
Bel berbunyi, namun tak cukup untuk membangunkan seorang pemuda ber iris biru itu dari alam mimpi nya. Tak jelas pasti bagaimana ia bisa tertidur akhirnya, padahal beberapa saat yang lalu jemarinya sibuk menggoreskan ujung bolpoin di permukaan putih, mencoba mengusir bosan.
Di samping nya, seorang pemuda seusianya justru menautkan sepasang earphone di telinganya, memutar beberapa lagu dari ponselnya sembari bermain game. Ia nampak tak peduli dengan kebisingan di sekitarnya, termasuk keberadaan manusia biru yang masih saja terlelap.
30 menit berlalu sejak bel pulang sekolah berbunyi, sebagian ruang kelas telah kosong ditinggal penghuni nya, hanya menyisakan mereka berdua. Arga yang mulai bosan dengan ponselnya, menatap malas teman sebangku nya yang tak kunjung bangun itu. Ia tak tau apa yang dilakukan nya semalam sampai memindahkan tempat tidur ke bangku sekolah.
"Fan, bangun Fan. Mau pulang ngga? Ato mau nginep disini?" Tanya nya sambil menggoncang kan tubuh itu pelan.
Namun pemuda yang coba di bangunkan nya sedaritadi hanya terdiam, seakan tak terganggu sama sekali. Mungkin mimpi nya itu terlalu indah sehingga ia enggan untuk bangun.
"Fan, bangun! Yaampun, tidur ato pingsan sih?" Omelnya pada sahabatnya yang tak bangun juga.
"Huhm..."
Taufan menggeliat tak nyaman, ocehan sang lead guitar itu mengusik tidurnya meski ia masih tidak mau untuk terbangun.
"Nah, bangun ni anak." Arga mulai membereskan mejanya. Kini perhatian nya tak sepenuhnya tertuju pada Taufan yang masih bertahan di ambang kesadaran.
Iris biru itu sedikit menampakkan binarnya yang sayu, efek kantuk yang masih terasa pekat. Bibirnya bergumam sesuatu, namun tak lama kemudian matanya kembali terpejam.
"Yaampun nih orang malah tidur lagi. Mimpi apa sih sampe nyenyak banget gini? Dah ah aku pulang duluan." Namun, niatnya untuk meninggalkan tertunda disaat sebuah tangan menariknya.
"Arga..." suara serak itu lolos dari pita suara yang kekeringan.
Arga sedikit tertegun, ada sedikit perasaan tak tega yang merayapi dinding hatinya saat menatap wajah sahabatnya.
"Kenapa? Sakit?" Suaranya merendah diiringi helaan nafas, tak seketus sebelum nya. Pandangannya pun ikut melunak.
Netra biru itu kembali terpejam, bibirnya kembali bergumam hal yang tak jelas. Arga mengerenyitkan dahi bingung mendaratkan punggung tangannya di kening Taufan. Normal, tidak berbeda dengan suhu tubuhnya. Namun tiba-tiba Taufan menarik tangan sahabat nya itu.
HAP
"Nyam Nyam. Ayam goreng Mail memang terbaik..."
Arga mematung seketika. Perempuan imajiner muncul di pelipis nya saat itu juga. Apa dia pikir tangan nya ini ayam goreng?
BUK!
__ADS_1
"HUADOUH!!! SAKIT!!!"
****
Dua orang berjalan beriringan di sebuah koridor yang sepi. Tak banyak orang di sana, kecuali mungkin beberapa pengurus OSIS yang masih setia di sana karena tuntutan tugas.
"Gila kau Ar, bangunin orang gak kira-kira. Kalo aku lupa ingatan gimana karena kau pukul?" Sungut Taufan kesal. Tangan nya tak henti mengelus sisa-sisa rasa sakit bekas jitakkan maut sahabat nya.
Arga mendengus, "Mau dibikin lupa ingatan beneran? Tampol sini! Lagian tidurmu nyeremin sih. Dah kaya orang mati gitu gak mau bangun bangun. Dah gitu main gigit tangan orang lagi. Di kira tangan ku ayam goreng hah?"
"Serem gimana? Dimana-mana orang tidur juga merem!" Sembur Taufan.
"Kau tidur sampe nggigit orang tau! Ngimpi apaan coba? Jadi zombie? Jangan-jangan abis ini aku kena rabies lagi." Balas Arga tak kalah sengit.
"Ya mana aku inget tadi aku mimpi apa? Eh bentar, tuh kan aku lupa ingatan beneran. gara gara kamu sih aku jadi amnesia beneran! " Taufan nampak serius dengan omongan nya.
Tepuk jidat dibuat nya, tak jarang ia mempertanyakan tingkat kebodohan sahabat nya. Ia penasaran dengan apa yang ada di dalam kepala nya.
"HAHA, kenapa temanku satu ini gilanya udah ga ketulungan Ya Tuhan. Apa salah hamba menjadi sahabat nya???"
