Dandelion

Dandelion
60. Bertaruh Dengan Waktu


__ADS_3

Di dalam kelas yang saat ini sedang kosong hampir tanpa penghuni, nampak seorang pemuda yang sedang membaringkan kepala nya di atas meja. Mata nya terpejam, menyembunyikan manik emas di balik kelopak mata.


Semilir angin berhembus masuk dari celah jendela di sebelahnya, membuat rambut hitam pemuda itu bergoyang.


Ya, begitulah cara nya untuk mendapatkan ketenangan walau hanya sebentar.


Walau begitu, pikiran nya masih belum bisa sepenuhnya tenang. Ia masih terus terbayang kondisi sang kakak yang masih terbaring di rumah sakit.


Bagaimana jika saat tak ada yang menjaga nya nanti, kondisi nya tiba tiba memburuk? Atau bahkan lebih buruk lagi. Pikiran pikiran itu terus saja menghantui nya, walau berulang kali ia coba untuk menepis nya jauh jauh.


Hari hari nya tampak suram. Tanpa ada semangat untuk menjalani keseharian yang biasa sibuk. Sekolah pun ia lewati sekedar untuk mengisi absensi, kemudian menantikan bel pulang. Ia mulai menghindari semua kegiatan OSIS dan seringkali terlihat melamun memandang ke luar jendela.


Perubahan dalam diri Ken yang bertolakbelakang dengan pribadi yang hangat dan ramah seperti kebanyakan orang mengenalnya.


Hanya ada satu waktu dimana senyum ia bentuk dengan begitu baik, berbalut dengan raut ceria tanpa sedikitpun terbaca sendu. Hanya saat bersama Hali lah topeng terbaiknya itu ia pakai untuk menutupi segala kegundahan hati.


Ia tak ingin lagi menambah pikiran kakak nya itu. Terakhir kali kakak sulung nya itu sampai pingsan karena kelelahan. Ia tak ingin membuat sang kakak kembali khawatir dengan perubahan sikap maupun kekhawatiran nya pada Taufan.


Ya, hatinya yang selalu berselimut pilu.


Sakit itu..


Rasa bersalah itu..


Semua sesaknya bertumpuk menjadi satu di satu titik, membuat luka di sana yang semakin besar dan tak kunjung menutup.


Menciptakan lara yang tak berkesudahan. Terasa amat perih menggores hati nya. Menyisakan bekas yang tak akan pernah hilang walau telah tergores waktu.


Ya, sebesar itu derita yang di tanggung seorang Ken Ravael.


Dirinya bukanlah orang yang sepenuhnya tersakiti di sini, hanya saja takdir yang menyikap fakta bersama nestapa, dan itu ikut melukainya. Hingga sulit baginya untuk bangkit dari keterpurukan itu. Bahkan untuk memaafkan diri sendiripun ia merasa tak berhak.


Bel yang menandai berakhirnya waktu istirahat menghancurkan segala angannya yang membumbung, kemudian melebur bersama bayu.


Sepasang netra itu terbuka perlahan, menampilkan kelereng emas dengan binar redup. Nafasnya terhela berat, mengudarakan ribuan beban yang menekan dadanya.

__ADS_1


Pandangannya menatap lurus ke depan, memerhatikan rekan sekelasnya yang kembali mengisi ruang kosong di bangku masing masing.


Yah, kesunyian sudah sirna sekarang.


Jam pelajaran berikut nya akan segera di mulai, tapi ponsel yang berasal dari saku celana menarik perhatian nya. Nama sang kakak yang terpampang di layar ponselnya mendadak menghadirkan rasa tak nyaman yang bertambat tanpa ijin. Mengundang sejuta tanya di benak lelaki itu.


"Halo, Ken?" Suara berat di seberang sana lebih dulu bicara.


"Kak Hali, kenapa? Ada apa?"


"Kau bisa kemari sekarang? Taufan, dia.."


"Halo, kak Hali?" Belum habis Hali berkata, panggilan itu terputus.


Seketika tangan nya gemetar. Ia merutuki dirinya yang lupa mencas ponsel nya sebelum berangkat tadi.


Pikirannya terlalu kacau dengan berbagai gambaran yang membawa bayangan kelam.


Tanpa pikir panjang, segera ia bawa langkahnya berpacu bersama waktu. Ia tak memikirkan sama sekali seruan teman sekelas nya yang melihat nya tiba tiba berlari keluar. Bahkan tanpa izin guru piket, Ken langsung menerobos keluar sekolah, mengabaikan satpam yang berjaga di pintu gerbang.


