
Pagi itu masih buta, suara jangkrik dan makhluk malam lainnya masih berkuasa di tengah keheningan. Mentari bahkan belum menampakan semburat keemasan di langit timur. Suhu dingin masih menusuk kulit membuat kebanyakan orang enggan untuk beraktivitas.
Namun sorot lampu dari sebuah mobil menerangi jalanan dengan cahaya remang nya, roda nya berhenti di tepi jalan yang hanya diterangi lampu taman dari bangunan disekitar nya. Kacanya terlalu gelap untuk dapat melihat aktivitas di dalam nya.
Tak berselang lama, salah satu sisi jendelanya terbuka, menampilkan sosok lelaki di dalam nya. Mata legam di balik kacamata hitam itu tertuju pada sederetan rumah disana.
"Saya sudah berada di lokasi." Suara berat khas pria itu menyahut begitu tanda tunggu panggilan di ponselnya tergantikan suara seseorang di seberang sana. Ujung bibir nya terangkat, menyeringai kejam.
"Baik bos."
******
Langkah gontai mengantarkan lelaki itu beranjak dari kamar nya. Seragam putih-abu miliknya sengaja ia balut dengan jaket hitam bercorak gold, di bahu kirinya sudah tersampir tas dengan motif yang sama.
Hari itu tak seperti biasa nya. Ia terlambat bangun. Raut muka nya nampak tak segar, rona pucat dan bibir kering terpulas tipis di wajah yang dalam keseharian memancarkan kehangatan. Sesekali matanya terpejam saat pening kembali menjalari pelipis nya.
Tubuhnya meminta untuk kembali dibaringkan di kasur empuk dan berbalut dengan selimut nya yang nyaman. Sesekali juga pandangannya kabur, namun tak menyurutkan niat lelaki beriris emas itu untuk sekolah. Tak tertulis dalam sejarah hidup Ken Ravael membolos hanya karena sakit yang masih bisa ia tahan. Yah, gambaran umum dari siswa teladan.
"Pagi Ken."
__ADS_1
Seulas senyum hangat menyambut keberadaan Ken. Kakak tertuanya berdiri di ujung tangga dari lantai dua. Sepasang netra merah yang memiliki tatapan tajam itu nampak sayu akibat kantuk yang masih mendera. Sesekali ia menguap, kemudian mengusak surai hitamnya yang berantakan.
"Pagi." "Gimana tidurmu semalam? Nyenyak?"
Tanya Hali seraya mendaratkan punggung tangannya di kening Ken. Memastikan suhu tubuh adiknya tak lagi tinggi. "Hmm, masih hangat, wajahmu juga agak pucat. Mending hari ini istirahat aja, ngga usah sekolah. Nanti aku panggilin dokter, okey?"
Ken menepis lembut tangan itu, lantas menggeleng singkat, "Aku ngga papa kak, Cuma demam doang. Nanti juga sembuh sendiri." Balasnya sembari menarik ujung bibir nya, memaksa untuk tersenyum.
Sayangnya Hali adalah orang yang perasa. Ia peka akan perubahan sikap orang-orang terdekat nya. Tak ada yang luput dari mata elang pemuda itu, termasuk senyum palsu yang Ken tunjukan hanya karena tak ingin membuat nya khawatir.
Ia menghela nafas, hendak menahan Ken agar tidak memaksakan diri. Namun tertunda, jika saja suara yang menyimpan keceriaan itu tidak lebih dulu mencuri perhatian nya.
"Kak Hali! Ken! Selamat pagi!"
"Sarapan bareng yuk, aku udah bikin nasi goreng spesial." Ujar nya tanpa menanggalkan senyum merekah dibibir nya.
Hali tersenyum simpul, "Pantas saja dari tadi aku mencium bau nasi goreng, ternyata kau yang masak."
Taufan mengangguk puas, "Sarapan yuk!" Ajaknya nampak antusias dengan masakan buatan nya.
__ADS_1
"Aku langsung berangkat aja." Pamit Ken pada Hali. Ia sama sekali tak menggubris ajakan orang yang sudah dianggapnya mati bersama kejadian 6 tahun lalu. Ia masih tak peduli, atau lebih tepatnya tak ingin peduli.
"Eh? Ngga makan dulu?" Tanya Hali.
"Aku makan nanti aja di kantin. Hari ini ada rapat OSIS, aku sudah terlambat. " Jawab Ken sambil lalu. Sepasang sepatu kets black-gold itu lantas meninggalkan Hali yang menatapnya heran. Seperti nya ucapan Hali sama sekali tak menggerakan hatinya untuk bersikap manis.
"Ken, tunggu!" Panggilan Taufan memaksa nya untuk berhenti. Lirikan penuh intimidasi ia arahkan pada lelaki yang setahun lebih tua darinya yang dibalas dengan senyuman hangat. Tangannya menyodorkan sekotak bekal, "Aku tau kau gak akan sempat sarapan, jadi aku buatin ini."
ken dapat membaca ketulusan dari mata sebiru langit itu, binarnya seolah mampu menghipnotisnya untuk menerima tawarannya. Namun ia enggan terbawa perasaan. Tatapannya tak berubah, dingin dan menusuk. Sesaat ia melirik Hali di belakang yang hanya menatap dalam diam.
Ia lantas mengalihkan padangannya kembali pada Taufan dan menyambar kotak makanan. Ia langsung berbalik, tanpa melontarkan sepatah katapun. Bahkan saat sosok nya menghilang dibalik pintu kayu yang kini tertutup sempurna.
Ribuan kupu-kupu seolah hinggap memenuhi rongga dadanya saat Ken menerima masakan nya. Tak peduli apakah nantinya bekal buatannya akan berakhir di tempat sampah atau diberikan pada anjing liar. Baginya sikap Ken tadi itu seolah memberikannya kesempatan untuk kembali menjalin hubungan baik.
Berbeda dengan Taufan, Hali masih bertahan dalam kebisuan yang ia telan seorang diri. Ada perasaan khawatir merayapi ruang di hatinya, membuatnya tak tenang saat menatap punggung kecil itu berjalan menjauh.
Muncul sedikit ketakutan saat sosok itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Ia menggeleng cepat, menepis segala bayangan mengerikan yang tiba-tiba hinggap dibenak nya.
"Kak Hali kenapa?" heran Taufan mendapati sikap kakaknya yang aneh.
__ADS_1
Hali menggeleng singkat, "Ngga papa. Ya udah, sarapan yuk!" Ajaknya yang sudah lebih dulu membawa kakinya ke ruang makan. Mengabaikan perasaan tidak nyaman yang mengganjal di hati meski tak bisa lepas sepenuh nya.
TBC