Helaan nafas terdengar berat dari sela bibir pecinta musik itu. Ia memilih menghentikan obrolan sia-sia ini sebelum dia semakin naik darah atau justru ikut gila seperti orang di sampingnya. Sementara Taufan mati-matian menahan tawa melihat wajah kesal Arga. Membuat manusia satu itu emosi adalah hiburan tersendiri baginya.
Arga masih bertahan dalam diam, sama sekali tak berniat menanggapi candaan yang Taufan lempar. Namun sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum samar. Tak bisa ia pungkiri sisi hatinya menghangat ketika melihat ekspresi cerah si biang onar itu.
la lebih suka Taufan yang cerewet dengan segala tingkah nya yang tak terduga dibanding harus melihatnya terbaring lemas di atas kasur atau tersakiti karena hal lain.
Jauh dalam dirinya, ia berdoa, berharap tawa itu terus melekat pada dirinya, bukan sakit dan luka seperti yang selama ini mengungkungnya dalam kehidupan pedih.
Ia tak ingin membayangkan jika saja senyuman dan keceriaan itu akan hilang nanti nya.
"Hey, Arga! Malah melamun. Nanti kesambet loh. Lagi mikirin apa sih?" Suara Taufan kali ini mampu mencapai pendengaran yang sebelumnya ia tuli kan. Perhatian Arga kembali terpusat pada sosok bermata biru dihadapannya.
"Capek dengerin ocehan mu yang gak jelas dan gak ada henti nya. Mending diem dan perhatiin jalanmu, ntar nabrak loh baru tau rasa." Ketus Arga.
Yah, begitulah Arga. Ia tak pernah menunjukan perhatian atau kecemasannya melalui kata. Namun disaat anak itu membutuhkan bantuan, dia akan menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan. Cukup tindakan yang menunjukan kepeduliannya pada sahabat yang sudah ia anggap saudara sendiri.
Taufan majukan bibir nya, merasa kesal karena sahabat nya itu memang tak pernah asik diajak bercanda. la berbalik, hendak memunggungi Arga tanpa menyadari kehadiran gadis yang tiba-tiba muncul di persimpangan koridor.
__ADS_1
Dan sebuah drama kecil pun terjadi..
Bruk..
Sepertinya takdir selalu berpihak pada Arga, terbukti sudah ucapannya. Detik itu juga setumpuk buku paket berhamburan di lantai. Taufan yang menyadari kesalahannya langsung membungkuk, memunguti buku paket tanpa melihat siapa yang ditabraknya.
"Maaf maaf, ngga sengaja."
"Ngga papa." Suara yang terdengar familiar itu lantas membuat Taufan mendongak.
Gadis manis berhijab merah jambu itu menyambut dengan senyum ramah.
"Oh, hai kau rupanya, maaf ya, gak sengaja." Ujarnya setelah merapikan kembali setumpuk buku paket yang cukup tebal. "Buku sebanyak ini kok dibawa sendiri sih, emang temen sekelas mu ngga ada yang mau bawain?" tanya Taufan berbasa-basi.
"Udah pada pulang semua. Cuma aku yang belum selesai ngrangkum gara-gara tadi aku harus ngurusin OSIS dulu. Jadi aku yang tanggung jawab balikin ke perpus." Jelas Yasha hendak mengambil alih buku itu dari pelukan Taufan.
Lelaki itu menolak, "Biar aku aja, kasian, berat banget gini."
"Eh, ngga usah, aku bisa sendiri kok." Yasha merasa tak enak hati.
"Ngga papa, itung-itung balas budi karena udah jagain aku waktu sakit dulu. Lagian ini berat, aku ngga bisa biarin gitu aja. Arga, kau pulang duluan gapapa. Aku mau balikin ini dulu."
"Aku bisa menunggumu di depan." Ujar Arga datar. Sedari tadi ia hanya memperhatikan bagaimana dua manusia di depannya saling berinteraksi.
Entah mengapa ia merasa seperti orang ketiga yang di kacangin sekarang.
"Heleh, tadi pas aku tidur aja katanya mau ninggalin." Cibir Taufan. "Udah, ngga usah. Aku bisa pulang sendiri kok. Duluan aja gapapa"
Arga nampak ragu untuk meninggalkan Taufan. Bukan apa, hanya saja ia mendapat amanah dari Hali untuk memantaunya selama di sekolah. Meski tanpa diminta pun, dia pasti menjaganya. Semenjak mengetahui kesehatan Taufan yang sempat drop beberapa kali, membuatnya semakin mencemaskan kesehatan lelaki itu.
Setelah menimbang cukup lama, dengan berat hati Arga mengangguk.
"Ya udah, aku duluan. Kalo ada apa-apa, hubungi aku." Pesan Arga sebelum pergi. Walau begitu entah mengapa perasaan nya menjadi tidak enak harus meninggalkan pemuda ber mata biru itu
Taufan terkekeh, "Santai aja, gak bakal ada apa-apa juga." Ujar nya sembari tersenyum ceria.
Ya... Ia harap juga begitu.
__ADS_1
TBC