Dear Era

Dear Era
Pertunangan dan kecewa


__ADS_3

"kita ikut pergi bersamamu ra " ucap momy di telpon.


" tidak mom. aku akn pergi sendiri kesana, kalian jangan khawatir, aku yakin jin tidak akn menghianati aku " jawabku. yang sedang duduk di balkon merasakan angin sore yang sangat sejuk dan nyaman.


" kita harap juga begitu, jika ada apa2 kamu harus mengabari momy atau ka ayu " ucap momy.


" iyah mom kalian tenang lah, aku sudah besar aku tau apah yang harus aku lakukan" ucapku yang sedang duduk di kursi dengan menekuk lututku disana.


" kita menyayangimu, jangan pernah merasa sendiri sayang, apapun nanti yang terjadi disana kamu harus kuat oke " ucap momy lagi dan aku menghapus air mataku.


" iyah mom. aku matikan dulu yak, jin memanggilku" jawabku berbohong.


sebenarnya jin sedang keluar saat dia menerima telpon sesaat tadi.


jin masuk dan mencium pipiku memeluku disana.


" masuklah angin sore sangat dingin sayang, aku akan keluar, mungkin pulang larut " ucapnya membawaku masuk ke kamar.


" kau mau pergi kemana" tanyaku berdiri di hadapanya.


" aku ada pertemuan sore ini sampai malam" jawab jin berbohong lagi. memegang pipiku.


"kamu demam sayang tetaplah disini dan beristirahat aku akan selesaikan ini dengan cepat " ucap jin mengecup keningku dan memeluku sangat erat.


" kamu hati2 di jalan " ucapku dalam pelukan jin.


jin keluar kamar dan melihatku duduk di atas ranjang.....


Lalu jin berbalik dan memeluku lagi. memegang tengkuk aku dan menyesap bibirku seakan tidak ingin melepaskan tubuhku darinya. saat aku mulai kehabisan nafas jin melepas pangutanya di bibirku.


" tetap di sini dan tunggu aku pulang, jangan pergi " ucap jin mengusap pipiku. dan aku menatapnya dengan tatapan kosong dan tersenyum.


" Aku mencintaimu " ucap jin lagi dan hendak melangkah keluar.


Aku bangun dan berlari memeluk jin dari belakang.


" aku takut " ucapku dan menangis di hadapanya.


" takut kenapah sayang " ucap jin berbalik dan menghapus air mataku yang keluar dengan deras.


" aku takut kamu pergi, tetap disini bersamaku jangan pergi " isaku dalam pelukanya. jin mengusap kepalaku. membiarkan aku menangis di pelukanya.


" heeey... sayang, aku harus pergi. aku janji tidak akn lama " ucap jin tapi aku mengeratkan pelukanku di tubuhnya. dengan sesegukan.


"jangan pergi aku mohon " ucapku dalam tangisanku di pelukan jin.


"jangan gini dong sayang, tadi pagi aku tidak pergi bekerja, malam ini hanya ada pertemuan bisnis saja, aku tidak akan lama. janji " ucap jin. menenangkan aku. aku tetap. memeluknya.


Mengangkatku dan menidurkan aku di ranjang " aku akan menemanimu" ucap jin memeluku dan tiduran di atas ranjang. mendekapku...


Aku tertidur tapi tidak nyenyak. jin bangun saat ponselnya bunyi...

__ADS_1


" iyah ayah, aku akan segera kesana lagian acara masih beberapa jam lagi kan " ucap jin. mengusap kepalaku. lalu mencium keningku.


"maafkan aku sayang, aku harus pergi, aku janji setelah ini kita pergi bersama " ucap jin lirih dan keluar kamar. aku membuka mataku menatap pintu yang tertutup rapat. menghapus air mataku dan membersihkan badan. aku bersiap sendiri dan mengenakan gaun yang simple dan pas di tubuhku...


.


.


.


.


.


.


.


di sebuah gedung yang megah...


" bagaimana dengan azera sayang" tanya mami menghampiri jin yang baru datang.


" dia sedang demam mi, aku akan selesaikan ini demgan cepat dan pulang lebih awal " ucap jin.


" jin bagaimana bisa kamu berfikir ini tidak ber efek pada era " ucap penti yang baru datang juga bersama joong.


" selama kalian tidak bicara dia akan baik2 saja " ucap jin


" mami akan ketempatmu dan menemaninya " ucap mami hendak pergi.. tuan kim datang dan menceganya.


" haii " sapa nura dan semua tersenyum paksa.


" kamu cantik " ucap mami jin karna bingung mau bilang apah.


jin menjauh dan meneguk bir di meja itu.


" kamu bisa menghentikan ini jin sebelum terlambat " ucap joong dan di samping ada penti.


