
"Selama ini kau makan gak sih?" tanya Khai tiba-tiba. Ia baru sadar kalau Hali sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Juga kantung mata yang jelas terlihat.
"Ya makan lah! Kalo gak makan gimana mau hidup. Orang ngakunya kuliah kedokteran gitu aja gak tau." Ketus Hali.
Khai terkejut, perempatan imajiner sudah menghiasi kepala nya. Sebanyak mungkin udara ia raup untuk melegakan amarahnya.
Serius, teman nya yang satu ini benar benar menyebalkan!!
"Ya kalau kau makannya teratur ngga bakal sampe tepar begini. Dokter bilang asam lambung mu naik, kurang istirahat juga. Kau lagi belajar cara nya jadi zombie? Ngga tidur, ngga makan. Hal, tubuhmu ngga bakal kuat disiksa terus kayak gini." Ujar Khai yang berusaha memberi pengertian dengan segenap kesabaran yang dimilikinya.
Melihat sahabat nya sendiri sampai seperti ini, membuat perasaan bersalah muncul karena tak bisa membantu lebih.
"Berisik! Ngomong lagi ku lempar kau dari jendela. Bikin kepala makin pusing aja." Protes Hali. Dirinya sudah lelah di ceramahi terus sejak baru sadar tadi. Dan sampai saat sakit di kepala nya semakin parah pun, dia masih melanjutkan ceramah nya.
Yah... Hali nggak sadar kalau sebenarnya Khai mengatakan itu dengan penuh rasa khawatir. Mendengar semburan sahabat nya, perempatan imajiner kembali muncul di kepala nya.
"Heh! Harus nya kau yang aku lempar. Kalau sakit mah sakit aja, ngga usah bikin orang naik pitam!"
Khai memperkuat pijatannya, bahkan sepertinya terlalu kuat sampai membuat Hali mengerang kesakitan.
"Argh! woy, sakit bego!"
"Rasain!"
Ketenangan hanyalah sebuah ilusi semu ketika sejoli itu nyaman dengan adu mulut mereka, saling menyemburkan ucapan sampah masing masing.
__ADS_1
Tanpa sadar mengusik keberadaan yang sebelumnya terlelap, mulai membuka mata nya tak nyaman.
Ken mengerjap kan mata nya pelan, menyesuaikan dengan cahaya yang begitu menyilaukan pandang masuk ke penglihatan nya.
Meraih kembali kesadaran nya setelah beberapa saat terhanyut dalam dunia mimpi. Netra emasnya terbuka sepenuhnya dan menyadari sosok yang sedari ia nantikan sudah lebih dulu membuka mata.
"Kak Hali udah sadar?" Suara paraunya terdengar, mengundang perhatian kedua orang itu untuk menoleh.
"Tuh kan, Ken jadi bangun! Kamu sih! Berisik mulu! " Seru Hali disusul tatapan tajam dari manik ruby nya.
"Astaga, Hali. Lama lama jadi mengin nabok beneran nih. Bisa bisa nya nyalahin orang, gak ada bilang makasih nya sama sekali. Temen ngga ada akhlak emang!" Sembur Khai yang tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya. Beruntung dirinya sudah berbaik hati menolong nya, masih di tambah pijat gratis lagi. Tapi bukannya terimakasih yang ia dapat, justru di salahkan seperti ini.
Hali mendengus kesal, "Ngga sadar diri emang yang dari tadi ngomel ngga jelas!" Celetuknya.
Tubuh itu menegang dan seketika terkejut ketika menyadari tubuh Ken tiba tiba memeluk nya dengan erat. "Kak Hali ngga boleh kaya gini lagi!"
Menyembunyikan air mata yang terurai, entah senang atau sedih. Suaranya terkesan pelan, terdengar serak. "Kak Hali ngga perlu pura pura kuat kalau akhirnya bakal kaya gini!"
