
Air mata jatuh dari kelopak mata nya, melihat mata sang manik biru itu kini sudah sepenuhnya terpejam.
Yang namanya penyesalan memang selalu datang di akhir.
Tak peduli seberapa banyak ia memohon pada semesta, waktu tak akan pernah kembali. Penyesalan itu selalu ada dan akan terus hadir, sekalipun ia bertaruh pada takdir.
Yang bisa ia lakukan hanya menangis, memohon pada iblis berwujud manusia yang tak lagi punya hati, bahkan empati.
Dada nya terasa seolah tertusuk. Saat kontak mata di antara mereka seolah menyiratkan permintaan maaf dari sang kakak.
Ken menggeleng kuat, seolah mengerti maksud sorot mata Taufan yang perlahan terpejam.
Jika ia tahu kehilangan sosok yang selama ini tak ia anggap, akan sama menyakitkannya seperti di saat ia kehilangan kedua orang tuanya, ia tak akan menyia-nyiakan setiap detiknya bersama Taufan. Ia tak akan pernah membiarkannya terluka. Derita Taufan juga 'kan menjadi deritanya.
"KAK TAUFAN!"
Ken mencoba melepaskan diri, walau semua usaha nya selalu sia sia. Ia berteriak keras, namun suara nya tak lagi sampai dalam pendengaran sosok pemuda ber mata biru itu.
Ada nyawa yang ingin ia selamatkan. Ada senyum yang ingin ia pertahankan. Ada keberadaan yang ingin ia lindungi.
Mendadak kilas balik masa kecilnya bersama Taufan berputar layaknya film di awang. Semua terasa begitu indah.. seperti mimpi..
Ya, itu memang mimpi. Sisa-sisa dari kenangan manis. Realita memang selalu terasa lebih menyakitkan. Sedu yang tak pernah terbayang sebelumnya saat kakaknya tengah meregang nyawa di depan matanya.
Pisau itu terangkat tinggi, seperti tangan malaikat kematian yang hendak merenggut paksa kehidupan dari raga sang kakak.
"JANGAAAAN!"
Tuhan..
Jika ini hukuman bagiku, biarlah aku yang menanggungnya.
Tapi jangan dengan mengambil Kak Taufan..
Aku mohon..
Untuk sekali ini saja..
Dengan segala kesempatan yang kumiliki..
Ijinkan aku menebus waktu yang telah berlalu..
Ijinkan aku menghapus lukanya..
Ijinkan aku untuk mengukir senyum itu sekali lagi..
Aku memohon untuk kesempatan kedua dalam hidupku..
Aku ingin membuat kak Taufan bahagia..
Ia menutup mata nya erat, namun suara keras mendadak mengejutkan nya yang membuat pemuda itu langsung membuka mata nya, melihat ke arah suara itu berasal.
Di hadapan nya, Hali yang baru saja datang meluncurkan pukulan keras tepat pada wajah pria yang mencoba membunuh kakak nya tersebut.
Waktu yang sungguh tepat, Ken tersenyum saat melihat sang kakak sulung datang untuk menyelamatkan Taufan di detik detik terakhir.
Ia menarik nafas lega melihat kakak nya itu.
Mata emas nya hanya memerhatikan bagaimana Hali menghampiri Taufan dengan raut wajah ketakutan, mendekap tubuh itu erat.
"Taufan, sadarlah! Taufan.. Hei, kumohon buka matamu."
la menepuk pelan pipi yang dipenuhi luka lebam itu, sambil sesekali menggoncangkan tubuhnya. Namun seolah Taufan begitu lelap dalam pejam nya, kelopak mata itu enggan terbuka. Sang empunya sudah terlalu jauh tenggelam dalam kegelapan tak berujung.
Sementara, Mervin mengusap pipi nya yang terasa perih akibat pukulan Hali. Ia berjalan mendekati pemuda itu, "Kau datang terlambat Hali. Lihat? Satu adikmu jadi korban kan? Sudah ku bilang aku tak pernah main-main dengan ucapan ku."
