Dandelion

Dandelion
73. Perayaan


__ADS_3

Tok tok tok!


"Iya, bentar!" Seruannya menggema di penjuru rumah itu, berharap seseorang di luar sana sedikit lebih bersabar.


Hali baru saja selesai mandi, saat ketukan terdengar mengusik dari pintu depan. Memaksanya mempercepat langkah sambil mengusap rambutnya yang masih basah.


Ken pasti akan mengomelinya setelah ini karena tidak mengeringkan rambut dengan benar dan membiarkan bulir-bulir airnya menetes di lantai. Tapi ia juga tak bisa membiarkan tamu itu menunggu lebih lama lagi.


la bergegas, meraih gagang pintu dan melihat siapa yang datang. Seorang gadis yang berdiri membelakanginya itu nampak familiar dengan rambut hitam nya yang terikat. Tentu saja tak sulit untuk mengenalinya.


Gadis dengan itu mengukir senyum ramah ketika didapatinya sosok Hali di ambang pintu. "Sore kak," sapa nya sopan.


"Kau rupanya. Masuklah." Tanpa berbasa-basi, Hali langsung mempersilahkan Yanata masuk.


Sebenarnya Yanata tak menyangka pertemuan mereka yang kesekian kali akan terjadi secepat ini, bahkan belum habis 24 jam berlalu. Tapi meski demikian, masih saja ada canggung yang ia rasa setiap kali berhadapan dengan Hali.


la tak pernah mengerti arti di balik tatapan datar tanpa ekspresi itu. Barangkali Hali itu memang orang yang minim ekspresi dan tak banyak bicara. Semacam tipe cowok cool gituh.


Pribadinya yang dingin dan cuek yang membuatnya seakan sulit untuk didekati.


"Ngomong-ngomong, kau baru balik magang?" Pertanyaan itu menyentak Yanata. Sepertinya image Hali yang galak dan sinis hanya di luarnya saja, aslinya baik dan care.


"Iya, tadi abis dari rumah sakit pulang dulu sih. Bersih-bersih, terus baru ke sini."


"Kau pasti lelah. Maaf ya, harusnya tadi aku menjemput mu. Susah ya nemuin rumah ini?"


Yanata menggeleng singkat. "Ngga kok. Aku sering lewat daerah sini buat nyari bahan praktek. Jadi udah lumayan hafal sekitaran sini."


Tak ada jawaban yang terucap setelahnya, hanya sepenggal kata oh yang Hali berikan. Langkahnya membawa mereka lebih jauh memasuki bangunan semi modern itu.


Di luar dugaan, ternyata rumah itu cukup luas dengan desain yang minimalis. Yanata suka perpaduan warna abu hangat dan putih netral yang mengisi hampir keseluruhan ruangnya.


"Emm, makasih ya kak buat undangannya." Yanata kembali membuka obrolan. Ia akui ini pesta barbeque nya yang pertama. Karenanya, saat Hali mengiriminya pesan untuk ikut merayakan kepulangan Taufan dengan memanggang daging, ia sangat senang.


"Nggak masalah. Ada beberapa teman Taufan juga, tapi nggak perlu canggung. Kau bisa bergaul dengan mereka, walau aku nggak yakin mereka semua waras."


Untuk kalimat terakhir itu, Yanata merasa ganjil. Nggak semua waras? Apa maksudnya?


Obrolan mereka harus terjeda ketika mereka sampai di teras belakang. Berhadapan langsung dengan taman yang tak begitu luas namun cukup terawat.


"Kau bisa bergabung duluan. Aku mau ganti baju dulu. Kau mau minum apa Biar nanti aku bawakan."


"Nggak usah, nanti aja. Oh ya, kak," Hali berbalik sesaat sebelum pergi, hanya sekedar menunggu Yanata melanjutkan ucapan. "Ini, jaket yang dipinjamkan semalam. Udah aku cuci. Makasih ya."


Hali tersenyum simpul menatap totebag yang Yanata sodorkan, "Harusnya ngga perlu susah-susah mencucinya, tapi makasih ya."


Kepergian Hali menyisakan Yanata yang masih termangu di teras. Merasa sangat asing karena orang-orang yang berkumpul di sana terlihat begitu akrab, sementara dirinya hanya anak kemarin sore yang kebetulan saja diundang.


Bahkan hadirnya di sana tak seorang pun sadari. Sampai ia jumpai satu objek yang familiar lagi baginya.


"Perlu bantuan dengan itu?"

