
"Hei, emangnya kita boleh ke sini?"
"Boleh, asal ngga ketahuan."
"Kedengarannya ngga bagus."
"Perhatiin aja langkahmu."
Taufan mendengus. Sejujurnya ada lelah yang ingin ia adukan. Pegal karena meniti anak tangga yang seakan tak ada habisnya. Namun ia urungkan karena gengsi yang lebih berkuasa di atas egonya. Padahal nafas pendeknya mulai memburu.
Rupanya tidur panjangnya beberapa hari yang lalu mempengaruhi performa nya. Cukup ia rasakan perbedaannya. Tubuh nya cepat lelah bahkan untuk aktivitas ringan. Dan ia selalu benci ketika dirinya terlihat lemah.
"Capek ya? Maaf ya membawamu sampai sejauh ini." Suara lembut itu memecah sepi di antara derap langkah kaki yang saling beriringan. Seolah mampu menangkap apa yang dipikirkan Taufan. Yanata merasa sedikit bersalah karena mengajak Taufan sejauh ini, padahal ia tau kondisinya baru saja membaik.
"Aku oke, tapi sebenar nya kita mau kemana sih?"
bukannya menjawab, Yanata justru memasang senyum misterius, membuat Taufan mengernyit bingung. Dia bukan mau membawa nya kabur dari rumah sakit kan?
"Nanti kau juga akan tahu. Hampir sampai kok."
Dan karenanya, Taufan biarkan gadis itu memandu langkah di depan, meninggalkannya bersama rasa penasarannya. ia terus mengikuti gadis itu meniti tangga. Dan tepat di tangga terakhir yang ia pijak, lelah itu terbayarkan lunas.
Sebuah healing garden bernuansa indoor segar memanjakan mata. Ruang transparan berdinding kaca itu menaungi taman dengan bunga berwarna oranye yang indah. Taufan bahkan nyaris kehabisan kata untuk mendeskripsikannya. Ia penasaran bagaimana pohon-pohon itu menghijau di sana.
"Wow, aku ngga tau rumah sakit punya tempat seperti ini," ucap nya, memandang penuh takjub.
Jika ada orang yang mengatakan kebahagiaan itu menular, Kirana tak akan menepisnya. Cukup dengan mendapati binar yang Taufan pancarkan, hatinya menghangat.
"Kau harus melihat yang satu ini."
Sang bayu menyambut begitu ramah saat pertama Taufan melangkah di tujuan terakhir mereka. Partisi kaca itu ternyata memisahkan bagian dalam dengan rooftop rumah sakit.
(Anggap saja malam)
Di luar sana gelap telah jatuh sepenuhnya. Dan semesta tengah menunjukan sisi lain dalam dirinya.
Remang cahaya lampu taman tak membatasi pandangan mereka untuk menangkap semua objek di ruang terbuka yang menyambutnya kombinasi sempurna antara alam dan buatan manusia itu.
Taufan terkesima. Kota yang biasa ia pandang biasa saja, tengah menunjukan sisi lain dirinya. Cahaya di bawah sana seolah hidup.
Sejenak ia merapal syukur dalam hati, kepada semesta yang telah melimpahkan udara untuknya bernafas. Meski terkadang begitu angkuh untuk ia hirup, tapi ia tak berniat memusuhi entitas yang membuatnya mampu melihat keindahan dunia hingga detik itu.
Ada seulas senyum yang terbit di sana. Pemuda itu seperti menemukan kembali dirinya yang hilang di tengah gelap malam.
Hembusan angin selalu bisa membuatnya candu, seperti nikotin yang menjanjikan ketenangan.
Rasanya sudah lama sekali ia tak menghirup dinginnya udara malam.
"Kayaknya kau sangat menyukai suasana malam ya?" Suara itu membuat Taufan menoleh. Menangkap potret wajah manis di sampingnya.
"Dulu, saat aku merasa tertekan, aku sering naik gunung," Pandangannya terfokus pada gemerlap bintang di langit kala itu.
"Di sana langit terasa lebih dekat dan bintang-bintang itu seolah bisa aku raih hanya dengan lompatan kecil. Aku pikir, semakin tinggi aku mendaki, doaku akan lebih cepat mencapai langit. Aku sering menitipkannya pada angin malam. Aku mengadukan semua masalahku pada semesta. Berharap aku akan mendapat jawaban," oceh Taufan, tanpa sadar ia mengatakan banyak hal.
