Dandelion

Dandelion
43. Perjuangan (part 3)


__ADS_3

"Hebat juga kau bisa bertahan sampai detik ini. Haruskah aku memberimu penghargaan?" Ujar Mervin yang perlahan menjauhkan pisau dari Ken, melempar lemparkan nya tanpa takut dirinya akan terluka seolah sudah terbiasa dengan benda itu.


Mervin melangkah mendekati Taufan. Suara langkah nya terdengar jelas, sedikit menggema bagi pemuda ber iris biru langit itu.


"Jadi gini cara main orang dewasa? Main kroyok anak SMA tanpa ampun. Benar benar pengecut kalian." Ujar Taufan sambil sedikit terkekeh.


Mervin mengernyit, "ya, tentu butuh banyak orang untuk mengubur kalian di tempat ini. Lebih banyak orang yang mendoakan kalian masuk neraka akan lebih baik bukan?"


Mervin tersenyum puas melihat wajah Taufan, "Tapi dari cara mu mengalahkan preman preman itu, dapat ku akui kau hebat juga. Tapi... Di mana kakak mu yang selalu kau banggakan itu? Apa dia tidak datang? " Tanya Mervin.


Sejak awal Taufan tau akan berakhir seperti ini, ia tak akan pernah bisa menang melawan orang sebanyak ini. Orang orang yang berhasil dikalahkannya, ia anggap keberuntungan. Karena nyata ia tak sekuat itu.


Ia hanya mengulur waktu sampai kakaknya datang, namun hingga ia sekarat pun semesta tak juga memihak nya. Hali tak kunjung menunjukan keberadaannya, dan ia pun tak mampu lagi untuk bergerak.


"Jangan banyak omong. Lepaskan adik ku, Sialan!" Umpat Taufan tajam yang langsung di sambut tamparan telak. Seketika Taufan tertoleh, rasa nyeri yang belum hilang kini bertambah panas yang menjalar. Ia menatap Mervin penuh benci dengan manik sayu.


"Harusnya kau bicara lebih sopan para orang yang lebih tua darimu."


"Cih. Buat apa aku sopan pada makhluk busuk seperti mu?!"


Merasa kesal, tendangan keras mendarat di perut Taufan hingga membuat tubuhnya terpental menabrak tembok di belakang. Pegangan di kedua tangannya terlepas begitu saja.


Ia mengerang, punggungnya kebas akibat hantaman keras. Deru nafasnya kian tak beraturan. Ia terbatuk hebat, mulutnya sudah terbuka berusaha meraup udara yang mendadak menjadi sangat berat seolah tak sudi mengisi rongga dadanya.


Tangannya mencengkram erat perutnya yang menjadi pusat dari rasa sakit di tubuhnya. Berusaha meredam lara meski tak mengubah apapun. Tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa.


Matanya terpejam erat saat desakan dari lambungnya terasa sangat perih bersamaan dengan anyir yang menyeruak di mulutnya.


Uhuk uhuk!


Manik bola biru itu membulat sempurna, menjumpai cairan merah yang telah memenuhi tangannya..


"Tidak, kak Taufan!" Tangis Ken pecah, tubuhnya bergerak di luar kendali berusaha melepas ikatan tambang yang menahannya untuk berlari menghampiri Taufan. Ia terus meronta, tak peduli perih di pergelangan tangannya.

__ADS_1


Jeritan, tangisan, permohonan sama sekali tak mencapai pendengaran Mervin. Nuraninya telah mati, berselimut kabut dendam. Yang terbaca dari tatapan mata itu hanya perasaan membunuh.


"Kau tak sadar posisi mu yang sudah diambang kematian ya?" Ucap Mervin sambil berjalan lambat mendekati Taufan.


"Haha, kenapa. Kau malu mengakui kelemahan mu?" Desis Taufan lemah masih saja memancing amarah si lawan, meski dirinya sendiri tahu telah berada di ujung tanduk.


Kematian yang seolah sudah di depan mata tak membuatnya gentar. Kilat dalam bola biru itu masih sama, penuh amarah dan benci. Ia tak tahu siapa orang itu, alasannya mengapa ia menculik Mervin, bahkan ucapannya tentang kematian. Ia tak tahu apapun.


Yang ia tahu, ia harus menyelamatkan Ken. Tapi ia cukup sadar diri. Untuk saat ini bahkan sulit menggerakkan tubuhnya, bagaimana ia bisa membawa Ken pergi dari sini?


"Wah, bocah ini ternyata cukup brengsek juga ya? Masih saja mengoceh hal gak guna. Kau akan segera mati kalau kau ingin tahu."