Hali sempat tertegun, menyadari bahwa penyebab tangis Ken adalah dirinya. Ia memanglah lemah, ia akui itu di hadapan semesta. Tapi kelemahannya kali ini membuat adiknya menangis, dan ia benci itu. Gara gara dia, air mata Ken harus terbuang sia-sia. Ia sudah membuat adik bungsunya itu panik ketakutan, padahal ia paling tak bisa melihat Ken menangis.
Biarlah orang asing di luar sana menilainya lemah, tapi biarkan ia menjadi sosok yang tegar di mata adiknya. Ia hanya tak ingin menyusahkan Ken dengan segala masalah kehidupannya yang justru akan membuatnya tertekan. Apakah itu salah?
"Kak Hali pikir aku ngga akan kepikiran kalau kak Hali sampe drop kayak gini? Aku tau kak Hali ngga mau buat aku jadi sedih atau khawatir, tapi aku juga ngga mau liat kak Hali stress sampai kayak gini. Apalagi sampai maksain diri dan tanggung semuanya sendiri. Aku gak mau kak Hali sampai sakit lagi! Kita bakal ngelewatin ini sama sama, ya?"
Seulas senyum terpatri di bibir tipis Hali. Tangannya bergerak mengusap surai hitam milik adiknya. "Iya, maaf sudah membuatmu panik. Aku ngga papa kok."
__ADS_1
"Jangan diulangi lagi. Aku ngga mau liat kak Hali pingsan kayak tadi."
"Iya, ngga lagi."
"Dengerin tuh, adikmu aja tau!" Sela Khai membenarkan ucapan Ken. Ia langsung disambut tatapan tajam dari sepasang iris ruby, lengkap dengan kepalan tangan yang Hali pamerkan di balik tubuh Ken. Jika saja situasinya normal, Hal tak akan ragu untuk langsung menerjangnya karena sudah menghancurkan momen haru itu.
Di sisi lain, Khai hanya memalingkan pandangan nya ke arah lain. Sungguh, demi apapun ia tak tau dendam apa yang Hali simpan padanya hingga tak pernah ragu untuk melempar aura membunuh seperti ini.
Sampai beberapa saat Ken masih enggan mengurai pelukannya. Hali tak keberatan, alih alih terus mengusap punggungnya lembut hingga tangisnya mereda.
Barangkali tak pernah sekalipun Hali tau, akan ketakutan seperti apa yang Ken rasakan ketika melihat kedua kakaknya terbaring di ranjang pesakitan. Rasa khawatir, takut jika akan terjadi sesuatu dan bingung harus berbuat bagaimana di situasi seperti ini. Terlebih lagi Ken yang masih begitu muda pasti merasakan begitu takutnya kehilangan.
"Kak Hali janji jangan pernah ninggalin Ken..." Ucapan itu begitu lirih namun masih mampu di dengar.
Netra Khai dan Hali saling menatap horror, bertukar pesan melalui kontak mata, dengan mengumpat dalam hati. Mungkinkah Ken mendengar obrolan mereka tadi?
"Aku takut setengah mati melihat kak Hali seperti ini. Aku takut kalau suatu saat kak Hali dan kak Taufan ninggalin aku sendiri. Aku ngga bisa bayangin hidupku nanti kalau tanpa kalian."
"Aku nggak mau sendirian... Aku takut kalian pergi..."
Ulu hati Hali seolah di tusuk kuat. Ucapan Ken benar benar menamparnya. Atas dasar apapun, ia sudah berjanji untuk tidak membuang kehidupan nya saat ini dan hidup sebaik yang ia bisa. Karena ia percaya akan skenario Tuhan, dan semua takdir yang Ia berikan padanya.
Pelukan Ken dibalas oleh sang kakak, bahkan lebih erat dari dekapan nya. Mereka sama-sama tak ingin kehilangan, cukup dengan saling meneguhkan. Tak akan pernah ada perpisahan diantara mereka.
"Iya, kakak janji ngga bakal ninggalin Ken. Apapun yang terjadi kita akan sama-sama terus." Ucap Hali akhirnya.
__ADS_1
Khai hanya terdiam, mengulas senyum haru dan menjadi saksi atas janji kedua saudara itu.