
Kebersamaan yang melingkupi atmosfer ruang yang kini terasa penuh dengan canda dan tawa dari orang orang di dalam nya.
Kehangatan yang mengalir mampu menciptakan seulas senyum penuh makna di setiap momen yang terukir. Hadirnya Taufan bagaikan sihir yang menghipnotis setiap orang untuk ikut tertawa, mengundang bahagia bagi siapapun yang di dekat nya.
Usai drama yang terjadi sebelumnya, keheningan kembali datang. Namun tak begitu lama, karena setelahnya terdengar derit pintu yang memecah sepi, menarik perhatian penghuni ruang itu untuk menoleh.
Seorang pria dengan balutan kaos hitam berjalan memasuki ruangan. Senyum yang semula terulas tipis itu lantas terkembang ketika ia dapati ruangan itu nampak ramai.
"Pizzanya datang!" Seruan itu langsung bersambut senang disaat ia mengangkat 2 kantong plastik yang penuh dengan minuman dan camilan.
"Wah, terbaiklah om! Tau aja kalo kami dah laper." Sahut Leon kegirangan.
Dua box pizza tersaji hangat di nakas. Aroma khas dan mozzarela yang meleleh di permukaan roti panas itu memang menggugah cacing-cacing di perut bergelora meminta bagian.
"Nah, makan-makan. Makan yang banyak, nanti kalau kurang pesen aja lagi."
Leon yang pertamakali mengambil sepotong pizza penuh topping daging itu langsung melahap tanpa rasa sungkan.
Seperti yang bisa kalian tebak, pria itu adalah Ethan. Ia baru sempat ke rumah sakit hari itu karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Akhir-akhir ini ia memang disibukan dengan perkara pengadilan Mervin yang akan digelar tak lama lagi, juga pekerjaan kantornya yang harus terus ia monitor setiap saat. Merepotkan memang, tapi tak ada pilihan lain.
Tak mungkin dirinya meninggalkan keponakannya dengan kondisi seperti ini. Lagipula ia masih sanggup sejauh ini. Setidaknya setelah semuanya membaik, ia baru bisa kembali ke tempat tinggal nya tanpa meninggalkan beban.
"Wah om Ethan memang terbaik lah." Taufan ikut menyahut. Niatan hati untuk melahap selembar pizza itu seketika pupus, kala ada tangan lain yang menariknya kotak itu menjauh.
"Heh, siapa bilang kau boleh makan beginian?" Ucap Hali.
"Lah kok gitu?" Tentu saja Taufan tak terima. Segera saja ia melayangkan protesnya, meminta penjelasan.
"Junk food ga baik buat kesehatan. Apalagi kau masih dalan masa pemulihan. Makananmu masih harus diperhatikan, pola makanmu juga harus dijaga."
"Astaga, dikit doang kak. Ngga bakal langsung stroke juga." Tukas Taufan menimpali.
"Ngga ada."
"Segigit aja."
"Ngga."
"Sosisnya aja deh, satuuu aja~ ya?" Rayu Taufan dengan sepasang bola mata yang berbinar penuh harap.
Namun nampaknya Hali tak terlalu ambil pusing dengan rengekan sang adik dan kekeuh dengan pendiriannya.
"Pokoknya enggak ya enggak, Taufan Ravael. Ngga usah ngeyel deh."
__ADS_1
Keputusan Hali mutlak. Sekali tidak ya tidak. Sebenarnya ia hanya tak ingin ambil resiko karena memberi sedikit kelonggaran pada Taufan yang dasarnya sudah sulit diatur. Ia merasa perlu sedikit lebih tegas menertibkan bocah itu.
Dirinya kini berubah menjadi sosok kakak yang sangat protect terhadap adik-adiknya. Bukan tanpa alasan. Ia hanya tak ingin lagi kecolongan karena kurang memerhatikan kedua saudaranya.
Ia nyaris dihadapkan dengan kehilangan karena kelalaian yang tak bisa menjaga Taufan dan Ken, dan ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Taufan mengerang frustasi, menyerah untuk mendapat izin sang kakak. Lirikan matanya beralih, menatap pada pria yang berdiri tepat di belakang Hali dengan sorot mengiba.
"Om~" Ia mengadu, memohon pada sang paman untuk setidaknya diizinkan mencicipi walau hanya sedikit saja.
Kalau dengan seizin Ethan, seorang Hali yang segalak harimau sekalipun tak mungkin sanggup membantah bukan? Itu yang terpikir di benak Taufan.
Sayangnya, keinginan nya tak sesuai dengan harapannya. Membuat seolah Ethan dan Hali terlihat bersekongkol bersama situasi untuk mengerjainya.
Lelaki itu terkekeh geli. Namun, bukannya menanggapi rengekan sang keponakan. Tingkah kedua remaja di hadapannya itu membuatnya gemas sendiri.
"Kalau kakak mu aja nggak bolehin, apalagi om?" Ujar Ethan pada akhirnya. Terdengar seperti suatu kemenangan telak bagi Hali.
Raut wajah yang kesehariannya diliputi warna cerah itu seketika mendung, diikuti raut wajah kecewa dengan pipi yang di gembung kan nya.
"Ya kalau aku ngga boleh makan beginian, buat apa om bawa kesini? Bikin kesel aja!"
Ethan mengernyit, "Kok jadi om sih?"
"Ya om lah. Coba kalo om ngga bawa beginian. Kan aku ngga bakal kepengen."
"Om denger dari Ken katanya temen-temen mu mau dateng. Jadi sekalian aja om mampir beli ini sebelum kesini. Lagian pasti mereka belum sempat makan siang kan karena pulang sekolah langsung kemari. Kalo kamukan makanannya udah disediain rumah sakit. Jadi ya udah dong ngga usah iri." Ujar Ethan tanpa seberkas rasa bersalah.