"Dan kau mendapatkannya?"
"Ngga, aku cuma dapet kisi-kisinya."
Butuh beberapa saat bagi Kirana untuk memahami ucapan Taufan, dan mungkin juga sedikit terlambat untuk menyadari maksud dari ucapan itu dan tertawa untuknya. Salahkan Taufan yang membuat candaan di tengah obrolan serius.
"Yah, pokoknya itu lah. Nggak tau kenapa suasana ini selalu bisa membuatku merasa lebih tenang."
__ADS_1
Sebagian orang memang menemukan kedamaian di saat malam, tapi sebagian yang lain merasa sendirian karena sepi yang diciptakannya.
Taufan juga terkadang juga benci jika harus melewati malam-malam panjang seorang diri. Tapi di tengah keriuhan pikir, tak ada yang lebih baik selain menyendiri bersama gelap.
Menenggelamkan diri dari dunia dan membiarkan anginnya menghempas jiwanya.
Kirana terhenyak. Tak pernah terpikir untuk menyukai hal semacam itu.
Dibanding dinginnya malam, ia lebih suka hangatnya senja. Cahaya keemasan itu lebih terkenang karena hadirnya yang hanya sesaat. Berbeda dengan bintang dan gelap yang bisa dihabiskan sepanjang malam.
Tapi karena Taufan mengatakannya, ia jadi ikut kepikiran. Malam memang selalu menjadi penawar terbaik kala hati dan pikiran lelah dengan sandiwara hidup.
Tak lagi ada lagi obrolan setelahnya. Tenggelam bersama dalam sepi, sibuk mengarungi isi benak masing-masing.
Hanya Taufan yang diam-diam mengamati paras gadis cantik di sampingnya. Mata sipit, hidung mungil dan kulit seputih susu itu mengingatkannya pada seseorang.
Yuki...
Ah, mendadak hatinya diselimuti sendu. Pertemuan yang begitu singkat, dan terpisahkan oleh jarak yang tak mungkin mampu ia gapai. Ingatan itu selalu menyakitkan, namun tak sekalipun ia ingin melupakannya. Seperti membunuh Yuki untuk kedua kalinya.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" Mata bulat Taufan mengerjap pelan. Tersadar jika terlalu lama ia terjebak dalam memori usang, hingga tanpa sengaja membuat gadis itu tak nyaman akan tatapannya.
"A-ah? Ng-ngga. maaf, aku hanya.... kepikiran sesuatu." Sejenak hening menjeda, mengikis rasa canggung di antara keduanya. Sebelum Taufan berbalik, bersandar di pembatas tanpa melepas kontak mata.
"Kau sadar ngga sih kita bahkan belum saling mengenal? Kita udah mengobrol banyak tanpa aku mengetahui nama mu. Kau keliatan ngga asing. Apa kita pernah bertemu?"
Seketika nafas Yanata tercekat. Harusnya ia tak perlu terkejut. Bukankah ia sudah memprediksikannya? Kejadian itu sudah cukup lama, dan situasinya juga tak memungkinkan untuk mengingat wajah satu sama lain.
Wajar jika Taufan tidak mengenalinya. Tapi tetap saja... ada sesak yang tak la ketahui sebabnya.
Ujung bibirnya tertarik ke atas, ingin menertawakan dirinya sendiri. Benar juga. Memangnya apa yang ia berharap?
"Iya, kita pernah ketemu. Tanpa sengaja. Di gang pertokoan lama. Kau datang seperti superhero dan menghajar preman-preman itu untuk menyelamatkanku. Benar-benar seperti adegan dalam film," ucap gadis itu tiba-tiba, lantas tertawa.
Apakah cara bicaranya terlalu berlebihan? Rasanya cukup relevan menggambarkan sosok Taufan kala itu sebagai pahlawan. Setidaknya untuknya.
Namun, rasanya ada yang aneh dalam ucapan barusan. "Kau.. tau nama ku?" Taufan masih belum paham dengan makna senyuman yang menjadi jawaban atas pertanyaannya.
"Aku bisa tahu hal yang tak kau ketahui."
"Serius?"
Yanata tergelak. Entah Taufan sedang berpura-pura, atau memang polos. la merasa Taufan bisa membuat lawakan hanya dengan ekspresinya yang tak terduga.
