
Sebuah bus biru berhenti tepat di depan halte, penumpang yang merasa telah sampai di tempat tujuannya turun satu persatu. Alina termasuk salah satu penumpang yang ikut turun di halte tersebut, senyum manis masih melekat erat di bibirnya. Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu ber jam-jam akhirnya dia sampai ditujuannya. Alina melangkah riang sambil merapikan pakaian dan rambutnya yang agak kusut, dengan menenteng sebuket bunga lily putih yang digenggamnya dengan hati-hati.
Senyum yang dari tadi sudah terlihat dari bibirnya kini semakin melebar saat dia sampai di tempat tujuannya. Perlahan dia menaruh buket bunga lily putih di antara dua gundukan yang ditutupi rumput-rumput hijau yang terpotong rapi dan terawat.
"Aku datang.. ibu ayah, Alina datang.." Alina menatap lekat dua gundukan itu dengan mata sendu, dan bibir yang masih tersenyum.
Alina merindukan kedua orangtuanya, mengunjungi makam orangtuanya salah satu caranya untuk melepas rindu. Meski tidak sepenuhnya rindu itu terbayar, namun setidaknya dia dapat merasakan kehadiran orang tuanya saat berada disini.
"Ibu ayah, Alina merindukan kalian.. maaf Alina sudah jarang datang berkunjung, saat ini Alina sedikit sibuk dengan pekerjaan Alina.." Alina menjeda perkataannya dan tersenyum miris.
"sedikit sibuk eoh?." ucapnya dalam hati
Alina mengangkat kepalanya yang tadi sempat tertunduk, dia menatap kembali makam orangtuanya dan tersenyum penuh arti. Orangtuanya pasti sedang melihatnya kan saat ini?, mereka akan sedih kalau melihatnya murung, jadi dia harus tetap tersenyum. Begitu pemikiran sederhana Alina yang mengkhawatirkan orangtuanya.
Sudah hampir satu jam berlalu, dan Alina masih betah berlama-lama di makam orang tuanya. Alina hanya menatap lekat makam orangtuanya, lebih tepatnya dia sedang termenung saat ini. Tatapannya terlihat kosong, entah apa yang sedang dipikirkannya. Raut wajahnya yang sendu memperlihatkan seolah gadis itu sedang menyimpan luka yang dalam, entahlah sedalam apa luka yang dipendamnya.
Alina tersadar dari kegiatan merenungnya saat perutnya tiba-tiba berbunyi, kemudian mengalihkan tatapannya ke arah handphone jadul di genggamannya dan kaget saat melihat waktu sudah menunjukkan lebih dari jam 2 siang. Alina bangun dari duduknya dan menatap langit sebentar.
"Ah, langitnya mendung.. pantas saja aku tidak sadar kalau ini sudah siang.."
Alina kembali menatap makam orangtuanya sambil melebarkan kembali senyumnya.
"Ibu ayah, Alina pamit dulu yaa.. Alina harus memberi makan cacing-cacing di perut Alina dulu.." Alina menjeda ucapannya sebentar dan terkekeh sambil mengelus perutnya.
"Kapan-kapan Alina akan berkunjung kesini lagi, ibu dan ayah jangan mengkhawatirkan Alina.. Alina baik-baik saja, seperti perkataan terakhirnya ayah, Alina harus hidup bahagia meski tanpa ibu dan ayah.." Alina kembali menatap sendu makam orangtuanya dan tersenyum kecil. Ingatannya kembali mengingat perkataan terakhir ayahnya.
"Alina.. apapun yang terjadi kedepannya, Alina harus bahagia.. Alina pasti akan hidup bahagia meski tanpa ibu dan ayah.."
"Jadi, istirahatlah dengan tenang. Alina akan bertemu ibu dan ayah jika waktunya tiba. Sekarang Alina pamit dulu, Alina mencintai ibu dan ayah." Alina mengakhiri ucapannya masih dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
Perlahan Alina berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh dari makam. Tanpa dia sadari ada mata yang sedang menatapnya dalam diam.

Tiga pria tampan saat ini sedang terlarut dalam lagu yang mengalun lembut di pendengaran mereka. Bahkan salah satunya hampir memasuki alam mimpi, jika saja salah satu sahabatnya tidak mengangetkannya.
"Yak, jangan tidur! ini bukan malam hari!"
"Yak!, sialan kau Dan, aku bisa mati karena serangan jantung jika kau mengangetkanku begitu!" Ersya berteriak kesal, lalu mengelus dadanya karena masih kaget.
Bagaimana tidak kaget, Danial si gila itu tiba-tiba berteriak di telinganya dengan jarak yang sangat dekat.
"Makanya jangan tidur, akan susah membangunkanmu kalau kau sampai tertidur lelap" ucap Danial sambil tersenyum jahil.
"Sial kau.. lagi pula kenapa Vano lama sekali sih, ini sudah hampir dua jam kita menunggunya."
