Dandelion

Dandelion
54. Perginya Sang Pengumbar Tawa


__ADS_3


Pada angkasa biru yang membentang penuh kuasa, akankah kau tahu tentang luka yang mendiami dasar hati pemuda itu? Pada desiran sang bayu yang berhembus sepoi menjanjikan kesejukan. Namun, apakah engkau juga tahu akan kehampaan pencipta sesak yang mencekik kalbu?


Barangkali tidak. Dalam tempat tanpa batas yang disebut semesta ini, ia hanya sebuah titik kecil yang keberadaan nya tak seberapa. Sekalipun sekalipun kau ada di puncak dunia, bukan berarti kau akan mudah untuk di lihat.


Sebuah sosok yang awalnya ia pandang penuh warna itu berubah layak nya film klasik di tahun 90-an. Semua nya berwarna hitam putih dan kelabu, tanpa ada warna lain yang mengisi di antara nya. Begitu suram terlihat. Bahkan orang-orang yang menapaki pijakan yang sama dengan dirinya juga berselimut sendu.


Barangkali mereka lupa caranya untuk tersenyum. Atau terlalu putus ada dengan nasib dan derita yang di alami nya.


Mungkin juga dirinya.


Bagaimana seseorang bisa tetap membentangkan senyuman di saat hati terus terselimuti kabut pilu?


Tak ada orang yang berbahagia ketika orang terkasihnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Bahkan atmosfer di sekitar nya pun ikut mengabu, seakan menyuarakan suram yang ada di sana.


Dirinya juga, telah kehilangan keberanian nya untuk kembali menjejakkan kaki di ruang itu. Ada rasa bersalah yang timbul setiap kali dirinya masuk ke sana. Membuka kembali luka dalam penyesalan dan ingatan buruk atas kesalahan nya.


Ia selalu lemah jika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Merasa sangat tak berguna atas kehidupan yang dijalaninya. Merasa tak mampu bahkan untuk melindungi satu nyawa. Merasa gagal menjalankan tugasnya sebagai kakak dan melindungi adik adik nya itu.


Lelaki itu masih saja terpejam, menyembunyikan iris biru yang tertutup kelopak mata, menunggu dalam ruang waktu tanpa ada niatan untuk kembali ke dalam alam sadar. Mungkin dirinya terlalu lelah menghadapi derita selama ini.


Detik demi detik berlalu begitu lambat. Satu bersatu orang yang ada di sana mulai meninggalkan ruangan seiring waktu yang berjalan. Tanpa ia sadari, hanya tersisa dirinya seorang di sana.


Namun, sepi memang tidaklah pernah bertahan lama. Kesunyian itu mendadak menjadi begitu bising ketika pengeras suara berdengung menggema di seluruh penjuru rumah sakit.


Code blue ICU


Code blue ICU

__ADS_1


Code blue ICU


Tubuh pemuda yang awalnya tertunduk lesu langsung terkejut. Seluruh urat sarafnya menegang, bersamaan dengan debaran yang menggila di dalam dada nya.


Remaja yang itu cukup mengerti akan situasi yang terjadi. Ketika seorang dokter bersama beberapa petugas medis dengan langkah tergesa berlari masuk, pertanyaan besar mulai bermunculan di benaknya. Apa yang terjadi?


Kaki nya tanpa sadar melangkah mendekat, namun sayang nya harus terpaksa terhenti di depan pintu saat seorang perawat menahannya, mencegah nya untuk masuk ke dalam ruangan itu. Memintanya untuk menunggu di luar ruangan dengan segala perasaan khawatir yang menumpuk di hati nya.


Bayang-bayang mengerikan berputar di angan, ingin ia tepis tapi atmosfer ini membuat kepercayaan nya perlahan luruh.


Di balik kaca bening yang memisahkan mereka itu, ia melihat semua nya.


