
"Daebak..." ucapnya takjub.
Alina masih takjub melihat orang di depannya. Namun dia segera menghentikan ketakjubannya saat melihat orang itu menatapnya garang. Alina segera melangkah untuk berjalan masuk ke dalam minimarket, namun baru dua langkah dia berjalan tubuhnya tiba-tiba terdorong ke arah samping dan membuatnya jatuh terduduk dengan cara yang tidak elit sama sekali.
"OMG!! OMG!!, apa ini mimpi? kalau ini mimpi tolong siapa saja jangan bangunkan aku..," itu suara salah seorang siswi tadi yang merupakan pelaku utama yang menyebabkan Alina jatuh. Tadi, tepat saat Alina akan melangkah para siswi itu langsung sadar dari mode bekunya dan dengan heboh berlari ke arah orang yang sedang berdiri di pintu mini market tanpa tau ada Alina di depan mereka. Para siswi itu seakan tidak melihat Alina, karena tatapan mereka hanya tertuju pada pria tampan di depan mereka.
Pria itu terkejut sambil melebarkan matanya ngeri saat melihat Alina jatuh. Sesaat dia ingin menolong Alina, namun saat melihat para siswi yang seperti rombongan para penyamun itu berlari ke arahnya, secara tidak sadar dia memundurkan langkahnya.
"Oh Sehun!! ya ampun aku melihat seorang Oh sehun!! Op- uhuk.. kh..," salah satu siswi berteriak histeris, hanya sesaat sampai dia tersedak teriakannya sendiri.
Namun histeria siswi yang lain semakin terdengar, menenggelamkan suara tersedaknya siswi tadi. Mereka berebut untuk mencari perhatian pria tampan itu.
Evano semakin melebarkan matanya saat para siswi semakin mendekat, ya pria tampan itu adalah Evano. Itulah yang membuat Alina takjub, Alina sadar dalam sehari dia sudah bertemu Evano tiga kali di tempat yang berbeda.
Evano menatap para siswi itu ngeri. Sepertinya para siswi salah sangka mengiranya Oh Sehun idol korea yang tampannya berlebihan itu.
Evano benar-benar bingung sekarang, dia tidak pernah menghadapi para gadis yang sehisteris ini. Memang banyak perempuan yang menunjukkan rasa tertarik kepadanya secara langsung, tapi dia tidak pernah menghadapi yang se bar-bar ini.
"Kelakuan gadis-gadis remaja sekarang sungguh mengerikan," batinnya.
"Oppaa!! kau sangat tampaaaan jadilah suamikuuu," teriak siswi yang lain.
"Bahkan aku dilamar oleh seorang gadis sekarang.. Ibu Ayah anakmu dilamar seorang gadis..," Evano memandang ngeri gadis yang memintanya untuk menjadi suami.
"Ya ampuuun, hatiku bergetar ketika melihat ketampananmu oppa, cukup melihatmu sedetik aku tidak perlu makan setahuun.." para siswi terus mengeluarkan gombalannya.
"Apa dia baru saja menyamakanku dengan makanan pokoknya?,". Evano semakin bingung dengan situasi yang dihadapinya.
Saat ini dia benar-benar tersudut dengan para siswi di depannya, dia bahkan tidak peduli lagi dengan air mineral yang ingin dibelinya. Dia ingin lari, tapi ada banyak siswi di depannya. Sebenarnya bisa saja dia menerobos kumpulan para siswi tersebut, namun dia tidak yakin setelah melihat seorang siswi yang berdiri tepat di hadapannya. Siswi itu adalah siswi bertubuh besar yang ingin memukul Alina tadi. Evano pikir jika dia menerobos gadis itu hanya akan menjadi perbuatan yang sia-sia, yang ada dia malah terpental.
"Tidak, itu tidak mungkin ku lakukan. Aku menyayangi nyawaku.." pikirnya ngeri.
Dia mencoba meminta bantuan dari si gadis payung, namun gadis itu menggelengkan kepalanya kuat saat dia paham arti tatapan Evano. Alina ingin membantu, tapi dia tidak tau apa yang harus dilakukan, tubuhnya benar-benar lemah saat ini. Kalau dia nekat membantu pria itu, dia yakin dia akan jadi amukan massa dari gadis-gadis bar - bar itu.
