
Taufan terdiam cukup lama, tenggelam dan hanyut dalam pikirannya sendiri. Ia bahkan tak menyadari kehadiran Arga yang masuk beberapa saat lalu. Matanya menatap kosong, tenggelam dalam lamunan nya.
Kesadarannya barulah kembali saat kaleng dingin yang dibawa Arga menyentuh kulit pipinya. Membuat Taufan terkejut, "Arga!? Sejak kapan di sini?"
Arga memutar bola matanya, "Dari tadi, niatnya mau nengok Ken sekalian bawain roti buat makan siang. Ngomong ngomong, dimana Ken?" tanya Arga sembari meminum kopi kalengnya.
Taufan kembali terdiam. Ia hanya menggeleng lemah, dan membuang nafas berat. Wajahnya nampak lesu dan ekspresi lain yang tak bisa Arga pahami. Namun ia yakin, pasti sudah terjadi hal yang tak menyenangkan.
Pertengkaran misalnya. Entahlah, ia tak yakin. Tanpa sadar ia ikut terlarut bersama keheningan.
Mata biru itu menerawang jauh ke luar jendela. Pandangannya menangkap sosok tak asing yang berjalan pelan menuju gerbang. Itu Ken. Mungkin ia ijin pulang untuk beristirahat di rumah. Namun ia hanya terdiam, tak ingin membahas perihal adik sahabatnya itu. Setidaknya untuk saat ini.
Arga mengernyit saat Taufan menarik lengan bajunya, menatapnya dengan memelas, "Ar, mau temani aku bolos?" katanya penuh harap.
Jujur, terkadang ia tak ingin mencampuri urusan keluarga Taufan meski kedua orang tua mereka juga sangat dekat. Tapi ia juga tak bisa melihat sahabatnya yang biasanya ceria itu menjadi orang yang suram seperti saat ini.
Arga menghela nafas panjang, "Oke baiklah,"
****
"Ah, atap itu emang tempat terbaik buat bolos ya?" Taufan meregangkan tubuhnya, melemaskan otot-ototnya yang kaku. Sesekali ia menghirup nafas dalam, menikmati hembusan angin lembut yang menerpanya.
"Padahal baru sehari kau masuk setelah absen seminggu, malah bolos." Ucap pemuda disampingnya.
"Kau sendiri kenapa ikut bolos?" sahut Taufan dengan muka masam.
"Kau mengajakku, bego!" Kesal Arga.
Ya, di sanalah mereka, roof top sekolah, tempat untuk menghabiskan sisa jam pelajaran dan bermalas-malasan di bawah bayang-bayang gedung sembari menikmati camilan kecil.
"Kau ngga mau cerita?" tanya pemuda itu memulai obrolan.
"Hmm? Soal apa?" balas Taufan tanpa menoleh. Diambilnya jus dari plastik dan langsung meminumnya.
Bahu Arga terangkat, ekspresinya bertolak dengan apa yang tengah ia pikirkan.
"Soal adikmu, mungkin. Ya aku tak memaksa sih, hanya saja kalau kau butuh tempat cerita aja. Jangan dipendam sendiri, ntar drop lagi gegara stress."
Taufan dibuat melongo sesaat, tenyata sahabatnya satu itu memiliki sisi yang manis juga.
Mendengar itu, Taufan sedikit menyembunyikan senyum kecut, "Yah, kurasa kau sudah tahu akan bagaimana jadinya. Jelas dia pasti menghindari ku, dia bahkan berteriak kepadaku.. Dan.. Ah, entah kenapa kali ini terasa sakit sekali."
__ADS_1
"Ha? Dia berteriak padamu!?" Arga tersulut emosi. Ini hanya dugaan, tapi bisa saja Arga benar-benar mendatangi Ken dan memakinya. Sebelum itu terjadi, Taufan segera menahan sahabatnya itu.
"Sudahlah Arga, lupakan saja. Aku sudah cukup tak enak padanya karena pagi tadi Kak Hali memarahi Ken gara-gara aku."
"Kenapa?"
"Tidak, hanya saja dia tak mau sarapan satu meja bersamaku, jadi kak Hali sedikit menegurnya." Taufan tak perlu menceritakan semuanya kan? Seperti saat Ken meneriakinya sebagai pembunuh. Ah,
mengingatnya saja sudah membuat hatinya meringis pilu.
"Kurasa dia pantas mendapatkannya." Balas Arga sinis.
Taufan memilih untuk tidak menanggapi sahabatan nya dan malah mengeluh tidak jelas.
"Ah apa patah hati itu rasanya juga seperti ini?" sahut Taufan tiba-tiba. Terdengar kesal dan perih, entahlah. Ia sendiri tak paham dengan apa yang dirasakannya.
Tanpa sadar jemarinya meremas seragam sekolahnya. Menyentuh satu titik yang terasa nyeri namun tak ada luka di sana. Dadanya terasa sesak setiap kali memorinya mengulang ingatan yang sama saat di UKS tadi. Setiap kata yang Ken ucapkan masih terus terngiang di otaknya dan membuat hatinya semakin sakit.
Kemudian dia bertanya, "Hei Ar.. Apa yang akan kau lakukan jika kakakmu bilang kalau dia sangat membencimu?"
Arga mengernyit, kedua alisnya saling bertautan. Ia memandang raut wajah sahabatnya yang tak berekspresi itu. "Bukankah hubunganmu dengan kak Hali sudah membaik?"
Arga bergumam, netra nya menatap lurus kedepan memikirkan pertanyaan Taufan. Sayangnya ia tak dapat menemukan jawaban yang tepat, atau kata-kata yang pantas.
