Dandelion

Dandelion
75. Apa tersampaikan?


__ADS_3

"Aku baru tahu kau bisa main gitar."


Sepasang kaki berhenti tepat di depannya, membuat netra biru itu berpaling. Ia dapati gadis berhoodie, dengan tudung menutupi sebagian hijabnya. Kali ini warna mint. Memasang senyum tipis sebelum berpindah ke samping, duduk di atas rumput bersamanya.


"Ya cuma bisa-bisa doang," ujar Taufan merendah. Perhatian nya kembali pada gitar di pelukannya, mengatur senar-senarnya agar menghasilkan nada yang ia inginkan.


"Kalau gitu, coba deh nyanyiin satu lagu."


Permintaan gadis itu menarik perhatian Taufan untuk menoleh. Jujur ia tak yakin dengan kemampuannya sekarang. Jari-jarinya kaku karena sudah lama tidak dilatih. Tapi binar yang terpancar di bola mata gadis itu meluluhkan nya.


"Hmm, ya udah. Mau lagu apa?"


"Apa aja, boleh."


"Oke, satu lagu aja. Tapi kalau fals jangan diketawain."


Ibu jari yang menyatu dengan telunjuk membentuk lingkaran menjadi tanda Yasha menyetujui kesepakatan mereka. Hanya dengan mendengar Taufan akan menyanyikan sebuah lagu untuknya, ia sudah senang.


"Kalau gitu, lagu ini aja."


Taufan menarik nafas panjang. Petikan senar gitar pertama mengiringi sebait puisi yang terlantun dalam melodi dan harmoni. Lagu yang ia nyanyikan kala senja itu hangat dan manis. Aneh, padahal tidak terlihat, tidak teraba dan tidak beraroma.


Mungkin karena ia yang membawakannya, lelaki yang penuh keceriaan dan senyum yang seolah tak akan pernah luntur. Seakan lupa jika semesta pernah mempermainkan hidupnya, menggores luka panjang dalam buku hariannya, nyaris merenggut bahagianya.


Dan dengan lembut, sosoknya dipeluk oleh jingga. Bayang-bayang hitam yang tertinggal di belakang itu seperti kisah kelamnya. Banyak pasang mata yang diam-diam mengagumi, entah mengakui merdunya suara Taufan atau kisah pilu yang berhasil ia lalui.


Mereka juga ingin menjaganya, melindunginya agar tak ada pecahan kaca yang melukai kakinya, atau dari angin kencang yang sewaktu-waktu bisa membuatnya tumbang.


Entah sejak kapan, hadirnya menjadi sangat berarti bagi orang-orang di sekitarnya. Seperti telah menjadi candu. Mungkin karena happy virus yang selalu ia tebar.



Tapi semua itu, Yasha rasa berbeda. Petikan gitar itu sesekali terdengar lembut, kemudian menguat, namun tetap berirama. Seperti sesuatu yang di tarik ulur. Hangat, senandung itu hangat. Seperti cahaya keemasan yang menyorot silau dari barat. Hangat, seperti rasa ini.


Sosoknya yang saat itu menggenggam gitar sembari bersenandung, entah mengapa jauh lebih keren dari biasanya. Seakan tersihir, ia sampai tak bisa berpaling. Memaku tatap pada lelaki yang dikenalnya karena suatu kebetulan.


"Hibike koi no uta~"

__ADS_1


Sebaris kata terakhir yang terlantun menjadi penanda lagu telah sampai di penghujung. Taufan melepas genggamannya, menarik tangan dari senar yang membuat ujung jarinya memerah.


Saat itu, Yasha tak mengerti makna di balik kelereng langit Taufan yang menyorotnya penuh arti. Ada jeda cukup panjang sebelum suara kembali mendapatkan perannya.


"Jadi.. gimana?"


Gadis itu tersentak. Seketika ia tersadar. "O-oh? Maaf, aku sampe nggak sadar lagunya udah selesai. Bagus banget. Hehe," ujarnya tanpa mampu menyembunyikan tawa canggungnya. Pandangannya teralihkan, pada objek apa saja yang ada di sekitarnya.


Darahnya mendesir, merangkah naik ke wajah. Pipinya pasti sudah bersemu merah sekarang. Degup jantung yang menggila itu, apakah terdengar?


Rasanya seperti ingin lenyap dari muka bumi saja setelah tertangkap basah memerhatikan orang secara terang-terangan.


"Kau suka?"


Yasha mengangguk cepat, "Suka. Bagus banget. Tapi sayang..." kata-kata menggantung yang Yasha lontarkan itu mengundang sebelah alis Taufan terangkat. "Itu lagu jepang, aku nggak tau artinya."


Senyum Taufan tersimpan tipis, "Pahami aja pake bahasa kalbu. Udah yuk, udah laper aku. Kayaknya juga udah matang. Bau dagingnya bikin ngiler," ujarnya seraya beranjak.


Yasha masih terdiam di tempat yang sama. Memerhatikan bagaimana punggung Taufan perlahan menjauh dari jangkauannya. Meninggalkan tanya akan sikapnya yang sama sekali tak mampu ia pahami.


