
Sang rembulan sudah turun dari singgasana nya, berganti dengan sang surya yang mulai muncul menampilkan sinar nya yang menerangi bumi. Suasana suram yang awalnya mewarnai setiap sudut rumah itu perlahan sirna dengan pemandangan kedua kakak beradik itu menyantap sarapan pagi bersama di ruang makan.
Sebelumnya Hali sempat terheran mendapati Ken yang tengah memasak di dapur, lengkap dengan seragam sekolahnya yang terbalut apron. Ia bersenandung kecil sembari tangannya dengan lihai memasukan bumbu ke dalam masakan. Sungguh bagaikan seorang chef profesional.
"Udah mau sekolah?" Tanyanya detik itu juga.
Ken terkejut kaget saat menyadari keberadaan Hali yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya, "Kak Hali!? Astaga, pagi-pagi udah dibikin jantungan. Iya, udah lama ngga masuk, jadi ketinggalan banyak pelajaran juga."
"Emang udah sehat?"
"Udah, dokter bilangnya juga cuma harus istirahat 3 hari kan."
Seolah terbangun sebagai orang yang berbeda. Pagi itu Ken nampak lebih hidup dengan kehangatan yang terpancar dari wajah segarnya. Kulitnya tak lagi pucat seperti hari-hari di saat ia mengurung diri.
Hali hanya mengangguk anggukkan kepala nya, "Oke, tapi aku anter." Sahutnya usai memastikan suhu tubuh Ken tak lagi tinggi.
"Ngga mau! Kak Hali belum mandi." Tolak Ken tegas.
Secara reflek Hali mengangkat satu tangannya dan mencium ketiaknya sendiri, "Masih wangi kok."
"Ih, kak Hali jorok! Mandi sana! Muka masih bantal gitu. Jangan-jangan belom cuci muka, belom sikat gigi juga?"
"Enak aja! Udah ya! Ngga liat muka udah cakep begini? Tapi emang belom mandi sih."
"Tuh kan jorok. Ngga mau, mending berangkat sendiri."
"Kenapa? Takut banyak yang ngefans sama aku?" Sahut Hali dengan segenap rasa percaya dirinya.
Ken memalingkan wajahnya, "Kak Hali abis kejatuhan durian musang king ya? kok jadi kelewat narsis gini?"
"Kalo iri bilang aja bos." Goda Hali sambil memakan nugget yang ia curi dari piring adiknya.
"Ih, kak Hali! Itu yang terakhir!"
Hali tertawa, sementara Ken cemberut, tak rela nugget yang sengaja ia sisakan untuk penutup di curi oleh sang kakak begitu saja.
__ADS_1
Ken hanya berdecak, mengambil suapan terakhir nasi gorengnya dengan cepat sambil diam-diam mengumpati tingkah laku kakaknya dalam hati.
Ia heran, sifat kakak nya itu keturunan siapa sih?
Sudah lama sejak terkahir kali mereka seperti ini. Seakan bernostalgia pada masa lalu dimana keceriaan masih bisa selalu mereka rasakan. Drama kecil yang diselingi canda tawa dulunya sering kali mewarnai meja ini. Biasanya Taufan yang menjadi biang onar nya, menjahili setiap orang. dengan tingkahnya yang tak terduga. Kemudian Hali akan memakinya, bahkan melempar sendok makannya karena geram akan keusilannya.
Jika berpandang pada masa lalu, miris kiranya karena kini yang tersisa hanya mereka berdua. Tak ada lagi si pengumbar tawa yang selalu memenuhi ruangan ini dengan ocehan nya.
Pada akhirnya senyuman mereka kembali pudar. Tak pernah ada kata baik-baik saja. Mereka hanya berpura pura kuat atas dasar tak ingin saling menambah luka maupun beban. Lepas dari seberapa banyak air mata yang Ken tumpahkan setiap kali hendak terbuai dalam lautan mimpi yang gelap, ataupun Hali yang lebih menghabiskan waktu dalam lamunannya dengan pikiran yang entah mengembara kemana.
Semuanya stress, frustasi tapi tak ingin menunjukannya. Untuk saat ini, menutupi nya akan lebih baik. Ken sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak bersedih lagi dan memilih memendamnya. Hal sama yang dilakukan Hali. Tak ada guna nya terlalu bersedih, setidaknya mereka tak akan menambah beban dan rasa sakit satu sama lain.
"Udah ah, Ken mau berangkat dulu ya." Masih dengan nada merajuk, ia pamit sambil membawa piring kotornya menuju wastafel. Seakan menyadari perubahan atmosfer yang perlahan menjadi sendu, ia segera mengakhiri acara sarapannya. Tak ingin berlarut-larut dengan kemalangan nya.
"Yah, ngambek kan! Kalo ngga mau dianter, aku telfon Arga dulu biar dijemput."
"Ngga usah. Aku bisa berangkat sendiri." Sahut Ken ketus.
"Yakin? Ntar diculik lagi."