"Kau tau kan Er, Vano memang akan lupa waktu kalau sudah datang kesini. Bersabarlah, sebentar lagi dia juga akan kembali" ucap Delvin tenang.
Detik berikutnya Delvin menyentuh audio mobil dan berinisiatif untuk mengganti lagu di playlist dengan musik yang lebih nge beat dari sebelumnya.
"Kau benar Delv, Vano pasti sangat merindukannya" Ucap Ersya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Setelah Ersya berucap, tiga sahabat itu kompak melihat ke sisi kiri mobil, menunggu dan membayangkan apa yang sedang dilakukan Vano sekarang di dalam sana.
Dua jam sebelumnya...
__ADS_1
"Kalian tunggu disini, aku akan segera kembali." Ucap Vano sambil membuka pintu mobil dan membiarkan mesin mobilnya tetap menyala.
Para sahabatnya hanya mengangguk paham, dan melihat kepergian Vano.
Ya, setelah perdebatan antara Vano dan Ersya pagi tadi, mereka memutuskan untuk ikut kemanapun Vano pergi. Dan disinilah mereka, di dalam mobil Vano menunggu Vano kembali.
Sedangkan Vano saat ini sedang melangkah pelan menuju ke tempat tujuannya dengan ekspresi datar di wajahnya. Setelah sampai di tempat yang dituju, ekpresi datarnya tadi kini berubah menjadi sendu, dengan senyum kecil yang terpatri di bibirnya.
"Hei, aku merindukanmu.." lirihnya, tanpa dia sadari air mata menetes dan mengalir di kedua pipinya.
"Aku membawanya lagi, sesuai permintaanmu yang dulu.." Ucap Vano sambil meletakkan sebuket bunga di gundukan yang ada dihadapannya.
"Maaf, aku jarang berkunjung.. kau tidak kesepian kan?" Vano terkekeh kecil dan menghapus air matanya saat sadar ada liquid bening yang menyentuh pipinya.
"Maaf dan terimakasih.. aku merindukanmu.." Ucap Vano lirih sambil menatap sendu makam di depannya. Sedetik kemudian Vano tersenyum dan larut dalam lamunannya.
Sudah hampir dua jam berlalu, akhirnya Vano berdiri dari duduknya, menepuk pelan celananya yang agak kotor. Vano menatap makam di depannya.
"Aku pamit pulang, aku akan berkunjung lagi di lain waktu.." Ucap Vano dengan senyuman kecil di wajahnya.
Vano berbalik pergi menjauh dari makam tersebut. Meninggalkan makam itu yang ditemani sebuket bunga, bunga lily putih yang cantik.
"Karena itu lily putih, jadi aku menyukainya.. Jika aku pergi lebih dulu, kau harus membawa lily putih saat berkunjung ke makamku.."

Kembali di waktu sekarang setelah dua jam berada di makam, saat ini Vano tengah melangkah menuju parkiran mobilnya. Namun langkah Vano terhenti saat melihat siluet orang yang akhir-akhir ini sangat sering ditemuinya.
"Apa itu dia?" tanya Vano pada dirinya sendiri. Matanya saat ini sedang memastikan apakah pikirannya itu benar.
Mata tajam Vano sedang menatap gadis muda yang saat ini sedang duduk termenung di antara dua makam. Vano mengernyitkan dahinya heran.
Vano berniat melangkahkan kaki lagi, namun langkahnya kembali terhenti saat matanya secara tidak sengaja kembali melihat ke arah gadis yang sedang duduk termenung itu.
"Apa dia baik-baik saja? kenapa dia terlihat menyedihkan?." Vano berujar pelan.
Vano masih tidak mengalihkan pandangannya dari Alina, entah kenapa dia merasa kalau gadis itu sedang menyimpan hal yang menyakitkan dalam tubuh kecilnya itu. Tatapan yang dimiliki gadis itu saat ini benar-benar kosong.
Vano masih terus menatap Alina, bahkan sampai Alina berdiri dari duduknya. Matanya tak lepas dari Alina, dia bahkan bisa melihat mulut gadis itu yang bergerak-gerak mengatakan sesuatu sebelum akhirnya pergi meninggalkan makam tersebut.
"Ada apa ini? kenapa aku harus peduli?" Vano berujar sambil menaruh telapak tangannya di dada, seakan sedang merasakan debaran kecil di jantungnya. Dia berusaha mengabaikan perasaan yang membuatnya tidak nyaman tersebut.
Vano menghela nafas pelan, dan kembali melangkahkan kakinya menuju tempat dimana mobilnya berada.
"Akhirnya kau kembali Van.." Ucap Ersya sambil merenggangkan otot tubuhnya.
"Maaf, aku membuat kalian lama menunggu." Vano merasa sedikit tidak enak karena sudah membiarkan sahabatnya menunggu lama di dalam mobil.
