
Hali menghela nafas nya lelah. Entah sudah berapa lama Hali habiskan dalam lamunan, duduk termenung di ruang tunggu ICU tanpa beranjak sedikitpun. Yang pasti saat ia kembali ke kamar Ken, matahari sudah mulai terbenam.
"Ken, kapan kau bangun?" Sontak Hali saat melihat adik terkecilnya itu telah duduk bersandar memandang semburat senja yang terlukis di depan mata. Wajah pucat nya terlihat jelas, ditambah dengan iris mata gold yang berpadu sempurna dengan cahaya jingga di langit.
Ken yang mendengar itu sedikit menggembungkan pipi nya. Itu pertanyaan aneh. Haruskah Ken tertidur selama Hali pergi? Ya, Hali meninggalkannya semenjak pagi usai memastikan Ken benar benar tidur dan kembali saat hari mulai gelap. Dan kini ia dapati bagaimana mata emas adiknya menatapnya sayu.
"Kak Hali dari mana?" Tanyanya lemah.
Di saat berniat hendak buka suara, bibirnya kembali terkatup. Sadar ia tak berhak memberikan penjelasan. Berikutnya hanya sepotong kata maaf yang terlantar.
"Maaf."
Hali akui, di sini ia yang salah. Membiarkan pikirannya sibuk bercampur bersama kesedihan yang berlarut, hingga melupakan orang lain yang juga butuh perhatiannya. Ia tau, seharusnya ia tak meninggalkan Ken selama itu sendirian.
"Ngga papa, tadi juga ada suster magang yang nemenin kok." Balasnya sembari mengurai senyum.
Ia memaklumi posisi Hali, bersama beban berat yang dipikul sebagai kakak tertua. Pasti sulit ada di situasi seperti itu. Di mana harus mengurus kedua adik nya seorang diri.
Hali mendekat, memangkas jarak yang memisahkan mereka. Jujur, senyuman yang muncul di bibir tipis itu membuatnya kembali merasakan sakit. Terlebih dadanya yang tengah. bergemuruh.
Senyuman tulus yang tak pernah ia temukan lagi semenjak kepergian orang-orang terkasihnya. Senyuman hangat yang dulunya selalu menjadi ciri khasnya. Senyuman yang nyaris terlupakan.
Meski keberadaannya seolah terlupakan, Ken tak mempermasalahkan nya. Ia tau ada yang lebih membutuhkan kakak nya itu.
"Kak Taufan.. Gimana? Apa sudah baikan? "
Pertanyaan itu selalu sukses memberikan garam di atas lukanya. Perih.
Hali lantas mengambil kursi di samping ranjang adiknya, menggenggam erat tangan dingin itu sembari berucap, "Taufan masih 'tidur', belum ada perubahan. Tapi pasti sebentar lagi dia bangun kok."
Selalu kata-kata yang menenangkan yang keluar. Ken hanya mengangguk. Ia tau kakak nya itu berbohong. Tanpa dikatakan, ia tau ada ketakutan yang Hali coba ubah menjadi keyakinan dan menyampaikannya dalam genggamannya. Hali juga ingin ia percaya kalau Taufan pasti baik-baik saja. Dan karenanya, Ken juga akan mempercayainya, meski entah kapan harapan itu datang.
__ADS_1
"Kak Hali udah makan?"
Hali terdiam. Ah.. Benar juga, ia belum mengisi perutnya seharian. Pikiran nya teralih pada hal lain sehingga ia melupakan kebutuhan tubuh nya nyang satu itu. Hanya seteguk air mineral dan, ah lupakan. Nafsu makannya sirna sudah, lidahnya saja terasa hambar untuk menikmati sepotong roti yang sengaja Khai belikan untuknya.
"Iya, aku bisa makan nanti." Jawabnya sekenanya.
"Jangan gitu, aku tau kak Hali sedang banyak pikiran. Tapi jangan sampe telat makan kayak gini, kalau kak Hali sakit nanti, siapa yang ngurus? Aku gak mau kak Hali juga sakit!" sahut Ken garang.
Bukannya takut, namun justru senyum Hali mengembang, dengan gemas ia mengusap surai legam adiknya, "Iya abis ini aku makan kok. Gemes deh. "
"Argh, jangan rambut! Nanti rambut ku berantakan kan gak ganteng jadi nya. " Ken langsung menepis tangan yang menghancurkan tatanan rambutnya.
Hali tertawa kecil. Ia selalu suka saat Ken memperhatikannya atau bersikap manja padanya. Karena selama ini adiknya itu selalu memasang topeng, bersikap layaknya seorang dewasa yang bijak. Ia bahkan meragukan kepribadian adiknya itu yang tak sebanding dengan kata-kata bijaknya. Jujur saja, ia merindukan sikap kekanak kanakan adiknya itu.
"Kak.. besok pagi pulang yuk!" Pintanya mendadak dengan suara seraknya.