"Sebenarnya aku hanya tahu namamu. Kau pasti bingung. Aku sendiri juga ngga tau bagaimana semua ini, termasuk pertemuan- kita terjadi. Kalau kau ingat, malam itu..."
Detik merangkang pelan. Mengiringi kisah yang akan Taufan sebut dengan takdir, bukan sekedar kebetulan belaka. Berawal dari ketidaksengajaan dan berlanjut hingga kini. Meski saat pertama mereka berjumpa memang bukan hal yang indah untuk dikenang.
Semesta memang tak pernah bisa di katakan sempit. Namun hari ini ia dapati jika dunianya tak lebih dari sepetak papan puzzle di mana kepingannya saling terhubung.
Hanya saja, ada satu fakta yang membuatnya tersenyum bahagia. Kebenaran jika Hali memang tulus menolongnya saat itu.
Dari cerita yang ia dengar, Taufan jadi cukup tahu jika kakaknya itu benar-benar mencemaskan dirinya. Menjenguknya setiap hari meskipun ia tak sadarkan diri. Ya, Yanata menceritakan hingga pada Hali yang membentaknya di ruang ICU karena nampak mencurigakan.
Kini ia tahu alasan dibalik sikap protektif kakaknya. Hali hanya ingin memastikan keselamatannya.
"Makasih ya udah menyelamatin aku. Waktu itu aku belum sempat membalas budi," ujar Yanata di ujung cerita panjangnya.
"Ngga perlu berterima kasih. Waktu itu juga cuma kebetulan lewat aja. Ngga bisa kan aku pura-pura tutup mata sama kejadian begituan."
"Aku juga udah dengar ceritanya. Kau menyelamatkan adikmu yang diculik. Ternyata kau memang orang yang suka menantang bahaya ya?"
Taufan hanya melirik sekilas, kemudian kembali menjatuhkan fokus pada jalanan kota yang masih ramai. "Bukan menantang bahaya. Hanya saja- kalau kau punya adik, kau akan tahu rasanya. Keinginan untuk melindungi orang-orang yang kau sayangi."
"Hmm, aku anak tunggal sih. Tapi sepertinya kurang lebih aku paham." Kalimat yang terlontar lirih itu mengakhiri perkenalan singkat mereka. Karena setelahnya, tak ada lagi suara yang mengudara. Membiarkan hening berbaur dengan atmosfer.
__ADS_1
Taufan mengeratkan jaketnya, ketika angin yang lebih kencang menerpa, ikut menggoyangkan dedauan di ranting pohon. Dingin memang terasa lebih menusuk di atas sana, namun ia bertahan. Demi keindahan kota malam dan hamparan langit berbintang yang ia rindukan. Merekam setiap moment, mengukirnya di setiap jengkal ingatannya.
la harap tak pernah lupa. Pada kunang-kunang yang gagal menyembunyikan keberadaannya di balik semak karena kelipnya. Pada rembulan yang diam-diam mengintip di balik awan putih.
Kecil dan sederhana, tapi ia tak sekalipun ingin melupakannya. Entah kenapa dirinya kini bisa lebih menghargai setiap detik kehidupan. Mungkin karena ia pernah dihadapkan dengan kematian, atau karena dirinya yang juga berjuang untuk hidup itu sendiri. Ia ingin terus seperti ini. Meski ia tahu penyakitnya tak akan pernah sembuh, tapi baginya hidup saja sudah cukup. Bersama dengan orang terkasihnya.
"Udah puas ngelayap nya?" Suara yang menyusup dalam deru angin reflek membuat keduanya menoleh.
Dari pendar lampu taman yang membias postur tegap itu saja Taufan sudah bisa memastikan- "Hiii! Kok kak Hali bisa di sini?" -nasib buruk yang menantinya.
Sepasang ruby yang menyorot tajam di bawah siluet bangunan sudah membuat nyalinya ciut lebih dulu.
"Harusnya aku yang nanya begitu. Kau sendiri yang janji nggak bakal kemana-mana kalau ditinggal, terus ngapain di sini? Pengen nginep lebih lama, hm? Bandel banget sih kalo di bilangin." Taufan percaya, di balik nada bicara yang terdengar halus dan tenang itu ada ancaman yang bukan lagi candaan. Hali selalu serius dengan omongannya. Dan sekarang Taufan harus memutar otak untuk menemukan alasan yang bisa memperpanjang masa hidupnya.
