
Di dalam kamar hotel yang luas dan di dominasi warna putih . dengan ranjang yang besar menurutku, sekarang yoosun tidur di atas ranjang bernuansa putih itu, ia tertidur dengan lelap karna tadi terlalu banyak dia menangis.
Tirai yang tinggi menjuntai ke lantai itu terbuka memperlihatkan balkon luas menambah kesan indah di kamar yang aku tempati saat ini. Aku turun dari kasur dan Melihat pria yang selama bertahun2 ini selalu menggangu pikiranku. kemeja putih dengan dua kancing yang terbuka, celana hitam yang begitu pas ditubuhnya. tidak ada perubahan di wajah itu.
Wajah yang selalu aku rindukan, bibir dan matanya bisa aku lihat di wajah anakku.
Disofa besar itu dia duduk dengan elegan, tanganya terfokus pada layar ponsel yang dia pegang dari tadi. aku hanya bisa melihatnya dari samping kasur. Aku cukup bingung kenapah bisa jadi seperti ini. Pertemuan yang tidak pernah aku inginkan begitu saja terjadi, karna anak kita.
"Sudah cukup melihatku, Apah belum puas". Ejek seokjin tanpa melihatku. yang aku rasa saat itu wajahku memerah karna malu.
Seokjin menaruh ponselnya di meja dan menatapku dengan dingin. " Kita harus bicara, banyak pertanyaan yang harus kamu jawab". Ucap seokjin. berdiri dengan kedua tangan dia masuk kan ke saku celananya.
" Pertanyaan seperti apah jin. semuanya buatku sudah cukup, tidak ada yang perlu kita bicarakan". Jawabku menatapnya dan Aku berjalan keluar ke balkon. menghirup udara dingin kota london. Mataku menatap lurus ke sembarang arah. ada kelegaan di hatiku saat yoosun dan seokjin bertemu. tapi di saat bersamaan ada rasa takut yang begitu besar di diriku.
Aku takut anakku Pergi dariku. melihat kebagiaan yoosun daat di gendongan ayahnya itu sangat jelas. anakku sangat menginginkan ayahnya.
Mengusap wajahku dengan segala pemikiran.
" Pakai ini... udara malam tidak cocok dengan tubuhmu". Ucap seokjin memakaikan mantel tebal miliknya padaku. aku Menoleh dan seokjin memberiku satu gelas anggur. " ini " .
" Terimaksih". ucapku. dan meneguk anggur itu dengan kembali menatap kosong ke depan.
" Dia anakku, jangan pernah berpikir untuk membawanya ". Ucapku seketika tanpa menoleh ke arahnya. " Dia juga anakku, darah dagingku, aku tahu semuanya azera". jawab seokjin meneguk habis anggur itu dan menaruh kembali gelas itu di meja kayu di sampingnya.
" Aku yang membesarkanya aku yang merawatnya hingga sebesar ini, kau tidak berhak atas dia. sekalipun kau ayahnya". Jawabku mulai meninggi. dan kembali meminum anggur pemberian seokjin.
" Sekeras apapun kamu mengelak dia tetap anakku azera. kamu lupa? siapa yang memisahkan aku dari anakku, kau! kau ibu paling egois, kau membiarkan anak kita tumbuh tanpaku,... " . suaranya takalah tinggi dariku. lalu aku menoleh ke arahnya yang juga menatapku dengan tatapan marah rahangnya mengeras. sebelumnya aku menaruh gelas bekas minumku di meja.
__ADS_1
" Bertahun2 aku mencarimu, hingga hampir gila rasanya. bagimana kamu bisa begitu kejam terhadapku azera, kamu pergi begitu saja tanpa melihatku, kamu membuatku hidup dengan rasa sakit setiap detik mengingatmu ". Ucap seokjin menatapku dengan mata yang mulai memerah.
Aku mulai berkaca kaca menatapnya. aku meraskan sakitnya bertahun2 itu dari matanya. dari ucapanya. " kamu yang membuatku pergi, kamu jin ". jawabku mulai menangis dan seokjin memeluku. aku memukul dadanya dengan terus menangis.
" Maaf waktu itu aku tida menjelaskan semuanya dan berfikir bahwa kamu tidak akan pernah bisa pergi dariku, aku sangat bodoh waktu itu, Tapi kenapah kamu menghukumku seperti ini azera. ". Ucap seokjin memeluku erat, suaranya kembali lembut.
Aku terus menangis dipelukanya. " Aku membencimu jin" Ucapku dengan suara gemetar karna menangis.
Seokjin mengusap air mataku. mewadah wajahku di tanganya, tatapan matanya begitu menghipnotis aku, Tanpa sadar aku memejamkan mataku saat bibirnya menyentuh bibirku. ******* dan hispanya sangat lembut, aku mulai mengikuti arah ciumanya,
Tangan soekjin tidak lagi di pinggangku, dia membuka kancing bajuku perlahan hingga terlepas semua, ciumanya turun ke leherku, " Hm.. ". Aku memejamkan mataku, mendongak kan wajahku menikmati setiap sentuhan dan kecupan bibirnya di tubuh bagian atas.
Dengan penuh nafsu, seokjin meremas pelan payudaraku dan " Ahhh... hmm.. " . Seokjin membuka pengait bra ku dan terlihat jelas benda sintal itu di hadapanya. tanpa aba2 seokjin menyesapnya dengan sentuhan jarinya di pungungku. " Aaaakkkh jiiin" . Aku melenguh saat seokjin menghispanya dengan irama pelan namun kuat...
