Dandelion

Dandelion
50. Rindu dan alasan untuk bertahan


__ADS_3

Ken menghela nafasnya. Ingin rasanya ia mengingat kenangan lama tentang masa lalu nya bersama kakak nya itu. Namun, sekeras apapun ia mencoba, selalu ada luka yang terbentuk karena nya. Ingatan tentang masa lalu nya seakan mengabur.


Semenjak kebakaran yang merenggut kedua orang tuanya dan menghanguskan rumah nya, ia memilih untuk menghabiskan sisa hidup nya untuk membenci Taufan. Ia tak ingin mengingat masa lalunya bersama kakaknya satu itu, sekalipun itu kenangan indah. Karena selalu hadir luka setelahnya.


Baginya, melupakan mungkin obat terbaik, cara untuk menyembuhkan luka. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Mengobati luka dengan luka yang lain. Ia hanya lari dari masa lalu nya, mencoba lari dan menutup mata dari fakta yang tersembunyi.


Namun akhir-akhir ini sebagian memori itu kembali muncul, selalu hinggap dalam mimpi nya. Apa ini karena perasaan bersalah nya pada sang kakak?


Saat mulai menginjak bangku sekolah dasar, Ken pernah mengalami demam tinggi yang tak kunjung turun hingga harus di rawat di rumah sakit. Saat itu tidurnya tak pernah nyenyak. Hampir setiap malam ia merintih. Sesekali menangis karena suhu tubuhnya kembali bertengger di titik 40°.


Tapi ia tak pernah sendirian, selalu ada seorang bocah lelaki yang menemaninya melewati malam panjang.


"Ken harus cepat sembuh."


Suara itu selalu datang setiap kali rasa tak nyaman muncul di tubuhnya. Membisikan kata-kata menenangkan, membuatnya melupakan sakit dan kembali hanyut dalam bunga tidur. Suaranya selalu membuat dirinya merasakan ketenangan dan aman karena selalu ada di samping nya.


la tak begitu ingat siapa sebenarnya sosok itu, hanya aroma citrus yang membekas di ingatan, selain belaian lembut di pucuk kepalanya yang membuatnya terbuai. Juga senyum hangat yang mampu ia tangkap di sela kesadaran.


Dan hanya satu orang yang memiliki senyum sehangat mentari pagi itu.


"U-ugh.. Kak Taufan?"


Pandangannya buram, seperti ada kabut tipis yang menghalangi. Bayang-bayang sosok itu nampak kabur, perlahan tergantikan oleh gambaran sosok kakak tertuanya yang duduk di tepi ranjangnya.


"Kak Hali?"


Cahaya dari lampu tidur membuatnya langsung menyadari kehadiran pemuda yang ada di sebelah nya, memandang dengan wajah piasnya.


"Kak Hali baru pulang? Dari mana? Kok ngga ngabarin Ken?" Serentetan pertanyaan itu terlontar dengan suara serak suaranya sembari mengumpulkan kesadaran.


"Baru aja. Pusing ya? Badanmu agak panas." Ujar Hali dengan kecemasannya. Tangannya masih bertahan mengusap pelan rambut adiknya yang sedikit basah karena peluh.

__ADS_1


Ken berusaha bangkit, beradu dengan kantuk yang masih mendera.


Lantas ia menggeleng singkat. "Nggak kok. Kak Hali dari mana? Kok nggak ngabarin kalo pulangnya telat?" pertanyaan yang sama kembali terulang.


"Dari kampus, abis rapat. Maaf tadi ngga sempet ngabarin, soalnya Iya, Sudah banyak yang harus dibahas." Bohong nya. Terhitung 3 hari semenjak Taufan tak sadarkan diri, ia menjadi sering pulang malam. Berdalih dengan alasan tugas kampus maupun kegiatan organisasi.


Padahal dirinya lah yang seringkali lupa waktu, menghabiskan berjam-jam di depan ruang ICU. Terus menanti, tanpa kepastian. Dan saat ia tersadar hari telah menggelap.


Hal yang pasti terjadi setelahnya adalah perasaan bersalah yang menderanya karena terkesan abai pada adik bungsunya. Padahal baru kemarin Ken diijinkan pulang dengan catatan untuk tetap memerhatikan aktivitasnya, baik dari pola makan, jadwal minum obat hingga perubahan emosinya karena psikologisnya yang masih labil dan trauma yang dialaminya akibat tragedi penculikan itu.


"Obatnya udah diminum?" Ken mengangguk singkat, "Udah kok."


Sebenarnya ia tahu yang Hali lakukan selama ini. Kakaknya satu itu tak pernah ahli dalam berbohong. Tapi ia tak pernah ingin mempermasalahkannya, atau akan ada luka baru yang timbul karena rasa kecewa atas ketidakterbukaan diantara mereka berdua.


Ia hanya tak ingin menambah beban pikiran Hali. Tidak apa-apa. Cukup Ken yang tahu. Bahkan ia rela jika perhatian Hali kini tercurah pada Taufan. Anggap saja ia tengah menembus kesalahannya.


"Kak, kak Taufan apa kabar?"


