
Malam sudah kembali berganti dengan pagi. Hari itu Minggu pagi, Ken bersama dengan Khai sudah berada di kamar rawat Hali.
Semalam Hali mengusir Ken, memaksanya untuk pulang dan istirahat di rumah. Mana tega ia membiarkan adiknya itu tidur di sofa, sementara ia rebahan dengan nyaman di ranjang. Bisa-bisa keesokan harinya Ken pula yang sakit.
Meski awalnya Ken terus menolak dengan alasan tidak mau jauh jauh dari kakak nya itu, namun pada akhirnya dia mau juga di antar pulang oleh Khai.
Sementara Khai memilih duduk di sofa, memerhatikan interaksi hangat kedua kakak beradik itu dari kejauhan. Mereka tampak asik bercanda satu sama lain. Keberadaannya pun sebenarnya tak berarti di sana.
Tapi itu lebih baik, melihat mereka bisa lebih tenang dan bercanda seperti itu membuat rasa khawatir nya sedikit mereda. Diingat dari apa yang terjadi sebelumnya, dengan mereka yang lebih ceria sekarang membuat nya bisa bernafas lega.
Yah, sepertinya Hali sungguh 'menggunakan' temannya dengan sangat baik.
Namun, secara tiba tiba suara derit pintu menarik perhatian mereka, seluruh pasang mata menatap bingung akan hadirnya Tera bersama seseorang yg nampak begitu asing bagi ketiganya.
"Om Tera, ada apa? Orang itu siapa?" Hali lebih dulu bertanya, tak ingin berlama-lama dengan perasaan heran nya.
Setelah di perhatikan lagi, entah mengapa Hali merasa cukup familiar dengan orang itu. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mewah dan paras yang tegas namun sorot matanya begitu teduh. Tak lupa senyuman hangat yang terukir indah di bibir tipisnya.
Namun, secara tiba tiba pria itu menghampiri nya dan langsung memeluk nya begitu saja, membuat sepasang manik ruby Hali membulat seketika saat pria itu memeluknya erat, Sembari berbisik mengucap kata maaf.
Tunggu, siapa dia sebenarnya?
"A-anda siapa?" Hali terbata. Tak mungkin ia tak terkejut dengan apa yang di lakukan nya secara tiba tiba begitu.
"Dia om mu Hali, adik dari ayah mu." Jelas Tera yang mampu membaca kebingungan yang tersirat di wajah keponakan nya.
Seluruh penghuni ruangan itu tercengang.
"Ha? Ma-maksud om? Tunggu, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?"
Pria itu melepaskan pelukan nya, menghapus setitik air mata di pelupuk mata.
__ADS_1
Iris mata coklat nya beradu pandang dengan Iris ruby setelah sekian lama. "Maafkan om, Hali, Ken. Seharusnya sedari dulu om menemui kalian. Om benar-benar minta maaf."
"I-ini sebenarnya ada apa?" Ken buka suara, ia juga bingung karena pria asing itu tiba-tiba memeluk kakak nya.
Senyum hangat terbentang di bibir. Pria itu beralih membelai lembut rambut Ken.
"Maaf, kalian semua pasti bingung ya? Kalau begitu mari kita mulai perkenalan. Aku adik kandung ayahmu. Namaku, Ethan. Salam kenal."
Jika semua diputar balikkan, ijinkan semesta bertanya. Pada kalian yang selalu memandang, apakah kalian tahu alasan mengapa langit berwarna biru? Pada kalian yang menikmati hembusan sang bayu di kala senja, akankah kalian tau dari mana ia berasal?
Barangkali memang seperti itulah hidup. Penuh misteri, penuh kejutan. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan. Seperti yang Ravael saudara itu rasakan kini. Hadirnya sosok baru dalam kehidupan mereka, mungkin akan mengubah kehidupan mereka selanjutnya.
Mungkin juga tidak.
Biarlah Tuhan yang merancang skenario terbaik bagi mereka. Kita tak pernah tahu bagaimana semesta berputar. Juga bagaimana takdir akan berjalan nantinya.
Mereka menciptakan luka, juga asa untuk membasuhnya. Kemudian memberikan kebahagiaan kembali.
Hali mungkin juga akan ikut tergilas putaran waktu yang telah menorehkan beribu luka di hatinya, bersamaan dengan berbagai masalah yang nyaris menghancurkan akal sehatnya.