Evano memandang para siswi di depannya dengan putus asa, dia sedang memikirkan cara untuk menenangkan para siswi ini.
Tidak menemukan solusi, dia menghela napas. Harusnya dia tidak haus, harusnya dia tidak berniat membeli air hingga harus berhenti di mini market, harusnya dia tidak terlalu lama mengobrol bersama Ersya hingga haus, harusnya..
"Tunggu.." batinnya. Tiba-tiba dia seperti mendapat pencerahan dari langit. Dengan cepat dia sedikit menjauh dari para siswi itu dan mengambil ponsel dalam saku celananya.
"Ersya, cepat kemari!," serunya sesaat setelah ersya mengangkat panggilannya.
"Ada apa Van? kenapa kau lama sekali hanya untuk membeli air mineral ?, aku ngantuk ce-" Ucapan Ersya terputus karena terkejut dengan teriakan Evano.
__ADS_1
"Yak, berhentilah mengoceh dan bantu aku," kesal Evano.
"Memangnya kau kenapa?," Ersya bingung dan segera melihat ke arah mini market, dan pemandangan di depannya membuatnya kaget.
"Yak kau sedang apa disana? fan meeting?, kenapa kau di kerumuni oleh para siswi SHS?," Ersya bertanya karena bingung dengan keadaan Vano sekarang.
"Aku sudah bilang berhenti mengoceh dan tolong aku sekarang juga, cepatlah. Para siswi SHS ini mengira aku idola mereka, aku sudah menjelaskannya tapi mereka sama sekali tidak peduli.." Evano berbicara cepat sambil menatap mobilnya yang ada di seberang jalan.
"Yak, kenapa kau masih dimobil cepat tolong aku Er, sial.. aku akan menghancurkan semua koleksi action figure doraemon milikmu jika kau tidak kesini dalam 10 detik". Setelah mengancam Ersya, dia langsung memutuskan panggilannya.
"Yak, jangan berani menyentuh doraemonku.. yak!! yak!!," Ersya segera turun dari mobil dan menuju ke tempat Evano berada.
Ersya terdiam, dia bingung sekarang.
"Tunggu, bukankah mereka siswi SHS? tapi kenapa mereka begitu mengerikan?," Ersya menjadi ragu untuk menolong Vano.
Tapi, bayangan action figure doraemonnya yang hancur lebih mengerikan baginya.
"Doraemon yang sudah kurawat sepenuh hati.." Ersya harus menolong Vano, doraemonnya harus selamat, begitu pikirnya.
Ersya melihat ke sekelilingnya untuk mencari bantuan, dan dia menemukan Alina yang saat ini sedang menatap khawatir ke arah Vano. Ersya merasa pernah melihat gadis itu, dia diam sebentar dan mencoba mengingat dimana dia pernah bertemu gadis itu.
"Oh, aku ingat kau gadis goyung!," serunya menunjuk Alina.
Alina yang merasa dirinya ditunjuk, menatap Ersya bingung. "Apalagi sekarang? setelah gadis payung, sekarang ada yg memanggilku goyung?".
"Kau.. karyawan mini market ini?," Ersya melihat rompi karyawan yang di pakai oleh Alina.
Alina mengangguk membenarkan.
"Baiklah, tolong bantu aku melepaskan temanku dari para siswi itu," pinta Ersya.
"Bagaimana caranya?,"
Ersya diam dan mencoba menggunakan otak pintarnya yang jarang dia gunakan akhir-akhir ini. Beberapa saat kemudian, raut wajahnya berseri-seri. Dia menatap Alina dan tersenyum yakin.
"Aku punya ide!," ucapnya sambil memberi tahu rencananya pada Alina. Setelah menjelaskannya, dia memastikan apakah Alina mengerti.
"Baik, aku mengerti tuan" jawab Alina sambil mengangguk-anggukan kepalanya yakin.
"Hei, hentikan perbuatan kalian," saat ini Alina sedang mencoba mengalihkan perhatian para siswi itu kepadanya.
Berhasil, para siswi itu langsung melihat ke arah Alina. Evano mencoba memanfaatkan peluangnya untuk kabur, namun sayang tubuh siswi yang besar itu menghalanginya.
__ADS_1
"Apa?, jangan mengganggu urusan kami!," para siswi itu menatap Alina sinis.