Mendengarnya, membuat nafas Hali tercekat. Melihat kondisi Taufan membuat hatinya tertusuk. Sungguh miris. Luka mendominasi nyaris di sekujur tubuhnya. Darah segar yang mengalir dari hidung dan mulut menodai hoodie dan lantai disekitarnya. Seketika tubuhnya gemetar hebat. Ia gagal melindungi adiknya.
Mata nya yang berselimut kabut tak menyembunyikan kilatan amarah di manik ruby itu.
__ADS_1
"Sialan! Apa yang kau lakukan pada Taufan hah!?" Teriak Hali emosi. Detak jantung nya memburu menatap tajam pria di hadapan nya dengan emosi yang meluap luap.
"Wah wah, apa begitu caramu menyapa teman lama ayahmu? Kau memang tak pernah berubah ya. Masih saja temperamen."
"Diam kau iblis sialan! Aku gak bakal segan menghabisi orang yang sudah membuat Taufan seperti ini!"
Mervin menyeringai penuh arti, "Silahkan. Bunuh aku, itu kalau kau mampu."
Dengan hati-hati, Hali membaringkan tubuh Taufan. Tangannya terangkat pelan, membelai paras pucat adiknya.
Sekali lagi hatinya terasa perih jika mengingat mata biru itu yang selalu menatapnya penuh riang kini terpejam rapat.
"Bertahanlah, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat." Bisik nya di dekat telinga Taufan.
Ia lantas bangkit, melepas aura membunuh yang terasa pekat hanya dari tatapan nyalangnya. Tak terbaca ketakutan di mata merahnya. Tak ada lagi keraguan menyambangi hatinya. Tak ada yang tersisa selain amarah yang membutakan dan nafsu balas dendam.
Dua bawahan Mervin sudah lebih dulu menutup jalannya, memasang tubuh untuk melindungi Mervin di belakang. Meski kondisi mereka tak bisa dikatakan baik, tapi tak lantas membuat Hali menaruh iba. Ia sama sekali tak ada niatan untuk melepas siapapun yang ada di ruangan itu.
"Maafkan aku yang menyambut mu kurang meriah. Tak ku sangka adikmu itu tangguh juga, dia bisa menyapu orang-orang ku yang berjaga di luar." Ujar Mervin santai sembari menyesap sebatang rokok dengan bara di ujungnya.
"Ku harap mereka berdua tidak mengecewakanmu. Setidaknya mereka sudah mengikuti berbagai macam pelatihan beladiri untuk saat seperti ini."
Sesaat pandangan mereka saling beradu. Ujung bibirnya terangkat, mengumbar senyum sinis yang terlihat mengerikan di wajah garangnya. Ia berbalik dan mendudukkan diri di sofa panjang dengan nyaman. Seolah tengah menikmati pertandingan.
"Jadi dia abang dari bocah sialan itu?" Ujar pria bertubuh tinggi sambil mengepalkan tangan nya.
"Baguslah, aku jadi bisa membalas pukulannya. Adik sialan mu itu sudah berani memukul wajahku. Akan ku beri kau pelajaran sebagai balasan nya." Imbuh pria berambut ikal tanpa ekspresi.
Jemari Hali terkepal erat hingga kukunya memutih. Habis sudah kesabarannya, ia tak punya waktu untuk melawan rendahan seperti mereka.
Pria itu berbalik, menatap sesaat dan tersenyum tipis, "Maaf membuatmu menunggu. Aku-"
Bug!
Satu pukulan kuat telak yang mendarat di wajahnya cukup untuk membuat pria itu nyaris terjatuh.
Ia kembali menerjang dan langsung mengarahkan serangannya ke kepala. Dua tendangan beruntun membuatnya nyaris limbung meski berhasil menahannya.
Tak berhenti sampai di sana, Hali bahkan tak menyia-nyiakan sedetikpun dari kesempatan yang ada. Ia mencengkram kuat bahu si lawan, mendaratkan lututnya dengan keras tepat di diafragma lelaki itu. Berkali-kali, sebelum menjatuhkannya dengan pukulan siku di punggung. Nafas Hali memburu, namun ia tak ingin melepas lawannya begitu saja.
