Dandelion

Dandelion
53. Rapuhnya


__ADS_3

Sebotol jus dingin Tera sodorkan, "Tenangkan dirimu dulu. Setelah itu kau bisa menceritakan semuanya." Kali ini nada bicaranya terdengar melunak, mencoba untuk menenangkan pemuda ber iris mata ruby itu.


Hali hanya mengangguk menanggapi nya. Hembusan nafas berat mengawali pembicaraan panjang mereka. Tera menjelaskan dengan rinci semua yang terjadi pada Taufan.


"Taufan koma." Seluruh otot dan sendinya menegang. Namun ia tau ia harus terus kuat.


"Dia sempat kritis. Saat tiba di rumah sakit, jantung nya sempat berhenti. Beruntung denyut jantung nya bisa kembali. Dan sekarang dia koma. Para dokter tak bisa memberi kepastian kapan dia akan sadar."


Sungguh, lidah nya kelu untuk sekedar berucap, sekalipun itu kebenaran yang nyata. Hali seolah diingatkan kembali dengan kondisi Taufan yang tak pernah membaik hingga detik ini.


Sesak kembali ia rasakan. Merasa gagal dengan tugasnya sebagai kakak, juga gagal untuk melindungi adik nya itu. Terlebih lagi dengan abainya ia selama ini, membuat perasaan bersalah itu kian kentara.


"Setelah aku kehilangan kedua orang tuaku, apa aku juga harus kehilangan Taufan?" Hali berujar pelan, terdengar isakan lirih setelah nya.


Berulang kali ia bangkit, berusaha menjadi tangguh dan tetap tegar. Tapi dirinya masih belum bisa untuk mengikhlaskan. Ia masih belum sanggup merasakan kehilangan lagi.


"Dan semua ini gara gara si psikopat sialan itu!" Teriak Hali penuh kebencian. Tangan nya mengepal kuat, emosi kembali menghampiri dirinya.


"Dia terus mengejar kami. Aku takut setelah dia bebas nanti dia akan kembali mengincar keluarga kami. Bisa saja setelahnya Ken atau aku. Aku tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi. Selama ini tujuan ku bertahan hidup hanya untuk Ken dan Taufan. Kalau mereka tidak ada aku mungkin..."


"Ssstt, sudah cukup. Semua akan baik-baik saja. Jangan berfikiran negatif." Tangan Tera terulur menarik tubuh pemuda itu ke dalam pelukan nya. Memberikan kehangatan untuk sekedar menenangkan nya.


Meminjamkan bahunya sejenak untuk bersandar. Ia tahu Hali lelah. Ia juga cukup terkejut, tapi sebisa mungkin ia menguasai dirinya sendiri. Ia jadi teringat akan mendiang kakak sepupunya yang tewas dalam kebakaran itu. Ia meninggalkan tiga putra dengan usia yang masih sangat muda.


Selama ini mereka hidup sendiri, sudah banyak derita dan lara yang mereka alami. Terlebih lagi Hali sebagai sang sulung yang kini seperti kepala keluarga untuk kedua adik nya.


"Setelah investigasi selesai, pengadilan akan segera mengambil keputusan. Aku akan berusaha agar dia mendapat hukuman yang setimpal."


"Aku takut om!" Di usia nya yang begitu muda, Hali sudah dikenalkan dengan rasa kehilangan, tanggung jawab besar dan berbagai situasi yang tak masuk di akal. Dan untuk pertama kalinya ia mendengar Hali mengadu padanya. Sebelum ini tak pernah sekali pun ia mendengar keluh kesah dari sosok pemuda itu.

__ADS_1


Tapi semua orang pasti memiliki batasnya. Sekuat apapun orang itu, suatu saat nanti pasti akan jatuh dalam kerapuhan. Dan sepertinya saat ini lah Hali menumpahkan semua yang ia tahan selama ini.


"Kalian tenang saja, okey? Dia tak akan bisa menyentuh kalian. Aku akan pastikan itu. "


Ternyata ketakutan nya yang Hali alami sama dengan yang dirasakan Ken. Ketakutan yg luar biasa akan kehilangan satu sama lain.


*****


Pernah ia baca sebuah tulisan. Ketika seseorang terbaring di ICU, ia tengah bertaruh di antara perbatasan dua dunia.


Antara kehidupan dan kematian. Mungkin karena hal itu juga yang membuat atmosfer di sekitar nya terasa mencekam.


Butuh keberanian besar bagi Ken untuk menapakkan kaki ke sana, dimana selalu terdengar dengung nyaring setiap saat. Tapi semua rasa itu berbalas saat ia bisa berjumpa dengan sang kakak.


Ia berjalan mendekati sosok yang terbaring di salah satu ranjang di sana. Taufan masih betah terlelap di atas ranjang pesakitan nya. Enggan untuk membuka mata sejenak saja untuk menatap dirinya.


Ia selalu berharap jika sosok itu akan membuka mata saat dirinya berkunjung, menunjukkan senyuman ceria nya seperti dulu.


