Dear Era

Dear Era
Keputusan ayah


__ADS_3

" apah yang kamu pikirkan pendek bodoh " jin memeluku dari belakang dan memgusap rambutku.


dengan cepat aku menyeka air mataku...


" tidak ada, aku hanya menunggu pangeranku turun dan menjemput aku disini " ucapku tersenyum lebar.


jin melepas pelukanya dan ikut duduk disamping aku.


" disini sangat dingin, ayo masuk" jawab jin merangkul bahu aku.


" pangeran kamu sudah datang kan " ucap jin dan mengecup kepalaku.


" aku mau duduk disini dulu sebentar, peluk aku " ucapku


" kita kembali yak, sudah larut udara makin dingin " jawab jin dan membuka mantelnya.


membuka mantel tebalnya itu dan memasukan tubuhku dipelukanya... nyaman. hanya kata itu yang bisa aku artikan dengan prasaanku sekarang...


" kita berjalan sebetar yak, aku ingin kesana" ucapku yang mendongakan wajahku melihatnya.


" habis ini kita balik, wajahmu sangat pucat " jawab jin lalu aku melepas pelukanya dan berdiri memegang telapak tanganya.


" kita pulang saja. tanganmu sangat dingin sayang " ucap jin berdiri dan menggengam tanganku, membujuk agar kita pulang ke apartment.


" aku mau berjalan kaki denganmu seperti mereka " ucapku lemah dan menunjuk sepasang kekasih yang sedang berjalan di taman.


Jin setuju tapi wajahnya begitu khawatir. melepas mantel yang super tebal dan panjang itu...


" baiklah kita berjalan2 sebentar, tapi kau pakai ini " ucap jin dan akn memakaikan aku mantelnya yang seperti selimut jika aku memakainya.


" aku sudah memakai ini jin, itu buat kamu aja, lagian sangat besar jika aku kenakan " jawabku tersenyum.


" pakai saja "jawabnya memaksa.


"kalo aku yang pakai, aku tidak bisa memelukmu, aku tidak mau jin " jawabku mengembungkan pipi.


" tapi tangan mu sangat dingin " ucap jin.


" ada tangan besar ini kan, yang akan menghangatkan tangan ku jika aku mengigil" jawabku memegang tangan jin . menatapnya dan tersenyum.


" baiklah aku mengalah malam ini " ucap jin dan memeluku sebentar.


Kita berjalan dan aku memeluk lengannya..


" aku melihat tagihanku tadi, kenapah kamu tidak pernah memakai kartu yang aku berikan " tanya jin. dan berjalan bergandengan.


" aku ada tabungan jin, ayah juga tiap bulan meneransfer aku buat jajan dan biaya kuliahku" ucapku masih memeluk lenganya.


" aku menyuruhmu berhenti bekerja karna aku mau kau memakai uangku, hasil kerja kerasku, aku bekerja untuk aku dan kamu, dari pertama kita memulai hubungan ini, kau tanggung jawabku " ucapnya dan berhenti.


" apah kau tidak mempercayaiku " ucapnya memegang bahu aku dan menatapku.


" itu bukan hak aku jin " ucapku


" itu hak kamu. semuah yang aku miliki kau juga berhak atas itu " ucap jin penuh penekanan.


Aku menatapnya. " Siapa aku jin " tanyaku


jin bingung atas ucapanku.


" kau tunanganku, calon istriku, kau ibu dari anak2ku kelak" jawabnya mewadah wajahku..


" jin apah kamu mencintaiku" tanyaku dengan suara lemah, jin mengusap pipiku dengan ibu jarinya.


" sangat, bahkan lebih dari dirimu" jawan jin menatapku serius.


" kau menyayangi aku juga jin " tanyaku lagi dengan mata berkaca2.


" aku menyayangimu sangat azera, aku bisa gila jika kau meninggalkan aku, percaya padaku hanya kamu wanitaku " ucapnya lalu memeluku sangat erat.


