Dandelion

Dandelion
46. Memilih untuk tetap bertahan


__ADS_3

Ada luka di sana..


Berselimut pilu..


Mengoyak dengan brutal...


Memporak-porandakan hati yang sesungguhnya rapuh..


Ia hanya terdiam. Bibirnya tertutup rapat, ikut mengalir bersama sepi. Iris ruby itu dengan rapuhnya menatap hampa pada sosok yang tengah terbaring di ranjang pesakitan. Menunggu si pemilik manik emas itu. terbuka.


Psikologis Ken terguncang hingga berakhir tak sadarkan diri usai mendengar berita komanya Taufan. Dokter bilang asam lambungnya naik, mengalami dehidrasi dan syok ringan sampai harus di rawat sementara waktu untuk memastikan kondisi tubuhnya kembali fit.


Hali tak mengerti, mengapa petaka yang menimpa keluarganya tak kunjung berakhir. Kenapa takdir senang sekali mempermainkan hidupnya?


Belum sembuh dari rasa kehilangan, ia dihadapkan dengan kesehatan Taufan yang tak bisa dikatakan baik. Dan kini kedua adiknya terbaring di rumah sakit dengan kondisi Taufan yang entah kapan akan sadar.


Kenapa rasanya semenyakitkan ini?


Jika kebenaran itu memang pahit, kenapa takdir harus mengungkapnya dengan kejam? Kenapa kebenaran harus terungkap dengan insiden mengerikan seperti ini?


Tak cukupkah ayah dan ibunya saja yang menjadi korban? Kepergian mereka saja sudah nyaris menghancurkan akal sehatnya?


Jika iya, bolehkah ia menentang Tuhan atas kehidupannya yang tak adil? Bolehkah ia meminta kesempatan sekali untuk memperbaiki semuanya?


Ia hanya ingin bahagia dengan semua hal tak tersisa banyak. Semahal inikah hal yang harus ia bayarkan demi sebuah kata kebahagiaan?


Lamunannya seketika buyar saat menangkap pergerakan dari tubuh Ken yang menggeliat tak nyaman. Nafasnya memberat, butiran keringat dingin mulai membanjiri.


"Kak.. Kak Taufan.." Ken meracau dalam pejam.


"Hei! Ken, buka matamu." Dengan tepukan pelan, Hali berusaha memperoleh kesadaran adiknya.


"Ngga! Jangan! Jangan pergi! Kak Taufan!" Teriakannya menggema. Tangannya terangkat, menggapai udara kosong di depan mata.


"Ken! Sadarlah! Hey!" Mata Ken terbuka mencari sosok seseorang yang di cari nya. "Kak Taufan.. Kak Taufan di mana?"


"Ken, tenang dulu. Kau bisa terluka kalau kau bergerak terus seperti ini. Nanti jarum infusnya lepas." Ujar Hali mencoba mencegah Ken.


"Kak Taufan di mana? Ken mau ketemu! Ken mau minta maaf. Gara-gara aku, kak Taufan jadi.." Air mata yang menggenang di pelupuk mata itu jatuh. Isak tangis kini terdengar mendominasi ruang rawat yang awalnya dikuasai sepi. Kembali menarik pilu yang membuat dada sesak setiap kali rasa itu hinggap.


Dengan cepat Hali memeluk Ken. "Ssttt, ini bukan salahmu. Taufan melakukan itu karena dia ingin melindungi mu. Dia sayang padamu. Aku juga. Akan kulakukan apapun demi melindungi kalian."


"Tapi setelah semua yang kulakukan pada kak Taufan, aku ngga pantas untuk dilindungi sampai seperti ini. Aku sudah membuat kak Taufan sakit hati."


"Ssttt, sudahlah. Aku yakin Taufan sama sekali ngga menyesal sudah menyelamatkanmu. Kau adik kami. Sudah seharusnya kami melindungi mu. Kalau yang terbaring di ICU itu kau, entah apa jadinya aku dan Taufan sekarang. Kami pasti merasa sangat bersalah karena gagal menjagamu."

__ADS_1


Tangisnya pecah dalam pelukan sang kakak. Hali membiarkan adik bungsunya itu menumpahkan segala beban hati dan rasa sakitnya.


Tak berselang lama seorang dokter diikuti beberapa perawat masuk ke ruangan dan langsung menyiapkan sebuah suntikan.


"Tapi kak Taufan.. Ugh.." Ken merintih saat jarum suntik itu menembus kulit pucat nya, dan obat penenang mengalir di pembuluh darahnya.


"Taufan pasti baik-baik saja. Dia kuat. Dia hanya istirahat sebentar. Secepatnya dia akan pulih, kembali cerewet dan usil seperti biasa. Kalau dia bangun nanti, kau harus menyambutnya dengan senyuman, okey?" Bisik Hali sembari mengusap punggung Ken yang gemetar hebat.


Ken mengangguk pelan dan memejamkan mata nya. Tak butuh waktu lama untuk nya kembali terpejam dan kembali menuju alam mimpi yang damai.


"Emosinya masih belum stabil, efek dari shocknya. Saat dia bangun nanti tolong jangan membahas hal yang sensitif. Sepertinya mentalnya juga jatuh, akan saya resepkan ulang obatnya untuk membantu mengatasi traumatiknya."


Hali mengangguk paham, "Terima kasih dok."


"Saya permisi."


Pandangan Hali kini terpusat pada sosok adiknya yang kembali mengarungi alam mimpi, menatap lamat paras pucat Ken.


Tangannya terangkat, menghapus jejak tangis yang tersisa di ujung mata emas itu. Kemudian membelai lembut pucuk rambutnya yang sedikit basah akan keringat.