"Aaahh, abang sama om sama aja Sama-sama ngga bisa ngertiin! Kalian tau ngga sih makanan rumah sakit tuh ngga enak? Ngga pada peka emang!" Ucap Taufan kesal.
Tawa Ethan lepas, melihat keponakan satu itu yang uring-uringan sebab perihal makanan. Ia paham maksud Taufan, namun tak lantas ia meng-iyakan setiap permintaan nya.
Sama halnya dengan Hali, tentu saja ia tak akan membiarkan pemuda yang masih berstatus pasien itu memakan makanan cepat saji yang tentu akan beresiko terhadap kesehatannya.
Usai gelak tawanya mereda, sepasang mata pria itu teduh memandang. Terbesit kasih yang terpancar dari sana, layaknya rasa sayang seorang orang tua.
Ethan mendekatkan diri, mengambil tempat tepat di samping Taufan. Mengusap gemas surai hitam yang mulai memanjang, "Ishh, ponakan satu ini ngambekan banget ternyata."
Taufan menepis, "Nggak tau! Bodo, aku ngambek nih."
"Idih, ngambek kok bilang-bilang."
"Ya biar kalian tahu kalo aku ngambek."
Ethan hanya tersenyum simpul, tak sampai hati untuk menjahili pemuda itu lebih lama lagi meskipun sangat menghibur. Terlebih dengan ekspresi wajah yang memberikan kesan menyebalkan sekaligus menggemaskan di satu waktu.
__ADS_1
Lantas dikeluarkannya dua kotak makan, sebuah mangkuk cup dan botol tumbler dari salah satu plastik yang ia bawa.
"Nih, om bawain grilled salmon, chicken soup, salad buah sama jus sayur yang jelas jauh lebih sehat untuk mu. Om sendiri yang bikin jadi lebih aman ngga pake aneh-aneh." la mulai mengabsen makanannya satu persatu dan menatanya di atas meja ranjang tempat Taufan berbaring.
Makanan sehat itu nampak begitu menggiurkan, kecuali untuk jus nya. Susah payah Taufan meneguk ludah, terlebih kala aroma gurih dari sup ayam yang masih beruap hangat itu menguar menggelitik hidung dan perut. Tapi jangan lupakan gengsi Taufan yang seketika itu terlampau tinggi.
"Ngga mau, udah nggak pengin makan."
Tolaknya ketus. Ia lebih memilih kelaparan daripada imagenya yang tengah merajuk, hancur karena terlalu mudah diluluhkan.
Tapi bukankah perut tak bisa berbohong?
Baru beberapa saat bibir tipis itu terkatup usai menyelesaikan ucapannya, mendadak hadir gemuruh yang cukup nyaring terdengar. Tanpa empunya mampu tahan. Sontak tawa kembali pecah, menyergap begitu ramai.
"Udah, ngga usah sok gitu. Cacingnya protes tuh." Ujar Sevan di sela gelak tawanya.
Ah, sial! Rasanya ingin menenggelamkan diri di antartika saja.
Diam-diam dalam hati, ia merutuki perutnya yang sulit diajak kerja sama, melolong di waktu yang tidak tepat.
"Udah kak, kasih aja dikit. Kasian itu anaknya kayaknya pengen banget. Ngiler ntar." ucap Arga menginterupsi, sedikit bersimpati.
Ia hanya tak tega saja. Ketika mereka bebas melahap apa saja yang disukai, sementara Taufan hanya bisa memandang dengan liur yang hampir menetes. Meski ia yakin makanan yang Ethan bawa juga tak kalah sedap.
Iris mata biru Taufan berbinar, menyorot bangga pada seseorang yang diakuinya sebagai sahabat. Akhirnya ada juga yang memahami dirinya.
Hali menghela nafas, "Meski begitu juga tetep gak boleh Arr. Dokter yang bilang kalo makanannya harus dijaga."
Jika sudah seperti itu, Arga tak bisa lagi berpihak di sisi Taufan. Ia tak berani mengutarakan pendapatnya jika itu menyangkut kesehatan Taufan.
"Udah, makan dulu aja yang ada. Besok kalo udah sembuh, kakak beliin lagi yang ekstra topping." Ujar Hali pada akhirnya.
Taufan tak bersuara, hanya hembusan nafas pasrah yang lepas. Mau bagaimana lagi? Ternyata sandiwaranya tidak mempan untuk mengelabui saudaranya.
Ia melirik sepotong salmon berwarna kecoklatan yang telah Ethan sajikan di hadapannya bersama salad sayur dan mayonaise. Suapan pertama ia yang lahap dengan beringas mengundang senyum berarti bagi setiap orang di sana.
Padahal Taufan tengah mengisyaratkan kekesalannya yang tak terungkap dalam kata. Menyebalkan memang.
"Fan." Suara Leon kembali terdengar.
Anak itu memanggil hanya untuk memeragakan bagaimana dirinya menggigit sepotong pizza di tangannya dengan keju mozarella yang terulur panjang. Ekspresinya yang sangat menjiwai itu membuat Taufan semakin kesal.
"RESE! KELUAR KAU!"
Hali hanya geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan tingkah kawan-kawan adiknya. Meski di satu sisi, ada rasa syukur yang tak henti ia lapalkan karena semesta mengirimkan orang-orang ini di samping Taufan.
__ADS_1
Mereka yang dengan segenap hati rela berbagi tawa dan luka bersama untuk Taufan ketika ia tak ada. Membuat pemuda bermata biru langit itu kembali ceria dan tersenyum walau hanya untuk mengudarakan sebagian beban yang di emban nya.