" percaya padaku kita akan baik2 saja, kau merasakan ini kan " ucap jin menuntun tanganku menyentuh dadanya. detak jantungnya berdetak sangat cepat.


" di dalam ini, dia akan berdetak untuk kamu, dan akan berhenti berdetak jika kamu meninggalkan aku " ucapnya mengusap pipiku dan mencium keningku.

__ADS_1


aku juga mati, jika semua kehangatan ini menghilang begitu saja jin, aku takut, bahkan sangat takut jika sewaktu2 kau berubah dan meninggalkan aku dengan rasaku.


Aku memeluk jin sangat erat dan bersusah payah menahan sesak agar aku tidak menangis di hadapanya.


" kita pulang " ucap jin dan aku melepaskan pelukanya jin menggenggam tanganku.. lalu berbalik arah dan berjalan pulang...


" jin " aku memanggil jin dan berhenti mengikutiku.


" kenapah " jawab jin. aku menggeleng dan melangkah kan kaki perlahan, meninggalkan jin.


" naik " ucapnya berjongkok di hadapanku.


Lalu aku tersenyum lebar dan naik ke punggungnya.


" sayang jinie" ucapku bahagia mengalungkan lenganku di lehernya. mencium pipi jin,


yang sedang nggendongku...


" yang satunya " ucap jin. dan aku hanya tertawa.


" nanti kalo sampai, aku mau tidur di peluk ya" ucapku di punggung jin.


" bukan kah itu sudah tiap malam, tidur dengan memelukmu " jawab jin.


" malam ini aku yang akan meluk kamu seperti ini " ucapku melingkarkan kakiku di pinggangnya dan mencium leher jin.


" hahha kau sangat nakal " ucap jin tertawa. karna tingkahku.


" kau sadar sayang. malam ini kau begitu manja padaku " ucapnya lagi dan masuk ke lift...


" aku takut besok kamu hilang " ucapku sepontan.


" aku akan tetap didekatmu " jawab jin.


ting!!!


pintu lift terbuka. dan jin berjalan ke kapartmen..


" sudah sampai " teriakku dan turun dari punggung jin. menaruh mantelku ke gantungan. dan berjalan ke dapur.


" mau kemana " tanya jin yang sedang melepas mantelnya.


"mau bikin susu coklat, kau mau teh atau kopi " jawabku.


" kamu mandi dulu sana " ucapnya. mendekat ke arahku.


" tidak, nanti saja " ucapku melanjutkan langkah aku ke dapur.


" kalo tidak mandi, kau tidur di luar, aku ngga mau meluk kamu " ucap jin dengan nada di buat2 .


" aku pengen susu coklat jin, nanti abis minum aku mandi " jawabku memelas.


" ya sudah, kamu tidur diluar malam ini " ucap jin dan masuk ke kamar. aku lari dan menerobos masuk kamar lebih dulu. lalu masuk ke kamar mandi.


" ahahha dasar pendek " jin ketawa di luar.


" aku tunggu di meja makan " teriak jin dan keluar kembali dari kamar.


jin sedang di dapaur. membuatkan aku susu coklat hangat dan membuat kopi untuknya...


...~~~...


Berjalan ke meja makan karna aku sudah selesai mandi dan sudah mengganti baju.


" mau aku buatkan makan " tanya jin yang sedang menyeruput kopinya.


" tidak, pas nonton kami makan lebih dulu sebelum pulang " ucapku dan meminum susu buatan jin


" apah kamu sudah makan jin " tanyaku pada jin.


" sudah " jawabnya. lalu berdiri dan menaruh gelasnya di dapur.


" habisakn, trus langsung tidur, aku ke kamar duluan " ucapnya dan mengusap kepalaku.

__ADS_1


Aku tersenyum lebar dan mengangguk. menghabiskan susuku lalu membersihkan gelasku tadi bekas kita minum.


Selang beberapa menit aku masuk ke kamar. dan menutup kembali pintu kamar..