"Maafkan aku, kau jadi harus mengalami ini semua. Kalau saja aku bisa datang lebih cepat, pasti tak akan berakhir seperti ini."


Derit pintu terbuka membunuh kesunyian, membuyarkan lamunan Hali. Khai muncul dari balik pintu dengan kantong plastik di tangan kirinya.


"Ken kebangun?" tanyanya yang sedari tadi sibuk mengurus berbagai hal di bagian administrasi.


"Barusan bangun, tapi tidur lagi abis disuntik obat penenang."


"Tadi aku beli roti di supermarket depan, makan dulu gih. Kau juga harus mengisi perutmu." Ujar Khai seraya meletakan plastik yang berisi camilan kecil di nakas.


Hali melirik tanpa minat. Ia hanya mengambil botol air mineral dan meneguknya sedikit. Sebelum kembali membisu dan bergumul dengan pikirannya sendiri.


"Kau udah check up?"


"Aku ngga papa."


"Tapi kau juga kena hajar kan? Coba di periksain sekalian, biar kalo ada luka bisa langsung diobati." Nasihat Khai memberi pengertian.


Hali tak menyahut, tak mengiyakan maupun menolak saran sahabatnya. Ia bahkan tak melihat lawan bicaranya. Seolah jiwanya kosong.


Khai hanya menatap iba. Belum pernah ia jumpai Hali sekacau ini. Diiringi helaan nafas berat, ia menyerah untuk memaksa.


"Istirahat di sofa sana. Kau juga butuh tidur, jangan sampai ikutan drop."


Manik ruby itu melirik ke arah jam yang di dinding. Pukul 4 pagi dan ia sama sekali belum memejamkan mata. Nyeri masih ia rasakan di beberapa bagian akibat serangan Mervin.

__ADS_1


"Kau pasti juga capek, kan? Pulang aja gih. Makasih dah bantu. Maaf ya aku repotin."


"Elah, kayak sama siapa aja. Santai aja kali, aku udah ngabarin rumah kok."


"Kalau kau mau pulang sekarang ngga papa, aku oke kok. Makasih banget bantuannya. Aku ngga tau harus gimana lagi kalau kau ngga ada. Sekali lagi makasih ya."


Ujung bibirnya terangkat, mengukir senyum meski terlihat begitu dipaksakan yang membuat Khai makin tak tega untuk meninggalkannya.


"Kau yakin nih?"


Hali mengangguk. Meski ia ragu, entah mengapa orang satu itu selalu bisa meyakinkannya.


"Nanti aku bakal kesini lagi, mau nitip apa?"


"Kalau boleh, bisa ambilin bajuku sama Ken? Kunci rumahnya ada di bawah pot bunga deket rak sepatu."


Khai menjawab dengan anggukan, "Ya udah aku balik. Kalau ada apa-apa telfon aja. Kau juga jangan maksain. Kalau capek, istirahat! Itu roti juga dimakan." Pesannya sebelum meninggalkan.


"Iya, udah sana balik syuh syuh." Sahut Hali yang mulai gemas dengan tingkah temannya satu itu.


"Idih ngusir." Protes Khai yang diiringi gelak tawa ringan, "baiklah aku pulang!" Satu tepukan pelan mendarat di bahu tegap itu sesaat sebelum Khai benar-benar meninggalkan ruang rawat Ken.


Kepergian Khai kini menyisakan dirinya seorang bersama keheningan di penghujung malam. Helaan nafas terhembus begitu berat dari rongga dadanya.


Tangan nya menggenggam erat tangan Ken yang terbebas dari jarum infus, mengangkatnya hingga bersentuhan. dengan keningnya. Bentuk sesal yang mendalam.


"Maaf, aku ngga bisa menjaga kalian dengan baik."


Pandangannya memburam karena bulir bening yang kembali menggenang di pelupuk mata. Tak isakan, hanya anak sungai yang mengalir dari ujung mata.


Orang-orang di luar sana mungkin berpikir Hali adalah sosok yang luar biasa tangguh. Tumbuh tanpa orang tua namun mampu menghidupi kedua adiknya.


Kenyataannya ia tak pernah sekuat itu. Katakanlah Hali lemah, pasti akan ia akui. Hanya saja ia tak pernah menunjukannya.


Percayalah, tak ada orang yang sanggup menanggung beban seberat ini. Bahkan Hali sekalipun. Entah sudah seberapa sering jemarinya mengusap pipinya yang basah, menghapus air matanya yang tak pernah kering, terkadang jatuh tanpa ia sadari.


Ia menyimpan luka, penderitaan dan segala kesedihan itu untuk dirinya. sendiri, hingga hanya sosok tegarlah yang orang lihat dalam dirinya. Sesungguhnya ia juga lelah. Ia juga ingin melepas seluruh kekesalan yang teronggok di dasar pikirannya. Ia juga butuh ditenangkan setelah semua hal yang menimpanya.


Sayangnya ia tak memiliki tempat untuk bersandar maupun berkeluh kesah. Semuanya hal pahit itu ia telan seorang diri.


Terkadang ada disaat ia berada di titik terendah, ia ingin mengakhiri semua ini, melepas kehidupan bersama takdir yang melekat pada dirinya. Mengabaikan semua yang terikat dengannya.


Tapi hatinya tak pernah sampai.


Setidaknya untuk kali ini ia harus kuat. Ia harus tetap tegar untuk adiknya meski sangat itu berat. Hali bukanlah satu-satunya yang menderita di sini. Ada hati lain yang ikut terluka bersamanya.

__ADS_1


Dengan alasan itu, ia memilih untuk tetap bertahan.


TBC


__ADS_2