi untuk kali ini aja aku meminta mereka untuk beristirahat tanpa memikirkan ku. Yah, walau awalnya ditolak mentah-mentah, tapi akhirnya luluh juga." Tawa kecilnya mengudara, teringat akan perdebatan siang tadi dengan sang kakak yang ngeyel tak membiarkan Taufan sendiri. Takut anak itu kabur katanya.


"Iya, kondisiku sudah jauh membaik."


"Oh~ syukur deh." Terkadang manusia itu sulit dimengerti. Senyum yang terpatri di bibir terkadang bukan berarti bahagia. Terkadang juga ketika seseorang seharusnya berbahagia untuk orang lain, hatinya justru bersedih.


Yanata memang bersyukur untuk kesembuhan Taufan, begitu juga senyum yang ia tunjukkan. Itu tidaklah palsu. Tapi tak bisa ia pungkiri ada kecewa yang muncul ke permukaan karena pertemuan singkat ini. Jika ia utarakan pasti terdengar jahat sekali karena mengharapkan orang lain sakit lebih lama.


Diam-diam Yanata memerhatikan lekuk paras Taufan. Merekam setiap ekspresi yang pemuda itu tunjukan. Sepasang manik biru cerahnya masih memandang gelap di kejauhan. Sesekali terpejam, menikmati hembusan angin yang membelai lembut kulit tipisnya. Senyum manis yang terukir di bibir tipis itu pasti sudah menyihir puluhan gadis untuk jatuh hati.


"Kau seperti orang yang ngga pernah liat dunia luar," tukas Yanata, membuka obrolan. Lelaki lantas itu mendengus. Jelas sekali ada beban yang seketika mengubah ekspresinya menjadi masam.


Tapi bukan karena ucapan Yanata yang membuyarkan lamunannya, melainkan kenyataan yang terselip di dalamnya.


"Emang. Seenggaknya udah hampir sebulan jadi tahanan di sini. Keluar paling cuma ke taman, berjemur. Paling jauh juga cuma ke gedung fisioterapi, udah mentok situ-situ doang," ungkap Taufan ketus.


Salahkan Hali yang menjadi overprotektif terhadapnya, sampai mengurungnya di kamar sepanjang hari. Katanya di luar banyak kuman yang bisa membuatnya sakit. Oh, Taufan sudah muak mendengar kalimat yang terlontar jutaan kali itu.


Dia kan bukan lagi bayi. Yanata yang awalnya berniat mengasihani justru berpindah haluan mengudarakan tawa. Raut wajah Taufan yang tertekuk kesal itu mirip bebek merajuk, menurutnya.


"Ketawa aja terus, emang hidupku itu menggelikan." Taufan sempat sangsi.


"Ngga, bukan itu. Sorry kalau kau tersinggung," sahut Yanata di sela tawanya yang mulai mereda. Senyumnya lantas kembali terkembang ketika sebuah ide terlintas di benaknya. "Hei, ikut aku sebentar," ujarnya seraya menggapai jemari Taufan begitu antusias.

__ADS_1


"Apa? Kemana?"


"Udah ikut aja. Kau harus lihat yang satu ini. Pakai jaket mu."


__ADS_2