"Hmm, aku ngga tau harus bersikap seperti apa. Sejak kecil kami sering ditinggal ke luar kota, jadi aku hanya bisa mengandalkan kakakku. Karena itu juga aku justru lebih dekat dengan kakakku dibandingkan kedua orang tuaku." Ia berhenti sejenak, menatap kopi kaleng yang tak lagi dingin.
"Tapi, kalau tiba-tiba dia mengatakan dia membenciku. Sudah pasti aku akan merasa sedih, kecewa, marah, sakit hati atau.. yah, entahlah. Aku sendiri tak bisa membayangkannya. Memangnya kenapa?"
Taufan mengulas senyum, "Ngga papa, sudah ku bilang aku hanya ingin tau respon mu saja. Entah kenapa mendengar jawabanmu, aku jadi lebih tenang." Ia merebahkan tubuhnya, berbaring dengan menggunakan tangannya sebagai bantal. Mata birunya menatap awan putih yang menggantung di langit. Nampak silau. Kemudian ia memejamkan matanya. Sementara itu, Arga nampak linglung seperti orang bodoh. Ia sama sekali tak memahami maksud dari pembicaraan Taufan. Namun ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih dan memilih untuk tenggelam dalam pikirannya. Ia memikirkan perkataan Taufan.
Ia tahu Taufan tidak akan menceritakannya secara langsung. Sekian tahu ia mengenal sosok Taufan, dibalik keceriaan dan tawanya itu ada kesedihan yang mendalam. Ia tipe orang yang suka menyembunyikan rasa sakitnya, namun justru itu yang membuat Arga semakin mencemaskan nya.
Di sela-sela lamunannya, terdengar dengkuran halus. Saat ia menoleh, Arga mendapati Taufan yang sudah terlelap. Ia mendengus kasar, baru saja Taufan menghancurkan kekhawatiran akan dirinya. Dengan cepatnya anak itu terbawa bunga tidur seolah tak memiliki beban.
Ia heran, kemana muka memelas yang mengemis pada dirinya tadi. Atau mimik kesedihan yang ia perlihatkan beberapa saat yang lalu? Atau mungkin hanya dirinya yang terlalu mencemaskan nya?
*****
"Kak Taufan... Bangun.. Jangan tidur disini.." Suara anak kecil itu terdengar lembut menyapa pendengaran Taufan.
Ia melenguh kecil, masih enggan membuka mata. Namun anak itu tak membiarkannya untuk kembali terlelap.
__ADS_1
"Kak Taufan, cepat bangun!" ujarnya lagi, kini diiringi goncangan kecil di bahunya.
Sesaat Taufan mengerjap, pandangannya diselimuti kabut dan ia tak bisa melihat jelas anak kecil yang sedari tadi mengusik tidurnya. Hanya suara yang familiar yang membuatnya langsung mengenali sosok bocah itu.
"Eung, Ken?" Ucap setengah sadar memanggil nama adik kecilnya.
"Hey! Bangun, dasar kebo!"
Saat kesadarannya berangsur-angsur kembali, seketika suara itu berubah menjadi lebih berat. Ketika mata beriris biru itu terbuka sepenuhnya, ia terkejut mendapati wajah Arga yang kini tepat berada di atas kepalanya.
JDUG..
"Aduh! Sialan, apa yang kau lakukan bodoh!?" Erang Arga sembari mengusap kasar di dahinya yang terantuk. "Harusnya aku yang tanya, apa yang kau lakukan di atas kepalaku, landak!?" Taufan ikut berseru.
"Ugh! Tentu saja membangunkan mu dasar kebo! Bisa-bisanya ya kau tidur di tempat seperti ini dengan nyamannya. Kau ini tidur atau mati suri!? Banguninnya susah amat. Harusnya tadi ku tinggal saja." Umpat Arga tak lepas dari perempatan imajiner yang mewarnai kepala nya.
Taufan mendengus kasar, ia menyerah untuk membela diri. Ia memilih untuk diam, dan mendongak menatap langit yang tak lagi biru. Semburat jingga bertahan di cakrawala, sebagai penanda hari panjang sudah terlewat.
Senja telah jatuh tanpa ia sadari. Pikirannya melayang untuk sesaat, mimpi tadi terasa begitu nyata. Ingatan yang mungkin sudah ia pendam sejak lama kini kembali kepermukaan.
Tangannya terulur panjang, meregangkan tubuhnya yang sedikit sakit karena tidur sembarangan sembari mengumpulkan nyawanya yang sempat kembali seutuhnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Taufan tanpa memandang lawan bicaranya.
"16.04, bel pulang sekolah sudah berbunyi dari tadi." Sahut Arga dengan ketus.
Meski sesaat, Taufan memejamkan matanya. Menghirup nafas dalam, menikmati udara yang masih bisa ia nikmati hingga detik ini. Punggungnya menegak, tubuhnya segera bangkit dan beranjak menuju pintu yang menghubungkan atap dengan gedung sekolah.
"Ayo pulang."
Dari iris mata Arga menatap punggung yang perlahan menjauh itu dengan tatapan heran. 'Ini anak kenapa sih? Jadi labil gini sikapnya.'
Saat ia hendak menyusul, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk tertera di layar datar miliknya. Dahinya berkerut membaca serentetan kata di sana.
"Hei, Fan! Abis ini ada acara ngga?" tanya Arga tiba-tiba.
Taufan mengernyit heran, "Ngga sih, kenapa emang?"
"Ayo, ikut aku!"
TBC
__ADS_1