Alina berdehem menutupi kegugupannya, "Hem, berhenti mengganggu pembeli itu. Kalian sudah mengancamku tadi dan sekarang malah mengganggu ketenangan pembeli yang datang, aku akan menelpon polisi dan memberitahu kalau kalian membuat keributan disini jika kalian tidak segera pergi dari sini," Alina mengucapkan ancaman yang diajarkan oleh Ersya tadi dengan lancar.
"Cih, mencoba mengancam kami eoh?, kau kira kami akan percaya?!," salah seorang siswi membalas ancaman Alina dan disambut gelak tawa dari sisiwi yang lainnya. Evano yang melihat kelakuan para siswi SHS tersebut hanya mengernyitkan dahinya prihatin.
"Terserah kalau tidak percaya. Tapi, ada satu hal yang perlu kalian tau, untuk jaga-jaga sebenarnya aku sudah menelpon polisi sejak tadi. Dan kebetulan mereka sedang berpatroli di dekat sini, jadi mungkin sebentar lagi mereka akan datang." Alina mencoba meyakinkan para siswi itu.
"Kau kira kami percaya hah?!" gadis itu menjadi kesal dan mencoba menarik rambut Alina, tapi belum sempat dia menariknya sirine mobil polisi terdengar ditelinganya, dan langsung membuatnya panik.
Para siswi itu saling memandang satu sama lain, lalu memilih berlari menjauhi mini market itu. Mereka terlihat tidak rela meninggalkan Evano, tapi mereka tidak punya pilihan. Mereka tidak mau berurusan dengan polisi.
"Oppa tampan yang mirip Oh Sehun, aku harap kita berjumpa lagiiii," teriak salah seorang siswi.
"Oppa saranghae!!," seru mereka bersamaan sambil melambai ke arah Evano. Evano hanya bergidik ngeri memandang kepergian mereka.
Dia menghela napas lega.
Perhatiannya beralih pada gadis di depannya.
"Terimakasih.." Ucapnya.
"Eh?, tidak tuan, saya yang harusnya berterima kasih. Karena tuan sudah menghentikan mereka mengganggu saya tadi," Alina menatap lurus ke mata Evano, dan mengucapkan terimakasih dengan tulus. Evano benar-benar telah menyelamatkannya tadi, kalau tidak.. mungkin dia akan tidur dengan rasa sakit malam ini.
Evano diam menatap gadis di depannya, sebenarnya dia tidak benar-benar berniat membantu gadis itu tadi. Tapi karena melihat gadis itu yang hanya diam saat diancam membuatnya kesal dan tidak tega, jadilah dia mencoba mengalihkan perhatian para siswi tadi. Tapi yang terjadi malah..
"Vano! kau tidak apa-apa kan?" Ersya yang dari tadi bersembunyi di balik semak-semak langsung berlari menghampiri Vano, dia bahkan sampai memutar tubuh Vano untuk memastikan Vano baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa Er.. kau yang membunyikan sirine tadi?," tanyanya sambil melepaskan tangan Ersya dari lengannya.
"Iya, bukankah ideku jenius?," Ersya tersenyum bangga.
Vano tersenyum tipis, "Bagus, action figure doraemonmu tidak akan ku hancurkan kalau begitu."
Ersya melebarkan kedua matanya tidak terima, "Yak!! berhenti mengancamku dengan mencoba menyakiti doraemonku," Ersya memanyunkan bibirnya, itu kebiasaannya jika kesal dengan Vano.
Ersya mengalihkan perhatiannya kepada gadis di sampingnya, "Kau baik-baik saja nona?," Ersya memandang lekat ke arah Alina yang menurutnya agak aneh.
"Iya aku baik-baik saja tuan," Alina berujar lirih, dia sudah menahan pusing di kepalanya sejak tadi, tapi pusing di kepalanya bertambah parah. Dia berharap kedua pria di hadapannya segera pergi, supaya dia bisa segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang.
Alina membungkuk sedikit dan pamit pada Evano dan Ersya. Dia segera masuk ke dalam mini market dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kejadian tadi.
Setelah kepergian Alina, Evano memandang ke arah pintu mini market cukup lama. Hal itu tidak luput dari perhatian Ersya.
"Ada apa?," tanya Ersya memastikan.
__ADS_1