
Pemuda ber iris merah itu menghela nafas. Hari ini ia bermaksud untuk menemui seseorang yang bahkan sama sekali tak pernah la bayangkan sebelumnya. Nafasnya terhembus begitu dalam. Ia perlu menata hati terlebih dahulu, meneguhkan tekad sebelum ia melangkah lebih jauh memasuki tempat itu, bertemu seseorang yang menorehkan luka padanya.
Cukup lama ia duduk menunggu. Pandangan nya mengedar ke sekitar memperhatikan tempat itu. Pasalnya, ini pertama kali dirinya datang ke sana. Ditambah harus seorang diri berhadapan dengan orang yang sudah membuat hidup nya kacau.
Hingga akhirnya suara seorang pria menarik perhatian nya untuk mengangkat pandang yang sebelumnya tertunduk. Saat itu juga tangan nya mengepal kuat, melihat wajah seseorang yang seakan tak menunjukkan raut penyesalan sama sekali.
"Wah wah, aku terharu kau menjenguk ku seperti ini. Rupanya kau baik juga... Kau rindu pada ku ya? "
Pria tinggi dengan baju tahanan itu muncul bersama seorang polisi yang membantu nya untuk berjalan. Seringai penuh arti yang tak pernah luntur dari wajah tegas itu membuat Hali muak. Walau ada rasa takut yang muncul ketika melihat sosok itu datang.
Polisi telah meninggalkan keduanya sekarang. Sekian detik Hali masih terdiam, menatap tajam orang yang kini duduk bersebrangan dengannya. Tangan nya terkepal menahan amarah setiap kali mengingat kejadian itu.
"Jangan menatapku seperti itu, kecuali kau ingin aku mencongkel mata merah mu itu." Sahut nya masih dengan santai tanpa adanya rasa bersalah terpancar dari raut muka nya.
"Jadi apa yang membuat mu kemari sampai kau menemui ku secara langsung seperti ini?" Mervin lebih dulu buka suara.
"Sebenarnya apa mau mu?" Mervin tak menjawab, bahkan seakan mengabaikan orang di hadapan nya itu dam justru mengalihkan pandangan nya. "Aku bicara denganmu, sialan!" Ujar Hali dengan mata berkilat marah. Ia mulai geram, tangannya mengepal.
Mervin terkekeh melihat respon lawan bicaranya yang perlahan kesabarannya terkikis. "Apa yang ingin kau tau?"
"Semuanya!"
"Oho... Apa bayaran ku jika mengatakan nya? Kau akan membebaskan ku?"
"Apa yang kau harapkan? Menarik gugatan atas dirimu dan berdamai? Jangan bermain-main denganku sialan!" Hali menyentak, setengah berteriak. Tak pelak emosinya mulai terpancing.
__ADS_1
Satu sudut bibirnya terangkat, memamerkan senyum mengejek, "Satu hal yang harus kau tau Hali. Bagiku sekarang uang dan jabatan itu tidaklah penting."
Ia sedikit memajukan tubuhnya, kedua tangannya terlipat di atas meja sementara manik jingga menyalanya menyelami iris merah Hali dengan tatapan mengintimidasi.
"Bagiku semua itu tak lagi penting. Tujuan dan keinginanku hanya satu, menghapus kalian semua, keluarga Ravael dari muka bumi ini hingga tak bersisa." Desis Mervin dengan segala kesungguhan dalam ucapannya. "Masa tahanan ku mungkin akan lama. Tapi aku tak akan pernah melupakan apa yang ayahmu lakukan padaku. Saat aku bebas nanti, akan ku cari kalian semua dan akan ku habisi tanpa sisa dengan tangan ku sendiri. Akan ku buat hidup kalian benar-benar menderita!"
Hali yang mendengar itu lantas menatap kesal.
BRAK
Saat itu juga Hali memukul meja kuat. Kerah baju Mervin ditarik paksa, Hali mencengkeram nya begitu kuat sampai membuat pria yang perawakan nya sedikit lebih besar darinya itu sedikit terangkat.
"Sialan! Ku peringatkan kau untuk jangan pernah menyentuh keluargaku lagi!" Hali menatap tajam, seakan menunjukkan niat membunuh yang kuat dari pemuda ber iris merah ruby itu.