Bagaimana tubuh adiknya yang terlonjak setiap kali defibrilator itu menyentuh dadanya. Juga satu garis datar yang masih setia terpampang di patient monitor, tak kunjung ada perubahan.


Hingga di satu titik, mereka semua menghentikan apa yang mereka lakukan dan hanya terdiam sembari menarik nafas pasrah, mengelilingi ranjang Taufan menghentikan usahanya. Semuanya sia-sia.


Satu persatu segala alat penompang kehidupan di tubuh lemah itu ditanggalkan. Menyisakan sosok terbalut selimut yang perlahan menjadi kaku.


"Waktu kematian Taufan Ravael adalah 15.3-"


"Apa yang kalian lakukan!? Kalian mau membunuhnya! Hah!?" Teriakannya menggema. Ekspresi marah tertera jelas di wajah pemuda dengan iris mata merah ruby itu.


Semua orang tertunduk, entah takut atau berduka. Mereka juga tidak bisa melakukan apapun lagi sekarang.


"Anda saudaranya?" Tanya seorang dokter yang ikut turun tangan menangani.


"Iya! Saya kakaknya!"


Pria itu mengangguk paham. Menepuk pelan bahu Hali dengan wajah penuh penyesalan. "Saya paham perasaan kamu. Saya juga sangat menyesal tidak bisa berbuat lebih dari ini. Tapi tidak ada lagi yang bisa kami lakukan sekarang, biarkan adikmu tenang di sana." Ujarnya selembut mungkin. Berharap Hali bisa mengerti dan mengikhlaskan kepergian adik nya itu.

__ADS_1


Hali menepis tangan dokter itu kasar, "Bicara apa kau!? Cepat pasang kembali alat-alat itu! Kalau terjadi apa-apa pada adikku, kau yang pertama kali aku tuntut!"


"Tapi tak ada lagi tanda vital pasien. Secara medis pasien telah meninggal."


"Ngga! Taufan ngga mungkin Taufan pergi gitu aja!"


Hali terus mencoba menyangkal. Ia tak ingin mempercayai dengan kata kata para dokter itu, sekalipun monitor di sampingnya terus mengeluarkan bunyi nyaring yang memekakkan telinga. Ia tetap tidak ingin mempercayai fakta tersebut.


Ini tidak mungkin terjadi.


Nafasnya tercekat saat dinginnya wajah Taufan tersapu kulit tangannya. Kali itu ia baru sadar, tak ada lagi tawa yang di tebarkan pemuda itu. Tak ada lagi senyum yang menghangatkan suasana. Semua dingin. Semuanya suram. Semua kehangatan dan keceriaan itu telah lenyap seutuhnya, menyisakan raga kosong tanpa jiwa.


Sang pengumbar tawa telah pergi dari dunia ini.


"Apa begini caramu balas dendam padaku? Apa kau benar-benar membenciku?" Buliran bening lolos dari pelupuk mata Hali. Ia tak lagi bisa menahan segala emosi dan kesedihan nya. Rasa sakit dan duka begitu tajam menusuk batin nya. Ia benar-benar tak ingin percaya, namun sekali lagi kenyataan pahit menampar dirinya.


"Apa kau tak ingin memberiku kesempatan untuk kita kembali seperti dulu? Apa kau sudah sangat muak dengan dunia ini?"


Sesak.


Sakit.


Kekosongan akan rasa kehilangan ini benar-benar membuatnya sesak hingga ia lupa cara untuk bernafas. Pedihnya yang ia lampiaskan dengan meremas sprei putih, saksi bisu usaha Taufan untuk bertahan hingga detik ini. Meski berujung tak pernah kembali.


"Bangun, Taufan! Bangun!"


Pandangan Hali mulai berkabut, meneriakkan nama yang baru saja pergi dari sana. Meninggalkan fana, kenangan juga luka.


"Kumohon bangun! Jangan pergi!"

__ADS_1


"TAUFAN!"


__ADS_2