Dandelion

Dandelion
26. Daijoubu


__ADS_3

Terkadang tak ada yang tau bagaimana hidup akan membawa kita nantinya. Takdir mempermainkan kita layaknya permukaan air mengombang ambingkan dedaunan yang sudah lebih dulu gugur terhempas angin. Saat kita sudah menerima kenyataan yang ada dan ingin menyerah, semesta tak mengijinkannya. Meminta kita untuk terus melangkah meski langkah terasa begitu berat sekalipun.


Harusnya Taufan marah, karena Hali menghentikan aksi bunuh dirinya. Menariknya jauh dari kegelapan yang menjanjikan ketenangan batin yang selama ini ia inginkan, dan sekarang justru kembali merasakan sakitnya dunia.


Walau begitu tak bisa ia pungkiri perasaannya yang menghangat sangat tangan kakak nya merengkuh tubuhnya. Baginya, itu sudah cukup untuk membasuh lukanya. Cukup dengan kasih sayang yang Hali berikan padanya. Tapi tidak dengan Hali. Ada sesal yang mencekiknya. Ada rasa bersalah yang secara bertubi tubi memukul batin nya.


Tentu saja, ego yang selama ini ia pertahankan ternyata menorehkan seribu luka di hati kecil sang adik. Sekalipun kata maaf telah ia dapatkan, itu tak mampu menggugurkan perasaan yang menyesakkan itu.


"Iya, hari ini aku ngga masuk. Aku harus merawat Taufan." Suara berat itu menyahut, menanggapi panggilan Dari handphone yang di genggam nya.


Langkah kakinya terdengar menapaki tangga menuju lantai dua.


Lelaki dengan berwarna hitam itu mengacak acak surai hitamnya yang sedikit basah, menunjukan bahwa ia baru saja selesai mandi.


"Apa yang terjadi padanya?"


"Ceritanya panjang, yang jelas kondisinya saat ini sedang tidak baik. Semalam ia tantrum dan sempat demam juga. Tapi aku sudah meminta dokter keluargaku untuk memeriksanya tadi pagi."


"Lalu, bagaimana keadaan nya?" Seseorang di seberang sana kembali melontarkan tanya.


Hali menghela nafas berat, "Mengejutkan, aku sampai tak tahu harus bersikap seperti apa. Virus HIV di tubuhnya memasuki stadium 2, dan sekarang dia juga mengidap pneumonia. Dan lagi kata dokter ia juga depresi sampai psikologisnya terguncang. Dia baru bisa tidur lelap setelah dokter Tadashi memberinya suntikan."


Tiba langkah Hali di depan pintu kamar bernuansa biru itu. Pandangannya tertuju pada sosok yang terbaring di tempat tidur itu masih senantiasa terpejam dengan wajah polos.


"Bukankah sebaiknya dia dirawat di rumah sakit?"


"Aku juga pikir begitu, dokter ku juga menyarankan agar Taufan dirawat inap di rumah sakit, tapi dia menolak. Dokter bilang dia akan mampir sepulang kerjanya untuk mengecek keadaan Taufan lagi. Tapi kalau keadaannya memburuk aku akan membawanya ke rumah sakit."


"Bagus deh kalau begitu, aku senang kalian mulai baikan."


"..."

__ADS_1


Hali terdiam mendengar tanggapan sahabatnya di seberang sana. Khai -orang yang ia ajak mengobrol- juga punya adik yang seumuran dengan Taufan, sudah pasti ia memahami peran seorang kakak. Dan sepertinya ia harus belajar dari sahabatnya itu untuk menjadi 'kakak yang baik'.


"Sepulang kuliah nanti aku akan ke rumahmu. Kau mau aku bawakan apa?"


"Ah, kebetulan. Bisa kau belikan obat untuk Taufan. Aku sudah mendapat resepnya, tapi aku ngga bisa ninggalin dia sendirian di rumah."


" Okey, kirim aja resepnya."


"Oke, abis ini aku kirim. Makasih ya,"


"Sama sama. Ya udah, ntar ku kabarin lagi. Aku ada kelas."


Panggilannya terputus. Hening sesaat, sebelum ia kembali menatap angka yang tertera di layar handphone, 11.38, hampir tengah hari. Ia menghela nafas berat, bisingnya cicadas di luar sana sama sekali tak mengusik sosok yang telah terlelap sekian jam lamanya.


Lebih jauh kakinya melangkah, dan perhatiannya tersita pada benda di atas meja belajar. Layarnya bersinar, serentetan angka yang disusul dengan nama pemilik nomor itu menjadi tanda adanya panggilan masuk.