Seluruh pikir nya kini berpusat pada satu titik. Meski tak bisa ia pungkiri ada ketakutan mendalam yang perlahan melemahkan keyakinannya dan nyaris membuat pijakannya goyah.


Ia belum sanggup untuk melepas, apalagi untuk merelakan. Ia sudah cukup rapuh dengan garis hidup yang semesta tulis untuknya. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa jika harapnya justru berujung duka yang pasti akan membuatnya hancur.


Beribu kali ia menepis pikiran itu. Memaksa diri untuk percaya bahwa Taufan pasti baik-baik saja. Tapi angan buruk itu layaknya bumerang yang kembali tanpa diperintah. Lagi dan lagi.


Suara parau Halil masih terngiang begitu jelas. Sayang tak mampu ia baca sarat yang terkandung di dalamnya karena ponsel yang tiba tiba mati.


Jemarinya saling bertautan, matanya terpejam begitu rapat. Meski ia tak tahu apa yang akan menyambut nya nanti, harapan sepenuhnya ia curahkan dalam untaian doa yang dirapalkan dalam hati.


Taksi yang ia tumpangi berhenti tepat di depan rumah sakit swasta dimana Taufan dirawat. Usai menyodorkan sejumlah uang untuk membayar ongkosnya, ia langsung melesat masuk.


Lorong rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya. Aroma disinfektan yang tak mampu tersamarkan oleh pengharum ruangan menyapa indera penciumannya ketika kaki-kaki panjangnya lebih jauh menapaki lantai keramik putih.


Debaran yang yang terus beradu dalam dada belum akan reda sebelum ia tahu apa yang terjadi pada kakaknya. la masih berharap itu bukanlah hal yang buruk.

__ADS_1


Sampai raga itu mencapai satu ruang yang menjadi saksi bisu perjuangan Taufan, keyakinannya di patah. Ia merasa semesta tak lagi berpihak padanya.


Semuanya terhenti, bahkan waktu yang ia perjuangkan untuk sampai pada titik ini seolah tak lagi bergerak untuk nya. Pengkhianat.


Mendadak rasanya dunia berubah menjadi dingin di saat sebuah brangkar di dorong keluar ICU dengan seseorang yang terbalut selimut putih hingga ujung kepala.


"Tu-tunggu!" Serunya tak bertenaga. Langkahnya gontai mendekati sosok yang telah kaku di atas sana. Tenaganya menguap tak berbekas "Maaf, anda saudaranya? Jenazah akan segera dimandikan sebelum dipindahkan ke ruang jenazah." Ujar seorang perawat lelaki yang berdiri di samping brangkar itu.


"Maaf sus, boleh saya melihatnya untuk terakhir kali? Sebentar saja." Pinta Ken setengah memohon.


Suaranya serak penuh sarat akan duka, begitu pula sorot mata nya yang mengutarakan luka.


Para perawat itu saling bertatapan, berkomunikasi melalui pandang sesaat, sebelum akhirnya salah seorang dari mereka memilih untuk maju.


la menepuk bahu Ken pelan, sembari berkata, "Kamu kuat?" Ken mengangguk pasti meski dirinya sendiri tak yakin. Pijakannya goyah, ia merasa kesadarannya bisa terenggut kapan saja. Beruntung rengkuhan dari perawat yang berjaga dibelakangnya ikut menguatkan nya.


"Yakin?" Tanyanya lagi memastikan. Nafas panjang ia hirup, sekedar mengudarakan sesak yang membelenggu.


"Iya, aku nggak papa." Katanya pada akhir.


Tubuhnya kemudian dituntun untuk mendekat. Tangannya gemetar untuk menyingkap kain putih itu, tapi detik berikutnya dahinya berkerut dalam. "Kenapa?" Tanya perawat itu yang heran dengar gerak-gerik Ken.


"Dia, bukan saudara saya."


Ia merasa asing dengan sosok pria tua yang terbujur di atas brangkar itu. Bahkan sama sekali tidak mengenal nya.


"Loh? Kenapa kalian masih di sini?"


Suara lain datang menginterupsi. Seorang dokter lengkap dengan snelli putihnya nampak baru saja keluar dari ICU.


"Dokter Tadachi?"


Lelaki paruh baya itu sedikit terkejut mendapati kehadiran putra mendiang sahabatnya di sana. Tapi cepat-cepat la mengubah ekspresinya dengan menerbitkan seulas senyum hangat dibibir nya, kemudian datang menghampiri


"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" Sapanya ramah. "Kak Taufan, apa dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang?" Desak Ken tak sabar.

__ADS_1


"Ah, Taufan? Dia..."


__ADS_2