Ia menarik rambut ikalnya, memaksanya untuk menegak dan melempar bogem mentah, membuatnya kembali tersungkur di lantai.
"Bangun! Kau bilang mau menghajar ku! Huh?" Hali emosi. Tanpa belas kasih, ia terus menghajar lelaki itu tanpa ampun hingga wajahnya terlihat penuh lebam.
Kini semua orang tau semengerikan apa jika Hali mengamuk. Bahkan Ken yang hanya duduk menonton, bergidik ngeri saat kakak nya nyaris mematahkan tulang lawan. Tapi mereka pantas mendapatkannya setelah semua yang mereka lakukan pada Taufan.
Tiba-tiba seseorang mendekapnya dari belakang. Lelaki botak itu mengunci pergerakan Hali dengan tubuh besarnya.
"Hey, Jon! Cepat bangun dan hajar bocah ini!" Sahutnya.
Pria yang dipanggil Jon itu tak menyahut, hanya mengikuti insting buasnya untuk bangkit meski berkali-kali gagal menyeimbangkan diri. Kesadarannya hanya tersisa sebagian, intuisi balas dendamnya yang mendorong pria itu untuk kembali bangkit.
Pandangannya kabur. Serangan yang Hali bukan main. Meski ia sering beradu otot, namun tak ia pungkiri untuk ukuran remaja, tendangan itu bisa membuat lawannya tumbang seketika jika ia tak memasang pertahanan tadi.
"Kau tau caranya berkelahi huh? Akan aku tunjukan bagaimana seorang petarung profesional bertarung!" terlihat seperti orang linglung..
Hanya berselang beberapa detik sebelum Pria itu memberikan serangan balasan, tubuhnya sudah lebih dulu terhempas menabrak tembok di sisi kiri dan berakhir dengan tak sadarkan diri.
Mervin yang sedari tadi menyaksikan, masih terdiam di singgasananya. Terlalu singkat untuk dikatakan sebuah hiburan. Ia menghela nafas panjang, terpejam sesaat, "Sudah kuduga orang-orang tak berguna itu ngga bakal bisa menghentikan mu."
"Hanya itu? Aku yakin anak buah mu banyak. Keluarkan saja, aku masih sanggup orang untuk menguburku di tempat ini." Ujar Hali menantang.
Mervin tersenyum simpul, "Tenang saja, aku sendiri yang akan mengubur mu di tempat ini." Jas hitamnya ia sampirkan di bahu sofa. Beberapa kancing atas kemejanya sengaja ia lepas, memamerkan tato tengkorak hitam di dadanya yang bidang. Otot yang dilatih sempurna terlihat dari kemeja putihnya yang membalut di tubuh atletisnya. "Aku sedikit menyayangkan pertemuan kita ini setelah sekian lama. Waktu terakhir kita bertemu kau masih kelas 3 SMP, kau tumbuh dengan cepat ya?" Mervin berbasa-basi.
"Kau ingin membalaskan dendam adikmu? Nah, majulah!" Dengan cepat Hali meluncurkan tendangan nya yang sayangnya mampu di tahan oleh pria itu.
"Kau mau bekerjasama denganku? Kau bisa jadi tangan kananku." Ujar Mervin seraya menurunkan pertahanannya saat serangan Hali melonggar. la berputar, menarik tangan Hali dan memelintirnya ke belakang membuat Hali memekik tertahan. Pasalnya cengkraman kuatnya membuat lengannya terasa begitu sakit.
"Kau pikir aku akan menerima tawaran mu? Dalam mimpi!" Lagi lagi Hali meluncurkan tendangan pada pria itu.
__ADS_1
Hali kembali melancarkan serangannya, hendak menyerang area perut tapi justru menjadi bumerang baginya. Mervin mampu menahannya.