__ADS_1


Taufan terkejut mendapati Yanata berdiri tak jauh dari tangga. Ah, ini bukan yang pertama kalinya. Sepertinya gadis itu memang berbakat mengejutkan orang lain.


"Hah, sumpah! Jantung ku... Kau kenapa sih suka banget muncul mendadak?" Gadis itu terkekeh, dan berjalan mendekat. Segera saja Taufan turun selepas memasang lampu tumbler di ketinggian, mengaitkannya pada ranting-ranting pohon.


"Ehehe maaf."


"Udah dari tadi?"


Yanata menggeleng singkat, "Nggak, baru juga nyampe."


"Eh? Siapa yang bukain pintu?" Taufan sempat sangsi. Ia takut jika Yanata menunggu terlalu lama untuk sekedar dibukakan pintu. Pasalnya jarak antara pintu depan dan belakang cukup jauh. Ia tak yakin bisa mendengar ketukan dari pintu depan.


"Tadi dibukain sama kak Hali." Taufan lantas melongok, melihat ruang kosong di belakang Yanata. Mencari-cari keberadaan yang seharusnya juga berada di sana.


"Kenapa?" tanya Yanata seraya mengikuti arah pandang Taufan, ikut penasaran.


"Kak Hali-nya mana?"


"Oh, tadi katanya mau ganti baju dulu sih."


Bibir Taufan tercetak bulat, ber-oh ria tanpa suara. "Ya udah, sini aku kenalin sama yang lain. Santai aja, mereka semua ngga menggigit kok."


Suasana asing yang semula Yanata rasa seketika cair bersamaan dengan candaan yang sesekali Taufan lontarkan. Di luar dugaan, ternyata mereka semua menyambutnya begitu hangat.


"Halo Om! Kenalin dia temen aku juga, yang kemarin magang di rumah sakit.


Lamanya Yanata. Yanata, dia om-ku dia baik banget loh."


"Nah, cowok yang rambutnya acak-acakan kayak buntut ayam itu namanya si landak. Kalo yang pake kacamata di sebelahnya itu namanya Cepan. Dia tukang pamer, suka tebar pesona. Awas aja ntar dimodusin. Kalau cowok yang pakai hoodie kurang bahan itu namanya kompor, hobinya bikin rusuh. Sebenernya aku gak yakin dia ngurus beginian. Takutnya malah ngebakar semuanya." Begitu lah cara Taufan memperkenalkan teman-temannya.


Sedikit sarkas, tapi percayalah, semakin erat sebuah pertemanan, batas antara kurang ajar dan tidak tahu diri seolah tak ada jarak.


Jitakan kecil yang Arga layangkan, mendarat tepat di ubun-ubun, "Siapa yang kau bilang buntut ayam?"


"Heh! Cupu! Enak aja hoodie kurang bahan. Ini tu nama nya, hoodie sleeveless. Tau? BTW, kita tu sama-sama biang onar ya, jadi nggak usah sok pasang muka polos kau," timpal Leon seraya menghampiri.


"Apa-apaan? Ngebully beraninya keroyokan. Satu-satu dong!"


"Kalo iri sama kegantengan ku, bilang bos. Nama keren keren seenak jidat lo aja ganti jadi Cepan." Sengaja Sevan menoyor jidat Taufan, menggeser posisinya menjauh dari Yanata. "Halo nona, namaku Sevan. Senang bisa mengenal mu."


Yah... Walau kata 'dimodusin' itu terbukti sekarang.


"Kalo makhluk satu ini ngomong aneh-aneh, jangan didengerin. Sesat. Oh ya, aku Arga. Dan dia Leon. Salam kenal."


"Huweh, kok aku lagi sih yang kena!?" Tak terima Taufan kena hujat


Yanata yang tak tahu haru bersikap bagaimana, hanya bisa menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksa. "Ha-halo, namaku Yanata."


Kini ia paham mengapa Taufan memberikan nama aneh pada teman-temannya. Karena memang aneh. Ah, ia jadi teringat dengan ucapan Hali.


Dan selama itu juga ia hanya terdiam kikuk, menyimak pertengkaran tak berguna di antara para lelaki itu hingga sebuah tepukan lembut di bahunya menarik atensinya. Seorang gadis dengan hijab merah jambu mengurai senyum manis ke arahnya.

__ADS_1


"Temennya Taufan juga ya? Kenalin, namaku Yasha. Bukan temen sekelas sih, tapi masih satu angkatan."