Tak terhitung seberapa banyak Ken menanyakan nya, ia tak pernah bosan. Meski begitu selalu ada rasa menyakitkan setiap kali pertanyaan itu terlontar. Bahkan bagi Ken sendiri.


"Masih belum ada perkembangan. Ken yang sabar ya? Ngga lama lagi Taufan pasti bangun kok."


Selalu itu jawaban yang Ken dengar. Bukannya muak, ia juga tak bisa menentang Tuhan atau memaksakan kehendaknya pada takdir. Tapi setidaknya ia mengharapkan ada perubahan pada kondisi Taufan.


Salahkah kalau ia berharap kakak nya itu lekas sembuh dan bisa bersama dengan nya lagi?


"Tiap malem Ken ngimpiin kak Taufan. Tapi Ken malah takut. Takut kalo kak Taufan tiba-tiba pamit, dan lebih milih pergi daripada tinggal. Ken takut, Ken ngga sempat minta maaf, ngga sempat bikin kak Taufan seneng kaya dulu lagi. Ken takut."


Bukan sekali-dua kali Hali melihat Ken yang meringkuk ketakutan seperti ini. Ia sendiri juga dibayang-bayangi ketakutan sama.


Memikirkannya membuat bulu kuduknya meremang.

__ADS_1


Satu-satunya hal yang bisa Hali lakukan disaat seperti ini hanyalah memeluknya. la tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan adiknya, mungkin juga dirinya.


"Taufan ngga akan kemana-mana. Dia kuat, dia pasti bertahan. Yang penting Ken harus terus berdoa buat kebaikan Taufan."


Mereka tak pernah siap untuk kembali merasakan kehilangan. Mereka sama-sama rapuh. Sama-sama hancur, bersedih untuk orang yang sama. Yang mereka bisa lakukan hanyalah saling berbagi duka dan saling menguatkan.


Perlahan Ken menarik tubuhnya dari dekapan sang kakak, berganti dengan beradu pandang dengan manik rubynya. "Kak, kak Hali tau ngga, kenapa Mervin sampe culik aku?"


Sudah sejak lama Ken ingin menanyakan hal ini, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya. Mungkin saja kakaknya belum mengetahui kebenaran yang ada, dan itu terbukti dengan raut wajah Hali berubah bingung dengan kening berkerut.


"Ngga, Ken tau?"


Ken mengangguk, "Mervin mengatakannya."


Hali memperbaiki duduknya. Atensinya kini sepenuhnya tertuju pada adiknya. Selama ini ia tau Taufan mengidap penyakit itu, tapi ia sama sekali tak tau asal mula nya.


"Mervin? Apa yang dia katakan?" Sepasang manik mata Ken terpejam sesaat. Menarik paksa memorinya pada kejadian yang sebenarnya sama sekali tak ingin ia ingat.


"Banyak. Alasan dia membunuh ayah dan ibu, sampai akhirnya kita menyalahkan kak Taufan." Krn sedikit menjeda ucapan nya. "Mervin di penjara karena ayah. Sejak itu dia berniat balas dendam. Mervin yang merencanakan kebakaran itu. Dia... Yang membakar rumah kita dan membunuh ayah dan ibu. Beruntung kak Taufan selamat meski harus di rawat karena menghirup banyak asap. Dia tak akan puas sebelum kita semua mati. Ken takut kak... Kalau Mervin bebas nanti, dia akan kembali membalas dendam dan membunuh kita..."


Mervin...


Satu nama yang diucapkan ayahnya untuk berhati-hati akan sosok yang menghalalkan segala cara demi ambisinya. Memorinya kabur terkait perihal yang ayahnya bicarakan, tapi ia yakin itu terkait saham.


Apapun dasar Mervin melakukannya. Ia sama sekali tak ada niatan untuk melepaskannya begitu saja. Jika bisa, ia akan membalas semua perbuatan Mervin.


Tangan Hali mengepal kuat. Emosi mulai kembali memuncak Saat mengetahui fakta itu. Saat ujung kaos yang ia pakai tertarik, perhatiannya kembali terpusat pada raut wajah Ken yang menyiratkan kekhawatiran.


"Kak, aku takut kalau dia kembali balas dendam setelah keluar dari penjara. Aku takut dia mencelakai kita lagi, bahkan mungkin lebih parah. Dia ngga pernah main-main dengan ucapannya. Jika saja saat itu kak Khai ngga datang tepat waktu, kita semua mungkin sudah tewas di tangannya."


Sebisa mungkin Hali menyunggingkan senyum. Tangannya kembali mengusap rambut adik bungsunya, mencoba untuk menenangkan sekaligus memberi kepercayaan pada adik nya itu.

__ADS_1


"Ngga akan, aku janji akan melindungi kalian. Aku pastikan dia ngga bisa menyentuh kalian, bahkan seujung rambut sekalipun. Gak bakal ada lagi uang mencelakai kalian."


Satu-satunya alasan ia bertahan hingga detik ini adalah adiknya. Untuk kedua adiknya ia mencoba untuk terus kuat. Untuk kedua adik nya ia terus hidup. Tak akan pernah ia biarkan siapapun mencelakai adiknya lagi. Bahkan jika harus mempertaruhkan nyawa sekalipun.


__ADS_2