Jingga hanya tersisa semburat di ujung cakrawala. Sementara di tempat itu, langit gelap telah benar-benar jatuh. Lampu taman dan gemerlap tumbler yang menggantung di atas menjadi penerang di sepetak taman itu.


"Ah! Nggak. Jangan sayur- Ngga mau." Tak ada penekanan dalam ucapan Hali. Tapi percayalah, garpu yang saat ini menancap pada daging miliknya sudah menjelaskan jika ucapan Hali adalah perintah mutlak. Aura di sekitarnya saja sudah


Di sana mereka menikmati sisa waktu di penghujung hari. Menyambut akhir pekan dengan hangat kebersamaan. Tawa dan canda lebih sering terlontar. Melupakan penat yang menumpuk setelah melewati hari-hari berat.


"Kak Taufan, jangan cuma makan daging nya aja. Sayurnya juga dimakan," ujar Ken.


"Nggak suka," protes Taufan sambil menyingkirkan satu per satu sayuran yang Ken letakan di piringnya.


"Kau masih dalam masa pemulihan Taufan. Makananmu harus tetep dijaga. Harus seimbang. Sayuran bagus buat kesehatan," ujar Ethan menasihati.


"Aku udah eneg sama yang ijo-ijo, Om~ Di rumah sakit makannya udah sayur mulu. Masa iya di rumah juga musti makan sayur. Dikira aku kambing makan daun mulu?" Sahut Taufan.


Jleb...


"Makan atau jatah daging mu lenyap!?" menyerukan 'Sekali lagi menolak, habis kau'. Menandakan jika dirinya sedang tidak ingin ditentang.

__ADS_1


Dan itu membuat Taufan ciut seketika. "Siap, bos." Beberapa lembar selada dan wortel yang tadinya Taufan pinggirkan, ia lahap sekaligus.


Hali hanya ingin menikmati makan malamnya dengan tenang. Menikmati setiap suapnya dengan penuh penghayatan. Tanpa harus mendengar keributan. Dalam sebulan terakhir ini, dirinya tak bisa makan enak karena terus memikirkan kondisi Taufan dan mengurus pengadilan Mervin. Jadi ia anggap ini semua adalah bayaran atas kerja kerasnya selama ini.


Karena itu, ia tidak ingin ada kekacauan. Termasuk pertengkaran yang tidak berguna. Mereka yang menyaksikan drama keluarga Ravael itu hanya geleng-geleng kepala. Memang Taufan itu hanya bisa jinak jika di pawangi oleh Hali.


Bicara soal tragedi tadi. Tak ada yang berani mengulasnya. Yah, tentu saja mereka masih sayang nyawa. Apalagi dengan Hali dengan mode dark seperti ini. Bisa-bisa tempat itu menjadi kuburan massal mereka.


"Ngomong-ngomong ini daging apa Om? Enak banget. Lumer di mulut." Sevan mengalihkan obrolan.


Sudah sedari tadi ia penasaran dengan steak yang Ethan hidangkan secara khusus ini.


"Wagyu A5."


"Uhuuuk-"


Seketika hening. Setengah tidak percaya dengan apa yang tersaji di hadapan mereka.


Tanpa di sangka yang dihadapan mereka... "Daging sultan," gumam Arga tanpa sadar.


"Seriusan? Aku penasaran sebenarnya om sekaya apa. Atau Om Ethan mau beli ginjal saya Om? Masih bagus kok," kata Leon ngelantur.


"Emang wagyu apaan?" Dengan mimik polosnya Taufan bertanya. Bahkan masih sempat menyuapkan daging yang sudah membuat orang-orang di sana ternganga.


"Kau kelamaan jadi tahanan RS."


"Makanya jangan kudet. Nih ya, Ini tuh salah satu daging termahal di dunia. Satu kilonya aja harganya 7 juta." Tambah Arga.


Taufan melongo. Potongan daging terakhir di ujung sumpitnya kembali terjatuh di piring.


"Aku jadi merasa berdosa makan daging semahal ini," kata Taufan.


Ia jadi menyesal tidak menikmati setiap suapannya dengan sepenuh hati. Kapan lagi ia bisa menikmati masakan selevel restoran bintang 5, ya kan? Seperti kata Leon, sepertinya ia harus menjual ginjalnya untuk bisa makan daging sultan itu lagi.


"Udah, nggak usah dipikirin. Nikmatin aja."


Acara pesta barbeque ini tidak akan menjadi semewah ini tanpa hadirnya Ethan di sana. Rasanya mereka sangat beruntung. Seorang CEO dari sebuah perusahaan ekpedisi terlenal, tiba-tiba saja muncul dan mengaku adik dari ayah mereka. Di saat posisi mereka berada di dasar nestapa. Memberikan uluran tangan, kemudian menariknya untuk kembali percaya.

__ADS_1


Yah, dibanding kebetulan. Mereka lebih percaya jika semesta telah merencanakannya. Untuk membuat mereka hancur, namun juga memberikan penawar di satu waktu. Mereka hanya bisa mensyukurinya. Bahkan kabar baiknya, semuanya menjadi jauh lebih baik setelah itu berlalu.


__ADS_2