Yanata kira, dirinya satu-satunya perempuan di sini. Beruntung gadis itu lebih dulu menyapa. "Ah, namaku Yanata."


"Kau sekolah di mana?"


"Citra Medika."


"Oh, itu kan sekolah elit. Kau jurusan perawat?" Pertanyaan itu dibalas anggukan singkat.


Sementara di belakang mereka, para kaum adam itu masih meributkan masalah yang bahkan tidak mereka pahami persoalannya.


"Sudahlah, biarin aja mereka. Mending bantuin aku potong buah buat pencuci mulut nanti, yuk?"


*******


Apabila ditanya salah satu kebahagiaan paling berarti yang pernah singgah di kehidupan Taufan. la tak akan pernah ragu untuk menjawab momen bersama sahabat dan keluarganya. Sebuah alasan sederhana untuknya bertahan dan mensyukuri segala garis takdir yang Tuhan rencana untuknya, sekalipun itu pahit.


Akan ada mereka yang selalu meminjamkan bahu, mengulurkan tangan, tersenyum bersamanya. Baginya semua itu lebih dari cukup.


"Kau ngapain di sini?" Hali datang dengan penampilan yang lebih segar hanya dengan kaos hitam dan celana santai. Menatap jengkel pada sang adik yang tak mengacuhkannya karena terlalu asik membalik daging.


"Kak Hali apaan sih!?" seru Taufan ang tak terima saat penjepit daging di tangannya direbut begitu saja.


"Kau ngga boleh di sini. Banyak asap. Duduk aja sana. Ntar aku panggil kalau semuanya udah siap." Taufan berdecak kesal. Ingin rasanya melontarkan bantahan, tapi ia tak pernah lupa jika kakaknya itu paling sulit untuk ditentang.


Malas sekali jika harus beradu debat dengan Hali yang sudah dalam mode over protective. Mereka itu sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah sama sekali.


"Huuh, bentar doang napa sih?"


"Kau ngapain di situ? Semedi apa jagain telur bebek?"


Tatapan tajam seketika Taufan henuskan tepat pada Arga yang bukannya membela nya sebagai teman, tapi justru ikut menyuruhnya pergi.


"Jaga lilin. Kau yang jadi babinya." Moodnya sudah lebur sedari ia terpaksa patuh pada titah Hali.


Arga terkekeh mendengar jawaban ketus Taufan. Ia tak tahu apa yang menghancurkan moodnya. Sempat bertanya-tanya mengapa lelaki yang biasa dipenuhi perangai ceria itu lebih memilih mengasingkan diri. Sementara ia sendiri paling tahu tingkah sahabatnya itu paling tidak bisa diam.


"Sensi amat kayak cewek lagi datang bulan. Kenapa sih?" Pada akhirnya ia mengambil tempat di samping Taufan. Usai meletakan keranjang rotan berisi sisa-sisa party stuff yang tak terpakai. Ikut memandang orang-orang yang sibuk dengan kegiatannya dari kejauhan.


"Hah, males banget kalo posesifnya kak Hali udah kumat. Ini ngga boleh, itu ngga boleh. Terus aku musti diem, anteng kayak patung gitu!?" Helaan nafas turut mengiringi curhatan lelaki itu. Jelas terbaca kekesalan semacam apa yang membuatnya tak henti-hentinya mengeluh.


Jika sudah seperti itu, Arga hanya perlu pasang telinga saja, sampai Taufan lelah dan diam sendirinya. Jika dinasehati pasti juga akan kian menjadi. "Arga, ngerjain kak Hali, oi?" putusnya setelah sesi curhat yang amat panjang.


"Ngga usah aneh-aneh. Baru juga balik dari rumah sakit, mau balik ke rumah sakit lagi kena gebuk abang mu?"


"Ishh, ayo lah! Seru pasti."


"Nggak, kalau mau kena gampar ngga usah ngajak-ngajak. Aku masih sayang nyawa," tukas Arga seraya beranjak. Meninggalkan Taufan sendiri di belakang, dan bergabung dengan Leon yang tengah menjaga perapian.


Seketika anak itu mendengus keras. Menekuk wajah dengan bibir yang ia majukan. "Ish, Arga ngga seru. Ya udah, kalau ngga mau. Aku bisa ngelakuin sendiri."

__ADS_1


Keranjang kotak yang Arga bawa tadi akan menjadi senjatanya untuk melancarkan serangannya kali ini. Lihat saja.


__ADS_2