"Kau tau kenapa aku berbuat sampai sejauh ini?" Mervin kembali membuka dialog.
"Aku tak peduli apapun alasanmu sampai melakukan semua ini. Kau sudah membuat adikku terluka, kau harus membayar mahal atas semua yang kau lakukan pada adik ku!"
Hali mengarahkan pukulannya ke belakang, tapi Mervin membelokan serangannya dan berakhir dengan memiting kepala Hali. Cengkeramannya sangat erat sampai membuatnya kesulitan bernafas.
"Benarkah? Sekalipun aku yang membunuh orang tuamu?"
DEG
Seketika tubuhnya menegang, "Ma-maksudmu, kebakaran itu, kau yang..?"
Tanpa harus mendengar jawaban dari mulutnya, senyum seringai Mervin sudah mampu menjawab nya.
Rahang Hali kian mengeras. Ia tak pernah menyangka, semua kejadian yang menimpa keluarganya, kecelakaan yang menewaskan dua orang yang paling ia sayangi, hingga penculikan Ken sudah direncanakan.
"Sialan! Memang apa salah keluargaku, hah?"
Sial! Hali sudah kelelahan untuk memberontak. Kuncian lengan Mervin membuatnya pening karena kesulitan menghirup oksigen sehingga sulit melepaskan diri.
"Kau tanya apa!? Kau tanyakan saja pada ayahmu di akhirat sana bocah dungu!" Hardik Mervin yang terpancing emosi. Satu pukulan yang mendarat mulus di wajah Hali membuatnya jatuh.
"Ayahmu itu sudah menghancurkan hidupku! Semua yang kumiliki! Dan sekarang giliran ku untuk mengambil semua yang dia miliki."
"Hanya karena dendam, kau dengan mudahnya membunuh orang tuaku? Kau bahkan melakukan semua ini hanya untuk melampiaskan kekesalan mu!?"
"Kau pikir sudah berapa lama aku mendekam di penjara gara-gara ayahmu hah!? Harusnya kau mati saja bersama orang tuamu! Melihat wajah kalian semua membuatku muak!"
Duak!
Tendangan keras yang mendarat di perut Hali membuatnya terguling beberapa meter ke belakang. Ia terbatuk keras, merasakan mual yang menyiksa di ujung kerongkongan nya.
Jemari Hali terkepal erat, meredam sakit di tubuhnya menghantarkan amarah yang tak terbendung. Sepasang iris nya menatap penuh kebencian pada sosok yang menjulang di hadapannya.
"Tak bisa ku maafkan!" Dengan susah payah ia berusaha bangkit.
"Kau membunuh ayah dan ibu. Kau menculik Ken, kau juga menyakiti Taufan. Kau, iblis sepertimu pergi saja kau ke neraka!"
Dengan sisa tenaga yang Hali miliki, ia berlari menerjang. Dalam dimensi waktu yang terasa melambat, meski sesaat, ekor mata Ken melihat seringai misterius yang Mervin tujukan padanya. Senyum yang seolah menjadi tanda akan dimulainya sesuatu yang besar.
Mata emas itu membulat seketika, "Kak Hali! Awas!"
Ken berseru saat tangan Mervin bergerak menarik sebuah pistol yang ia simpan di balik punggungnya.
Ken berseru saat tangan Mervin bergerak menarik sebuah pistol yang ia simpan di balik punggungnya.
Hali tercekat, sudah terlambat baginya untuk menghindari tembakan dengan jarak sedekat itu.
Door!
Door!
Desing peluru nyaring terdengar di seisi ruangan, melesat menembus kulit. Semuanya terjadi dalam satu kedipan mata. Pekatnya darah merah bersimbah menodai lantai keramik di bawah.
Bruk
Tubuh itu tumbang.
Pandangannya kosong.
Menatap tak percaya pada sekian detik yang baru saja berlalu..
"A-AAAAAKH!"
Dua peluru yang kini bersarang di tubuhnya meringkuk sembari mencengram erat titik yang menjadi pusat rasa sakitnya.
TBC
__ADS_1