Dear Era

Dear Era
Kepergian bunda dan ayah


__ADS_3

Hari ini mimi kuliah pagi, Aku sedang bergulat dengan peralatan dapurku, menyiapkan sarapan untuk mimi dan aku sendiri.


" kaka kau menaruh tali sepatuku dimana.. ". Teriak mimi di kamarnya sangat menggema.


"Astaga mimi ini masih pagi, berhenti berteriak". Jawabku yang sudah ada di depan pintu kamar mimi dan tali sepatu di tangan kananku.


" tali.. " sebelum mimi melanjutkan ucapanya. aku lebih dulu melempar tali sepatu itu ke arahnya.


" Besok2 kau rapihkan sendiri pakaianmu, belajar mandiri ". Ucapku dan berbalik berjalan ke dapur, kembali menyiapkan sarapan untuknya.


" bawel ". Ucap mimi, aku hanya bisa menggelengkan kepala saja .


.


.


.


Beberapa saat kemudian, telpon rumah berdring..


" ..."


" iyah ini saya sendiri nona". jawabku dengan mata tertuju pada mimi yang sedang duduk di meja makan menungguku.


"...."


Brakk!!!! suara gagang telpon itu jatuh dan menggantung, suara wanita dari telpon itu masih terdengar.


Bagai di sambar petir tanpa hujan, cambuk berduri mengenai sebagian tubuhku aku menatap mimi dan menangis dengan jeritan yang membuat mimi berlari ke arahku.


Aku terduduk bersandar di meja ruang tamu dengan air mata yang membajiri wajahku.


" kaka ada apah". Tanya mimi memeluku ikut terduduk. mimi terus menanyakan hal yang sama. aku tidak bisa memberi tahu adiku.


*Belum cukup kau mempermainakan aku tuhan, kenapah harus kedua orang tuaku...


Bagimana bisa aku melanjutkan hidupku tanpa mereka, bagaimana kau bisa sejahat ini terhadapu*... batinku memeluk mimi yang juga ikut menangis.

__ADS_1


" kamu masih ada aku mi, kamu punya aku dan anakku". Ucapku mengusap kepala mimi.


" Ada apah ka. kenapah kau bicara seperti itu". jawab mimi kebingungan. lalu mimi melepaskan pelukanya dan memegang gagang telpon.


"Halo". Ucap mimi, telpon dari staf bandara tadi belum mematikan telponya.


"nona, apah kau baik2 saja disana". ucap staf itu, lalu mimi menoleh ke arahku.


"Ada apah mbak katakan yang jelas " . jawab mimi serius.


" Pesawat yang tuan dan nyonya atmajja tumpangi mengalami kecelakaan di perairan india nona, saya harap anda dan sekeluarga di beri ketabahan, saya hanya menginformasikan ini, terimaksih ". jelas staf itu dan mimi diam tanpa menjawab lalu menaruh gagang telpon itu ke tempatnya.


Mimi menoleh ke arahku dengan air mata yang keluar begitu deras tanpa suara mimi terus berjalan ke arahku dengan tatapan yang begitu menusuku.


Aku harus kuat untuk mimi dan anakku, aku harus kuat... Aku membenci semua ini aku benci pertemuan...


" ka.. ka.. bunda... sama ayah ada di indonesia kan". Ucap mimi dengan suara gemetar,berdiri menghadapku yang masih terduduk.


"jawab aku ka.... mbak itu berbohong kan, kemaren ayah sama bunda bersama kita... mereka jahat ka... ayah bunda jahat..." teriak mimi histeris memukul keras dadanya beberapa kali.


Aku berdiri memeluknya dan mencegah tanganya untuk menyakiti dirinya sendiri.


" kaka... aku begitu menurut, aku tidak pernah membatah perkataan ayah sama bunda, kenapah mereka ninggalin aku seperti ini ka.. apah aku nakal " ucap mimi masih menangis dengan histeris di pelukanku, aku tidak mencawab. aku hanya memeluknya dan mengusap kepalanya. mencoba menenenangkan mimi.


Aku tau betul perasaan mimi saat ini, dia tidak pernah jauh dari ayah dan bunda, tapi sekarang, waktu begitu kejam terhadapku dan mimi, waktu mengambil semua kebahagiaanku, aku memebnci waktu... waktu selalu mempermainkan emosiku setiap detiknya.


.


.


.


.


Di area bandara begitu banyak orang yang mengantri mreka menangis merasakan hal sama sepertiku, kehilangan.


dengan kegelisahan aku menghampiri salah satu staf bandara dan menanyakan informasi tentang pesawat itu.

__ADS_1


" tidak ada satupun penumpang yang selamat dalam kecelakaan ini nona, kami sudah menemukan pesawat itu dan sedang mengefakuasi semua korban " Ucap staf itu dan meninggalkan aku dan mimi yang masih mematung. di layar depanku terpapang jelas daftar penumpang, dan begitu menamparku saat nama Atmajja begitu jelas tercantum disana.


mimi memelukundan terus menangis. wajahnya begitu pucat dan rambutnya berantakan.


" tenanglah mi, duduk disini aku kan membli air untukmu" Ucapku berusaha tenang di hadapan mimi.


Lalu aku berjalan masuk ke toilet. dan tubuhku merosok ke bawah memechakan sesaku melihat wajah kacau mimi yang terus menerus menangis memeluku.


" Ayaaaaah.. era harus apa yah. era juga sakit, era harus gimana ayah, bunda. " ucapku lirih, lalu ada orang masuk ke toilet dengan cepat aku bangun dan membasuh wajahku.


" Jika ingin menangis menangislah nuna, jangan di tahan itu hanya akan menyakitimu jika kau tahan ". Ucap seoarang gadis yang aku rasa dia seumuran dengan mimi. Lalu aku tersenyum pada gadis cantik itu meninggalkan toilet,


berjalan ke arah mini market bandara, membeli sebotol air dan kembali ke mimi.


Aku melihat mimi sedang duduk dengan mbak2 cantik di sampingnya.


" maaf anda siapa ". Ucapku berdiri di hadapan mimi dan mbak cantik itu yang mengenakan pakaian resmi sperti pegawai kantor.


" Apah anda nona azera atmajja". Ucap novi sekertaris antoni atmajja, tidak lain adalah ayahku.


" iyah mbak". Jawabku bingung. dia cantik dan sopan menurutku.


" Saya novi rastanti, sekertaris tuan antoni, saya kesini untuk bertemu dengan nona azera dan nona mimi". Ucap. novi


" kita pulang, bicarakan ini di rumah ". Jawabku


" baiklah nona"


Kami meninggalkan bandara karna. aku sudah mengurus semua hal disana...


Aku memberi teh hangat ke novi dan mimi sedang istirahat dikamarnya. dan tidak lama tanteku datang dengan tergesah2 .


"Sayang... apah kau baik2 saja, diaman anakku ". Ucap tante kia menanyakan mimi, karna tente kia selalu bilang kalo mimi adalah anaknya.


" Mimi sedang istirahat tante". Jawabku. memeluknya.


" selamat malam nyonya kia " Sapa novi.

__ADS_1


lalu tante mengiyakan dan kita bertiga mengobrol serius malam ini...


Aku memblokir semua akun aku di sosial media aku mengganti nomor ponselku. aku menjual rumahku di jepang. tapi tidak dengan rumah utamaku di indonesia. semua telah berubah setelah kepergian orang tuaku...


__ADS_2