Senyum penuh kemenangan Mervin tunjukkan dengan begitu mengerikan, "Itu yang aku inginkan."
"Orang sepertimu itu tidak pantas untuk hidup!" Tangan Hali terangkat, mengepal kuat bersiap untuk memukul. Namun, belum sempat ia memberikan bogem mentah pada pria di hadapan nya itu, sebuah suara terdengar yang seketika menghentikan pergerakan nya.
"Cukup Hali!" Seruan lantang seorang pria membuat seluruh pasang mata tertuju akan hadirnya. Itu Tera, yang bukan lain adalah saudara Hali juga, sepupu dari ayah nya.
Tapi hadirnya saja tak cukup untuk menghentikan Hali yang nyaris kehilangan akal sehatnya. Emosi nya sudah meluap mendengar ucapan orang yang sudah membuat keluarga nya hancur. Membuat hidup nya hancur dan memberikan derita di dalam nya.
"Lepas, sialan!".
PLAK!
__ADS_1
Seketika Hali tertoleh. Rasa perih mulai menjalar pipinya yang nampak kentara bekas telapak tangan. Hali tertegun. Kini pandangannya kosong.
Tera menghela nafas berat, menyesal harus mengambil tindakan kasar untuk mengembalikan sisi kemanusiaan nya. Ia memerintahkan bawahannya untuk melepas cengkraman mereka.
"Bawa tahanan itu kembali ke sel. Semuanya kembali bertugas." Ujar Tera yang segera disambut hormat.
Hali sama sekali tak melawan, bahkan saat Tera menarik nya keluar, membawanya menjauh ke salah satu sudut di taman yang tak jauh dari tempat ia bekerja.
"Kau gila ya sudah membuat keributan di kantor polisi? Apa kau tidak berpikir bagaimana nasib adik-adikmu jika kau sampai ditahan?" Seru pria paruh baya yang menjabat sebagai komisaris jenderal di kepolisian itu. Ia masih tak habis pikir dengan tingkah keponakan satu itu.
Hali tertunduk dalam, "Maaf." Suaranya lirih, nyaris tak terdengar. Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.
Kini perasaan ketakutan menyambanginya. Ancaman yang ia dapatkan tadi bukanlah omong kosong belaka. Ia tahu Mervin adalah orang nekat. Tak peduli bahkan setelah di penjara sekalipun, ia tau orang itu tak akan menyerah sebelum keinginan nya terpenuhi.
Bagaimana jika yang terjadi saat ini sengaja Mervin buat? Mungkin saja ia sudah mengutus bawahannya jauh sebelum dirinya ditahan. Bagaimana jika jatuh korban selain Taufan, Ken atau dirinya? Bagaimana jika bukan hanya keluarga nya, tapi orang terdekat nya pun ikut terkena dampak dari dendam Mervin?
Banyak hal yang berputar di pikirannya. Saling bertubrukan satu sama lain sampai-sampai kepalanya ingin pecah.
Sementara Tera, melihat kondisi keponakannya yang kacau balau membuatnya tak sampai hati untuk terus mengomel. Terdapat lingkar mata yang menghitam dan pipi yang mulai menirus membuatnya hatinya terasa sakit. Ia yakin bocah itu sama sekali tak bisa beristirahat setelah kejadian malam itu.
Seharusnya ia tak meninggalkan remaja yang tengah beranjak dewasa itu mengurus semuanya sendiri. Ia justru sibuk mengurus kasus Mervin yang sebenarnya bisa diurus oleh anak buahnya.
Bagaimanapun juga Hali hanyalah seorang remaja biasa yang masih memerlukan support orang sekitar di masa-masa sulit seperti ini. Dan ia hanya bisa merutuki kebodohan nya yang abai begitu saja.
Pasti berat, setelah kehilangan orang tua, lalu juga harus mengalami hal mengerikan seperti ini, dimana berakhir dengan nyawa adik nya yang ada di ujung maut. Itu tentu menjadi tekanan dan rasa takut tersendiri bagi Hali sebagai kakak sulung.
__ADS_1