Lalu aku mendorongnya dan melangkah mundur.. Menatap seokjin yang juga sama sepertiku terbakar nafsu. Nafasku terengah2 tubuh bagian atasku berantakn, aku rapihkan pakaianku dan melangkah pergi..
" Aku merindukanmu.. Jangan pergi aku mohon". Ucap seokjin... Aku mematung di depan pintu balkon. " Aku harus pergi jin, lapaskan aku".Ucapku meronta. "tidak... aku tau kamu juga sama denganku, Jangan membohongi dirimu sendiri, dengan menjauh dariku.". Jawab seokjin mencium leherku dengan nafsu. " Aah... stop jiiin, lepaskan aku". Ucapku penuh penekanan.
Aku tidak bisa berteriak padanya, aku takut yoosun bangun karna teriakanku. Seokjin masi dengan aksinya yang terus menciumi leherku. dibaliknya tubuhku dengan cepat, seokjin ******* kembali bibirku. Aku merontak dan mendorongnya sampai akhirnya aku ikuti ciumanya. aku terbawa nikmatnya ciuman selam 3 tahun kita berpisah.
Tanpa melepas ciumannya seokjin mendorong tubuhku membentur tembok, sekarng aku terhimpit di antar tembok dan tubuhnya. seokjin mencumbuki di balkon. lagi2 pakaian atasku terlepas tanpa aku sadari. dengan cepat seokjin melepas kemejanya. dan kembali menciumi setiap inci tubuhku yang sudah terbakar nafsu...
Lenguhan tertahan saat seokjin ******* payudaraku dengan sesekali hisapan dan gigitan dia sertakan. " Ssshhhh aaaaaakkhhh, jiiiin aku aaaakh membencimu". Racauku saat seokjin asik bermain di kedua payudaraku. Nafasku terengah2 keringat membanjiri tubuhku. punggung nya ada luka merah cakarnku. " Teriakan namaku sayang.. aku sangat merindukannya". Ucap seokjin menatapku dengan senyuman menang.
Saat dia memulai aksinya lagi dan dia melepas rok sepanku yang tersingkap dari tadi karna ulah tangan nakalnya. aku menggeleng memegang bahkunya agar aku tidak jatuh. karan aku sudah lelah.
Ssreeet...
__ADS_1
Rok itu turun di kakiku yang tidak terbalut apapun. Aku langsung memeluknya dan menyembunyikan wajahku di lehernya. " Jangan lakukan itu jin, yoosun ada di sini" . Bisiku dengan suara gemetar karna tubuhku yang polos bersentuhan dengan kulit dadanya tanpa halangan apapun.
" Dia tidur sangat pulas sayang". Ucapnya yang mulai mengusap tubuhku tanpa meninggalkan seincipun dari uspanya.
Seokjin membisikan hal yang membuatku malu tapi tidak melepaskan pelukanku. " Tubuhmu banyak yang berubah sayang. kau merawatnya dengan baik selama ini". Bisiknya .
Kini kita kembali berciuman. seokjin mengakkat tubuhku dan. kakiku melingkar di pinggangnya kedua tanganku berada di bahunya... saat sedang asik bercumbu. Suara ponsel seokjin trus berbunyi. " Ada telpon jin. turunkan aku, ". Ucapku tapi seokjin masih asik mencumbu payudaraku.
"hmmm... " Ntah apah yang dia ucapkan. hanya suara itu yang aku dengar.
"Jiiiin... ponselmu terus berbunyi dari tadi, mungkin itu penting". Ucapku menarik wajahnya dari payudarku.
" Bawel sekali. ". Jawab seokjin dan kembali menyesap payudarku dan mengigitnya membuat aku mengaduh.
" aah.. sakit bodoh". Ucapku memukulnya.
" Hahahha, pakai ini. aku angkat telpon dulu". Tawanya dan memakaikanku kemejanya yang kebesaran untukku.
Lalu aku mengikutinya di belakang masuk ke dalam dan. aku menutup pintu balkon. seokjin menatapku dan tersenyum. padahal dia sedang berbicar dnegan seseorang di telpon. " Iyah. setengah jam lagi aku sampai". Ucap soekjin. aku mengikat rambut panjangku asal. dan berjalan pelan ke kamar mandi. " Aku akan pergi, aku lupa istirahtku tidak banyak " Ucap seokjin memeluk pinggangku. dan aku berbalik badan. " Sana mandi. ". jawabku dan melepaskan pelukanya. " Beri aku semangat". Ucapnya dan menjatuhkan aku di ranjang yang di ujaung kiri ada yoosun sedang tidur.
" apah kamu gila... lepaskan ini jin. yoosun bisa bangun nanti". Ucapku meronta karna kedua tanganku dia naikan ke atas dan menekanya kuat. sementara tangan satunya terus membuka kancing kemejanya yang aku kenakan.
" Kalo kamu terus bergerak anakku mungkin akan bnr2 bangun, dan melihat maminya aku makan. ". Ucapnya yang sudah berhasil membuka bajuku.
" dasar mesum.... hmmmmm... ". ucapku menatapnya marah dan dia kembali mencumbu tubuhku aku menahan eranganku karna ulahnya. nafasku terengah2 di bawahnya. meski kita tidak melakukanya malam ini. tapi seokjin membuatku organsme berkali2 dalam 20 menit.
Aku lelah dan tertidur.. seokjin sudah kembali ke stadion. dari beberapa menit yang lalu. meninggalkanku yang kelelahan karna ulahnya. di lehernya ada bekas cakaranku menandakan gimana bergairahnya dia menyiksaku tadi.
__ADS_1