Dendam Dan Benci Berubah Cinta

Dendam Dan Benci Berubah Cinta
bab 44


__ADS_3

Pagi harinya Rega sudah terbangun dari tidurnya. Pagi ini Rega terlihat santai karena ini adalah hari minggu jadi dia tidak diharuskan dengan rutinitas pagi. Rega melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum sarapan. Setelah selesai, Rega memakai celana jeans dan kaos oblong warna putih. Rega menuju dapur untuk membuat nasi goreng untuk sarapan paginya.


Bau harum yang keluar dari masakan Rega membuat Dina bangun dari tidurnya. Dengan muka bantal, Dina menghampiri Rega kedapur.


" Wah kamu udah masak mas? Maaf ya aku bangun kesiangan."


" Nggak apa-apa, lagian aku emang lagi pengen masak sendiri."


Setelah matang, Rega pun menuang nasi goreng buatannya kedalam 2 piring.


" Ayo sarapan dulu mumpung masih hangat," kata Rega sambil menyajikam sepiring nasi goreng kehadapan Dina.


Dina pun mulai menyuapkan sesendok kemulutnya dan wajahnya langsung berbinar.


"Wah masakanmu enak mas seperti biasanya," puji Dina.


Rega tak menanggapi pujian Dina dan perhatiannya malah teralih pada leher Dina yang menggunakan syal.


Ngapain Dina pakai syal segala? Dia kan nggak lagi sakit.


Gumam Rega dalam hati.


" Kenapa Mas? Kok merhatiin aku gitu?"


" Tumben kamu pakai syal, kayaknya kamu sehat gitu?"


Wajah Dina mendadak pucat mendengar pertanyaan Rega.


" Ehmmm...ini cuma ngrasa dingin Mas!" jawab Dina dengan gugup.


Rega yang merasa penasaran pun langsung melepas syal yang melingkar dileher Dina. Rega terkejut saat melihat leher Dina yang merah-merah seperti bekas kiss mark. Dina yang sadar pun langsung menutupi lehernya dengan kedua tangan.


" Ehmm ini...ini bukan seperti yang kamu pikirin Mas," elak Dina dengan cemas.


" Apa? Apa karena aku tidak pernah menyentuhmu lantas kamu memintanya dari orang lain?"


Aduh gimana ini? Gue nggak mungkin bilang kalau Vino yang melakukan ini. Gue harus gimana ini.


Gumam Dina.


Rega hendak melangkahkan kakinya tapi langsung terhenti saat Dina mencekal tangannya.

__ADS_1


" Mas dengerin penjelasan aku dulu!"


" Aku nggak butuh penjelasan kamu Din! Sepertinya kita harus benar-benar cerai!"


Duarr


Dina seakan tak percaya saat Rega mengucapkan kata haram itu. Selama ini walaupun Rega tak mencintainya, tapi Rega tak pernah mengucapkan kata-kata itu.


Rega langsung pergi meninggalkan rumah. Tak dipedulikannya teriakan Dina yang terus memanggilnya.


Rega menyalakan motornya lalu melaju kerumah ibunya untuk menjemput Arfa.


Air mata terus menetes membasahi pipi Dina. Dia masih syok dengan ucapan Rega yang masih terngiang-ngiang dipikirannya.


Dina mencintai Rega walau tak pernah terbalas. Bahkan dia tega menipu mantan sahabatnya demi bisa bersama. Tapi Dina juga bingung saat dirinya merasa nyaman dibawah kukungan ayah kandung Arfa. Walau awalnya memaksa tapi detik berikutnya dia merasa Vino bermain lembut padanya.


" Sebenarnya gue kenapa? Gue nggak mungkin jatuh cinta sama Vino! Gue cuma cinta Rega!"teriak Dina disela tangisnya.


Setelah sampai dirumah ibunya, Vino langsung memarkirkan motornya dihalaman.


Tampak Arfa berlari menuju pintu untuk menyambut ayahnya.


" Hei anak Ayah udah kangen ya sama Ayah," goda Rega sambil mengusap rambut Arfa.


" Kok bunda nggak ikut Yah?"


" Bunda tunggu rumah. Ya udah yuk masuk, Ayah mau nemuin nenek sama kakek," kata Rega lalu menuntun Arfa masuk kedalam rumah.


Rega menghampiri orang tuanya yang sedang duduk-duduk didepan tv. Rega mencium tangan kedua orang tuanya lalu duduk disebelah ibunya.


Bu Asih yang melihat raut muka anaknya pun menjadi penasaran.


" Kamu kenapa Re? Apa ada masalah?"


Rega terdiam sejenak lalu menghirup napas dalam-dalam lalu mebetulkan posisi duduknya menjadi tegak.


" Bapak, Ibu...Rega ingin bercerai dari Dina!" kata Rega mantap.


Asih dan Yanto pun langsung terhenyak mendengar ucapan Rega.


"Re, kamu serius nak?"

__ADS_1


" Rega serius Bu. Jujur, Rega sudah tidak tahan terbelenggu dalam pernikahan ini. Rega tidak pernah bahagia Bu, begitu pun juga dengan Dina."


" Lalu Arfa bagaimana Nak?"


" Arfa adalah salah satu alasan kenapa Rega bisa bertahan sampai saat ini Buk. Tapi sepertinya Rega juga sudah tidak sanggup. Bapak, Ibu, akan Rega pastikan kalau Arfa nggak akan kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya meski kami bercerai."


Bu Asih membelai punggung anak semata wayangnya itu dengan lembut untuk memberikan ketenangan.


" Nak, kamu sudah dewasa. Bapak dan ibu tidak bisa memaksa kamu. Kami hanya bisa mendukung apapun keputusan kamu kalau kamu yakin itu yang terbaik buat kamu."


Rega tersenyum tipis lalu memeluk ibunya.


" Makasih ya Buk karna udah mendukung dan menghormati keputusan Rega."


Tak berapa lama datang Arfa yang sudah selesai bermain. Arfa meloncat kepangkuan ayahnya lalu melihat wajah ayahnya.


" Ayah nangis?"


" Nggak lah, tadi mata Ayah kemasukan semut. Kenapa? Arfa udah mau pulang?"


" Arfa belum mau pulang Yah! Arfa minta tolong ya Yah," ucap Arfa memohon sambil menakupkan kedua tangannya.


" Minta tolong apa?"


" Ayah anterin Arfa ketemu Tante cantik ya, soalnya hari ini Tante cantik udah janji mau nemenin Arfa main ditaman."


Rega menaikkan alisnya mendengar permintaan anaknya yang sudah janjian dengan tante cantik itu.


Arfa menggoyangkan lengan ayahnya karna tampak melamun.


" Ayah kok malah bengong! Ayo cepet anterin Arfa. Kasihan tante cantik kalau udah nungguin!"


Mendengar rengekan cucunya membuat bu Asih jadi penasaran.


" Emang siapa Nak tante cantik itu?"


" Oh itu Buk, dia yang udah nolongin Arfa waktu jatuh. Rega sendiri juga belum pernah tahu orangnya."


Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Rega pun melajukan motornya menuju taman untuk memenuhi permintaan anaknya yang ingin bertemu dengan tante cantiknya itu.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2