Tanpa topeng ceria, Taufan tampak seperti bocah. Dia tampak kecil dan rapuh dalam balutan selimut berwarna biru. Sampai sampai Ken tak berani menyentuhnya, takut membuatnya merasakan sakit meski dalam pejam nya.


"Bangun dong kak. Kak Taufan mimpi apa sih, kok betah betah banget tidurnya."


Ken bersimpuh, mendaratkan kepalanya di tepi ranjang sembari memerhatikan wajah samping Taufan. "Kak Taufan tau gak? Akhir-akhir ini kak Hali keliatan kayaknya lagi tertekan banget. Sering pulang malam. Ngakunya dari kampus. Padahal aku yakin dia nemenin kak Taufan di sini." Kesal Ken dengan ekspresinya yg dibuat-buat. Ia mendenguskan nafas nya kesal seperti anak kecil yang ngambek.


Meski Taufan tak sadarkan diri, entah kenapa Ken merasa yakin ia tengah di perhatikan dari suatu tempat. "Aku tau, kak Hali begitu karena ngga mau bikin aku cemas. Kak Hali bikin seolah semuanya baik-baik aja. Aku jadi merasa bersalah karena ngebiarin kak Hali menanggung semuanya sendiri. Kalau ada kak Taufan pasti bisa bikin kak Hali ketawa.. atau malah ngamuk ya?" Ken terkekeh pelan. Ia jadi teringat kenangan masa lalu di mana Taufan selalu menjahili sang sulung, sampai membuat nya kena marah. Walau begitu, kakak nya itu tidak pernah bosan untuk menjahili Hali.


Mengingat itu, Ken jadi teringat akan masa lalu.


"Tapi kak Taufan ngga usah khawatir.

__ADS_1


Tadi pagi aku berhasil bikin kak Hali ketawa, walau hanya sebentar. Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku agar kak Hali ngga ikut memikirkan nya. Seenggaknya kak Hali jadi bisa fokus sama kondisi kak Taufan."


"Makanya kak Taufan cepet bangun. Biar kita bisa seneng-seneng bareng, ya?"


Pintu ruangan itu yang perlahan terbuka menampakan sosok Hali yang kacau. Matanya sembab, pandangan nya bahkan tak mampu menatap lurus ke depan dan terkesan kosong Ken yang menyadari kehadiran kakaknya langsung terkejut mendapati lebam yang memerah di pipi kanan nya.


"Kak Hali! Kak Hali dari mana? Wajah kakak kenapa?" Panik Ken menuntut penjelasan tapi sama sekali tak digubris.


Dengan langkah gontai Hali mendekati ranjang dimana Taufan masih setia dalam pejampejam nya. Ia memandang sosok itu dengan tatapan penuh luka.


Kulit itu masih saja pucat seperti hari-hari lalu, mata biru yang beberapa hari ini tak menampakan diri membuatnya rindu akan sosok periang yang selalu menghangatkan hatinya.


Bibir kering yang sering mengulas senyum itu juga kehilangan warnanya. Bagaimana jika ia tak bisa melihatnya lagi? Mata biru itu, senyuman itu.


Ia sangat merindukan sosok berisik itu, suara cemprengnya yang akhir-akhir ini kembali mewarnai harinya.


Patient monitor yang membentuk garis naik turun menjadi bukti bahwa masih ada kehidupan dalam tubuh itu. Suara yang mengiringi alat itu seolah memainkan melodi dari malaikat kematian yang mengerikan.


"Maaf, maafkan aku Taufan."


Ia terisak di samping tubuh Taufan, menumpahkan segala rasa bersalah yang selama ini mendiami dasar hatinya dalam tangis.


"Maafkan aku yang belum bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Aku mohon, bangunlah. Jangan pergi." Melihat sosok kakak nya yang rapuh membuat pertahan Ken hancur. Air matanya tak kuasa ia bendung hingga akhirnya ikut pecah bersama tangis pilu Hali.


Ia hanya mampu mendekap tubuh kokoh itu dalam pelukan nya. Saling berbagi duka dan rasa sakit. Ia tak tahu seberapa berat beban kakak nya hingga orang paling tegar yang pernah ia kenal bisa jatuh ke titik terendah dan terlihat menyedihkan seperti ini.


Harusnya saat ini ada sosok orang tua yang mendampingi saat-saat tersulit dalam hidup mereka. Menjadi sandaran saat lelah dan tempat berkeluh kesah saat mereka tak sanggup menyimpannya sendiri.


Tubuh Hali tiba-tiba melemas, kekuatannya seolah mengudara menyisakan tubuhnya tanpa ada kesadaran didalam nya. Membiarkan kegelapan mengambil alih dirinya.

__ADS_1


Ia pamit untuk istirahat sejenak, meninggalkan segala masalah yang membebani nya untuk sementara waktu.


Tanpa seorangpun sadari, setitik air mata jatuh melewati pipi. Taufan ikut menangis dalam diam. Di tengah ketidaksadaran yang menenggelamkannya, membuatnya tak mampu melihat permukaan.


__ADS_2