Tapi Tuhan baik. Di balik segala derita dan masalah yang menghantam dirinya tanpa belas kasih, semesta mengirimkan orang-orang dengan segala kerendahan hatinya untuk membangkitkan dan kembali meneguhkan nya.
Sekalipun ia seolah diseret untuk kembali menapaki sulitnya kehidupan dan bertaruh dengan segala kesempatan yang ada, tapi itu cukup baginya yang menjanjikan hadir untuk keberadaan yang bergantung kepadanya.
*****
"Pagi, kak Hali!" Senyum di bibir tipis itu mengembang. Hatinya menghangat. Ada harapan dalam dirinya, agar sapa yang setia mengawali harinya itu tak pernah hilang. Sumber bahagia yang menguatkannya hingga detik ini.
"Pagi!" Balasnya pada Ken yang sudah lebih dulu mengabsen kursi di ruang makan.
"Pagi, Hal." Satu lagi sapaan datang dari pria paruh baya yang tengah berkutat di dapur, lengkap dengan apron yang membalut kaos hitamnya.
__ADS_1
"Pagi, om." Hali mengambil kursi tepat di seberang adiknya. Memperhatikan dari kejauhan sosok pria itu. Ia nampak lihai memasukkan bumbu bumbu dan bahan lain dalam masakan nya.
Hingga beberapa hari berlalu semenjak pertemuan pertama mereka, Ethan memutuskan tinggal satu atap dengan kedua putra kakaknya itu. Mengurus berbagai hal termasuk kebutuhan rumah tangga sembari mempersiapkan persidangan Mervin nanti.
Ia bahkan sudah menyewa pengacara terbaik untuk menyelesaikan kasus yang telah merenggut nyawa kakak tunggalnya dan membahayakan keponakannya itu.
Sementara bagi Hali sendiri, masih ada canggung yang menyelimuti ketika menatap sepasang manik coklat yang mengingatkannya pada mendiang sang ayah.
Meskipun Ethan mengaku sebagai adik kandung ayahnya, tapi tetap saja butuh waktu untuk terbiasa dengan kehadiran sosok baru itu dalam hidupnya.
"Gimana tidurmu? Nyenyak?" Tanya Ethan sembari menyajikan masakannya di atas meja.
Nasi goreng dengan toping telur mata sapi itu nampak menggugah selera. Semenjak Ethan mengambil alih dapur, sajian lezat selalu menjadi penghuni tetap di meja makan saat jam makan tiba. Ia sangat memerhatikan asupan kedua remaja yang menginjak dewasa itu.
"Udah nggak minum obat sih om, tapi masih sering kebangun malem malem." Ujar Hali. Berbagai masalah rumit yang menyergap Hali nyaris bersamaan, membuatnya didiagnosis mengalami gangguan tidur insomnia dan kecemasan berlebih sampai harus mengonsumsi semacam obat anti depresan untuk mengendalikan emosionalnya yang labil dan pola tidurnya yang kacau.
"Kebiasaan begadang tuh. Jadi ngerasa aneh kalo semalem gak lembur. Dah kaya kelelawar aja jadi nokturnal gitu." Ucap Ken menyela.
"Hey, ngaca dong! Kau juga suka lembur ngerjain laporan tuh!" Balas sang kakak tak terima. Itu kenyataan. Gak jarang ia melihat Ken lembur menyelesaikan segala urusan OSIS dan PR nya. Ya... Sudah sewajarnya mendapat banyak tugas sebagai ketua OSIS di sekolah nya.
Ken mendengus kesal. "Kan nggak setiap hari. Lah kak Hali mah tiap hari lembur, belajar jadi kelelawar ya, yang selalu aktif malem malem."
Hali berdecak kesal, dalam hati ia mencibir kalau adiknya itu belum merasakan pusingnya jadi mahasiswa yang dihantui oleh deadline.
Sementara Ken tertawa geli melihat kakaknya itu. Reaksi Hali yang seperti orang ngambek cukup menggemaskan.
"Memangnya kau kuliah di jurusan apa, Hal?" Kini berganti suara berat Ethan yang bertanya.
"Teknologi informatika, kenapa om?"
Dengan santai Ethan meminum secangkir kopi yang di buat nya tadi, dan beralih memandang Hali yang masih menunggu jawaban. "Om ada rencana buat buka cabang perusahaan di sini. Om mau kamu yang megang nantinya."
__ADS_1
"... Ha?"