Sepasang alis Hali saling bertautan, "Kenapa? Dokter bilang kau masih harus dirawat." Ken menggeleng, "Ngga papa, Ken Cuma kangen rumah aja. Pengen cepet-cepet pulang. Lagian rumah kelamaan di tinggal, ntar kalo ada maling gimana? Gak perlu khawatir... Ken udah sehat kok." Katanya meyakinkan mungkin meski ucapannya begitu kontras dengan rona pucat yang masih bertahan di wajah piasnya.
Yang orang lain tahu, Ken tertidur. Sebenarnya ia hanya terpejam, kesadarannya tak sepenuhnya terenggut karena pusing di kepala nya. Sayup-sayup ia masih bisa mendengar suara disekitarnya. Dan ia mendengar obrolan kakaknya bersama Khai pagi tadi.
Biaya perawatan Taufan tidaklah sedikit, dan yang bisa ia lakukan hanyalah.. Tidak ada.. Selain menambah beban pikiran kakak nya dan juga menyusahkan.
Setidaknya ia ingin sedikit membantu dengan tidak berlama-lama di tempat ini. Lagipula dia juga tidak terluka parah sampai harus mendapatkan perawatan intensif kan?
Meski Hali ragu, tapi mimik wajah Ken yang memohon selalu berhasil meluluhkan nya, "Ya udah, coba nanti aku ngobrol sama dokter."
"Tapi sebelum pulang Ken mau ketemu kak Taufan, boleh?"
Hali hanya mengangguk mengiyakan. Ia tau setelah kejadian itu, Ken pasti masih merasa bersalah sekaligus rindu pada kakak nya itu.
*******
__ADS_1
Aroma antiseptik tercium kuat di ruang serba putih itu. Aroma yang sebenarnya tak terlalu di sukai oleh Ken.
Di sebuah ranjang, seorang pemuda yang terbalut jubah steril itu bersimpuh, sekedar menyetarakan tinggi dengan ranjang dimana sosok itu terbaring dengan segala alat medis yang menempel di tubuhnya.
"Kak Taufan apa kabar? Maaf Ken baru sempat nengokin sekarang."
Pada angin ia bersuara. Sekuat tenaga menyembunyikan getaran di sana, menahan desakan air mata saat takdir kembali mempertemukan mereka meski berselimut luka.
Ia sudah berjanji untuk tidak menangis, meski sesak dengan brutal menghujam dadanya.
Jemarinya menggapai tangan yang terkulai terbalut perban itu dengan perlahan, seolah jika ia menggenggamnya terlalu kuat sosok itu akan hancur.
"Kak, Ken kangen. Kak Taufan kapan bangun?" Ruang itu begitu bising, tapi bukan dari ocehan yang biasa lelaki hyperactive itu lontarkan. Melainkan dengung nyaring dari alat monitoring di sampingnya, sementara sosok itu masih itu terlelap dalam pejam nya dengan begitu tenang.
"Kak Taufan pasti capek banget ya? Kalo kak Taufan capek, ngga papa kok tidurnya agak lama. Asal kakak jangan lupa pulang, Ken sama kak Hali nungguin di sini. Ken kangen... Bisa sama kak Taufan lagi... Ken... Bakal masakin makanan kedukaan kak Taufan nanti."
Meski ucapannya tak kunjung bersambut, Ken terus berceloteh. Berharap akan segera tiba waktu dimana mereka bisa mengobrol santai tanpa jarak yang memisahkan.
la yakin Taufan pasti mendengar suaranya, hanya saja ia tak bisa membalasnya. Meski kesadaran memisahkan mereka, ia tau, ikatan akan terus terhubung.
Sementara Hali, ia hanya memperhatikan dari jauh. Melihat interaksi kedua adiknya yang membuat hatinya sedikit nyeri.
Dengan langkah pelan ia mendekat, menepuk pelan bahu adiknya. "Ken, udah yuk." Sebenarnya ia tak tega untuk memisahkan mereka, tapi waktu kunjungan untuk pasien penghuni ICU sangat terbatas karena dikhawatirkan akan mencemari ruang yang sudah distrerilkan.
Ia bersyukur saat pagi menyingsing, keadaan Taufan stabil sehingga mereka bisa menjenguknya kali ini meski harus dibatasi.
Ken menoleh, mendapati raut wajah kakaknya yang memohon, ia masih ingin disini, menghabiskan waktu bersama Taufan. Tapi ia juga tau kalau ia tak bisa berlama-lama. Ia tak ingin kondisi Taufan kembali memburuk karena mereka terlalu lama di sana.
"Hari ini Ken diijinin pulang. Tapi Ken janji buat sering jengukin kak Taufan. Kak Taufan juga bakal nunggu Ken kan?"
Satu kecupan manis mendarat di punggung tangan Taufan. Dengan berat hati ia melepas genggaman tangannya. "Ken pulang ya kak."
__ADS_1