" jiin " aku memanggil jin yang sudah tertidur yang posisinya memunggungi aku. lampu kamar sudah di matikan hanya lampu tidur saja yang menyala.


" sini tidur, ini sudah sangat larut "ucap. jin membalikan badanya menghadap aku.


Aku naik ke ranjang, masuk ke selimut dan tertidur memeluk pinggang jin. menjadikan lengan jin sebagai bantal, jin mencium keningku.


"tidurlah " ucap jin dan mengusap bahu aku.


Tidak menunggu lama aku dan jin tertidur pulas......


...~~~...


Di sebuah rumah besar sedang ada perbincangan yang serius antara anak dan ayah.


" pertunanganmu bukan minggu ini. aku undur tapi minggu depan " ucap ayah jin.


" kenapah ayah menempatkan anakmu ini di antara dua pilihan yang tidak bisa aku pilih ayah " ucap jin


" aku hanya ingin kau menerukan usahaku bersama kakamu jin, nura wanita baik ayah tau dia " jawab ayah jin.


" tapi aku tidak mencintainya, itu akan membuatnya terluka lebih dalam lagi ayah " jelas jin.


" cinta akan tumbuh seiring brjalannya waktu jika kalian selalu bersama " ucap ayah jin


" aku mencintai azera ayah bukan nura " jawab jin lagi.


" tidak ada pilihan jin, ayah sudah tau dia, latar belakang dia aku sudah tau jin, sangat mudah jika ingin membuatnya pergi darimu " ucap ayah jin dengan penuh penekanan.


" dengarkan anakmu, ini bukan keputusan yang baik untuk keluarga kita ayah "ucap. mami


" ini keputusan ayah mih. ayah sudah menyiapkannya minggu depan kau akan bertunangan dengan nura jin " jawab ayah jin.


" memaksa seperti ini kau akan menyesal ayah " ucap joong masuk ke ruangan keluarga.


" aku menerima perjodohan itu karna aku dan penti sama2 saling mencintai ayah. kita sudah berhubungan denganya sebelum ayah bekerja sama dengan ayah penti " ucap. joong lagi.


" αdia juga bisa mencintai nura seperti kamu mencintai penti joong " jawab ayah jin. dengan kekerasan kepalanya. diruangan itu tidak ada yang bisa merubah kekerasan hati nya itu


" yasudah terserah ayah. tapi aku tidak ingin ada pesta besar ataupun ada media meliput keluarga kita, aku akan bertunangan dengan pesta privat " ucap jin dan berdiri dari duduknya.


" kamu yakin sayang " tanya mami jin.


" kau pikirkan azera jin "ucap joong.


" siapa azera " tanya mami jin.


"kekasih jin mami " ucap joong.


" ayah anak kita punya kekasih, masih perlukah perjodohan ini " ucap mami bertanya ke ayah jin.


" dia bukan wanita yang tepat untuk anak kita. park nura jauh lebih baik dari dia " jawab ayah jin.


" tapi mreka... " ucapan mami jin terpotong.


" aku pulang, terserah mau mu ayah, tapi ingat janjimu, jangan pernah menyentuh azeraku " ucap jin dan mencium maminya.


" aku pulang mii, dia pasti menunggu aku " ucap jin dan tersenyum pada joong.


" aku akan membantumu jin " ucap joong menepuk pundak jin.


Jin melirik ayahnya, dan pergi keluar...


" kau menyakiti anakmu sendiri ayah, jin kita sudah dewasa tapi kau mengancamnya agar dia mau menurutimu, kau sangat mengecewakan " ucap mami jin dan pergi meninggalkan joong dan ayahnya yang akan membicarakan maslah pekerjaan....


" jin sangat mencintai wanita itu ayah " ucap joong.


" aku tidak ingin membahas itu lagi joong "jawab ayah jin. joong membuang nafas berat..


mreka membahas pekerjaan.....

__ADS_1


__ADS_2