"A-anu, maaf." Yanata maju selangkah di depan, "Tapi ini bukan salahnya. Aku yang mengajaknya kemari, tanpa mendengar pendapatnya. Aku pikir dia kesepian dan jenuh karena terus berada di kamar. Jadi aku mengajaknya ke sini untuk ganti suasana sekalian cari angin. Aku... minta maaf karena sudah sembarangan mengajak Taufan keluar," ujar Yanata yang tertunduk. Siap untuk kemungkinan terburuk, termasuk kemurkaan Hali.
Meski ada ketakutan yang berusaha ia tekan dengan mencengkram di ujung baju yang dikenakannya.
Yanata membeku di tempat. Auranya terlalu mencekam untuk sekedar mengangkat pandang dan beradu tatap. Menunggu jawaban Hali saja sudah seperti menunggu pengumuman dari malaikat maut.
"Kau perawat magang itu kan? Kau tahu, Taufan masih dalam masa pemulihan. Udara malem nggak bagus buat paru-parunya."
"I-iya, aku tahu. Maafkan aku," sesal Yanata.
Bola mata Taufan berotasi malas. Lagi-lagi alasan yang sama. Ia muak saat kesehatan selalu dijadikan dinding pembatas baginya. Sekalipun la tahu Hali hanya ingin melindunginya, tapi tetap saja tidak dengan cara seperti ini.
"Ck, kau nggak salah Yanata. Kakak ku aja yang emang over. Kak Hali harusnya berterima kasih karena dia mau nemenin aku jalan-jalan. Bosen tahu dikurung di kamar terus kek tahanan. Lagian aku juga ngga kenapa-kenapa kok" Serunya, jengkel dengan sikap sang kakak yang berlebihan.
Hali meloloskan nafas penat, bahunya turun seiring ego yang mulai terkikis. la sedang malas berdebat. "Iya udah, aku minta maaf. Kalian kalau masih mau ngobrol, di bawah aja."
"Bentar lagi deh kak. Angin nya lagi seger ini."
"Ngga ada, turun sekarang."
"5 menit."
"Taufan."
"1 menit."
"Jangan menguji kesabaran ku, Taufan Ravael. Turun sekarang atau besok nggak jadi pulang."
"Huh, kak Hali ngga seru."
"Makasih, tapi kayaknya aku musti pulang, udah malem soalnya," pamit Yanata.
"Eh? Udah mau pulang?"
Waktu memang baru menunjuk pertengahan di angka 8, tapi jam besuk sudah habis dari setengah jam yang lalu dan ia tak ingin mengganggu Taufan yang masih membutuhkan istirahat.
"Kalo gitu pake ini, di luar dingin. Kau bisa sakit kalau hanya pake luaran tipis begitu." Hali menanggalkan jaket hitamnya, membalutkan nya pada tubuh gadis yang berpostur jauh lebih kecil darinya. Yanata jadi seperti orang-orangan sawah.
Tak biasanya Hali meminjamkan barang miliknya pada orang lain. Jangankan orang lain, Taufan saja pasti tak diijinkan untuk menyentuh barang miliknya.
"Ciee kak Hali cieee.."
"Kau ngapain masih di sini? Masuk sana!"
"Idih, malesin." Taufan melengos, lantas berlalu begitu saja. "Oh ya, makasih ya Yanata buat tournya. Kapan-kapan lagi kita ketemu," ujar Taufan sebelum berbalik meninggalkan rooftop. Menyisakan Yanata yang merasa canggung dengan sikap Hali yang mendadak menjadi halus.
"A-anu, jaketnya nggak perlu-"
"Nggak papa, pakai aja. Anggap ini sebagai permintaan maaf ku karena udah berburuk sangka tadi. Dan juga tanda terima kasih karena udah nemenin Taufan. Aku terlalu takut hal buruk terjadi lagi padanya, sepertinya itu hanya kekhawatiran ku saja."
"Aku paham, wajar kok kakak mencemaskan adiknya. Kalau gitu aku pulang dulu ya kak, titip salam buat Taufan dan makasih buat jaketnya. Akan segera aku kembalikan abis dicuci."
__ADS_1
"Kau bisa mengembalikan nya kapan aja. Hati-hati di jalan."
Lambaian tangan itu menjadi penanda akhir dari perjumpaan mereka. Dan berharap, itu bukan menjadi yang terakhir.