Mendengar ucapan kakaknya seketika membuat Ken yang berada di ambang pintu menoleh, "Kak Hali kok doanya gitu?" Tanya nya dengan nada kesal. Jujur, jika bisa ia tak ingin kembali mengingat kejadian itu. Kejadian dimana penyesalan dan rasa sakit akan terus berdatangan. Ia tak ingin mengingat saat dimana kakak nya itu nyaris meregang nyawa karena menyelamatkan nya.
"Bercandanya nyumpahin adik sendiri diculik lagi ngeselin tau." Gerutu Ken.
Hali berusaha menahan agar tawanya tak pecah karena ekspresi konyol adiknya.
"Engga nyumpahin! Iya udah, maaf. Aku tarik omonganku. Hati-hati di jalan ya adikku sayang yang paling manis lagikan comel dan kawaii ini!"
Mendengar perkataan manis dari kakaknya yang terkenal dingin dan cuek membuatnya mendadak bergidik merinding, "Kak Hali mending nyari pacar yang bisa disayang beneran sana. Ngeri aku dengernya."
"Emang ngga boleh sayang sama adik sendiri?" celetuk Hali gemas.
"Ya ga gitu juga. Habisnya kelamaan jomblo kan gak baik. Atau para gadis takut deketin kak Hali karena garang kaya singa? Ah udah ah, aku berangkat."
Mendengar ucapan sang adik, perempatan imajiner muncul di kepala nya. "Apa kau bilang hah? Siapa yang kau sebut garang kaya singa?"
__ADS_1
Ken menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal. "Ahaha canda kak. Aku pergi dulu!"
"Kalo ada apa-apa langsung telfon."
Hali terkekeh pelan, saat Ken menjawab dengan gumaman tak jelas, sebelum sosoknya menghilang di balik pintu bersama debuman pintu yang ditutup agak keras.
******
Setelah menghabiskan berhari-hari. mengurung diri di kamar, akhirnya ia menghirup udara bebas. Ia bisa meregangkan otot-ototnya dengan kembali bersekolah. Mencari suasana baru dan sedikit mengalihkan pikiran nya dari ingatan kelam dan segala penyesalan nya.
Awalnya..
Nyatanya kakinya tak sampai menapaki gerbang sekolahnya. Ia justru membawa langkahnya pada tanah basah di pemakaman, tempat dimana kedua orang tuanya disemayamkan.
Rerumputan yang sengaja di tanam membuat tempat itu terlihat cukup asri. Ditambah dengan pepohonan dan beberapa bunga bunga. Walau tetap ada kesan mistik yang khas begitu memasuki tempat itu.
"Halo ibu, ayah. Maaf Ken jarang nengokin kalian." Pandangan iris emas itu terpaku pada dua nisan di depannya.
"Hari ini Ken bolos sekolah. Cuma hari ini aja kok, besok-besok janji ngga lagi. Eh, tapi dari kemarin juga udah ngga masuk sih karena sakit..."
la lantas berjongkok, mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekitar, sembari berceloteh mengobati rindu. Banyak cerita yang ingin ia curahkan sembari melepas rindu yang mendalam.
"Ayah sama ibu pasti udah tau kan kejadian kemarin? Kak Taufan tidurnya jadi lama banget, masak udah 3 hari ngga bangun-bangun. Kalo kalian ketemu, sentil aja jidatnya, udah bikin kak Hali khawatir. Ken juga sih. Atau jewer aja biar bangun gak tidur kaya beruang hibernasi." Ken membuat senyumnya terurai sendu. Kemudian menghela nafas, mengudarakan sesak di dada.
"Ayah, ibu.. Ken ngaku salah udah ngebenci kak Taufan. Dah acuh sampai gak tau kalo kak Taufan mendam sakit selama ini. Maafin Ken ngga bisa jagain kak Taufan, udah bikin kak Taufan sakit."
Langit begitu cerah pagi itu, angin berhembus semilir menyejukkan. Embun-embun di pucuk rumput mulai menguap seiring surya yang beranjak naik. Tak ada awan yang menggantung di atasnya, tapi mendung di kedua bola mata itu membuat pipinya basah.
"Ken kangen." Jemarinya mengusap air mata yang membasahi pipi nya. Isakan kecil mulai terdengar di tengah gemerisik dedaunan.
Seandainya kedua orang tuanya tak pergi secepat ini, pasti tak akan pernah semenyakitkan ini.
Hanya di tempat itu Ken bisa meluapkan semua keluh kesah yang tersimpan dalam dirinya. Di antara dua nisan yang mengebumikan orang yang sangat ia sayangi. Menceritakan hari-hari yang telah ia lalui nya meski tak pernah ia dapatkan jawaban.
Begini saja sudah membuatnya tenang. hingga seringkali ia melupakan waktu jika sudah asyik mengobrol.
__ADS_1
"Ken mau jengukin kak Taufan dulu ya, besok Ken ke sini lagi."
Ia pamit ketika matahari mulai menyengat kulit. Meninggalkan seikat bunga Krisantemum putih, membiarkan aromanya menyebar membawa pesan rindunya.