Dendam Dan Benci Berubah Cinta

Dendam Dan Benci Berubah Cinta
bab 23


__ADS_3

Rega dan yang lainnya terus melakukan game tantangan makan kentang goreng pedas. Keringat membasahi kening mereka serta bibir yang memerah karena menahan pedas yang levelnya terus bertambah.


"Ahhh gue nyerah! Huuu bibir gue rasanya kebakar." Silvi mengipasi bibirnya yang sudah jontor itu.


Kini giliran Dina yang menyerah. Karna sudah tak bisa menahan pedas, Dina menyambar minuman Rega. Dina menegak minuman jeruk itu hingga habis.


"Din kok minuman gue loe minum?" tanya Rega.


"Sorry Re habis gue udah nggak tahan. Nanti gue ganti minuman loe," kata Dina sambil memegangi bibirnya yang terasa panas.


Rega yang sudah tidak tahan pun ikut berlari ketoilet menyusul Mona dan Silvi yang sudah lebih dulu. Piran mengikuti Rega ketoilet dengan khawatir. Rega keluar dengan muka yang basah.


"Kamu nggak apa-apa yang?" Piran mengelap muka Rega dengan sapu tangan.


"Nggak apa-apa kok yang, ini muka aku cuma rasanya panas aja tapi perutku nggak kenapa-napa," jawab Rega menenangkan Piran.


"Yang aku pulang duluan ya, soalnya mamah tadi nelfon aku katanya lagi kurang sehat. Mamah minta ditemenin dirumah," jelas Piran.


"Ya udah aku temenin kamu pulang ya! Nanti aku baliknya naik taksi aja," ucap Rega yang khawatir kalau Piran pulang sendiri.


" Nggak usah yang nanti kamu malah bolak-balik."

__ADS_1


Sementara itu, dimeja tinggal Vino dan Dina. Tiba-tiba Dina merasa tubuhnya terasa aneh. Tubuhnya terasa panas dan terasa gatal didaerah sensitifnya. Vino yang melihat gelagat Dina pun menjadi heran.


"Loe kenapa sih Din gerak gerak mulu?"


Dina menoleh kearah Vino dengan wajah yang merah dan pandangan yang sayu.


Dina mendekati vino dan berusaha memeluk vino. Vino yang kaget dengan reaksi Dina pun reflek mendorong tubuh Dina hingga tersungkur disofa. Dina bangkit dan memeluk Vino lagi.


" Vin tolongin gue. Badan gue rasanya panas banget Vin." Dina melepas pelukannya lalu berusaha melepaskan dressnya. Vino yang melihatnya pun langsung menahan tangan Dina yang akan menurunkan resleting bajunya.


Vino pun mengingat sesuatu saat Dina menghabiskan minuman Rega yang sudah diberi obat itu.


Vino membawa Dina kelantai 3. Vino membooking satu buah kamar. Begitu masuk kamar, Dina langsung menghujani wajah Vino dengan ciuman. Dina tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, yang dia tahu saat ini dia hanya ingin menyentuh laki-laki yang kini ada dihadapannya.


Vino awalnya menolak, tapi sentuhan yang terus diberikan Dina membuat pertahanannya roboh juga. Vino membalas ciuman Dina yang terasa kaku baginya.


Dia ini emang masih lugu. Ciuman aja rasanya masih kaku. Ya udahlah walaupun malam ini gue gagal dapat Piran, tapi malem ini gue masih bisa bersenang-senang dengan gadis perawan yah walaupun dia nggak cantik. Loe emang beruntung Vino.


Vino tersenyum puas lalu menahan tengkuk Dina untuk memperdalam ciumannya. Dina melepas dressnya karena sudah tak tahan dengan hawa panas yang menyerang tubuhnya. Vino hanya dapat menelan salivanya saat melihat tubuh polos Piran yang berwarna kuning langsat. Vino pun melepaskan seluruh pakaiannya dan memperlihatkan dada bidangnya yang putih. Vino mendorong tubuh Dina keranjang lalu menindihnya. Setelah memberikan rangsangan disetiap inci tubuh Dina, Vino mulai melakukan penyatuan.


"Arghh sakit Re ini beneran sakit!" Dina mencengkram sprei berusaha menahan sakit dibagian intinya.

__ADS_1


Vino menghentikan aksinya saat Dina memanggil nama Rega. Vino yang merasa tersinggung pun menghentakkan miliknya dengan kasar.


Vino mulai menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan tak memperdulikan teriakan Dina dibawahnya.


Bagus deh kalau loe ngira yang nglakuin ini Rega. Dengan begitu, loe pasti akan minta tanggung jawab ke dia dan Piran pasti akan membeci Rega terus mereka putus.Gumam Vino yang merasa beruntung.


Vino terus menggempur Dina hingga 2kali. Vino melepaskan cairannya didalam tubuh Dina.


Setelah merasa puas, Vino segera membersihkan dirinya dengan cepat. Vino memakai pakaiannya kembali lalu turun untuk mencari Rega. Dibawah suasana sudah terlihat agak sepi. Hanya tinggal kumpulan anak-anak cowok yang sudah mabuk. Vino keluar dan menemukan Rega yang duduk dipojokan sendirian sambil memainkan hpnya.


Vino berjalan mengendap-endap agar Rega tak menyadari kehadirannya. Setelah memastikan keadaan aman, Vinopun melayangkan besi kepunggung Rega dengan cukup keras. Rega yang dalam keadaan lengahpun langsung pinsan apalagi kondisi badannya yang tak enak setelah lomba makan pedas tadi. Vino segera membawa Rega kelantai 3, dimana disana ada Dina yang tengah tertidur karna kelelahan akibat ulah Vino.


Begitu sampai dikamar, Vino langsung merebahkan tubuh Rega disamping Dina. Vino melepas sepatu dan seluruh pakaian Rega hingga polos. Vino memposisikan tangan dan kaki Rega untuk memeluk Dina lalu menyelimuti tubuh polos mereka.


Vino tersenyum puas melihat hasil kerjanya malam ini.


"Oke Rega selamat malam. Tidur yang nyenyak ya dan nikmati kejutan yang gue berikan," vino berbicara sendiri.


Vino pun keluar dan meninggalkan mereka berdua dengan hati yang senang.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2