"Arga..?" Hali menyebut nama yang tertera di sana. Jari nya mengusap layar datar itu, dan waktu mulai berjalan. "Hey! Kenapa kau tidak masuk hari ini? Kau juga tidak memberiku kabar apa-apa. Kau baik-baik saja kan?" Celoteh Arga di seberang sana.


Hali terkekeh kecil mendengar ocehan Arga, "Ini aku Arga, Hali."


"Iya ini, aku. Hari ini Taufan masih sakit, jadi dia tidak bisa masuk."


"Apa dia baik-baik saja? Kemarin aku melihatnya seperti babak belur. Apa yang terjadi padanya?"


Keningnya berkerut, masih kental diingatan Hali ia menyuruh Taufan untuk istirahat kemarin.


"Kau bertemu dengannya? Dimana?"


Dan orang yang dikenalnya sebagai adik Khai itu menyahut cepat. Ia menceritakan kejadian di rumah sakit kemarin, tentang kematian Ice yang mendadak, sikap Taufan ketika datang acara pemakaman.


Ekspresi Hali menjadi sulit ditebak. Usai handphone itu tak lagi bersuara, ia mengucap terima kasih, tanpa ada emosi di dalamnya.

__ADS_1


"Em, bagaimana keadaannya sekarang?"


Sekilas ia melirik ke arah Taufan, "Yah, kondisinya saat ini juga sedang tidak terlalu baik. Semalam ia demam, sampai meracau. Dia juga memanggil nama Yuki dalam tidurnya. Tapi untuk saat ini dia sudah tenang dan sekarang masih tidur."


Terdengar helaan nafas lega di seberang sana. Kini Arga bisa tenang setelah mendengar kabar sahabatnya, meski ada suatu hal yang mengganjal di benaknya.


"Eum, sepulang sekolah nanti aku akan menjenguk nya. Oke kak, kalau begitu sudah dulu ya kak, nanti aku hubungi lagi. Sampai nanti."


Hening..


Pandangan ruby Hali menerawang jauh keluar jendela, awan putih menggantung di langit cerah. Aroma khas matahari dan cahaya kuning yang menelusup dari dedaunan mencapai atmosfer di ruangan itu. Matanya terpejam sesaat, merasakan pening yang mendadak menjalar pangkal kepalanya.


Ia mendekati ranjang, ia melangkah pelan seolah tenaga menguap keluar tubuhnya. Ia masih sadar sepenuhnya, hanya tubuhnya mendadak lemas. Kini ia tahu sebab mengapa Taufan tantrum seperti itu. Ia paham jerit-tangis Taufan. Ia paham penderitaannya.


Ya, ia yakin.


"Ternyata kau sudah banyak menderita. Lebih banyak dari yang aku bayangkan. Pasti sakit ya?" tangannya membelai lembut pucuk surai adiknya. Ia merasa bodoh, menanyakan hal pasti seperti itu pada orang yang bahkan tak sadarkan diri.


Sorot matanya meneliti paras pucat itu, masih dipenuhi lebam dan plester. Namun ia baru menyadari satu hal yang sempat luput dari pengamatannya, ada bekas cengkraman jemari yang memerah di lehernya.


Seketika nafasnya tercekat. Ada sesak yang kembali menjalari dadanya. Bergemuruh di dalam sana. Ia berandai, jika saja kemarin ia terlambat pulang beberapa menit saja, pasti yang ia temukan hanyalah tubuh adiknya yang berisi kehampaan.


Satu hal yang Hali tau, malam itu... Taufan benar benar berniat meninggalkan dunia ini.


Sekarang ia takut jika suatu saat tak akan bisa ia menemukan kehangatan di bola mata biru itu lagi.


Untuk pertama kalinya, setelah sekian tahun. Hali kembali merasakan takutnya kehilangan.


Senyumnya masam, memaksa tersenyum namun justru kesedihan yang terpancar. Tak apa, tak ada yang melihat sisi lemah seorang Hali Ravael saat ini.


"Mulai sekarang semuanya akan baik-baik saja. Tak akan ku biarkan rasa sakit itu membelenggu mu lagi. Kita bisa mengubah kebencian Ken perlahan, dan kau bisa melupakan rasa bersalah itu. Setelah itu kita lepaskan rantai penderitaan yang menyiksamu itu. Akan kuberikan apapun itu asal kau bisa bahagia, bahkan hidupku. Ya, kita akan memulai segalanya dari awal, sebagai keluarga."

__ADS_1


Hali berbisik pelan, tangannya tak henti membelai rambut adiknya. Matanya yang terasa berat akhirnya terpejam. Ia tak kuat menahan kantuk dan lelah yang mendera tubuhnya usai semalaman terjaga. Tak lama kemudian dengkuran halus terdengar darinya yang ikut terlelap di samping Taufan.


TBC


__ADS_2