"it's okey, kami sudah mengerti tentang kebiasaanmu saat berkunjung kesini." Ucap Danial tersenyum ke arah Vano.
Vano tersenyum kecil untuk membalas senyum para sahabatnya, yah dia harusnya bersyukur bisa punya sahabat seperti mereka yang mengerti dirinya.
"Mau kemana setelah ini?," tanya Vano.
__ADS_1
"Aku laapaar.." Ersya merengek seperti anak kecil, membuat sahabatnya terkekeh.
"Baiklah, kita cari tempat makan," Ucap Vano yang mulai menjalankan mobilnya.
"Ah, aku tau tempat makan yang enak di dekat sini" ucap Delvin dengan semangat.
"Baiklah, tunjukan arah jalannya padaku Delv.."
"Okey Van.."
Beberapa menit kemudian mereka sampai di tempat makan yang dimaksud Delvin.
"Kau yakin makanan disini enak?" tanya Danial.
"Tentu, kenapa? ah, jangan lihat tempatnya. Kedai makan ini memang kecil dan sederhana, tapi masakan paman disini sangat enak.." jawab Delvin sambil menepuk bahu Danial.
"Ah, aku tidak peduli.. aku sangat lapar, ayo Van!!" ucap Ersya sambil menarik tangan Vano. Vano yang tangannya ditarik pun hanya pasrah saja, toh dia juga sedang lapar.
"Ayo Dan, aku jamin kau akan makan lebih dari satu porsi" ucap Delvin terkekeh sambil merangkul bahu sahabatnya itu dan membawanya masuk ke dalam kedai.
"Selamat datang.." sapa seorang wanita yang kelihatannya sudah agak berumur namun parasnya yang cantik masih terlihat jelas di wajahnya.
"Halo Bibi, apa kabar?" Delvin menyapa wanita itu dengan senyum ramah.
"Oh ya Tuhan, Delvin.. sudah lama bibi tidak melihatmu" ujar wanita itu sedikit terkejut melihat Delvin.
"Ah iya, aku agak sibuk dengan kuliahku jadi jarang main kemari Bi.."
"Kau sudah bertambah besar nak, terakhir kali bibi melihatmu kau tidak setinggi ini.." Wanita itu tersenyum sambil mengelus pundak Delvin, perhatiannya beralih pada tiga orang pria yang ada di sebelah Delvin.
"Mereka temanmu?"
Delvin hanya mengangguk membenarkan.
"Kalau begitu duduklah, kalian kesini pasti karena mau makan kan? duduklah dan pesan makanan. Bibi harus membantu paman dulu.." Ucap wanita itu tersenyum ramah pada ke empat pria itu dan melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Kau kenal dengan bibi tadi?" tanya Ersya pada Delvin.
"Ya, kalian tau kan nenek dan kakekku pernah tinggal di kota ini. Bibi itu tetangga mereka dulu, jadi aku sering bertemu bi Mia dan suaminya saat berlibur ke rumah kakek nenek. Suami bi mia, paman Eza dialah yang akan memasakkan kita makanan enak nanti" jelas Delvin sambil mencari tempat duduk yang kosong.
Setelah menemukan tempat yang kosong, mereka langsung duduk dan memesan beberapa makanan.
"Kedai ini terlihat kecil dari luar, tapi di dalamnya sangat luas dan nyaman" ucap Danial sambil melihat sekeliling.
"Kau benar Dan.." Ersya membenarkan perkataan Danial dan ikut melihat kondisi kedai tersebut. Sedetik kemudian dahinya mengernyit saat melihat seseorang yang terlihat tidak asing baginya. Dimana dia pernah melihat gadis itu ya? pikirnya.
"Eoh, aku ingat. Dia goyung, ah bukan siapa namanya ? ah, aku lupa.. padahal malam itu dia sempat memberi tahu namanya" Ersya berucap pelan, seolah bertanya kepada diri sendiri siapa nama gadis itu.
Sahabatnya menatap bingung ke arahnya, sedangkan Ersya masih sibuk dengan pikirannya sendiri mencoba mengingat-ingat nama gadis itu. Beberapa detik kemudian raut wajah Ersya berubah senang saat berhasil mengingat nama gadis itu.
"Alina?!" seru Ersya lantang.
Alina yang saat itu sedang menyantap makanannya dengan tenang tersentak karena ulah seseorang yang memanggil namanya. Alina mencoba mencari asal suara yang memanggilnya dan kembali tersentak saat menemukan empat pria yang duduk di sebelah mejanya sedang menatap ke arahnya saat ini.
Namun yang tidak dia mengerti, tubuhnya seketika menjadi kaku saat matanya tidak sengaja bertemu dengan tatapan dingin seorang pria yang saat ini sedang menatapnya tajam.
__ADS_1
"Ya Tuhan, ini sudah ke empat kalinya.. takdir macam apa ini?" ujar Alina lirih.