Dendam Dan Benci Berubah Cinta

Dendam Dan Benci Berubah Cinta
bab 11


__ADS_3

Piran memasuki rumah dengan langkah gontai, rasanya dia merasa lelah sepulang sekolah hari ini.


Samar-samar, Piran mendengar suara lelaki yang sangat dikenal dan dirindukannya.


" Papah," teriak Piran sambil berjalan cepat untuk memeluk papanya.


"Sayang kamu udah pulang. Papah kangen banget sama kamu," ucap David sembari membalas pelukan Piran.


" Papah kapan pulangnya? Kok nggak ngasih tahu piran kalau Papa mau pulang?" protes Piran.


" Kejutan dong sayang. Udah sana kamu ganti baju dulu, Papa tunggu dibawah buat makan siang," kata David sambil mendorong Piran untuk naik keatas.


Piran segera naik kekamarnya untuk ganti baju.


Piran memakai baju rumahannya lalu segera turun kebawah.


Piran menuju ruang makan, dan disana sudah ada mama dan papanya yang menunggunya.


" Ayo sayang duduk sini, Papa kamu udah keburu laper," kata Rani lalu mengambilkan nasi dan lauk kepiring suaminya.


Makan siang kali ini terasa hangat untuk Piran, karena ada papanya yang sudah lima bulan ini meninggalkan rumah karena harus mengurus perusahaan barunya diLondon.


" Habis makan, Papa tunggu diruang keluarga ya! Papa pengen ngobrol ngobrol sama kalian," ucap David kepada anak istrinya sambil mengelap mulutnya setelah makan.


Piran membawa dua toples camilan lalu menyusul papanya diruang keluarga.


Piran duduk disebelah mamanya lalu memakan camilannya sambil menunngu papanya memulai pembicaraan.


" Oh ya Pir, kamu kapan ujiannya?" tanya David.


" Dua minggu lagi pah ujiannya."


"Kamu harus rajin belajarnya dan setelah kamu lulus, Papa akan menguliahkan kamu ke London."


Piran kaget mendengar penuturan papanya, karena selama ini papanya memang belum pernah membahas ini.


" Kuliah disini kan juga bisa Pa," keluh Piran yang tidak setuju dengan keputusan papanya.


" Sayang, kamu ini anak satu-satunya Mama dan Papa. Kelak kamu nanti yang akan menggantikan Papa mimpin perusahaan," jelas David.

__ADS_1


" Sayang, kami hanya melakukan apa yang menurut kami terbaik untuk kamu. Lagian kan kuliah disana paling juga cuma empat tahun nanti untuk S2 nya bisa kamu lanjutin disini kalau kamu mau," jelas Rani pada anak gadisnya.


Piran hanya menghembuskan napas panjangnya, karena keputusan orang tuanya kali ini pasti tidak mungkin dia tawar lagi.


" Benar sayang apa yang dibilang Mama kamu. Ya udah Papa keatas dulu, mau istirahat. Tadi begitu sampai rumah, Papa belum sempat tidur," pamit David pada anak istrinya lalu pergi kekamarnya untuk tidur.


Piran sudah ada di apartemennya setelah tadi dia pamit pada orang tuanya untuk menginap di apartemennya malam ini.


Piran duduk disofa sambil menonton tv.


Dirinya tengah menunggu kedatangan Rega yang telah dihubunginya tadi.


Piran segera menbuka pintu setelah mendengar bel masuk.


Ceklek


Begitu pintu terbuka, Rega langsung mendapati wajah murung gadis kesayangannya itu.


Rega menyusul Piran yang tengah duduk disofa dengan menyenderkan kepalanya.


" Kamu kenapa sih Pir, kok tadi ditelfon suara kamu udah lemes trus sekarang wajahnya ditekuk kayak gini?" tanya Rega yang merasa khawatir.


"Loh kok malah nangis Pir. Ayo dong Pir crita, jangan bikin saya khawatir," kata Rega dengan wajah resah.


" Papa mau nguliahin gue ke London Re, otomatis kita harus pisah selama hampir 4 tahun," jelas Piran dengan suara yang lirih.


Rega pun terkejut dengan ucapan Piran, tapi dirinya sadar siapa Piran.


Piran adalah anak tunggal keluarga Winata yang nantinya akan menggantikan posisi orang tuanya.


" Udah kamu jangan sedih, pasti papa kamu pengen kamu memdapat pendidikan yang terbaik demi masa depan kamu. Kalaupun nanti kamu disana, kita akan tetap bisa berkomunikasi." Rega mencoba menenangkan Piran.


" Emang Loe nggak sedih Re? Atau jangan-jangan, cuma gue yang ngerasa gini."


Melihat Piran yang semakin bersedih, Rega memeluk tubuh Piran.


" Saya jelas sedihlah Pir. Tapi saya nggak mau egois dengan menahan kamu disini. Karena saya memikirkan kamu jadi saya mau kamu mengejar masa depan kamu. Perjalanan kita ini masih panjang Pir," jelas Rega sambil mengusap-usap punggung Piran untuk menenangkannya.


Piran mengeratkan pelukannya sambil tangannya menghapus air matanya.

__ADS_1


" Udah malem tidur ya, itu mata kamu sudah merah," kata Rega lalu membimbing Piran masuk kamar.


Piran merebahkan tubuhnya dengan pososi terlentang sementara Rega juga ikut merebahkan diri dan memeluknya dari samping.


" Piran," panggil Rega lembut.


"Hemm," sahut Piran singkat.


" Saya sayang sama kamu. Jika nanti kita berjauhan, tolong jaga diri kamu untuk saya."


Piran membalik badannya menghadap Rega.


Tangannya membelai lembut wajah Rega sambil tersenyum.


" Gue juga sayang sama loe Re. Gue minta, kalau gue nanti disana jangan ada yang gantiin posisi gue disini," kata Piran sambil menunjuk dada Rega.


" Kita ubah panggilan kita jadi aku kamu yah! Nggak boleh pakai loe gue lagi," tegas Rega.


Piran hanya menganggukkan kepalanya.


Mereka saling berpandangan dan Rega mulai mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka sudah saling bersentuhan.


Rega ******* lembut bibir Piran lalu mereka pun berciuman mengikuti kata hati. Biarlah naluri yang menuntun mereka.


Rega terus memperdalam ciuman mereka hingga tubuhnya kini sudah menindih Piran.


Rega melepas tautan bibirnya dengan napas yang terengah-engah.


" Badan aku berat nggak nindih kamu kayak gini?" tanya Rega yang merasa nyaman.


" Nggak kok,yang berat itu kalau aku harus nahan rindu kekamu," ucap Piran menggoda.


"Ihh kamu udah suka nggombal ya!" kata Rega lalu mencubit hidung Piran.


Setelah puas bercanda, mereka pun tidur bersama dengan saling berpelukan.


bersambung...


Ayo beri like atau kommen kalian ya.

__ADS_1


Plissss...


__ADS_2