
Saat ini Vano sedang melihat lihat suasana kedai makan yang dia datangi bersama sahabatnya. Di saat dia merasa nyaman dengan suasana kedai, tiba-tiba saja suara Ersya yang bisa dibilang sedang berteriak itu mengejutkannya.
"Alina?!" Seru Ersya sebelumnya yang membuat para sahabatnya kaget dan serentak melihat ke arah pandangan Ersya.
'Alina? siapa?'. Pikir Vano sambil melihat ke arah pandangan Ersya.
Untuk sesaat Vano terdiam, larut dalam pikirannya. Mencoba mengerti maksud hatinya yang berdebar. Namun saat dia akan menemukan jawabannya, otaknya bereaksi dan langsung mengambil alih perasaan hatinya. Dia menggeleng pelan, dan kembali fokus menatap gadis yang sedang menunjukkan ekspresi kaget tersebut.
Sedangkan Ersya saat ini sedang tersenyum lebar, merasa senang karena gadis tersebut memang Alina. Gadis polos yang di kenalnya di minimarket malam itu. Melihat ekspresi Alina yang saat ini, membuatnya terkekeh gemas. Saat ini ini wajah Alina sangat lucu baginya, mata Alina yang mendelik memperlihatkan kalau alina benar-benar kaget, pipinya mengembung karena dia belum sempat menelan makanan yang masih di dalam mulutnya, di tambah mata Alina yang berkedip-kedip bingung, benar-benar membuat Ersya gemas.
Melihat Alina yang tetap diam, membuat Ersya bangun dari duduknya dan melangkah mendekati meja Alina. Hanya butuh dua langkah baginya untuk sampai di meja gadis tersebut.
"Hei, apa kabar? kau masih mengingatku?" tanya Ersya setelah duduk di hadapan Alina.
Alina memandang Ersya, dan selanjutnya dia sadar dari keterkejutannya. Alina mengangguk pelan. Alina langsung menelan makanannya, saat melihat Ersya terkekeh di depannya.
"Saya ingat tuan.." lirihnya.
"Bagus kalau kau masih mengingatku, tapi kenapa kau sekaget itu saat aku memanggil namamu?,"
__ADS_1
Alina merutuki Ersya dalam hati. Bagaimana bisa dia tidak kaget, Ersya memanggil namanya sambil berteriak , hingga untuk sesaat dia merasa seperti penjahat yang baru saja di grebek.
"S-saya hanya kaget saja karena bertemu anda lagi tuan.." cicitnya.
"Yak, kenapa kau ketakutan begitu?!" Ersya secara tidak sadar kembali meninggikan suaranya. Maksud hati ingin membuat Alina nyaman saat berbicara dengannya, tapi kebiasaannya berbicara dengan suara tinggi malah membuat Alina semakin kaget.
"Ah, m-maaf tuan maksud saya.."
Belum sempat Alina menyelesaikan ucapannya, Vano menyahut.
"Suara melengkingmu itu yang membuatnya takut Er.. oh seseorang tolong sadarkan kebiasaan buruknya itu.." Ucap Vano sambil menatap jengah ke arah Ersya.
Ersya melirik ke arah para sahabatnya sambil mendelikkan matanya. Vano balas menatapnya jengah, sedangkan Delvin dan Danial masih bingung dengan tontonan di depan mereka.
"Maaf Alina, aku tidak bermaksud menakutimu. Cara bicaraku memang begini saat sedang bersemangat, kadang aku aku tidak bisa mengontrolnya.." ucap Ersya menatap Alina sambil tersenyum.
"Tidak, tidak perlu minta maaf tuan.." ucap Alina membalas senyum Ersya canggung.
Alina terdiam, dia tidak tau harus berkata apa lagi. Jujur saat ini dia tidak nyaman dengan kondisi di sekitarnya. Pria yang ada di hadapannya saat ini sedang menatapnya dengan senyuman yang baginya terlihat terlalu lebar, sedang dua orang pria di sebelahnya menatapnya dengan pandangan penasaran, dan yang paling mengganggunya adalah tatapan dari pria dingin yang saat ini sedang menatapnya lekat, entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu.
__ADS_1
Saat Ersya berniat melanjutkan obrolannya dengan Alina, seorang pelayan datang membawa pesanan ke mejanya. Ersya melirik Alina, sebuah ide melintas di kepalanya. Dengan segera Ersya mengambil alih mangkuk yang sedang di pegang Alina, mengambil gelas yang berisi minuman dan langsung memindahkannya ke meja tempatnya dan para sahabatnya duduk. Selanjutnya Ersya menarik satu bangku yg ada di meja lain, dan meletakkannya di dekat mejanya.
Alina hanya diam, masih belum mengerti dengan maksud Ersya yang tiba-tiba mengambil makanan dan minumannya. Sampai Ersya menarik lengannya pelan, dan menuntunnya ke arah meja di sebelahnya dia masih belum sadar.
"Nah, kau duduk bersama kami saja ya? kau cuma sendirian kan?" ucap Ersya yang membuat Alina tersadar.
"E-eh, tidak apa tuan, saya kembali ke meja saya saja.."
Alina berniat untuk segera bangkit dan kembali ke mejanya tadi, tapi tangan Ersya kembali menahannya. Alina berusaha untuk menolak ajakan Ersya lagi, tapi Ersya tetap keras kepala meminta Alina untuk duduk bersamanya.
"Sudahlah duduk saja, kau tidak akan menang jika berdebat dengannya.." ucap Vano tanpa melihat ke arah Alina. Saat ini Vano sedang fokus untuk menyantap makanannya.
"Iya nona, duduk saja disini bersama kami. tenang, kami bukan orang jahat.. jangan takut" ucap Danial, dia tersenyum kecil melihat tingkah canggung Alina.
"Maafkan tingkah teman-temanku nona, mari kita makan dengan nyaman.." Ucap Delvin sambil tersenyum.
Alina akhirnya memilih mengalah, dia melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda tadi.
Beberapa saat selanjutnya, kecanggungan itu perlahan memudar. Sekarang di meja itu hanya terdengar obrolan dan tawa. Alina sesekali terlihat menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diberikan padanya. Para pria itu memperlakukannya dengan baik, meski mereka tau kalau Alina hanya gadis biasa yang berprofesi sebagai pelayan.
__ADS_1
Alina awalnya merasa tidak nyaman, karena saat melihat penampilan para pria di hadapannya dia tau, kalau mereka bukan orang biasa. Alina sadar mereka pasti dari golongan atas. Namun, para pria itu sama sekali tidak terlihat sombong meski kesan angkuh sesekali terlihat. Jadi Alina merasa baik-baik saja karena mereka menyambut Alina dengan ramah.