Lelaki itu terus menghujani tubuh yang tak berdaya itu dengan tendangan yang mengayun dengan entengnya.


Pekikan suara Ken nyaring meneriakan namanya. Masih sama, memohon untuk berhenti melukai Taufan. Namun seruannya berlalu seperti hembusan angin. Nyatanya lelaki itu tak sedikitpun mengurangi tenaga maupun intensitas tendangannya, tak memberi jeda maupun waktu untuk Taufan beristirahat.


"Ku mohon hentikan! Hajar saja aku! Bunuh saja aku! Jangan kak Taufan! Ku mohon... Jangan sakiti kak Taufan..."


Samar Samar Taufan mendengar tangisan Ken memohon pada psikopat itu untuk tidak melukainya lagi. Dalam hati taufan, ia senang.. sangat senang saat mendengar Ken memanggil namanya dengan embel-embel kak. Ia sudah sangat bahagia hanya dengan seperti ini. Jikalau ia mati saat inipun tak akan ada penyesalan, karena Ken sudah mau menerimanya meski dengan kondisi menyedihkan seperti ini.


"Stt, diamlah.. Kau sangat berisik. Aku akan mulai denganmu setelah aku membereskannya. Jadi tenanglah di sana, dan tunggu giliran mu."


Mervin akhirnya berhenti, nafasnya memburu. Jarinya menyibakkan rambutnya yang basah akan keringat. Ia lantas berjongkok, "Kau tau, awalnya aku ingin memberikan kematian yang mudah bagimu karena aku tau hidupmu pasti sudah sangat sulit. Tapi kau malah datang dengan sok dan memancing emosiku."


Taufan masih sadar, ia masih mampu mendengar kata-kata itu. Seluruh tubuhnya terasa remuk. sakit, ngilu, dan perih. Semuanya menjadi satu. Matanya yang semula terpejam erat, perlahan terbuka, menampilkan manik biru yang meredup.


Pandangannya buram, namun fokusnya tertuju pada satu titik.


Ken.


Adiknya itu pasti sedang melihatnya dengan air mata yang beruraian. Ah sial, Taufan paling tidak bisa jika melihat Ken menangis.


Tangan besar itu mencengram kerah, mengangkat tubuhnya yang tak seberapa.

__ADS_1


Taufan bisa melihat kilauan dari batang besi yang di timpa cahaya lampu.


"Apa ada kata-kata terakhir?"


Taufan tak lagi melawan. Kata-kata yang hendak ia ucapkan tercekat di ujung lidah. Rasa sakit sudah lebih dulu membunuh kemampuan bicaranya.


"Sepertinya tidak. Kau pasti sudah sangat merindukan kedua orang tuamu kan? Akan ku pertemukan kalian saat ini juga."


"Ngga! Jangan! Kak Taufan!"


Perlahan semua rasa sakit yang hinggap di tubuhnya mengudara entah kemana. Terasa damai dan menenangkan di satu waktu.


"Sampaikan salam untuk kedua orang tuamu disana."


Semenyedihkan ini kah hidup nya? Di saat orang-orang yang ia kasihi mulai kembali padanya, ia justru dihadapkan dengan maut.


Pendar lampu diatasnya seolah semakin. redup bak film klasik dengan efek gelap di setiap sisi. Kian gelap hingga cahaya seterang apapun tak mampu menggapai retina manik biru itu.


Sayup, suara itu menggema, panggilan yang terus meneriakkan namanya seolah kian menjauh. Taufan hanya terdiam. Tak mampu berbuat apapun.


Jika ini benar-benar waktuku, aku sama sekali tak menyesal. Aku hanya menyesal tidak bisa menyelamatkan Ken. Hanya dengan keberadaan ku yang mampu ia terima, meski aku tak bisa melihat senyumnya lagi, aku tak keberatan. Kata maaf darimu sudah lebih dari apapun di dunia ini. Maaf aku tak bisa menjadi kakak yang baik...


... Maaf jika selama ini keberadaan ku selalu membuatmu sakit.


... Maaf karena aku tak bisa memperhatikanmu seperti kak Hali. Aku yang terlalu egois dan takut akan penolakan mu.


...Maaf


"KAK TAUFAN!"


Setetes air mata jatuh, bersamaan dengan kelopak mata yang perlahan tertutup.


Melupakan sakit, meninggalkan pilu, menyambut kegelapan tak berujung dan menyisakan kehampaan semu.

__ADS_1


'Dan terima kasih sudah menjadi saudaraku. '


TBC


__ADS_2