" mungkin yang kamu lihat baik2 saja, sebenranya dia menyembunyikan sesuatu yang membuatnya drop seperti malam ini jin " penti ikut bicara dengan tangan menggandeng joong.


" dia aman bersamaku joong. aku tidak bisa jujur padanya karna aku takut dia meninggalkanku" ucap jin menggoyangkan anggur di gelas yang ia genggam.


" jangan jadi pengencut seperti ini. bisa saja era akan paham jika kau berkata jujur padanya" jawab joong. memegang pundak adiknya.


" jika dia tau dengan sendirinya jin. ini adalah kebohongan dan penghianatanmu di matanya " ucap penti menjelaskan.


" aku tidak ada pilihan, demi keselamatanya, kau berdua tau betul watak ayah " ucap jin.


joong dan penti hanya menghela nafas mreka.


" semoga mereka baik2 saja " ucap joong. penti menganggug dan mengusap lengan joong.

__ADS_1


Semua tamu berkumpul dan acara akan dimulai. meski acara ini privat tapi tamu disini cukup ramai. kedua keluarga semua menatapnya bahagia.


nura tersenyum bahagia disana menggandeng tangan jin.


...~~~...


Saat jin memakaikan cincin di jari manis nura. kedua pasang mata menatapnya intens dengan tatapan kecewa yang luar biasa dia rasa, tanpa seizinnya air matanya jatuh begitu deras. beberapa kali dia menghapusnya, yah? wanita itu aku.


mulutku tidak bisa bicara, mataku hanya menatap pemandangan yang menusuk aku dengan beribu anak panah di hati dan tubuhku. aku membisu, tubuhku lemas tak bertenaga, aku memgang meja agar menopang tubuhku. nura mengangkat jarinya ke arahku dengan tatapan menang..


aku berusaha kuat dan terus berada di acara itu.


" azera " mulut jin berucap namaku, dan dia turun meninggalkan nura disana. berlari ke arahku. semua mata tertuju padaku, aku membisu dengan air mataku yang semakin deras melihat jin mendekat. kakiku mundur saat jin mendekat ke arahku.


" sayang.... " ucap jin yang hendak menjelaskan.


" kamu tenang dulu, ini tidak seperti yang kamu pikirkan oke, aku bisa jelaskan semuanya. jangan menangis " ucap jin yang terus mendekat dan hendak memegang tanganku. aku menatapnya kecewa...


" jin! kembali dan lanjutkan pertunangan ini " bentak ayah jin. aku menatap wajah ayah jin yang sangat membenciku.


" kembali jin " bentak ayah jin.


"Heeey kalian, usir wanita itu dari sini " teriak nura pada pengawalnya.


" ayaah kau... " teriak mami. hendak menghampiriku


" jangan ada yang bergerak dari tempat, tetap disini atau aku akn berbuat nekat " ancam ayah jin. nura tersenyum. dan keluarganya hanya menyaksikan ini semua..


" jika kalian berani menyentuhnya, aku akan membunuh kalian disini " teriak jin prustasi. semua pengawal itu berhenti...


" kemari azera, pegang tanganku." ucap jin memgulurkan tanganya. aku menatapnya. jin mulai berkaca2 dia memohon agar aku memegang tanganya. " aku mohon jangan begini, pegang tanganku sayang" ..


" jin, dia hanya gembel disini kau bodoh " teriak nura.


" diam kamu, ini semua gara2 kamu yang menghasut ayahku" teriak jin menunjuk nura.


" jaga bicaramu jin " bentak ayah jin.


" aku tidak akan melanjutkan ini ayah. terserah kau mau apah aku tidak peduli " teriaak jin lagi pada ayahnya.


" dia tidak sederajat denganmu jin " ucapan ayahnya lagi. seketika kenyataan itu menampar keras wajahku. menyadarkan aku akan posisiku saat ini.


" ayah aku sangat kecewa dengammu. lihat jin ayah lihat anakmu itu" joong memberanikan diri . penti hendak menghampiriku dan juga mami. tapi aku melangkah mundur satu langkah.


Aku berbalik badan dan berlari keluar gedung.


ini bukan tempatku, aku terlalu tinggi bermimpi


" azeraaaaa...." teriak jin. aku berhenti melihatnya.


Melihat semuanya. mami, penti, joong, dan. jin. kalian semua jahat padaku. aku menangis. saat mami memanggilku. " sayang dengarkan mami" teriak mami. tapi aku berbalik dan berlari keluar.....

__ADS_1


" *Aku tidak membenci keadaan, aku membenci ketidak sanggupanku untuk mengerti keadaan."


" Harapan adalah akar dari semua rasa sakit di hati* "


__ADS_2